
"A-anu… apa ada yang bisa kubantu?"
Ehehe... s-sepertinya Sira marah, y-ya tatapan mereka memang sangat tajam sih. '°-°
Tiba di hadapan orang-orang yang sedang bertarung dengan sekawanan anjing hitam yang menjijikkan, aku sangat kebingungan ketika semua monster anjing itu langsung pergi saat aku keluar dari semak-semak dan entah kenapa arah ujung senjata dari setiap orang yang ada di sini malah tertuju ke arahku dengan tatapan yang sangat tajam, jujur saja aku memang sedikit terganggu dengan semua mata itu karena tatapan mereka terlihat seperti sebuah kebencian yang menggebu-gebu, bahkan ekspresi mereka lebih membingungkan dari para monster yang pergi dengan tergesa-gesa.
Tapi, walaupun begitu aku justru lebih khawatir dengan keadaan Sira yang tampak mulai tak terkendali, ekspresi Sira langsung berubah drastis dengan taring dan cakar yang siap menerkam mangsanya, aku juga dapat melihat aura yang menyelimuti Sira dan bahkan ada asap putih yang mulai keluar dari bawah telapak kakinya dan itu artinya dia mungkin akan segera melahap semua orang yang ada di sini.
"Turunkan senjata kalian dasar b…/"
"Ehe hehe... s-sepertinya para monster itu sudah pergi, biar aku bantu mengobati luka kalian" ucapku tersenyum sambil mendekap Sira.
"Jangan bercanda dasar IBLIS!! kau pikir kami akan percaya dengan ucapanmu itu!!?" ucap salah satu lelaki padaku.
Ugh! ini akan sangat sulit. '•_•
Angin bertiup kencang menyeret beberapa daun yang terlepas dari tangkainya terbang ke sana - ke sini melewati sela-sela pohon hingga melambung tinggi di udara dan sayangnya suasana yang aku rasakan tidak setenang hembusan angin hutan yang lembut.
Suasana di tempat ini terasa sangat tegang dan sunyi bahkan yang terdengar di telingaku hanyalah suara angin dan daun yang bergesekan, tujuh kepala dengan empat belas mata, dua di antaranya adalah wanita bertelinga kucing dan anjing, sementara sisanya adalah pria dengan perawakan yang berbeda-beda menatap penuh perasaan tidak senang ke arahku atau lebih tepatnya mungkin perasaan waspada tingkat tinggi, ditambah lagi dengan Sira yang sebentar lagi akan berubah menjadi sosok harimau besar.
Aku menjadi sangat khawatir dengan situasi ini, untuk itu agar keadaan tidak semakin memanas aku kemudian mengangkat dan mendekap Sira sambil menutup mulutnya agar tidak terjadi keributan di tempat ini karena Sira benar-benar hilang kendali, meski begitu Sira masih saja meronta-ronta dengan keempat kaki kecilnya mencoba untuk menjangkau orang-orang itu, terlebih lagi saat salah seorang lelaki berbadan kekar dari kelompok itu mulai membentakku dengan sebutan iblis, Sira sepertinya sangat ingin mengamuk.
"Mari kita penggal kepala iblis perusak itu!! serang!!" sambungnya menyeru rekan-rekannya.
""BAIK!!"" sahut yang lainnya dengan serentak.
"Enyahlah dari muka bumi ini dasar iblis!!"
"YAA!!!"
Duar!!
"Eghhh!! TUNGGU!! AKU BUKAN IBLIS!!!" teriakku sembari terbang menghindar.
Menyeru teman-temannya dengan sangat keras orang bertubuh kekar itu memegang erat kedua pedang besar di tangannya dan dengan cepat menebaskannya ke arahku bersamaan dengan sekumpulan serangan sihir dari kelompoknya, dan karena aku tidak memiliki alasan untuk melawan mereka aku memilih untuk pergi dari tempat ini, lagipun aku tidak suka dengan situasi seperti ini karena mereka terus menatapku dengan tatapan yang tidak mengenakkan, terlebih lagi mereka sama sekali tidak bisa diajak bicara.
