I Was Reincarnated As A Dragon

I Was Reincarnated As A Dragon
Chapter 108: Kenangan


__ADS_3

"Nah nona! jangan malu-malu menangislah! keluarkan semua air matamu hahahaha!!" ucapnya sambil membelai wajahku.


"…!"


...***...


"Hahahaha, lihat-lihat dia menangis!"


"Hee, kenapa dia menangis?"


"Hahahaha!" "Hahahaha!" "Hahahaha!" "Hahahaha!" "Hahahaha!" "Hahahaha!"


"Dasar bab* cacat!! itulah akibatnya karena telah mengusikku! kau benar-benar sangat bodoh berani menantangku! hahahaha! sakit? apa itu sakit? rasakan ini!! hahahaha hahahaha hahahaha!! ini masih belum seberapa…"


"Hiks hiks!"


"Hahahaha!! menangislah sesuka hatimu, aku tidak akan mengampunimu walau kau memintanya!!"


Bug Bug Bug!


"Aargh!!"


...***...


Apa aku akan berakhir seperti dulu lagi? hiks... tidak ini bahkan lebih buruk, sekarang aku pasti akan kehilangan semuanya aku tidak ingin ini! tidak!


Cekikan iblis Leron terasa semakin kuat setiap saatnya membuatku merintih dengan air mata yang mulai menggenangi mataku tubuhku terasa sangat lemah dan sakit seakan ada sesuatu yang sedang menggerogotiku dari dalam, aku benar-benar kesulitan untuk bergerak karena tubuhku tak henti gemetar dan darahku terus menetes mengalir dari lukaku.


Gaun putihku yang berlumuran darah, tubuhku yang terangkat dan kakiku tidak bisa menyentuh tanah, iblis Leron dapat mengangkat tubuhku hanya dengan satu lengannya yang sedang mencekik leherku, sesak napas dan panas darahku merasakan kembali rasa sakit seperti ini membuatku teringat akan kehidupanku yang dulu, aku yang baru keluar dari telur dan mendapatkan luka yang parah, aku yang selalu menjadi sasaran empuk bagi para pembuly sekolah.


Suara tawa dari iblis Leron yang juga mengingatkanku pada hal menakutkan dan menyedihkan yang pernah kualami dulu, tawa orang-orang yang selalu mengejekku dan perbuatan penganiayaan yang dilakukan sekelompok orang padaku, aku dapat merasakan kembali semua itu.


Kepalaku dipenuhi dengan ingatan masa laluku, lonjakan emosi membuatku ingin menangis keras, tapi aku tidak bisa membiarkan iblis Leron terus membelai wajahku karena aku yang teru meneteskan air mata, pikiranku kacau aku tidak bisa berpikir jernih ditambah lagi dengan melihat senyuman di wajah iblis Leron yang terlihat sangat menakutkan, iblis itu sangat menikmati setiap detik penderitaanku.


Menderita karena kecerobohanku sendiri hati kecilku menangis keras berharap semua kejadian masa lalu itu tidak terulang kembali di kehidupanku yang baru ini, tapi sayangnya aku baru saja mengulanginya walau dengan cara yang berbeda aku tetap menderita hal yang sama dan bahkan apa yang terjadi padaku nantinya akan lebih buruk dari sekedar penghinaan.


Mama hiks… papa tolong aku, aku tidak ingin jadi seperti ini…


...…...


"Begini Aya, papa tau kamu anak yang lemah jadi jangan memaksakan diri untuk menjadi kuat, kamu bisa mengandalkan hal lain untuk mempertahankan dirimu/"


"Seperti ini Aya!!"


"T-tunggu Erin aaaa!!"


Brukk


"E-erin, a-aku m-menyerah Erin!"


"Hehehehe, yap seperti itulah caranya Aya, kamu paham?"


"Oaa… em em."

__ADS_1


"Aghh, tanganku mati rasa…"


"Maaf sayang."


"Y-yaah intinya memang seperti itu, papa tidak akan meminta kamu untuk memukul jika kamu tidak bisa, kamu bisa menggunakan cara lain untuk mempertahankan dirimu, papa yakin putri papa ini anak yang pintar."


"Jika tidak bisa menggunakan tangan gunakan kakimu, jika itu belum cukup gunakanlah kepintaranmu, bela diri bukan hanya tentang kekuatan, tapi juga pikiran yang dingin agar kita bisa menganalisa keadaan dan kelemahan lawan, oh ya Aya harus ingat ucapan mama ini ' Aya tidak boleh menggunakan bela diri untuk memukul teman-teman Aya, tapi Aya harus menggunakannya untuk melindungi teman-teman dan melindungi diri Aya sendiri dari orang yang jahat, Aya paham?"


"Em em"


"Yoshh anak mama memang pintar hehe."


...…...


