I Was Reincarnated As A Dragon

I Was Reincarnated As A Dragon
Chapter 86: Kabar angin? ( Luna )


__ADS_3

"Apa yang kau lakukan di sini Zoe? kau tidak mengikuti kami kan?" tanyaku padanya.


"Zoe!"


"Oi! Zoe! jangan suka menghilang woi!!" panggil seseorang dari kejauhan.


"Yahh... sesuai yang kau dengar, aku sedang menjalankan misi dengan prajurit kerajaan..." Jawabnya.


Aku dan Kie benar-benar kebingungan saat melihat sosok penolong kami itu ternyata adalah Zoe, awalnya aku mengira kalau dia mengikuti kami dari awal petualang ini, tapi tiba-tiba saja ada suara seseorang yang sedang memanggil namanya dari kejauhan dan ternyata dia juga sedang menjalankan misi, yah... karena Zoe tidak mungkin menciptakan sandiwara hanya untuk mengikuti Kie.


"... oii!! aku di sini!!" seru Zoe pada mereka.


.....


"Hah... ya ampun, kenapa kau sangat suka keluyuran..., hm siapa mereka?" tanya salah seorang prajurit.


...


"Kak apa kakak tidak apa-apa?" tanya Lia padaku.


"Ya kakak tidak apa-apa." Jawabku.


...


"Perkenalkan dia pacarku hehe." Jawab Zoe sambil mencium kening dan merangkul pundak Kie.


"Aaapa yang kau lakukan Zoe?" ucap Kie tampak terkejut malu-malu dengan perlakuan Zoe.


"Heumm... sok romantis." •_• Ucap Lia dari belakangku.


"Hey bung, jangan pernah menjadi matahari di tengah malam... walaupun itu cerah bersinar, tapi di sini menjadi sedikit lebih panas." Ucap salah seorang prajurit bersenjata lengkap sambil merangkul pundak Zoe.


"Yahh... kita biarkan saja." Ucapku berjalan ke arah tenda sambil menarik tangan Lia.


"Luu t-tunggu." Sahut Kie sambil berlari ke arah kami.


Kurang lebih ada sekitar 20 orang prajurit dan 6 6 petualang yang terdiri dari lima wanita sementara sisanya laki-laki, dan di tengah-tengah kerumunan orang itu dengan santainya Zoe bertingkah romantis dengan mencium kening Kie tanpa ada keraguan sama sekali, sedangkan Kie sendiri benar-benar sudah terlihat salah tingkah dengan tindakan Zoe yang tiba-tiba itu, wajahnya bahkan berubah merah apel sambil menunduk malu.


Walaupun itu urusan pribadinya, tapi tindakan Zoe yang pamer kemesraan itu sukses membuat orang-orang yang ada di sini menjadi sangat panas, aku dan Lia kemudian pergi meninggalkan mereka kembali ke dekat tenda diikuti oleh para prajurit dan petualang yang juga tidak tahan melihat dua sejoli yang baru jadian itu.


...


Tampaknya Zoe sudah menjadi budak cinta yang sangat parah.•_•


Tidak ingin ditinggalkan berdua dengan Zoe, Kie kemudian juga ikut pergi bersama kami kembali ke tenda di dekat sungai, dan pada akhirnya kami semua berkumpul di dekat api unggun yang sama, tapi tetap saja Zoe mengikutinya dan duduk di sampingnya dengan sangat dekat sambil tersenyum menatap ke arahnya, sedangkan Kie sendiri hanya tertunduk malu-malu dengan wajah yang kembali memerah duduk diam sambil memainkan jari-jarinya.


"Hei Zoe sebaiknya kau jaga jarak dengan Kie, lihat kepalanya sudah berasap."


"Aaapa maksudmu luu? a-aku tidak malu-malu."


"Kau tau, aku tidak bilang itu." Ucapku dengan tatapan sedikit mengejeknya.


