
Setelah tuan menurunkan kami, dia memberikan perintah padaku untuk menyelamatkan putri bersama dengan pria ini, kami pun dengan segera masuk ke dalam istana melewati jalan taman yang ada di belakang istana.
Cukup luas dan dipenuhi tanaman merambat sangat sempurna untuk masuk tanpa ketahuan.
"Memang sedikit terlambat untuk ini, tapi... perkenalkan aku Sira dan siapa namamu? akan lebih mudah memanggilmu dengan nama." Tanyaku padanya.
"Panggil saja Goro." Sahutnya.
"Baiklah."
Kami saling mengobrol sambil berlari dan mengendap-endap menyusuri koridor istana untuk mencari tau keberadaan putri.
"Apa kau tau di mana putri ditahan?" tanyaku padanya.
"Tidak.. aku tidak tau, tapi ada kemungkinan putri Roha ditahan di penjara bawah tanah, tapi itu hanya sekedar kemungkinan." Jawabnya sambil mengawasi keadaan sekitar.
"Jadi begitu, ini sulit kita harus bisa menemukannya dengan segera, jika tidak mungkin saja...
"Awas!"
Saat aku bicara tiba-tiba ada tiga orang prajurit muncul dari balik dinding di depan kami, aku langsung menarik baju Goro dan bersembunyi di balik vas bunga yang cukup besar yang ada di belakang kami.
"Itu tadi nyaris saja!" Ucapnya dengan lega.
"Mungkin akan lebih baik jika kita tanyakan pada mereka." Lanjutku bicara.
"Ide yang bagus."
.
.
.
"Siapa kalian?!"
" ... "
"Penyusup!!"
"Arghhhhh!!"
"Di mana putri?"
"Siapa kau...!"
kami kemudian menangkap ketiga orang prajurit itu dan membawanya ke tempat yang sepi lalu mulai menanyainya dengan pertanyaan yang sederhana.
"Kau tak perlu tau, cukup jawab saja pertanyaan ku! di mana putri ditahan?!" tanya Goro pada salah seorang prajurit itu.
"Hahahaha... kau pikir aku akan menjawabnya!" sahut prajurit itu dengan angkuh.
"Tak apa jika kau tidak mau menjawabnya, aku akan tanya pada mereka." Lanjut Goro.
"Hey kalian! apa kalian tau di mana putri ditahan?!"
" ... "
"Kau terlalu lemah pada mereka, biar ku tunjukkan bagaimana caranya bertanya!" ucapku padanya.
"Hey manusia lemah, cepat katakan di mana putri ditahan? atau kalian akan menderita seumur hidup kalian!"
Aku bertanya dengan sedikit mengancam mereka menggunakan taring dan beberapa buah cakar yang mengkilap.
"Bagaimana? apa kalian ingin menjawabnya?" lanjutku.
"Puihh... kau pikir kami akan menjawabnya hanya karena taring-taring itu, tak akan pernah!" jawab prajurit yang paling depan sambil meludah.
Sstttt!!!
"Arghhhhh!!!!!"
"Oh! maaf tanganku terpeleset, jadi bagaimana? apa kau ingin menjawabnya atau kau ingin mati secara perlahan seperti daging cincang, aku tidak keberatan untuk mencincangmu hidup-hidup, lagipula tidak akan ada orang yang datang ke sini menyelamatkanmu." Lanjutku bertanya.
Dengan sedikit ayunan cakarku memotong tangannya sampai putus dan mengeluarkan banyak darah, aku suka dengan teriakkan nya itu seperti musik di telingaku.
" ... "
"Ohhh masih tetap tidak mau buka mulut ya..."
"Arghhhhh!!!!!!"
Aku kemudian memotong tangannya yang lain sama seperti yang sebelumnya hanya saja yang kali ini dengan sedikit lambat agar dia semakin menderita dan mau menjawabnya, sudah cukup lama aku tidak melakukan ini.
"Bagaimana dengan kalian?!" tanya Goro pada prajurit yang lain.
"Arghhhhh!!!!!!"
" ... "
" ... "
"Arghhhhh!!!!!!"
Aku terus menyiksa prajurit yang satu ini dengan kejam tanpa ampunan sedikitpun, setelah memotong kedua tangannya aku melanjutkannya dengan memotong kedua kakinya, ini adalah sebagai bukti bahwa aku tidak pernah main-main dengan ucapanku.
__ADS_1
kedua prajurit lainnya tampaknya sudah mulai ketakutan, mereka mengeluarkan keringat dingin melihat temannya kusiksa dengan kejam sampai mati.
