
"Gadis itu!!" ucap pak tua besar bertubuh pendek.
"Tenang saja dia tidak berbahaya" ucap perempuan serigala padanya.
"Halo hehe" sapaku pada mereka.
Groah...
Perlahan sadar dari pingsannya kelompok perempuan serigala itu sempat sedikit bercanda sebelum akhirnya terdiam saat menatap ke arahku, dan pria tua bertubuh gempal yang sebelumnya ingin menyerangku dengan kapaknya menatapku dengan ekspresi dan tatapan tidak suka, tapi untungnya aku sudah cukup sering mendapatkan tatapan seperti itu jadi aku tetap bisa menanggapinya dengan tenang, aku menyapanya dengan melambaikan tanganku sembari tersenyum diikuti oleh kepala naga di sampingku yang meraung kecil sambil menggoyangkan kepalanya karena ada daun kecil yang jatuh tepat di atas kepalanya, dan itu cukup menggemaskan untuk seekor naga yang menakutkan.
"Oh ya aku belum tau namamu?" tanya perempuan serigala itu padaku.
"Owh! benar! hehe maaf aku lupa, baiklah kalau begitu salam kenal namaku Shea, jadi panggil aja aku Shea" ucapku memperkenalkan diri seraya tersenyum.
"Baiklah Shea, perkenalkan aku Toki, dia adalah Sam, Kroz, Jaz, Nath, dan yang masih pingsan di sana adalah Kaov, sedangkan untuk anak penakut ini adalah Noel" ucapnya memperkenalkan diri sembari menunjuk satu persatu temannya.
"Uoh!! Baiklah Toki" sahutku sambil tersenyum padanya.
Terdiam sejenak untuk mengambil napas perempuan serigala itu kemudian kembali bertanya tentang namaku dan tentunya aku langsung menjawab itu, begitupun juga dengannya yang menyebutkan namanya sembari juga memperkenalkan teman-temannya, dan aku sangat senang ketika mendengarnya mengatakan itu karena akhirnya aku bisa tau namanya.
"Sebenarnya siapa dirimu? kau itu apa?" tanya pak tua Kroz dengan tatapan kecurigaan.
" … ?"
"Kroz!" bentak Toki.
"Hm… tidak apa, aku tidak keberatan… lagipula tidak ada yang istimewa dariku… jadi, apa yang ingin kalian tau dariku ataukah cuma pertanyaan tadi?" sahutku tersenyum sambil balik bertanya.
"Cukup itu saja" sahut Kroz padaku.
"Siapa aku? hm… kurasa pertanyaan itu terlalu luas, aku bingung harus memulai dari mana" ucapku kebingungan.
"Singkatnya saja" sahutnya lagi.
"Um… aku Shea/"
__ADS_1
"Bukan namamu! aku sudah mendengarnya dengan sangat jelas!"
Menatapku dengan tatapan kecurigaan pak tua Kroz kemudian melancarkan dua pertanyaan padaku yang cukup membuatku kebingungan, ya walaupun terdengar sederhana, tapi bertanya tentang siapa aku? tentu saja jawabannya tidak hanya satu dan itu membuatku bingung untuk mulai menjawabnya dari mana.
Mendengar pertanyaan kecurigaan ditambah dengan ekspresi yang serius dari Kroz, membuat Toki sedikit membentaknya karena mungkin dia menganggap itu tidak sopan terlebih lagi kami sudah berada dalam posisi tenang tanpa pertarungan, dan pertanyaan itu seolah ingin mengintrogasiku bahkan jujur ekspresinya cukup menggangguku, tapi aku tidak mempermasalahkan hal itu karena aku tidak ingin situasi kembali memanas jadi aku kemudian bertanya pada mereka kalau-kalau masih ada pertanyaan yang ingin mereka tanyakan padaku.