Aku tidak pernah bilang kalau dia malu-malu walaupun Kie tampak menolak keadaannya, tapi dia sendiri yang mendefinisikan ucapanku itu yang itu artinya dia memang sedang salah tingkah, satu kalimat menjebak akan membuat seseorang mengatakan kebenarannya meskipun ekspresinya sudah cukup menjelaskan perasaannya.


"Ahh... aku ingin tidur." Ucap Kie sambil berjalan ke arah tenda.


"Hm... kalau begitu aku juga/"


"TIDAK!!! tidak boleh!!" ucap Lia menghalangi jalan Zoe.


"Kenapa tidak boleh?"


"Bukan tidak boleh, tapi belum saatnya... sebaiknya kau bantu kami mendirikan tenda atau kau tidak akan kebagian tempat tidur." Ucap salah seorang petualang.


"Hu... tidak sopan." Sambung Lia.


Yang benar saja, apa-apaan wajah polosnya itu. •_•


"Tenda ini hanya untuk perempuan laki-laki tidak boleh masuk ke dalam, lagipula tendanya hanya muat dua orang dan jangan berpura-pura tidak memahaminya." Ucapku padanya.


"Tapi, akukan/"


"Tidak ada tapi tapian ikut aku!" ucapku petualang itu sambil menyeret Zoe.


"Oi! lepaskan, aku bisa jalan sendiri."


Saat Kie ingin masuk ke dalam tenda lagi-lagi Zoe ingin pergi mengikutinya masuk ke dalam tenda kami dan tentu itu tidak akan pernah terjadi, Lia yang melihat itu langsung menghalangi langkahnya sebelum Zoe sempat melangkahkan kakinya, laki-laki tidak boleh ada di dalam tenda wanita dan itu adalah peraturan yang mendasar, kau pasti tau apa yang akan terjadi jika itu dilakukan dan aku tidak mungkin membiarkan itu terjadi pada teman baikku.


Sementara kami mengurus Zoe yang pura-pura polos, Kie langsung masuk ke dalam tenda sambil memainkan ujung rambutnya dengan malu-malu tanpa sedikitpun melirik ke belakang, dan setelah Kie masuk seorang petualang pria lainnya menarik leher baju Zoe dan menyeretnya untuk membantu mendirikan tenda-tenda perkemahan.


"Hm... sepertinya aku tidak perlu berjaga malam ini, di sini ada banyak orang yang ikut berkemah hehehe." Ucap Lia sambil sedikit tertawa.


"Ya seperti begitu, tapi tetap saja tenda ini tidak muat/"


"Masalah tenda tidak perlu khawatir kalian bisa ikut tidur bersama kami." Sahut salah satu petualang wanita sambil berjalan mendekat pada kami.


"Owh! benarkah?!" tanya Lia.


"Tentu."


...


Lia tampak sangat senang karena ada banyak orang yang ikut berkemah bersama kami di hutan ini, tentunya itu karena dia tidak perlu khawatir dengan penjagaan yang akan dia lakukan nanti malam karena sudah ada prajurit yang berjaga di setiap jamnya, ditambah lagi ada petualang wanita berambut hitam yang duduk menghampiri kami lalu menawarkan tendanya untuk kami dan itu sangat melegakan.


"Terima kasih banyak, mau minum teh hangat?" Ucapku padanya.


"Baiklah, oh ya perkenalkan aku Jun, kalau boleh tau siapa nama kalian?" tanyanya pada kami.


"Perkenalkan aku Luna dan ini adikku Ellia, dan yang dalam sana itu Kie" jawabku sambil menunjuk ke dalam tenda.


"Salam kenal Jun hehe..." ucap Lia padanya dengan tersenyum lebar.


"Ya salam kenal juga, tapi apa yang kalian lakukan di hutan ini? tempat ini sangat berbahaya."


"Kami hanya mengikuti orang itu, tindakannya sulit dihentikan" jawabku lagi sambil menatap Kie tertidur.


...