Hiks… jadi begitu, terima kasih mama papa! benar, aku tidak boleh menangis! aku belum kalah! aku harus tenang!


"…!"


"Hehehehe hahahaha!! aku suka itu! aku suka ekspresi itu! ekspresi wajah penolakan dan penuh harga diri, aku sangat ingin melihat wajah itu jatuh putus asa hahahaha!!" ucap iblis Leron sambil meremas wajahku.


A-aku harus mencari kesempatan untuk melepaskan diri!


"Hm sangat lezat hahahaha!! nona nona nona! jangan marah-marah nanti kau cepat tua/"


"Cuih! sekarang siapa yang cepat tua?" ucapku sambil meludahi wajahnya.


"Cih! beraninya kau…"


Bug!


"Sepertinya aku memang harus memberimu pelajaran!" sambungnya sembari kembali mencekikku dan memukul wajahku.


Aku tidak ingin lagi merasakan hal menyakitkan terjadi padaku untuk kedua kalinya, tapi walau aku berharap demikian aku tidak bisa berbuat banyak untuk menghadapi iblis Leron yang terus mencengkeram leherku, dalam keadaan putus asa membayangkan hal memalukan seperti apa yang akan diperbuat oleh iblis Leron padaku nantinya, aku berharap ibu dan ayahku datang membantuku menghadapi masalah ini karena mereka selalu menjadi pahlawan bagiku dalam keadaanku yang sulit.


Mengharapkan mereka berdua ada untukku mengingatkanku pada kenangan saat aku masih kecil dan diajari untuk membela diri, ayahku yang kuat dan ibuku yang sangat lincah aku hanya tersenyum menatap mereka yang mencontohkan cara-cara untuk membela diri saat aku kelelahan setelah latihan memukul telapak tangan ayahku yang besar.


Aku melihat penuh kekaguman saat ibuku memegang tangan ayahku lalu melompat menjepit bahunya itu kemudian memelintir tangannya hingga ayahku terjatuh dan tidak bisa bangkit lagi, mereka berdua adalah sosok pahlawan bagiku yang mengajariku banyak hal, mengingat kembali hal itu membuatku membuang rasa putus asa dalam diriku dan kembali menaruh semangat dalam hidupku karena aku masih belum kalah.


Dengan tatapan tajam dan ekspresi penuh kekesalan aku membolak-balikkan wajahku berusaha menghindari setiap sentuhan tangan menjijikkan dari iblis Leron, sejak awal aku memang tidak sudi di sentuh tangan menjijikkan seperti itu, tapi sikapku itu ternyata malah semakin membuatnya bergairah dan menggila.


Sambil mencengkram erat leherku iblis Leron kemudian menjilat pipiku dengan lidah menjijikkannya itu, dan dengan tawanya yang selalu membuatku kesal saat dia berusaha mendekatkan wajahnya untuk yang kedua kalinya aku kemudian meludahi wajahnya dengan sangat telak, pastinya perbuatanku itu langsung membuatnya terpancing emosi dan melemparkan tubuhku sampai menghantam pohon yang ada di samping kami dengan sangat keras.


Dia terlihat begitu marah padaku karena aku melakukan itu padahal dia sendiri juga melumuri pipiku dengan air ludahnya, tapi di sini aku yang tertindas marahku dan marahnya adalah hal yang berbeda, dia bisa melakukan banyak kekerasan padaku sedangkan aku sendiri hanya bisa merasakan rasa sakit akibat kekerasan yang dilakukannya, setelah melemparku dengan kuat iblis Leron kemudian berjalan ke arahku lalu kembali mencengkeram leherku dan langsung memukul perut dan wajahku.


Aku benar-benar tidak bisa melakukan perlawanan terhadapnya karena tubuhku terasa sangat berat dan lemah bahkan untuk menggerakkan tanganku pun terasa sangat sulit, apalagi dengan luka besar yang ada di punggung dan pergelangan tangan kananku yang terpotong aku benar-benar kehilangan banyak darah dengan tanpa ada tanda-tanda regenerasi.


Bug!


"Akhh!! p-pengecut!"


Aku akan menunggu saat yang tepat! untuk sekarang aku tidak boleh banyak bergerak, sebisa mungkin aku harus menghindari pendarahan yang berlebih! aku harus mengumpulkan tenaga untuk melakukan perlawanan walau hanya sedikit aku harus bisa mengulur waktu sampai Sira datang!


"Ha!! apa katamu!!?" tanya Leron dengan kesal.

__ADS_1


Aku harus terus memancing kemarahannya sampai dia benar-benar lengah!


"Hah hah haah… k-kau orang yang pengecut!" ucapku dengan napas terengah-engah.


"Beraninya kau/"


DUARRR!!!


Ini dia!!


"HAAA!!"


Bruk!


Krakk!!


"ARGHHH!! kurang ajar gadis sialan!!"