Setelah menjauh secepat mungkin dari tempat para petualang untuk menghindari mereka, aku kemudian terbang mengikuti arah para anjing hitam untuk mengawasi pergerakan mereka agar mereka tidak kembali menyerang para petualang, tapi karena para anjing itu terus menjauh dan tidak terlihat akan kembali menyerang aku memutuskan untuk berbelok dan terbang lurus masuk jauh ke dalam hutan menuju ke arah ujung tebing besar karena aku melihat ada sesuatu yang berkilauan dari arah sana.
"Duhh! padahal kan aku cuma ingin membantu, hahh... beruntung belum ada korban sih, tapi… kenapa para monster itu pergi ya? hei Sira apa tau sesuatu?" tanyaku pada Sira.
"Mmm mmm mmm!!"
"Eh Sira!?" ucapku terkejut.
Terbang mengepakkan sayapku di udara yang hangat aku benar-benar tidak habis pikir dengan para petualang itu karena mereka sangat tidak ramah dengan niat baikku, tapi beruntung tidak ada satupun dari mereka yang mendapat luka parah akibat benturan dengan kawanan anjing hitam, dan karena itu aku sudah tidak khawatir lagi untuk meninggalkan mereka.
Tapi, salah satu hal yang masih membuatku merasa kebingungan adalah pergerakan aneh dari para monster anjing sebelumnya yang tiba-tiba pergi dengan sangat tergesa-gesa, penasaran akan hal itu aku kemudian bertanya pada Sira yang mungkin saja dia mengetahui alasannya, dan betapa payahnya aku karena lupa bahwa aku sedang menutup rapat-rapat mulut Sira dikarenakan beberapa saat lalu dia hampir saja terpancing emosi dengan para petualang.
***
"M-maaf ya Sira" ucapku sembari perlahan mendarat.
"Hahh...! kenapa anda menghentikan saya nona?! mereka sudah memperlakukan anda dengan sangat buruk!!" ucap Sira dengan kesal sambil berubah menjadi harimau besar.
Berhenti terbang dan mendarat di area hutan yang tidak terlalu rimbun dengan pepohonan, aku merasa tidak enak dengan Sira karena bulunya yang putih justru berubah menjadi biru setelah beberapa saat terbang bersamaku terlebih lagi tanpa sadar mungkin aku sudah menutup hidungnya ehehe. '°-°
Tapi, bukannya terpengaruh dengan hal itu setelah aku melepaskannya Sira malah mengamuk sembari berubah menjadi harimau besar dan marah-marah tentang perlakuan para petualang padaku, melihat ini aku merasa beruntung dengan keputusanku untuk tidak melepaskan Sira karena jika aku membiarkannya Sira pasti akan membunuh orang-orang itu.
"Orang-orang tak tau diri seperti mereka harus diberi pelajaran!!" sambungnya lagi.
"Hehehehe... aku senang kau marah untukku, tapi aku tidak ingin kau melukai orang-orang itu."
"Kenapa anda bisa sangat tenang nona? menilai seseorang tanpa mengetahui apapun mereka telah bertindak dengan sangat keterlaluan! mereka sangat memuakkan!" sambung Sira dengan tatapan yang sangat tajam.
"Ya memang menjengkelkan sih, tapi kurasa marah bukan kebiasaanku lagipula mereka bertindak seperti itu karena mereka belum mengenalku, itu sama seperti sebelum-sebelumnya iyakan?"
__ADS_1
Hari ini Sira benar-benar terpancing emosi, dia bahkan terus mengoceh dengan mata yang penuh dengan kobaran api kemarahan, tapi ekspresi Sira terlihat cukup menggemaskan terlebih lagi karena dia jarang sekali marah-marah seperti itu, aku sangat terbantu dan senang dengan adanya Sira di dekatku karena seumur hidupku nyaris tidak ada satupun orang yang mau membelaku bahkan di kehidupanku yang dulu hanya sedikit orang yang bersedia untuk membantuku.