"Ahh... akhirnya selesai..."


"Bagaimana kalau kita minum dulu?"


"Tidak tidak aku tidak terlalu suka minum bir"


"Hahahaha apa kau tidak tahan dengan minuman ini?"


"Aku hanya berpikir sebaiknya tidak meminum itu di tempat ini."


...


Sambil dengan meminum teh hangat bersama wanita itu kemudian memperkenalkan dirinya pada kami, dia adalah seorang petualang dan itu terlihat sangat jelas dari pakaiannya jika dilihat dari senjata dan postur tubuhnya dia pasti sangat mahir menggunakan belati atau setidaknya dia hebat dalam pertarungan jarak dekat.

__ADS_1


Setelah dia selesai memperkenalkan diri, kami kemudian juga melakukan perkenalan padanya, Jun dia punya senyuman yang ramah terlihat saat dia membalas senyuman kami, sementara itu Zoe dan para prajurit juga petualang lainnya telah selesai mendirikan tenda dan api unggunnya, terdengar sangat jelas suara percakapannya dengan pimpinan prajurit itu.


"Kalian sendiri sedang melakukan apa di hutan ini?" tanyaku padanya.


"Kami sedang melakukan penyelidikan terkait kabar yang beredar di guild..." jawab Jun.


"Kalau kami boleh tau, kabar tentang apa?" tanyaku lagi.


"Apa kalian tidak mendengarnya dari para resepsionis guild tentang keberadaan pasukan iblis yang bergerak?"


"Jadi tentang kabar itu ya/"


"Kak..." ucap Lia sambil memegang bajuku.


"Tidak perlu takut Lia, lagipula itu hanya sekedar kabar angin saja" ucapku padanya.


Dalam pembicaraan kami aku sedikit penasaran tentang misi yang mengikut sertakan Zoe di dalamnya lalu bertanya pada Jun tentang misi itu, aku cukup terkejut ketika mendengar bahwa misi yang sedang mereka jalankan adalah penyelidikan tentang rumor yang beredar mengenai munculnya pasukan iblis di hutan ini, sontak saja Lia yang juga mendengar itu kembali merasakan ketakutan lagi dan memegang ujung bajuku sambil menyembunyikan wajahnya di baliknya, aku yang melihat itu kembali menenangkannya dengan memegang tangannya lalu mengelus-elus kepalanya.


"Walaupun itu hanya kabar angin, tapi menggerakkan pasukan kerajaan untuk menyelidikinya itu pasti masalah besar" ucap kepala prajurit yang menghampiri kami.


"Anu... bisa kita bicarakan ini nanti, Lia kamu tidur duluan bersama Kie"


"Baik kak" sahutnya sambil berjalan ke dalam tenda.


Di saat Lia sudah mulai tenang lagi-lagi dia menjadi sedikit panik saat mendengar pernyataan kepala prajurit yang tiba-tiba datang menghampiri kami bersama dengan Zoe, aku kemudian langsung menghentikan pembicaraan kami dan dengan sedikit tersenyum aku meminta Lia untuk segera tidur ke tenda bersama dengan Kie, sesuai ucapanku Lia langsung menurut lalu pergi ke tenda dan menutup pintu tenda rapat-rapat.


...*****...


"Jadi, apa maksud ucapanmu itu?" tanyaku padanya.


"Entahlah, tapi aku merasa ada sesuatu bahaya yang akan datang... desas-desus itu memang seperti angin lalu, tapi sangat membekas" jawabnya.


"Terlebih lagi, ada kabar bahwa jarum emas sudah berada di angka 98 walaupun kita tidak tau kepastian bulan dan harinya, tapi itu artinya kita hanya tinggal menunggu kurang lebih dua tahun lagi untuk peperangan abad ini..." sambung Zoe dengan meyakinkan.


"Menurut kabar yang kudengar hanya tersisa beberapa bulan lagi saja akan mencapai ke angka 99 tahun." Lanjut Jun.