"Akan kuberikan satu kesempatan lagi untuk kalian, jadi jawablah dengan benar atau kalian akan menderita seperti teman kalian itu." Lanjut Goro.
"Bagaimana? apa kalian ingin seperti orang ini?" ancamku.
" ... "
" ... "
"Oh... begitu ya, mari kita lihat seberapa kuat kalian menahannya."
Aku langsung mengeluarkan semua cakarku dan bersiap untuk mengunyah tengkorak mereka, ini akan menjadi hari yang bagus untuk penyiksaan.
Sstttt
"Di bawah! putri ada penjara bawah tanah di jeruji paling ujung!" jawab salah satu dari mereka.
"Ampuni aku! aku tidak ingin mati!"
"Bawah tanah? apa kau yakin?!" tanyaku sekali lagi padanya.
"Y-ya! aku bersungguh-sungguh aku bersumpah! putri ada di penjara paling ujung di lorong keempat!" ujarnya dengan ketakutan.
"Baiklah, terima kasih atas informasinya dan selamat menikmati hari yang cerah."
Sstttt
"A-aa...!"
"Hm... aku tidak bilang kalau kalian akan selamat setelah mengatakannya."
"Kurang ajar!!! brengsek kau monster sialan!!!!"
Sstttt
Aku sengaja membunuh mereka semua agar mereka tidak melaporkan kedatangan kami pada atasan mereka itu akan sangat berbahaya terutama bagi putri, bisa saja dia akan dibunuh sebelum sempat kami selamatkan.
"Jadi di mana penjaranya?" tanyaku pada Goro.
"Lewat sini! penjara itu tepat berada di bawah kita saat ini tapi pintu masuknya ada di sebelah barat istana, tepatnya di samping gedung pelatihan prajurit baru."
Kami melanjutkan perjalanan langsung menuju ke penjara bawah tanah yang disebutkan prajurit sebelumnya, di sepanjang lorong kami membantai puluhan prajurit yang sedang berpatroli dan berjaga di tempat itu.
Setelah cukup lama kami akhirnya sampai di depan pintu penjara dan langsung memasukinya tanpa ragu.
"Siapa itu?!"
"Jadi, bagaimana?" tanya Goro
Kami berdua kemudian membunuh prajurit penjaga itu dengan cepat dan langsung berlari untuk menghemat waktu.
"Mereka cukup merepotkan!" ujarku agak kesal.
"Sebaiknya kita tidak membuat keributan yang tidak perlu, jangan sampai kita memancing perhatian prajurit yang lainnya." ucapnya padaku.
"Tinggal satu lorong lagi kita akan sampai ke tempat putri Roha, kita tidak boleh gagal melakukannya." Lanjutnya.
"Ya tentu."
Duarrrrr
GROAAHHHHHH!!!!!!
"Apa itu?!" tanyanya
"Itu suara tuan! ayo! sebaiknya kita segera bergegas!"
Sepertinya tuan sedang membereskan bagian luar, itu bagus dengan kemunculannya yang tiba-tiba pasti akan menarik perhatian banyak prajurit dan melonggarkan penjagaan di sini.
"Baik!" sahutnya.
"Kapten!"
"Eh...! kalian..."
Tiba-tiba ada seseorang yang memanggil Goro dari balik jeruji dan sepertinya Goro mengenal mereka mungkin itu adalah temannya, tapi tunggu aku pernah melihat mereka bukankah mereka pengawal putri.
"Yoshh baiklah lebih banyak orang lebih bagus."
Aku mencakar gembok penjara sampai hancur untuk mengeluarkan mereka dari jeruji.
"Bagaimana keadaan kalian?"
"Kami baik-baik saja kapten."
"Oi!!! cepatlah! kita harus segera pergi menyelamatkan putri!" Ucapku memotong momen reuni mereka.
"Baik!!"
Kami semua kemudian pergi bersama-sama dan akhirnya sampai di depan penjara putri, tapi sebelum itu kami harus melawan dua orang penjaga terlebih dahulu dan tampaknya mereka bukan orang yang lemah, terutama yang bertubuh besar itu, sedangkan yang satunya hanya anak-anak biasa.
"Lama tak berjumpa, Goro kupikir kau sudah bunuh diri karena tidak bisa menyelamatkan putri waktu itu." Ucap salah seorang dari mereka.
"Juan!"
__ADS_1
"Apa kau mengenalnya, Goro?"
"Ya, dia adalah komandan pasukan khusus kerajaan, dia orang yang licik."
