I Was Reincarnated As A Dragon

I Was Reincarnated As A Dragon
Chapter 163: Kakek tua


__ADS_3

Hiks... kenapa semua orang selalu berpikiran buruk tentangku? hiks... padahal aku hanya ingin hidup santai dan punya banyak teman... hiks… kenapa ini harus terjadi padaku?


Brukk!


"Hiks… hiks… aku benci hidup ini..."


Aku terus berlari tanpa arah tujuan sambil menyapu air mataku yang mengalir menyatu dengan hujan tanpa peduli sedingin apa tetesan air yang mengguyurku, sampai akhirnya aku terjatuh ke dalam kubangan air karena tersandung akar pohon, aku tidak bisa menghentikan tangisku dari kehidupan yang sangat aku benci ini, tidak ada kemajuan dari tindakan yang aku lakukan selama tiga bulan terakhir dan malah membuatku semakin dijauhi oleh orang-orang yang aku temui.


Menangis dengan suara pelan di dalam hujan lebat di antara kubangan lumpur yang mengotori gaun dan rambutku, aku mulai menyesali semua keputusan yang pernah aku ambil, aku benci hidupku, aku benci tubuh ini, aku menyesal karena telah memilih untuk direinkarnasi, aku tidak seharusnya mengikuti keinginan konyol itu, seharusnya aku tau aku tidak akan pernah bisa mendapatkan kehidupan yang normal.


...✿✿✿✿✿...


"Aku ingin pulang... aku ingin kembali… mama..."


.


.


"Hiks hiks… eh…! hiks… di mana ini?" ucapku berhenti berjalan sambil menyapu air mataku.


"Sakit... begitu ya... ini dekat dengan batasnya..."


Pergi menjauh dari kubangan lumpur sambil terus terisak berjalan entah kemana, aku berharap bisa pergi dari dunia ini dan kembali ke kehidupanku yang dulu walaupun nyatanya itu tidak mungkin bisa terjadi, dan tanpa aku sadari rantai di leherku mulai terasa membakarku yang itu artinya aku berada terlalu dekat dengan batas wilayah yang sudah ditentukan.


Aku tidak pernah datang ke tempat ini, semua yang kulihat terasa sangat asing terlebih lagi karena semua yang aku lihat telah tertutup oleh air hujan yang berjatuhan, tapi aku tidak peduli dengan semua itu, tempat yang asing atau tidak, sakit ataupun tidak sakit, bagiku sekarang itu tidaklah berguna, lagipula tidak ada yang peduli denganku meskipun aku menderita.


"Hei, apa kau mau jadi temanku?" ucapku pelan sambil menatap ke arah sebatang pohon besar yang menjulang tinggi.


" … "


"Ah… benar… apa aku sudah gila berbicara dengan pohon…" ucapku sambil menjatuhkan pandanganku.


"Dunia ini tidak adil… dewa itu pembohong, seharusnya kau tidak memilihku agar aku tidak mengulangi hal ini." sambungku menatap tinggi ke atas.


Berjalan murung menembus hujan, air mataku sudah berhenti mengalir karena terlalu lama menangis, rantaiku kian memanas setiap kali aku berjalan sampai akhirnya aku tiba di hadapan sebuah pohon besar yang rimbun dengan dedaunan, aku merasakan aura yang berbeda dari pohon itu, tapi itu bukan alasan yang kuat untuk bertindak seperti orang gila yang berbicara sendiri.


...✿✿✿...


"Ah… ini jalanan."


Sring!


"Arghh...!!"


"Bandit! aku..." ucapku menatap lurus ke depan.


Ah... untuk apa aku menolong mereka, ujung-ujungnya aku tidak akan dihargai.


"Tapi… jika tidak aku tolong mereka pasti…"


"Arghh!" teriak seseorang yang tertebas.


"Sekali ini saja, berterima kasihlah pada kebodohanku" ucapku sembari mengubah bentuk gelangku.


Berusaha untuk menenangkan diriku dengan jalan-jalan menyusuri hutan, tanpa kusadari aku sudah berada di tepi jalanan yang sepi dengan rintik-rintik hujan yang tidak mereda sedikitpun, tidak ada suara yang aku dengar kecuali tetesan air yang berjatuhan di sekitarku, tapi saat aku sudah lama berjalan mengikuti arah jalanan di depanku, suara teriakan yang cukup keras terdengar memecah keheningan hujan, terlebih lagi sumber teriakan itu tepat berada di depanku di antara lebatnya air hujan.


Sekelompok orang bertubuh besar menyerang kelompok lainnya yang bertubuh lebih kecil, mereka terlihat seperti perampok yang sedang merampok barang-barang dari dua kereta kuda yang lewat, terlihat jelas di mataku beberapa orang sedang bertarung dan ditebas oleh kelompok berbadan besar itu.


Aku bingung dengan apa yang harus aku lakukan, orang-orang terlihat memerlukan pertolonganku, tapi setelahnya mereka pasti akan meneriakiku dan menjauh dariku sama seperti sebelum-sebelumnya, melakukan hal seperti itu hanya akan menambah rasa sakit dan deritaku, tapi di sisi lain aku juga ingin menolong mereka.