'Membekas' itu memang pernyataan yang sesuai dengan keadaan ini, terutama jika berurusan dengan pasukan raja iblis mereka bukan hal yang bisa dibuat candaan, sejarah mereka yang telah melakukan penyerangan ke kerajaan ini sudah ada selama berabad-abad lamanya, dan untuk mengetahui waktu penyerangan yang mereka lakukan seorang penyihir terkuat di masa lalu membuat sebuah jam sihir dari gabungan tiga jam yang masing-masing memiliki tiga jenis jarum yang berbeda.


Jarum emas menandakan tahun, jarum perak menandakan bulan, dan jarum perunggu yang menandakan hari, hari menggeser bulan dan bulan menggeser tahun sisanya hanya tinggal menunggu bel malapetaka berbunyi, seperti itulah legenda yang menyebar di seluruh tanah kerajaan ini dan jika yang dikatakan oleh Zoe dan Jun benar tentang jarum emas maka ini adalah masalah besar.


"Ini situasi yang berbahaya" ucapku mulai tegang.


"Bisa dibilang kami adalah pasukan pengintai untuk mengetahui pergerakan pasukan iblis, karena seharusnya sudah ada beberapa anak buah raja iblis yang bergerak" ucap kepala prajurit mengungkapkan pendapatnya.


Mendengar tentang keadaan saat ini benar-benar membuatku merasa tidak tenang dan tegang dengan situasi ini, karena jika benar ada pasukan iblis yang bergerak maka keselamatan kami benar-benar akan terancam, aku, Lia, Kie, Zoe, dan para prajurit yang ada di sini mungkin tidak akan pernah bertahan, ya... secara tidak langsung aku, Lia, dan Kie hanya terlibat dalam masalah ini karena telah memasuki hutan.


"Alangkah baiknya jika kalian bertiga segera pulang besok pagi, tempat ini sedang tidak aman" ucap Jun.


"Yahh... kurasa itu yang terbaik... emhhh... kalau begitu aku ingin tidur dulu, dan jangan pernah mendekat ke tenda itu atauku tendang wajahmu" ucapku pada Zoe.


"Kenapa kau masih sempat-sempatnya mengatakan itu?!" •_•


"Agar kau tidak berbuat aneh-aneh, yahh... selamat malam." Ucapku masuk ke dalam tenda yang ada di samping tenda Lia.


.


.


Ah ini gawat sebaiknya aku mengajak Kie dan Lia pergi besok pagi, aku sudah berjanji untuk melindunginya...


Karena keadaan yang terlihat berbahaya aku berencana untuk mengajak Kie dan Lia untuk pulang esok hari dan membatalkan misi ini, benar atau tidaknya kabar itu kami harus tetap waspada dan berhati-hati untuk kemungkinan yang akan terjadi jika kabar angin itu benar.


Dan setelah sedikit memperingatkan Zoe agar tidak macam-macam dengan masuk ke dalam tenda Kie sembarangan, aku kemudian pergi ke dalam tenda yang berdekatan dengan Lia dengan melepaskan beberapa perlengkapanku lalu berbaring, tenda ini muat untuk lima orang jadi aku tidak perlu khawatir akan berdesak-desakan di dalam sini meskipun begitu aku tetap tidur di dekat dindingnya.


...*****...


"Jangan menuduhku yang tidak-tidak sekarang cepatlah bangun, setelah sarapan kami akan segera pergi" ucap Zoe sambil membuka pintu tenda.


"Kau terlihat mencurigakan" ucapku padanya.•_•


"Apa-apaan itu, hahh... sebaiknya rapikan dulu pakaianmu Luna, kau sangat berantakan"


"Pakaianku… aaaa! pergi!!"


