I Was Reincarnated As A Dragon

I Was Reincarnated As A Dragon
Chapter 138: Harapan


__ADS_3

"Yosh… waktunya mengakhiri ini!!" ucapku sambil bersiap untuk menyerang.


"Tunggu!!!" bentak perempuan serigala itu padaku.


"Um… ada apa?"


"Kenapa kau melakukan ini? dirimu sangat kuat, kau bisa membunuhku dengan sangat mudah dengan kekuatanmu itu…" ucapnya berbicara dengan nada pelan sembari menundukkan pandangannya.


"Aku tidak memiliki alasan untuk melakukannya, lagipula orang tuaku pernah bilang bahwa aku tidak boleh menggunakan kekuatanku untuk menyakiti orang lain" jawabku membelakanginya.


"Apa-apaan itu?! bilang saja kau ingin mengejekku! bilang saja kau ingin membuat kami putus asa dan membunuh kami dengan hinakan?!!! iblis sepertimu mana mungkin memiliki niat baik!!" teriaknya padaku dengan suara keras.


"Kau tau, aku sangat ingin berteriak 'hentikan' dengan keras padamu… berulang kali aku mengatakan bahwa aku bukanlah iblis, tapi kenapa telingamu yang indah itu tidak pernah mendengar ucapanku? ya… meski begitu sekilas pikiranku berkata 'mungkin kau memiliki masalah tersendiri dengan iblis' dan karena itu aku tidak bisa meneriakimu…" ucapku sembari menundukkan wajahku.


Melihat monster minotaur yang berdiri dengan banyak celah setelah aku melepaskan senjatanya, aku kemudian langsung mengambil ancang-ancang untuk melakukan serangan terakhirku dengan berniat akan menendang kepalanya, tapi tiba-tiba perempuan serigala itu berteriak padaku yang sontak membuatku terhenti dengan keadaan bingung dan bertanya-tanya, setelah aku berhenti dan menoleh ke arahnya perempuan serigala itu kemudian bertanya sambil mengepalkan tangannya dengan wajah yang menunduk.


Dia mengatakan sesuatu seolah-olah sedang mengakui kekalahan dan menyadari perbedaan kekuatan yang sangat terlampau jauh darinya, dengan tenang aku kemudian menjelaskan alasanku untuk tidak melakukan apa yang selama ini dia pikirkan selama ini, selain karena aku mengingat ucapan orang tuaku aku juga memang tidak ingin melukai atau bahkan sampai membunuh orang lain dengan kekuatanku kecuali untuk alasan yang jelas.


Mendengar ucapanku itu dia malah semakin erat mengepalkan tangannya dan berbicara dengan keras sembari melontarkan tuduhan-tuduhan yang jelas tidak pernah terpikirkan olehku untuk melakukannya, aku sangat ingin berteriak keras untuk membentaknya karena ini sudah kesekian kalinya dia menyebutku sebagai iblis padahal tidak setetes pun ada darah iblis dalam diriku, akan tetapi saat aku ingin membuka mulutku untuk melakukannya aku tak sengaja melihat ke arah matanya yang berkaca-kaca ketika dia mengatakan semua itu dan karena itulah aku tidak bisa mengatakan apapun padanya kecuali ucapan yang tenang.


"… jadi, apa sekarang kau sudah tenang?" sambungku sembari menatap ke arahnya.


" … "


SRING!!!


""Arghh!!""


"Hah?! monster itu… gawat!" ucapku tercengang sambil menatap ke arah monster minotaur.

__ADS_1


Berbicara dengan pelan aku berusaha untuk memberikan ketenangan pada perempuan serigala itu yang kini sedang terdiam tanpa suara setelah aku selesai dengan ucapanku, akan tetapi ketenangan yang kami rasakan hanya sekedar angin lalu dan langsung berubah menjadi kepanikan dikarenakan ada suara gemerincing besi rantai disertai oleh jeritan yang terdengar sangat keras, dan aku sangat tercengang setelah melihat monster minotaur yang sebelumnya telah terluka parah kembali beraksi dengan menghantamkan rantai besar yang ada di pinggangnya pada tiga orang manusia yang sebelumnya menghadapinya.


GROAHH!!!


"Tidak akan kubiarkan!!" ucap lelaki sebelumnya sembari berbalik arah menyerang minotaur.


"Tidak!! jangan mendekatinya!!!" ucapku berteriak keras.


DUARRR!!!


"Tidak, Sam, Noel, Kaov, Jaz, Nath, Kroz, tidak tidak tidak tidak!!" ucap perempuan serigala itu terjatuh bersimpuh melihat teman-temannya terkapar.


GROAHH!!!


"Berani-beraninya kau melukai mereka dasar bajingan! enyahlah dari hadapanku!" ucapku menatap tajam ke arah minotaur.


GROAHH!!!


Ssttt!!


DUARR!!


Melihat ketiga rekannya terkapar dan minotaur itu yang mulai akan menyerang kedua temannya yang berada di seberang sungai, lantas membuat lelaki manusia berambut cokelat sebelumnya berlari menuju minotaur itu untuk menghentikannya, dan karena merasa ada yang janggal dari pergerakan minotaur itu aku kemudian meneriakinya agar dia berhenti.


Akan tetapi, peringatanku itu sudah sangat terlambat karena monster minotaur yang sebelumnya telah menunjukkan banyak titik celah tiba-tiba saja membalikkan arah serangannya, dan berhasil menghempaskan rantai besarnya tepat mengenai lelaki itu hingga dia terpental jauh dan menghantam beberapa pohon hingga tumbang, tidak hanya sampai di situ monster itu langsung mengibaskan rantainya ke arah kedua rekan lelaki itu yang berada di seberang sungai hingga mereka semua sekarat.