"Aku merasa tersanjung mendengar pujianmu."
"Komandan ya..."
"Jadi apa kalian semua sudah siap untuk mati?!" Ucapnya dengan angkuh.
Aku sangat ingin mencabik-cabik nya, orang ini benar-benar menyebalkan, dia berlagak seperti orang yang kuat padahal kekuatannya tidak seberapa, aku merasakan kekuatan sihirnya bahkan lebih lemah dari Goro hanya saja mungkin dia akan lebih unggul dari segi kekuatan tubuh.
Sstttt
Dia menyerang kami dengan sangat cepat, tapi dengan sigap kami menghindarinya.
Aku langsung menggunakan sihir perubahan dan mengubah tubuhku menjadi bentuk humanoid agar lebih mudah bertarung dengannya.
"Hahahaha... kupikir tempat ini hanya diisi oleh orang yang lemah ternyata... ada singa yang bersembunyi di dalamnya." Ucapku padanya.
"Aku merasa tersanjung dipuji oleh raja harimau yang melegenda."
"Hahahaha... kau cukup pintar juga bisa mengetahui hal itu."
"Baiklah... karena sudah terlanjur akan ku selesaikan dengan cepat." Ucapku padanya.
"Dengan senang hati aku akan menjawab tantanganmu."
"Kau terlalu angkuh manusia! orang sepertimu adalah orang yang akan mati pertama kali dalam peperangan." Lanjutku padanya
"Kita buktikan saja ucapanmu itu, aku atau kau yang akan mati."
Sstttt
Duarrrrr!!
"Sudah selesai... hey bocah apa kau juga ingin mati bersama tuanmu itu."
"Tidak, kalian boleh membawanya... sejak awal aku tidak suka dengan kekerasan, ambillah ini!" ucapnya dengan sopan dan nada yang agak sedih.
"Baiklah, terima kasih." Sahut Goro.
Sepertinya anak yang satu ini cukup bijak memilih keputusan, dia tau mana lawan yang bisa dihadapi dan mana lawan yang mustahil untuk dikalahkan.
Dia juga memberikan kunci penjaranya pada kami, sepertinya dia sedang pasrah dengan keadaannya, melihatnya seperti itu aku kemudian merubah tubuhku ke wujud semula sebagai seekor harimau.
"Hey bocah siapa namamu?" aku bertanya padanya.
"Obi." jawabnya
"Obi, apa kau marah padaku karena membunuh tuanmu?" lanjutku bertanya.
"Tidak... aku hanya sedih dengan keadaan kerajaan saat ini... banyak orang saling membunuh satu sama lain, ini berbeda dengan apa yang diinginkan raja Erfrid." Ujarnya dengan pelan.
"Raja Erfrid... jadi begitu ya... kau orang yang baik."
"Benarkah?"
"ya..."
"Bolehkah aku meminta sesuatu?" tanyanya.
"Apa itu?"
"Aku mohon bisakah kalian menyelamatkan putri Roha, dia adalah satu-satunya peninggalan raja dan ratu."
"Memang untuk itulah kami datang ke sini." Sahutku.
"Tenang Obi, mari kita jemput putri." Ucap Goro padanya.
"Baik..."
Kami kemudian masuk ke dalam penjara menjemput putri Roha, tapi kami sangat terkejutkan dengan keadaannya yang sangat buruk tubuhnya tergantung dengan rantai yang mengikatnya, di tubuhnya terdapat banyak luka memar dan juga luka cambuk.
"Siapa...?" Ucapnya dengan lemas tak berdaya.
"Putri! ini saya, Goro!"
"Goro..."
"Hiks... Hiks..."
Putri itu menangis melihat kedatangan kami, mungkin karena dia sudah tak berharap untuk selamat, dia menderita penyiksaan yang sangat kejam.
"Saya akan menyembuhkan luka anda tahanlah sedikit!"
Goro dan orang-orangnya menurunkan tubuh putri lalu menyandarkannya di dinding penjara dan langsung mengobatinya, walaupun begitu luka putri tidaklah benar-benar sembuh karena saking parahnya luka itu, bahkan tubuhnya masih sangat lemah.
"Putri... maafkan saya... maafkan saya." ujar Obi.
"Bukankah kau orang yang sering bersama ayah?... tidak apa-apa... ini bukan salahmu."
"Tidak putri... ini semua salah saya, maafkan saya... sayalah yang telah meletakkan racun di minuman raja, maafkan saya..."
"Eh! apa maksudmu?"
__ADS_1
...~•~...