"Baik baik, sampai jumpa"


Matahari bersinar terang menembus dinding tenda di dekatku dan membuatnya menjadi sedikit lebih hangat, karena dindingnya yang terasa hangat dan sedikit menyilaukan juga ada tangan yang melingkar di dadaku aku kemudian terbangun lalu duduk sambil sedikit merenggangkan tanganku ke depan dan mendapati Lia yang sedang tidur di sampingku, itu cukup membingungkan karena seingatku Lia tidur di tenda yang sama dengan Kie.


Satu hal yang terpikirkan olehku pasti ada orang yang memindahkannya dan di saat yang bersamaan Zoe datang seolah-olah sudah menebak isi pikiranku, tapi walaupun begitu aku masih tidak percaya dengannya, sesaat sebelum dia pergi Zoe sempat mengingatkanku tentang pakaianku yang melorot karena kancing baju yang terlepas dan ya…itu memalukan setengah darinya terlihat sangat jelas.


Sontak saja aku langsung menarik selimut yang ada di kakiku dengan sedikit berteriak agar dia segera pergi dari tempatku.


.....


"Duh…! kenapa bisa terlepas?" ucapku sambil memperbaiki bajuku yang melorot.


"Emhhh…! loh… kenapa kak Luna ada di sini?" tanya Lia.


"Seharusnya kakak yang bertanya Lia, kenapa kamu ada di sini, bukannya kamu tidur dengan Kie?"


"Um... entahlah, kalau tidak salah tadi malam aku keluar mencari minum… setelah itu… um…" ucap Lia dengan berpikir.


Y-yahh mungkin maksudnya salah masuk tenda.


"Ya tidak perlu dipikirkan lagi, kakak sudah paham."


"Hehehehe" tawa Lia.


Setelah Zoe pergi dan menutup tirai tenda aku kemudian langsung memperbaiki bajuku dan merapikannya, sesaat setelah selesai merapikan bajuku yang terbuka Lia terbangun dari tidurnya dengan terlihat kebingungan ketika menatapku, walaupun seharusnya aku yang berekspresi seperti itu karena jujur aku cukup kebingungan dengan situasi ini, tapi satu hal yang langsung terpikirkan olehku saat mendengar jawaban Lia, dia pasti salah masuk tenda saat pulang mencari minum aku bisa membayangkan itu karena Lia memang sering mengigau di tengah malam.


"Ayo kita cuci muka dulu, lalu berkumpul dengan yang lainnya."


"Baik kak."


...


"Agh! airnya sangat dingin" ucap Lia mengusap wajahnya dengan air sungai.


"Yahh... ini sangat menyegarkan" sahutku.


Selesai berbincang kami kemudian pergi keluar tenda untuk mencuci muka di air sungai dengan air jernih yang dingin itu, sangat dingin dan menyegarkan benar-benar sensasi pagi di tengah hutan.


***


"Wo! kau juga sudah bangun."


"Seperti itulah hehe" jawab Kie sambil tertawa kecil.


"Selamat pagi Kie." Ucapku padanya.


"Pagi Luu, bagaimana keadaanmu? apa sudah lebih baik?" tanyanya padaku.

__ADS_1


"Ya cukup baik, tapi masih sedikit sakit untuk digerakkan."


Cukup dengan air sungai aku dan Lia kemudian menghampiri para petualang dan prajurit yang sedang duduk berkumpul, terdengar sangat jelas suara merdeka yang sedang bercanda satu sama lain dan di antara mereka Kie, Jun, dan Zoe yang duduk ikut berbincang dengan mereka ya… tapi tentunya Zoe tidak pernah duduk jauh dari Kie, dia terlihat seperti lem yang menempel erat dengan Kie padahal baru beberapa hari yang lalu dia menyatakan perasaannya.


Aku dan Lia langsung menyapa Kie lalu duduk di sebelahnya dengan sedikit berbincang tentang keadaanku saat ini, dan ya aku masih kesulitan untuk menggerakkan tangan kiriku karena luka dalamnya yang belum sembuh.


...✧❁❁✧✿( Kie )✿✧❁❁✧...