Menatap tragedi tak berperikemanusiaan yang terjadi di depanku, aku benar-benar diselimuti keraguan untuk bertindak. Akan tetapi, pada akhirnya aku memilih untuk menyelamatkan mereka, aku kalah dengan perasaanku sendiri atau lebih tepatnya adalah kebodohanku untuk menyakiti diriku lagi.

__ADS_1


...✿✿✿...


"Hahahaha! matilah pecundang!" ucap salah satu bandit sembari menebaskan pedangnya.


Sring!


Tertawa tanpa rasa bersalah sedikitpun saat akan membunuh orang lain, pria botak dengan luka besar di wajah hingga tengah kepala itu mengayunkan pedang besarnya ke arah seorang lelaki tua yang tersandar di ban kereta kudanya, melihat tindakan tanpa belas kasih seperti itu aku langsung menghentikan pedangnya dengan pedang milikku dan seandainya aku tidak menahan tebasannya, kepala kakek itu pasti akan terbelah menjadi dua bagian.


"Cepatlah mati… agar aku tidak terlalu lama menderita" ucapku pelan sambil menahan tebasannya dengan pedangku.


"P-penampilan itu… kau pasti putri iblis yang dibicarakan orang-orang…" ujarnya padaku.


"Aku benci sebutan itu. Jadi, maaf… aku akan membunuhmu."


Srett!


"Uakhh!!"


"T-tidak mungkin… k-ketua kalah dengan satu tebasan? dia monster…! mundurr!!" ucap bandit lainnya.


"Menyerah saja… kalian semua akanku bunuh..."


"Aarrghh!!"


.


.


"Ah… aku benci ini…"


Aku hanya menunduk dan bersembunyi dibalik rambutku yang panjang saat aku menahan tebasan pria besar itu, aku melakukannya agar aku tidak melihat ekspresi orang-orang yang ada di sini dan juga karena rantaiku yang sudah mulai terasa sangat panas.


Para bandit yang ada di sini terlihat penuh ketegangan bahkan sampai menghentikan kekejaman mereka pada pedagang dan orang-orang yang lebih lemah lainnya, pedang besar dari otak otot itu terasa bergetar diujung pedangku bahkan nada bicaranya pun juga demikian, sambil mengungkit-ungkit julukan aneh yang diberikan orang-orang padaku, aku membenci itu walaupun dia sempat mundur beberapa langkah untuk mempersiapkan serangannya, aku sudah lebih dulu membelah tubuhnya menjadi dua bagian yang terpisah bahkan sebelum dia sempat untuk berkedip.


Mereka menderita luka berat… kalau begitu…ekhh!!


"Hah…hah…hahh…! ahh… aku mungkin orang sangat bodoh…"


Setelah membunuh semua bandit dan mengembalikan bentuk gelangku, aku kemudian melihat area sekelilingku untuk memastikan keadaan setiap orang yang terluka, aku masih dapat merasakan aura dari tubuh mereka yang tergeletak bahkan dada mereka masih terlihat kembang kempis yang artinya orang-orang itu masih hidup meskipun telah mendapatkan luka berat akibat serangan para bandit.


Tidak ingin terlalu lama membiarkan orang-orang itu terluka, aku kemudian mengobati mereka semua dengan sihir penyembuhanku secara bersamaan agar tidak ada orang yang tewas saat aku sibuk mengobati salah satu dari mereka, aku mungkin orang yang paling bodoh di dunia dan mungkin aku akan menyesali perbuatanku yang tidak membuahkan hasil ini, tapi aku tidak bisa mengabaikan orang-orang yang ada di hadapanku begitu saja, rantaiku yang sudah aktif karena melanggar batas wilayah hukumku kini bertambah semakin sakit karena aku menggunakan sihirku.


Kakek itu...


.


.


"Apa anda baik-baik saja?"


"Oh, kau anak gadis yang tadi menolongku, terima kasih… jika tidak kau tolong aku tidak akan bisa pulang mengantarkan hadiah untuk cucuku" sahutnya padaku sambil merapikan barang-barangnya yang berserakan.


Kretek.


"A-aduh… p-pinggangku!" sambungnya memegangi pinggangnya.


Melihat kakek tua yang sudah bungkuk itu merapikan barang-barangnya dengan sangat tenang membuatku sedikit penasaran, perlahan aku mendekatinya dengan rambut basah menutupi wajahku untuk menanyakan keadaannya karena sebelumnya dia hampir menjadi sasaran pembunuhan para bandit, tapi dia sama sekali tidak bergeming saat aku mendekatinya berbeda dengan orang-orang yang pernah aku temui yang langsung lari tanpa pikir panjang, kakek ini sangat tenang saat aku mengajaknya berbicara.


"Anda tidak takut?"


"Takut dengan apa?" ucapnya balik bertanya sambil terus merapikan barang-barangnya.

__ADS_1


"Tentu saja takut dengan saya..." sahutku sambil menunduk.


"Hohoho... tidak, memangnya apa yang perlu aku takutkan dari gadis muda yang baik sepertimu?"