Tapi, tetap dengan tatapan tajamnya pak tua itu menegaskan tidak ada pertanyaan lagi darinya, sementara itu sisanya hanya terdiam menggangguku menjawabnya dengan ekspresi agak tegang, meski begitu aku tetap tidak bisa menjawabnya jadi aku kemudian mengatakan bahwa pertanyaannya terlalu luas dan aku masih bingung dengan jawaban yang tepat untuk menjelaskannya, tapi pak tua itu tetap terlihat tidak peduli dengan ucapanku dan memintaku untuk mengatakan sesuatu yang singkat dan jelas, jadi aku hanya menyebutkan namaku dan itu membuatnya terlihat kesal.
"Aku sudah bilangkan pertanyaanmu itu terlalu luas!" ucapku sedikit berteriak padanya.
Groah...
"S-shea… bagaimana kalau kita mulai dari tempat tinggalmu saja lalu kenapa naga itu bisa patuh denganmu?"
"Tempat tinggal? um… kalian sedang duduk di atasnya" jawabku padanya sambil tersenyum.
"Di atasnya?"
"Ah maksudku aku tinggal di labirin, yahh…walaupun akhir-akhir ini aku sudah tinggal di gua pintu masuknya..."
" … "
Tidak suka dengan pernyataan pak tua itu aku berteriak kecil lalu kemudian menyilangkan tanganku cemberut ke arahnya, dia memintaku untuk menyingkat penjelasanku dan aku sudah menyingkatnya dengan hanya menyebutkan namaku, tapi dia malah terlihat kesal padaku padahal aku sudah menuruti kata-katanya, cukup memanas karena hal kecil Toki kemudian menyarankan agar aku memulai jawabanku dari mengatakan di mana tempat aku tinggal saat ini, dan karena itu aku kemudian menyebutkan bahwa aku tinggal di bawah tempat duduk mereka.
Tapi, karena mereka terlihat kebingungan aku kemudian memperjelas ucapanku dengan mengatakan pada mereka bahwa aku tinggal di dalam labirin, akan tetapi saat mendengar ucapanku itu mereka malah terdiam dengan tatapan mata yang membulat seakan tidak percaya dengan apa yang baru saja aku katakan, dan itu membuatku kembali berteriak kecil pada mereka.
"Jangan bercanda bocah iblis!" ucap pak tua itu padaku.
"Hah… aku tidak bercanda dan sudah kubilang aku bukan iblis" ucapku sembari menghela napas.
"Sejak kapan kau tinggal di sana, Shea?" tanya Toki padaku.
"Aku sudah tinggal di labirin sejak lahir, yah… kadang gelap, kadang terang, kadang juga aku nyaris mati karena monster yang menyerangku… labirin itu menyeramkan, tapi karena aku sudah terbiasa… hal seperti itu sudah tidak lagi menjadi masalah bagiku, ya… walaupun awalnya aku harus berlindung di balik monster kuat untuk bertahan hidup, tapi aku kemudian memisahkan diri karena aku sadar… aku masih sangat lemah, meskipun awalnya terasa sangat berat karena selalu ada bahaya yang mengintaiku dari seluk-beluk lorong labirin…" ucapku seraya tersenyum menjelaskan sambil menatap langit dan sambil memikirkan kembali tentang pertumbuhanku.
"… tapi, aku tidak ingin menyerahkan hidupku pada keadaan buruk itu, jadi aku berlatih keras dan berpikir untuk tetap bertahan… ya… sesulit apapun keadaan itu" sampingku seraya tersenyum tipis menatap ke arah mereka.
__ADS_1
Masih terlihat kesal dan tidak percaya dengan ucapanku pak tua Kroz malah menganggapku bermain-main dengan perkataanku padahal aku telah mengatakan keadaan yang sesungguhnya, dia juga kembali menyebutku sebagai iblis dan itu membuatku merasa putus asa untuk menjelaskannya, walaupun begitu aku sudah tidak ingin ada lagi kesalahpahaman tentang diriku jadi aku langsung membantahnya sembari menghela napas berat lalu kembali mengelus kepala naga yang condong ke arahku, sementara itu Toki terlihat mempercayaiku dan cukup penasaran dengan kehidupanku di labirin sembari bertanya padaku dengan sedikit senyuman kecil di wajahnya.