"Hm… kalau begitu kau harus minum obat dulu" ucapku sambil memberikan obat cair yang diberikan Emma padaku.


"T-tidak p-perlu nantinya juga sembuh sendiri" sahutnya sedikit memalingkan wajahnya.


"Mmm kak!"


"I-iya iya baiklah… aku minum…"


Glek Glek


"… agh! pahit!"


"Hehehe" tawa Lia.


"Obat memang selalu seperti itu Luu shishishi" ucapku sambil menahan tawaku.


Melihat Luna yang takut minum obat membuatku hampir tidak bisa menahan tawaku dia sudah dewasa, tapi takut dengan hal seperti itu benar-benar menggemaskan dan untungnya ada Lia dengan tatapan yang memaksa Luna untuk meminum obat itu, sangat jelas wajah keterpaksaan dari Luna saat meminum obat itu hehehe.


"Ada apa denganmu Luna, apa kau sakit?" tanya Zoe padanya.


"Yahh… beberapa hari lalu dia terkena racun kerberos, jadi dia harus minum obat tiap-tiap hari, tapi sayangnya dia terlalu takut minum obat" ucapku sedikit menyindir Luna.


"Aaapa maksudmu, kau lihat tadi aku sudah minum itu kan!!?" sahut Luna melakukan pembelaan.


"Aku kagum kau bisa bertahan dari itu" ucap Jun padanya.


"Aku juga menyangka dengan itu, tapi ini sangat melegakan" sahut Luna.


Orang-orang yang ada di sini terlihat terkejut dengan kenyataan bahwa Luna berhasil bertahan dari racun itu, dan memang itu hal yang jarang terjadi bertahannya Luna adalah sebuah keberuntungan yang tidak terduga.


"Anu Kie… mengenai misi kita…"


"Aku tau itu Luu, tapi kita sudah lewat setengah jalan dan juga jaraknya sudah sangat dekat di sekitar tebing itu" ucapku sambil menatap ke arah tebing besar yang cukup jauh di depan kami.


"Hei nona, tebing itu cukup jauh mungkin sekitar 5 jam perjalanan tergantung kondisi jalurnya" ucap kepala prajurit.


"Y-ya tapi, setidaknya itu tidak sampai perjalanan satu hari" sahutku.


"J-jadi kita tetap melanjutkan misi ini?" tanya Lia sambil bersembunyi di balik bahu Luna.


"Kurasa tidak masalah, karena itu masih tidak terlalu jauh masuk hutan."


Di tengah pembicaraan Luna menanyakan kepadaku tentang misi yang kami ambil dan tentunya aku tetap menjalankan itu karena tempat yang kami tuju sudah sangat dekat, orang-orang di sini sedikit terkejut ketika mendengar itu tak terkecuali dengan Lia yang bersembunyi di balik bahu Luna sambil terus memegangi tangan Luna dengan wajah murungnya, bukannya aku ingin mencari bahaya dengan terus menjalankan misi ini, tapi karena hanya tinggal sedikit saja lagi kami akan sampai di tempat yang kami tuju di mana terdapat banyak tanaman obat yang kami cari.


Ya… tebing tinggi besar itu sudah terlihat jelas di depan mata dan karena itulah aku tetap memilih untuk melanjutkannya, kalau kami membatalkan misi ini maka semua yang kami lakukan hingga ke tempat ini hanyalah sia-sia saja.


"Yahh… kalau begitu aku akan membantu menyiapkan sarapan…"


"Kak aku ikut" ucap Lia mengikutinya dari belakang.


"Aku akan menunggu di sini saja, aku sedang malas untuk bergerak hehehe, pagi ini terasa sangat dingin."


"Baiklah, aku akan memanggilmu nanti" ucap Luna padaku.


Selesai dengan pembicaraan kami Luna dan Lia kemudian pergi menghampiri Jun dan teman-teman untuk membantu mereka menyiapkan sarapan, sementara aku masih duduk di dekat api unggun karena hari yang terasa sangat dingin, yah… aku malas untuk bergerak jika dalam keadaan seperti ini kakiku seakan beku untuk melangkah hehe. ^_^


...