"Saya tidak sebaik yang anda kira dan mungkin saya akan membunuh dan memakan anda, apa anda tidak takut dengan itu?" ucapku masih sambil menundukkan kepala.


"Aku sudah terlalu tua untuk memikirkan rasa takut, lagipula orang tua bau tanah sepertiku memang akan segera mati."


Terus menunduk murung saat berbicara dengan kakek tua ini, aku benar-benar bingung cara berpikirnya yang sangat tenang tanpa ada rasa takut terhadapku, aku sudah berusaha menakut-nakutinya dengan berkata akan membunuhnya, tapi dia hanya tersenyum dengan kulit keriputnya dan membalas perkataanku dengan kalimat apa adanya tanpa ada rasa takut sedikitpun, kakek ini benar-benar membingungkan.


"Mungkin hanya anda yang berani berbicara seperti itu…/"


"Ini untukmu" ucapnya sambil memberikan sebiji jeruk padaku.


"Apa ini?" tanyaku padanya.


"Itu rasa terima kasihku padamu, setidaknya jeruk lebih memiliki rasa daripada daging pak tua keriput sepertiku hohohoho..."


" … "


Belum sempat menyelesaikan kalimatku kakek tua itu tiba-tiba memberiku satu buah jeruk dengan warna orange yang sangat bagus sebagai ucapan terima kasihnya padaku, aku benar-benar tidak bisa berkata-kata lagi melihat buah jingga bulat itu berada di dalam genggamanku, aku tidak pernah membayangkan akan mendapatkan hadiah dari orang yang aku tolong karena semuanya langsung pergi meninggalkanku dengan sangat ketakutan.


"Wajahmu sudah terlalu lelah… kau pasti sudah berjuang dengan sangat keras… mungkin sebaiknya kau beristirahat… gadis manis sepertimu akan terlihat lebih baik jika tersenyum hohohoho."


"Tersenyum ya… mungkin aku hanya akan tersenyum seperti kehidupanku yang dulu..." ucapku pelan sambil menunduk.


"Tapi… terima kasih kakek, saya merasa sedikit lebih baik."


"Hohoho… aku senang bisa membantu."


"Oh ya, tolong terima ini… saya tidak ingin menerima pemberian yang akan membuat anda rugi" ucapku sambil menyerahkan kepingan kecil kristal mineral yang aku bawa.


"Hm… kau tidak perlu membayarnya." sahut kakek itu mengembalikan kristalku.


Sebelum berbalik mengikat kudanya yang terlepas kakek itu menatapku dan berbicara seolah mengerti isi perasaanku yang sudah sangat lelah dengan kehidupan yang tidak pernah berubah, walaupun aku merasa terbantu dengan kata-katanya, tapi senyumanku mungkin tidak akan pernah berbeda dengan yang dulu sebagai senyuman yang penuh dengan kepura-puraan, senyuman kebohongan yang sangat menyakitkan.


Setelah sedikit berterima kasih aku kemudian memberikan satu bagian kecil dari kristal mineral yang kebetulan aku simpan dalam lengan bajuku, aku memberikannya karena aku sadar bahwa kakek itu adalah seorang pedagang dan aku juga tidak ingin mengambil keuntungan dari perbuatanku ini.


Kakek rentan itu sempat mengambil dan memeriksanya dengan kaca pembesar berukuran kecil yang dia ambil dari sakunya sebelumnya akhirnya kakek itu mengembalikannya lagi padaku.


"Apa karena ini tidak berharga kakek tidak ingin menerimanya?" ucapku kembali menundukkan kepalaku.


"Tidak, tapi karena kristalmu itu jauh lebih berharga daripada emas, lagipula memberikan satu jeruk tidak akan membuatku rugi, itu adalah rasa terima kasihku padamu karena sudah menolong kami, dibandingkan dengan apa yang kau lakukan… jeruk itu tidak ada apa-apanya" sahut kakek padaku.


"Begitu ya, tapi saya berharap kakek mau menerimanya."


"Hm... bagaimana kalau kristal itu ditukar dengan barang-barang yang kau inginkan?" tanyanya padaku.


"Apa itu tidak masalah?"


"Tentu saja tidak… tapi sayangnya untuk saat ini barang-barangku yang tersisa hanya tinggal sedikit… jika tidak keberatan bisakah kau menunggu dua minggu lagi…? aku selalu melewati jalan ini saat pulang berdagang di kejaran seberang" ucap kakek menjelaskan dengan suara yang khasnya sebagai seorang kakek.


"Ya, tidak apa, selama kakek mau menerima ini saya…/"


"Ekhh…!"


"Mereka sudah bangun, sepertinya sudah waktunya untuk saya pergi, saya tidak ingin menakut-nakuti mereka." ucapku sambil merentangkan sayapku.


"Terima kasih banyak atas bantuanmu, kita akan bertemu di sini dua minggu lagi" sahutnya padaku seraya melambaikan tangannya.


"Saya pamit, permisi."

__ADS_1


...🌹🌹🌹🌹🌹...


__ADS_2