Meski begitu karena aku tidak ingin wajah imutnya hancur karena kemarahan aku kemudian memintanya untuk tidak menyakiti para petualang itu, aku juga tidak ingin Sira menjadi kucing pendendam hanya karena ingin membelaku, tapi bukannya menjadi tenang Sira malah terlihat semakin marah sambil menghentakkan kaki depannya dengan keras.
Aku bisa memahami apa yang Sira ucapkan karena itu menyangkut tentang diriku sendiri, walaupun begitu aku juga tidak bisa menyalahkan tindakan para petualang padaku, mereka bertindak kasar terhadapku hanya karena orang-orang itu belum tau dan belum mengenalku dengan baik, meskipun aku sedikit kesal dengan sikap mereka, tapi karena aku mengerti alasannya aku tidak akan menanggapinya dengan serius, lagipun ekspresi dari orang-orang itu mengingatkanku pada beberapa kelompok yang telah aku tolong sebelumnya dan semuanya memang menunjukkan kesan pertama yang buruk padaku.
"Tapi nona…/"
"Sudahlah sudahlah untuk hari ini cukup dinikmati saja hehehe" ucapku tersenyum sembari menyela perkataan Sira.
…
"Owh! ini menakjubkan! ternyata ada danau lain di hutan ini!"
Y-ya danau tidak hanya ada satu sih ehehe.
"Yosh! kita istirahat dulu di tempat ini, setelah itu kita akan kembali menjelajahi hutan" ucapku sambil tersenyum.
"Ya" sahut Sira padaku.
"Hm... kau masih marah Sira?" tanyaku padanya.
"Entahlah" jawabnya singkat.
" … "
Dia masih marah, aku yakin itu. •_•
...*****...
Beristirahat dengan nyaman di tepi danau yang baru aku temukan, tempat ini memang tidak seluas danau yang ada di dekat rumahku, tapi tempat ini tidak kalah menakjubkan dalam segi keindahannya, di tempat ini juga terdapat beberapa buah gunung meskipun tidak sebanyak dan sebesar gunung yang ada di dekat danauku, tapi aku dapat melihat ikan yang berenang karena airnya yang transparan dengan warna hijau karena pantulan dedaunan di sekitarnya.
Tempat ini juga sangat cocok untuk Sira karena keindahan alam selalu menjadi pilihan untuk menenangkan diri, Sira bahkan sudah tampak jauh lebih tenang dengan kembali ke wujud kecilnya sambil berbaring di samping batu besar yang kini sedang aku duduki, berbeda dari danauku yang terdapat pohon apel di dekat tepiannya, tempat ini justru punya batu besar yang tertancap kokoh menghadap danau, dan itu terlihat seperti tempat duduk yang nyaman meskipun tidak ada pohon yang memayungiku.
Hehehehe... syukurlah, sepertinya dia sudah tenang.
"Yosh! sudah cukup istirahatnya— tidak, sebaiknya aku jalan sendiri saja, hehehe… aku akan segera kembali Sira bye bye…"
Duduk tenang menikmati gemerlap gelombang air di bawah terik matahari yang menyinari danau hijau ini, walaupun cuaca dipenuhi cahaya matahari yang membakar kulit, tapi aku sama sekali tidak merasakan panas karena hembusan angin sejuk dari danau menabrak kulitku, aku juga sangat senang melihat Sira yang sudah terlelap dalam tidurnya di bawah bayang-bayang batu besar yang sedang aku duduki, dan sayangnya waktuku untuk beristirahat telah berakhir dan aku akan kembali menjelajahi hutan ini, tapi dikarenakan Sira baru saja tidur aku kemudian memilih untuk pergi sendiri lagipun aku tidak ingin jika Sira kembali terpancing emosi.
***
"Hutan ini benar-benar sepi, tapi… yahh… inilah hutan, sejak awal memang sepi sih."
.
.
"Hm... apa ini terlalu jauh ya? mungkin sebaiknya aku terbang saja, kalau begini terus aku tidak akan menemukan apapun" ucapku sembari mengambil ancang-ancang untuk terbang.