"Hei Zoe gadismu sangat berani… pastikan kau melindunginya HAHAHAHA!!" ucap kepala prajurit sambil menepuk pundak Zoe lalu pergi mengumpulkan semua orang.


"Aku tau itu." sahut Zoe menatapku.


...


"Aaada aapa?" tanyaku sambil menjatuhkan pandanganku.


"Tidak, hanya saja kau terlihat cantik pagi ini."


"J-jangan mengatakan itu di pagi buta seperti ini…" ucapku sambil mengalihkan pandanganku.


"… h-hey t-tunggu…"


Ahh ya turuti saja…


"Kie, Zoe ayo kita sarapan dulu!" panggil Jun.


" … "


"I-iya t-tunggu sebentar… anu…luna sudah memanggil j-jadi… aku mau sarapan dulu" ucapku berdiri dan langsung pergi ke arah Luna.


...


Aaaaa!!! selamat aku selamat!!


Karena sudah tidak ada pembicaraan kepala prajurit kemudian pergi dengan menepuk pundak Zoe sambil berbisik dengannya lalu tertawa keras sambil meninggalkan kami untuk mengumpulkan semua prajuritnya, walaupun aku dapat mendengar dengan jelas apa yang dia katakan pada Zoe karena aku berada tepat di sampingnya.


Walaupun percakapan mereka singkat, tapi aku sedikit tercengang mendengar itu terlebih lagi setelah kepala prajurit pergi Zoe tidak berhenti menatapku sampai-sampai aku harus sedikit menunduk untuk menghindari itu, dia bahkan terus mendekatkan wajahnya padaku walaupun aku sudah sedikit mendorong untuk menghalanginya semakin dekat dan terus semakin dekat sampai akhirnya hanya tersisa sedikit jarak lagi saja kami akan bersentuhan dan di saat itu Jun memanggil kami karena sarapannya sudah siap sontak saja aku langsung berdiri dan meninggalkan Zoe di belakang, aku senang dan terharu dengan itu karena aku nyaris tidak bisa menghindarinya jika tidak dipanggil Jun.


"Kau kenapa Kie, masih banyak tempat duduk di sana" ucap Luna padaku.


"Ssttt! tolong biarkan aku di sini."


" … "


"Owh begitu, yahh… baiklah."


Berhasil lepas dari Zoe aku duduk di antara Luna dan Jun agar dia tidak duduk di dekatku untuk sementara waktu bukannya aku tidak suka dengan itu, tapi karena aku sangat kesulitan untuk fokus kalau dia terus-menerus berada di dekatku bahkan dari kemarin aku kesulitan untuk mendapatkan kefokusanku, padahal dia teman lamaku dan sering bercanda dengannya, tapi entah kenapa aku sekarang malah sangat canggung saat bersamanya.


"Mau disuapi?" ucap Zoe padaku.


"Uhuk uhuk… t-tidak perlu aku makan sendiri saja" sahutku.


"Hei Zoe bisa jangan ganggu Kie makan…" ucap Luna sambil mengelap wajahnya.


"Iiiyuh…" Lia menyisihkan makanannya.


"Y-ya baiklah."


"Eh! Luu m-maaf a-aku tidak sengaja."


"Yahh... tidak apa-apa hehehe."


Mendengar ucapan Zoe sontak saja membuatku tersedak dan sedikit menyemburkan air di mulutku sampai-sampai mengenai Luna yang ada di sampingku, dan terlihat juga Lia yang sedang menyisihkan makanannya karena itu, setelah menolak itu aku terus mempercepat makanku dengan sedikit menunduk karena Zoe duduk di depanku sarapan pagiku hari ini terasa sangat sulit.

__ADS_1


...✧❁❁✧✿( )✿✧❁❁✧...


__ADS_2