"Simpan saja ucapan itu untuk nanti! rasakan ini!!" ucapku sambil mengangkat tinggi kakiku.


DUARR!!


"Uakhh!!"


Menerima beberapa pukulan keras di perutku aku terus berusaha untuk bertahan dengan rasa sakit di sekujur tubuhku, aku tidak bisa sedikitpun menggerakkan tubuh melawannya karena aku harus menghindari pendarahan yang ada pada tubuhku, dan di sela-sela pukulannya itu aku menyempatkan diri untuk menghinanya agar dia terpancing emosi dan bisa sedikit melonggarkan pertahanannya, walaupun cara itu bagaikan pedang bermata dua untukku.


Meskipun begitu rencanaku itu berjalan cukup lancar dengan iblis Leron yang terpancing emosi akibat perkataanku, walau aku hanya mengandalkan keberuntungan untuk bisa lepas darinya, tapi keberuntungan itu seakan benar-benar ada untukku, di saat Leron akan memukulku dengan emosi yang memuncak tiba-tiba saja sebuah badai besar menerjang area sekitar kami, badai tornado besar berputar-putar di area hutan yang tidak jauh dari kami.


Merasa dalam keadaan yang menguntungkan aku kemudian mengangkat tubuhku menjepit tangan kanannya dengan kedua kakiku lalu melepaskan cekikikan Leron dengan menarik ibu jarinya memaksanya untuk melepaskanku, dan dengan mengandalkan gravitasi bumi saat menggantung di tubuhnya aku menghempaskan iblis Leron sampai terjatuh sambil memelintir tangannya hingga patah,


Dengan duduk di atas tubuh belakangnya aku menekan tubuhnya untuk tetap tiarap di tanah sambil terus memelintir tangannya itu, tak cukup sampai di situ saat dia mulai akan berbicara aku langsung mengangkat kaki kananku lalu menghentakkannya tepat di atas kepalanya sampai kepalanya itu masuk ke dalam retakan tanah.


"Hup! baiklah sekarang di mana pedangku?" kataku melompat dari punggung Leron sembari mencari pedangku.


Ssttt…


"Waah, ternyata pedang ini bisa kembali dengan sendirinya!"


Krakk…


"Suara apa itu/"


Cras!


"Eh!? rantainya? kenapa bisa? lukaku juga kenapa?!" tanyaku kebingungan seraya menatap tangan kananku yang kembali beregenerasi.


"Apa yang sedang terjadi? ini… apa jangan-jangan kesialanku sudah berakhir? woaa! ini keadaan yang kutunggu-tunggu, tapi rantainya… bagaimana aku harus menjelaskan semua ini padanya? tidak! untuk sekarang aku harus fokus pada Leron dan Kin!"


Puas dengan menenggelamkan kepala Leron ke tanah aku kemudian langsung melompat menjauh dari punggungnya karena aku benar-benar tidak betah duduk di atas tubuh belakangnya itu, mendarat dengan sempurna dengan jarak lima meter dari Leron yang masih terpendam dalam tanah, aku yang masih berlutut di tanah karena tidak bisa bergerak banyak berusaha mencari pedangku yang kujatuhkan sebelumnya, dan secara tiba-tiba dari sisi kiriku sebilah pedang melesat menghampiriku dan tentu melihat itu aku langsung meraih gagangnya dengan erat.


Yap benar saja pedang yang melesat itu adalah pedangku sebelumnya, dalam kekaguman dan perasaan heran dengan pedang itu sesaat setelah aku memegangnya tiba-tiba dengan jelas aku mendengar suara retakan di dekatku dan setelahnya aku sangat terkejut melihat rantai yang mengikat leherku terputus hingga jatuh berkeping-keping menjadi potongan besi, selain itu semua luka dan darahku yang membasahi gaunku ikut menghilang saat rantai itu hancur.


Tubuhku yang sebelumnya melemah benar-benar telah pulih kembali bahkan sayapku dan tangan kananku yang putus juga sudah mulai beregenerasi, menyaksikan semua ini tentu membuatku sangat terkejut dan kebingungan dengan apa yang terjadi, apa ini sebuah keberuntungan untukku atau hanya sekedar kebetulan, tapi yang jelas putusnya rantai di leherku pasti akan menimbulkan banyak masalah baru terutama dengan pria naga yang dingin itu padahal aku sedang tidak ingin membuat masalah dengannya.

__ADS_1


Mengesampingkan semua masalah yang akan datang aku kemudian kembali memfokuskan diri pada iblis Leron dan Kin karena sekarang merekalah yang menjadi ancaman untukku, sementara untuk pria naga dingin yang ada di labirin aku sedikit berharap agar dia mau mengerti penjelasanku nanti, karena aku tidak ingin membuat masalah baru dengannya.


...🌹*****🌹...


__ADS_2