Meninggalkan Sira yang sedang tertidur melewati beberapa meter ladang bunga rumput berwarna putih yang bergoyangan, hari ini aku lebih memilih berjalan kaki daripada harus mengepakkan sayapku karena aku tidak ingin pergi jauh meninggalkan Sira, aku masuk kembali ke dalam hutan sambil mengawasi setiap sisi pandanganku berharap untuk menemukan hal-hal yang menarik, tapi sayangnya hutan adalah hutan dan mungkin kebanyakan orang akan berpikir untuk pergi ke kafe atau restoran daripada harus terlibat dengan hutan belantara yang memagari daratan ini, aku tidak menemukan hal menarik apapun semudah aku menemukan daun dan ranting.
Dan karena kakiku sudah sangat berat untuk berjalan aku kemudian memutuskan untuk menjelajahi hutan dari udara karena pandanganku akan lebih jauh tanpa terhalang apapun lagi, berbeda dengan saat aku berjalan ketika berada di udara aku sama sekali tidak merasakan lelah ataupun letih padahal sayapku terus bergerak tanpa henti, tapi jika ada hal yang membuat seseorang tidak merasakan lelah mungkin karena itu sangat menyenangkan, setidaknya itulah yang aku rasakan karena jelas ada perbedaan suasana dikedua tempat ini dan memang aku lebih suka berada di atas daripada berjalan di bawah karena pandanganku menjadi sangat luas.
***
"Hm... sepertinya memang tidak ada orang yang mau masuk ke dalam hutan."
Aku terus mengepakkan sayapku masuk ke dalam awan-awan sambil memperhatikan seluk beluk hutan yang aku lewati, tapi sayangnya meski sudah mondar mandir melihat hutan dari atas aku tetap tidak menemukan apa-apa, bahkan dalam radius sepuluh kilometer pandanganku aku tidak melihat ada sesuatu yang menarik dan ini membuat suasana hatiku agak luntur.
…
"Owh! ada asap! mungkinkah ada orang di sana? yosh! akanku lihat" ucapku sembari mempercepat kepakan sayapku.
.
__ADS_1
.
"Wahh! ternyata memang ada orang! baiklah mari mendarat."
Entah berapa jauh aku telah meninggalkan Sira, aku sudah terbang dengan sangat jauh bahkan aku tidak bisa lagi melihat danau tempat Sira tidur karena tertutup rapat oleh pohon-pohon yang rindang, tapi aku senang karena usahaku berkeliling hutan tidaklah sia-sia.
Aku melihat gumpalan asap putih abu-abu yang mengepul dari dalam hutan yang lebat dan meski itu terlihat agak jauh, aku tidak ingin membuang-buang kesempatanku untuk berinteraksi dengan orang-orang, aku kemudian menambah kecepatanku menuju ke tempat kepulan asap itu dan setelah berada cukup dekat, aku langsung berhenti lalu mendarat sekitar beberapa meter dari tempat mereka, setelah mempertimbangkan kejadian sebelum muncul di hadapan mereka hanya akan membuat keadaan semakin buruk, itulah sebabnya aku milih untuk mendarat agak jauh dari mereka agar aku bisa muncul dan memperkenalkan diriku dengan lebih baik.
"Huhh... tenanglah Shea, ayo kita mulai lagi dengan lebih baik..." ucapku sembari berusaha menenangkan diri.
...
"P-permisi…eh!"
Hahh... seperti ini lagi...
"Anu… maaf, tapi aku bukan iblis, jadi bisakah kalian turunkan senjata kalian, aku.../"
"Tidak tidak tidak… aaa!! mustahil kita bisa menghadapinya!!" ucap salah seorang dari mereka sambil berlari pergi dari tempat ini.
"H-hei…! sudah kubilang aku bukan…/"
"Aaaaa!!"
