
"Kurasa seperti itu sudah cukup." Ujar tuan sambil menarik kembali tangannya.
Tuan berhasil menyembuhkan luka putri, tapi tampaknya putri Roha masih belum sadarkan diri mungkin karena dia kehilangan banyak darah.
"Terima kasih banyak, naga." Ujar Goro pada tuan.
"Apa yang dia katakan, Sira."
"Dia bilang ' terima kasih ' tuan." Sahutku.
"Ooo..."
Tuan kemudian mengangguk-anggukkan kepalanya ke arah Goro untuk merespon ucapannya, dia tidak bisa memahami ucapan manusia jadi setiap ada manusia yang berbicara padanya dia selalu menanyakannya padaku terlebih dahulu sebelum meresponnya.
Tapi, kenapa aku bisa mengerti apa yang dia katakan? ya tentu karena aku juga monster, Monster memiliki caranya tersendiri untuk berbicara sama halnya dengan tuan yang mengirimkan telepati langsung ke pikiranku, tapi hanya sesama monster yang bisa menangkap suara itu.
Tentunya itu hanya berlaku bagi monster yang memiliki kesadaran sama sepertiku dan juga tuan sedangkan bagi yang tidak memilikinya mereka tidak lebih dari sekedar monster liar tak berakal.
"Selanjutnya apa yang akan kita lakukan, kapten?" ujar salah satu prajurit.
"Seperti yang sebelumnya, kita harus menghentikan pemberontakan ini, sambil menunggu bantuan dari benteng timur, kita harus bertahan sampai mereka datang." Ucap Goro padanya.
"Hey Sira! sekarang apa yang mereka katakan?" tanya tuan padaku.
"Mereka bilang, mereka akan melanjutkan rencananya untuk menghentikan kudeta dan menunggu bantuan datang, tuan." Jawabku.
"Bukankah dalang dari semua ini sudah mati, itu artinya para penjahat itu sudah kalahkan? lalu kenapa mereka meminta bantuan? "
"Dalangnya memang sudah dikalahkan, tapi kita tidak tau apa yang akan dilakukan oleh para bawahannya, mereka mungkin tidak akan berhenti walaupun pemimpinnya sudah mati." Lanjutku menjawab.
"Bawahan? apa maksudmu mereka?" Ucapnya sambil menunjuk ke belakang samping kanan.
" ... "
Aku hanya terdiam dan terpelongo melihat banyak mayat yang berserakan dan darah yang berhamburan, jika mental mu tidak kuat untuk melihat itu kau pasti sudah trauma dengannya.
Seperti yang dia katakan, semuanya sudah berakhir dan kemenangan ada di pihak putri bersama orang-orang setianya, tapi apa memang benar seperti itu? selama masih ada orang yang benci dan tidak suka dengannya pemberontakan ini akan tetap berlanjut.
"Hey Sira! untuk jaga-jaga bisakah kau katakan ini pada mereka semua!?"
"Apa itu tuan?" ucapku dengan bingung.
"Bilang saja 'menyerahlah dan tunduklah pada putri atau kalian akan mati' yup katakan saja seperti itu."
" ... "
"Apa anda yakin, tuan?"
Apa kata-kata seperti itu akan berhasil untuk menundukkan para pemberontak ini, aku tidak perlu memikirkan itu lagi pula ini bukan urusanku, apapun yang terjadi kepada putri nantinya itu adalah risiko seorang pemimpin.
"ya" Lanjutnya.
Sebenarnya apa yang diinginkan tuan dengan melakukan semua ini, bagiku tidak ada keuntungannya melakukan ini, tapi kenapa dia melakukannya? apa semua yang dia lakukan hanya karena alasan pertemanan sepihak tidak masuk akal, dia sangat berbeda dengan semua monster yang kukenal, benar-benar sangat berbeda.
__ADS_1
GROAAHHHHHHH!!!!!
"Silahkan, Sira."
Sebagai pembuka tuan meraung sangat keras sampai-sampai suara raungannya memenuhi seluruh penjuru ibu kota dan sesuai dengan yang dia perintahkan aku langsung menarik nafas panjang untuk bersiap memberikan gertakan pada mereka, gertakan yang nyata.
"HEY KALIAN PARA PENGHIANAT PEMIMPIN KALIAN SUDAH MATI! JADI MENYERAHLAH DAN TUNDUKLAH PADA PUTRI ATAU KALIAN SEMUA AKAN MATI MENJADI SANTAPAN TUANKU SANG WHITE DRAGON, semoga hari kalian menyenangkan." Ucapku dengan lantang dan sangat keras.
Seketika para penghianat itu langsung menjatuhkan senjatanya dan mengangkat kedua tangannya, mereka benar-benar mengkebarkan bendera putih pada kami.