Terdiam lesu menyaksikan teman-temannya terkapar sekarat perempuan serigala yang berada di belakangku terjatuh dengan bersimpuh dan air mata yang mengalir sembari menyebut satu persatu nama temannya, melihat keganasan minotaur itu aku kemudian mengarahkan tangan kananku pada monster itu sambil menatap tajam ke arahnya dengan tatapan kekesalan sembari mengenyahkannya dari hadapanku, bukan karena tidak ingin membunuhnya saat aku memintanya untuk pergi, tapi aku melakukan itu karena aku ingin menyiapkan lapangan yang sesuai untuk membunuhnya.


Entah mengerti atau sekedar terintimidasi minotaur itu langsung pergi setelah meraung keras tanpa ada melakukan serangan apapun padaku, setelah cukup jauh dari tempatku aku kemudian menarik kembali pedangku yang tertancap di batang pohon dari kejauhan, mungkin terdengar aneh dan seperti halusinasi anak kecil, tapi pedang itu memang melayang kembali ke genggaman tanganku saat aku mengarahkan tanganku padanya, dan dengan cepat aku kemudian langsung menebaskan pedangku ke arah minotaur itu.

__ADS_1


Dan langsung saja tebasanku membentuk garis setengah oval yang berkobar dan membakar apapun benda di hadapannya, dan berakhir meledak dengan kuat ketika menghantam tubuh minotaur itu, ledakan dari tebasanku membuat area hutan tertutupi oleh kobaran api biru yang membakar setiap ranting dan daun dari tanaman yang ada bahkan monster minotaur itu lenyap ditelan kobaran api.


"Hahh…!! aku harus menolong mereka, kuharap aku masih sempat melakukannya!!" ucapku menghela napas berat sambil bersiap untuk menolong kelompok perempuan serigala itu.


"Tidak apa Shea, mari lakukan… zona sihir: penyembuhan area" ucapku menenangkan diri sebelum akhirnya menggunakan sihir penyembuhan.


"Kau terlalu dingin, sekarang padamlah… klik!" ucapku menatap kobaran api biruku sembari menjentikkan jari untuk memadamkannya.


Deg!


Sekilas berpikir aku sedikit ragu untuk menggunakan sihirku karena masih terbayang rasa sakit tadi malam, tapi sadar tidak ada pilihan lain dan waktu yang sangat sedikit dengan kondisi yang sangat parah aku kemudian menggunakan sihir penyembuhan area untuk menjangkau mereka semua, dan beruntungnya aku masih sempat untuk menyelamatkan mereka jika saja aku sedikit terlambat mungkin mereka sudah tidak tertolong.


Dan saat sedang memfokuskan diri pada penyembuhan mereka tubuhku terasa merinding karena hawa dingin dari api yang berkobar di belakangku jadi aku kemudian langsung memadamkannya dengan jentikan jariku, ya memang terdengar seperti sebuah gurauan karena api tidak mungkin menjadi dingin.


Akan tetapi, apiku mungkin sedikit berbeda dari kebanyakan kobaran api pada umumnya, bukan panas yang kurasa dari kobaran api itu melainkan hawa dingin yang membuatku merinding hingga ke tulang, dan setelah aku memadamkan api itu rasa sakit dari rantai di leherku mulai terasa mencekikku bahkan membuat leherku memerah.


"Hiks hiks… bisakah kau membunuhku? aku ingin ikut bersama mereka, kumohon bunuhlah aku" ucapnya padaku.


"Eh! tenanglah kak, teman-temanmu baik-baik saja loh… aku sudah mengobati mereka, tapi mungkin perlu waktu agar mereka bisa sadar, ja-jadi bisa jauhkan kata 'membunuh' untuk/" ucapku padanya sembari mengelus punggungnya.


"Benarkah? Kau tidak bercandakan? mereka baik-baik saja?"


"Ya seperti itulah, bagaimana kalau sebaiknya kita kumpulkan mereka di sini" ucapku padanya sembari menatap ke arah beberapa orang yang terkapar cukup jauh.


Selesai dengan sihir penyembuhanku terdengar tangis sesegukan dari perempuan serigala yang berada di belakangku, perlahan berjalan sambil mengembalikan pedangku menjadi gelang aku sangat terkejut saat mendengar perempuan serigala itu memintaku untuk membunuhnya bahkan dia mengatakan itu dengan air mata yang mengalir deras membasahi pipinya.


Mendengar ucapannya itu aku kemudian mendekatinya dan langsung mengelus-elus punggungnya untuk menenangkan dirinya, meskipun aku sendiri sedang tidak bisa tenang karena rantai yang membara di leherku bahkan aku mulai berkeringat hanya untuk menahannya.


Aku kemudian mengatakan padanya bahwa teman-temannya baik-baik saja dan sudah aku obati dengan sihir penyembuhanku meskipun masih memerlukan waktu untuk menunggu mereka semua sadar, dan dengan air mata yang bercucuran dia kemudian mengangkat wajahnya lalu bertanya tentang kebenaran ucapanku itu bahkan terlihat jelas dari wajahnya yang begitu berharap bahwa ucapanku itu benar, melihat wajahnya itu aku kemudian mengiyakannya sembari menatap ke arah orang-orang itu lalu menyarankan agar mereka dikumpulkan di satu tempat, dikarenakan sulit untuk mengawasi jika tubuh mereka terletak di tempat yang berbeda.

__ADS_1


"Baik!" sahutnya kembali tersenyum dengan pipi yang basah dan merah.


...🌹🌹🌹🌹🌹...


__ADS_2