Woy! serius? bisa hentikan itu? itu terlihat menjijikkan. •_•
Diam bersandar membelakangi orang-orang yang sebelumnya aku pantau untuk mempersiapkan diriku yang sedang gugup untuk berinteraksi, aku mempersiapkan diri bukan karena gugup malu-malu, tapi karena mereka pasti menunjukkan ekspresi yang membuatku tidak nyaman meski begitu aku tetap ingin menyapa orang-orang itu, dan benar saja saat aku keluar semua orang telah berdiri dengan setiap ujung senjata yang tertuju padaku, melihat semua itu rasa gugupku sebelumnya sudah tidak berguna lagi aku bahkan menjadi sangat tenang sambil menjelaskan pada mereka tentang kesalahpahaman ini, tanpa harus mendengar ucapan mereka, orang-orang itu pasti ingin meneriakiku dan menyebutku sebagai iblis.
Dan di luar perkiraan kelompok petualang yang semuanya beranggotakan lima orang lelaki itu malah gemetar saat aku berbicara, berbeda dengan kelompok orang sebelumnya yang melancarkan serangan padaku orang-orang ini bahkan langsung berlarian dengan teriakan yang terdengar menjijikkan, sifat kejantanan mereka langsung sirna dengan seketika saat mereka berteriak histeris seperti perempuan yang baru saja melihat penampakan hantu.
"Ahh mereka meninggalkan senjatanya, sebaiknya aku menyusul mereka sebelum ada hal buruk yang terjadi" ucapku sembari kembali terbang.
Berlari pontang-panting bahkan sampai beberapa kali menabrak pohon untuk menghindariku, orang-orang itu terlihat sangat payah terlebih lagi mereka dengan cerobohnya menjatuhkan perlengkapannya berserakan di dekat api unggun dengan beberapa tusuk makanan bakar yang masih dipanggang, aku tidak begitu peduli dengan makanannya, tapi senjata yang mereka lemparkan saat berlarian jelas sangat berguna untuk membela diri di dalam hutan jadi aku memungut semuanya sebelum aku terbang menyusul mereka.
***
"Emh! a-apa-apaan itu, aku tidak semenyeramkan itu tau."
.
.
"Hm... eh! bukankah itu kereta kuda? apa itu teman mereka?"
…
"Permisi kalian meninggalkan ini di sana…"
""AARRGGGGHHHH!! PUTAR BALIK KUDANYA!!""
"B-baik!!" sahut kusir kuda sembari memutar keretanya.
"H-hei t-tunggu! bagaimana dengan barang-barang ini?"
"PERCEPAT KUDANYA!!"
" … "
Merangkul beberapa senjata benar-benar menambah bebanku untuk terbang terutama karena tanganku tidak cukup besar untuk memegang semuanya dan aku tidak bisa asal-asalan memegang pedang tajam tanpa sarung, dan beruntung para petualang itu belum terlalu pergi jauh sehingga aku bisa dengan mudah terbang di atas mereka, akan tetapi seakan melihat hantu di siang hari mereka malah berlari semakin cepat saat melihatku melayang di atas mereka dan itu terlihat cukup mengesalkan.
Dan karena aku sempat terkejut dengan reaksi mereka, aku tidak sengaja berhenti dan itu membuatku kehilangan mereka karena tertutup dedaunan hutan yang lebat, walaupun begitu beruntung aku tetap bisa menemukan mereka yang ternyata sedang berbincang-bincang dengan sekelompok orang lainnya yang berada di atas kereta kuda, tanpa menunggu terlalu lama aku kemudian langsung mendarat menghampiri mereka sambil menyodorkan semua senjata yang mereka tinggalkan di tempat sebelumnya.
Akan tetapi, bukannya menerimanya mereka malah berteriak keras dengan serentak meminta kusir kuda untuk putar balik, dan ini benar-benar membuatku kebingungan apalagi tidak ada satupun orang yang mau mendengarkanku bahkan tidak ada satupun barang yang mau mereka ambil, mereka hanya sibuk menambah kecepatan untuk menghindariku.
"Hahh… sekarang bagaimana?" ucapku kebingungan sambil menatap semua senjata di tanganku.
__ADS_1
...🌹🌹🌹🌹🌹...