Padahal itu hanya kata-kata sederhana, tapi ternyata cukup efektif untuk menakut-nakuti mereka, kebanggaan mereka benar-benar runtuh.
"Eh...!"
Goro dan para bawahannya terkejut melihat para prajurit pemberontak menjatuhkan senjatanya dan menyerah pada putri atau mungkin lebih tepatnya menyerah karena takut pada tuan.
"Berterima kasihlah pada tuanku karena telah mau menolong kalian!" ucapku pada Goro.
"Terima kasih banyak, tuan naga." Ujar Goro berterima kasih pada tuan.
"DI SANA!!!"
Tiba-tiba aku mendengar suara teriakan disertai dengan suara langkah kaki yang begitu banyak, sepertinya ada banyak prajurit yang sedang berlari ke arah kami dengan mengangkat senjatanya, bahkan aku bisa melihatnya dari atas sini.
Ini seperti penyerbuan ada banyak sekali prajurit yang mengepung ibu kota.
"Hah...! mereka belum menyerah ya... mereka mencari mati!" ucapku agak kesal.
"Lybra?!"
"Apa mereka musuh?"
"Tidak, mereka bantuan yang sedang kita tunggu." jawabnya.
"Jadi, siapa mereka, Sira?"
"Mereka adalah bala bantuan, tuan." Jawabku.
"Ooh... jadi begitu, itu artinya tugas kita di sini sudah selesai, ayo pergi sebelum ada yang melihat."
"Baik, tuan."
"Naiklah!"
Aku langsung melompat naik ke atas kepalanya dan berpegangan di salah satu tanduknya, tuan langsung menggunakan sihirnya untuk berkamuflase agar tidak ada orang yang bisa melihatnya dan perlahan melebarkan sayapnya lalu terbang meninggalkan Goro dan yang lainnya.
Wush...wush...wush...
"Hey Sira! aku ingin jalan-jalan sebentar apa kau tidak keberatan?" tanyanya.
"Tak masalah, tuan!"
Sejak awal arah terbangnya memang sudah beda, dia tampak sangat bersemangat, memangnya kemana tuan ingin pergi? yahh untuk sekarang tidak perlu memikirkan itu yang terpenting adalah apa aku bisa selamat jatuh dari atas sini.
__ADS_1
Tuan membawaku terbang sangat tinggi, aku berpegangan sangat erat pada tanduknya ini terlalu tinggi, jika saja dia bukan tuan yang kulayani aku lebih baik melawan seribu prajurit daripada harus naik ke atas sini.
.
.
.
"Ano... Sira! kita sudah sampai, apa kau tidak mau turun?"
"A-a... ya! maaf tuan."
Selamat aku selamat! aku selamat! keberuntungan masih ada di pihakku!
Aku langsung melompat turun dan kemudian berbaring di tanah sambil menutup mata, rasanya jantungku hampir terlepas, tubuhku bahkan tak berhenti gemetar.
Ah ini nikmat!
Perlahan aku mulai tertidur dengan sangat pulas, rerumputan ini rasanya sangat lembut dan begitu nyaman.
Zzz... Zz...
.
.
.
"Sira, waktunya makan malam."
"Eh...! aku tertidur...! Ha!! maaf tuan!"
"Tak masalah, lagipula aku suka melihatmu tidur, kau terlihat imut, hehehe." Ujarnya sambil tertawa kecil.
Ya memang baginya aku hanya terlihat seperti kucing kecil yang imut dilihat dari perbedaan ukuran kami, dia sangat besar jadi wajar saja jika dia menganggap ku seperti itu, aku tidak keberatan jika tuan yang mengatakannya, tapi jika orang lain mungkin akan sedikit berbeda.
"Ini untukmu." Ucap tuan sambil mendorong sepotong daging panggang padaku.
"Sekali lagi maaf, tuan."
"Sudah kubilang tak masalah, ayo kita makan sebelum dingin."
Seperti biasa tuan selalu memberikan makanan saat tiba waktunya, tiga kali sehari pagi, siang, dan malam, makan yang teratur bagus untuk pertumbuhan tapi makan yang berlebihan tidak baik untuk kesehatan.
Masalah adalah tuan selalu memberikan makanan porsi jumbo yang bahkan sulit untuk dihabiskan.
aku sedikit tidak enak dengannya, jika dipikir-pikir seharusnya akulah yang mencarikan makanan untuknya sebagaimana kesetiaan seorang bawahan Kepada majikannya, tapi ini malah sebaliknya, lain kali aku yang akan melakukannya.
"Pemandangannya sangat indah kan, Sira." Ujarnya padaku.
"Ya, tuan"
Makan malam ditengah cahaya bulan dan ditemani oleh hamparan bintang yang berkilauan, benar-benar pemandangan yang sangat memukau.
__ADS_1