Dan dengan senang hati aku menjawabnya dengan mengatakan bahwa aku sudah tinggal di labirin sejak lahir, cukup berat untukku menceritakan masa kecilku karena nyaris tidak ada kesenangan yang kurasakan saat aku tinggal di lingkungan labirin, aku kemudian menatap langit dengan senyuman kecil dan tatapan yang murung ketika aku mengingat semua kenangan masa lalu yang menyedihkan itu, ya meskipun menyakitkan karena mentalku kembali di asah oleh rasa sakit bahkan sejak aku dilahirkan, kehidupan labirin sangat berpengaruh terhadap kehidupan dan pertumbuhanku untuk menjadi diriku yang sekarang walaupun hal buruk dan luka di hatiku tetap tidak berkurang.
"Yahh… seperti itulah tempat tinggalku hehehe" ucapku sambil tersenyum dan tertawa kecil.
"Kau masih bisa tersenyum setelah merasakan semua itu?" ucap Toki padaku.
"Anggap saja aku sedang menghibur diriku sendiri karena dulu aku sudah terlalu sering menangis" sahutku padanya.
" … "
Tersenyum dan tertawa kecil meratapi keadaanku aku kemudian bersandar di pohon dengan sedikit getaran dari napas naga di sampingku, terlihat sedih dengan wajah yang murung Toki kemudian mempertanyakan senyumanku yang masih bisa tergambar di wajahku padahal sangat jelas ada penderitaan yang aku rasakan, pertanyaannya itu mengingatkanku pada kehidupanku yang dulu sebagai seorang gadis cengeng yang selalu menangis dan bersedih di pojokan kamar karena selalu mendapat hinaan dari orang-orang sekelasku, bahkan untuk sekedar mengingatnya saja masih cukup untuk membuatku meneteskan air mata yang membuat orang-orang di depanku terdiam.
"Boleh aku bertanya?" tanya Jaz padaku.
"Ya… iya tentu saja" ucapku sembari mengusap mataku.
"Sebenarnya siapa dirimu? sejauh yang kutahu tidak pernah tau ada kelompok atau ras yang tinggal di labirin, tadi kau juga bilang bahwa dirimu bukan iblis? jadi, kau berasal dari ras apa?" tanya Jaz padaku.
"Ya aku juga ingin tau itu, kau sangat kuat, kau bisa mengendalikan naga itu lalu kenapa kau tidak membunuh kami?" ucap Sam ikut bertanya padaku.
Sadar mataku berair aku kemudian langsung mengusap-usap mataku sambil mencondongkan sayapku ke depan, bukan hanya karena aku mengingat masa laluku, tapi juga karena rantai di leherku yang semakin sakit dan bersamaan dengan itu Jaz kemudian meminta izin padaku untuk bertanya karena mungkin dia tidak enak bertanya langsung padaku saat melihat kondisiku, dan masih sambil mengusap sisa air di pipiku aku kemudian mempersilahkannya untuk bertanya.
Jujur saja kupikir dia akan menanyakan hal yang sama dengan pak tua Kroz karena kalimat mereka sama-sama ingin tau siapa aku, tapi ternyata dia langsung menjelaskan pertanyaannya itu lalu mempersempit maksudnya dan karena itu aku bisa memahami isi dari pertanyaannya, begitupun dengan pria yang bernama Sam yang juga ikut penasaran dengan itu sembari menambahkan satu lagi pertanyaan yang ada dipikirannya, sementara Toki dan yang lainnya juga terlihat sangat penasaran dengan jawaban dari pertanyaan itu.
"Ras ya? hm… apa aku tidak mirip dengannya?" ucapku sambil merangkul kepada naga bumi di sampingku.
Groah...
" …? "
"Anu… apa itu maksudnya" tanya Toki kebingungan.
"Hm… singkatnya aku ini naga" jawabku padanya.
__ADS_1
"Ha?" ucapnya kaget.
...🌹🌹🌹🌹🌹...