
"Pus pus... ke marilah tupai manis... ini untukmu." Panggilku sambil memberikan satu buah padanya.
"Dia bukan kucing nona." Sahut Sira padaku.
Aku sangat lega karena monster kecil itu sudah kembali bangun, tapi dia tidak mau mendekatiku dan seolah-olah menjauhiku jadi aku mengambil satu buah apel hijau yang sebelumnya dibawa oleh Sira dan memancingnya keluar dengan itu.
"Aku tau itu Sira, aku hanya.../"
Citt Citt Citt
"Owh! lihat dia mendekat!" ucapku sambil menatap tupai itu.
.
.
.
"Jangan takut... ini untukmu." Ucapku pelan.
Karena tergiur dengan buah manis di tanganku tupai itu akhirnya mau mendekat ke arahku walaupun masih kelihatan ragu untuk mengambilnya, perlahan-lahan dia berjalan mendekatiku dan kemudian mengendus-endus buah yang ada di tanganku.
Citt Citt Citt
"Ya ambil saja itu untukmu kecil."
...
"Ehhh!!! dia lari lagi... huhh... yang penting dia masih hidup."
Tupai itu memang mendekatiku dan juga mengambil buah yang kuberikan, tapi dia kembali lari ke arah hutan dengan sangat cepat tanpa mempedulikanku, bahkan dia sama sekali tidak menoleh ke belakang dan terus berlari menjauh, itu sedikit mengecewakan apalagi dia tidak menunjukkan rasa terima kasih padaku.
"Nona apa anda baik-baik saja?" tanya Sira keheranan.
"Memangnya ada apa Sira?" sahutku sembari bertanya.
"Kulit anda sedikit memerah nona."
Hm... benar juga huhh... aku hampir lupa dengan ini.
"Cuaca hari ini cukup panas." Ucapku sambil menatap ke atas.
Mendengar ucapan Sira aku kembali menyadari kalau aku tidak bisa berada lama di bawah sinar matahari karena akan membakar Kulitku, sambil menatap kulit tanganku aku kembali duduk ke bawah pohon menghindari sinar matahari dengan berteduh dalam bayangan pohon.
"Aku pasti tidak bisa terlalu lama di bawah sinar matahari." Ucapku sambil duduk menatap Sira.
Huhh... untungnya Sira tidak memperhatikan leherku yang memerah karena rantainya sempat aktif saat aku menggunakan sihirku.
"Hm... apa maksudnya itu nona?" ucap Sira kebingungan.
"Yahh... ini mungkin ada hubungannya dengan aku yang terlahir serba putih."
"Memangnya ada apa dengan itu nona? anda terlihat sangat sehat dan kuat."
__ADS_1
Yahh... ini bisa dijelaskan secara medis karena aku terlahir sebagai albino aku tidak memiliki jumlah melanin yang normal, karena memiiki kadar pigmen melamin yang rendah, maka kulitku menjadi lebih mudah terbakar jika terpapar sinar matahari, tapi jika aku menjelaskan padanya seperti itu Sira pasti akan semakin kebingungan.
"Huhh... yahh... sederhananya aku tidak memiliki perlindungan terhadap sinar matahari dan itulah yang membuat kulitku mudah memerah dan sedikit terbakar." Jawabku pada Sira sambil menatap jari-jariku.
Melanin adalah pigmen atau zat warna alami yang memberi warna pada mata, rambut, dan kulit seseorang, orang yang berkulit gelap memiliki kadar melanin lebih tinggi dibanding yang berkulit terang, melanin sendiri sebenarnya berperan sebagai pelindung kulit dari kerusakan akibat sinar matahari.
Melanin bertugas dalam membantu melindungi kulit dari radiasi UVA dan UVB yang ada pada sinar matahari, setidaknya seperti itu yang bisa kuingat.
Dan karena aku memiliki kadar melanin yang rendah aku sangat rentan terbakar sinar matahari dan bahkan bisa berakibat lebih fatal lagi, tapi sekali lagi aku berterima kasih pada kemampuan regenerasiku yang sangat cepat jadi itu sudah bukan masalah besar lagi bagiku, masalahnya sekarang adalah kulitku tetap terbakar walaupun bisa sembuh dengan cepat dan rasanya cukup mengganggu.
"Perlindungan? anda bahkan sudah sangat kuat tanpa harus ada perlindungan." Sahut Sira padaku.
"Ya kurasa itu memang benar, tapi tidak sepenuhnya benar." Ucapku padanya.
"Apa kau ingat saat aku bertarung dengan pria itu di labirin?" sambungku sambil bertanya.
"Ya saya ingat itu nona."
"Waktu itu dia sangat mudah memotong tanganku tanpa ada kesulitan sedikitpun... berbeda saat aku masih memiliki sisik di atas kulitku yang bahkan naga sekalipun kesulitan untuk menembusnya." Jelasku pada Sira.
"Yahh... seperti itulah pengibaratan yang bisaku berikan." Lanjutku menjelaskan.
Sedikit pembicaraan yang cukup menguras isi pikiran terjadi di sini padahal aku sudah sangat lama tinggal di dunia ini dan tidak pernah belajar lagi, tapi tidak kusangka aku bisa mengingat hal semacam itu dengan cukup baik.
"Jadi seperti itu, tapi ada satu hal yang membuat saya bingung dengan kejadian saat itu nona."
"Hm... kejadian?"
"Y-ya entahlah aku juga masih memikirkannya."
Itu juga salah satu hal yang mengganggu pikiranku saat ini.
"Itu cukup membingungkan nona." Ucap Sira sambil berbaring menatap danau.
"Hm... ada apa dengan rambutku?" ucapku pelan sambil memegang helaian rambutku.
.
.
"Eh! apa ini?" ucap Sira kebingungan.
"Ada apa Sira?" tanyaku padanya.
Selesai dengan pembicaraan sebelumnya aku sedikit memejamkan mataku untuk tidur sebentar di bawah pohon ini, karena di sini tampak sangat menenangkan daripada di dalam labirin, tapi tiba-tiba Sira terlihat terkejut dan kebingungan melihat sisa-sisa apel yang aku makan sebelumnya, sontak saja itu pun juga membuatku merasa bingung kenapa Sira begitu terkejut melihat sisa-sisa apel itu.
"A-apa itu nona?" tanya Sira sekali lagi.
"Owh... itu sisa buah yang kumakan sebelumnya, tapi rasanya sangat pahit." Jawabku.
"A-apa a-anda benar-benar memakan buah itu? a-apa anda baik-baik saja nona?"
"Ya memangnya ada apa Sira?" ucapku balik bertanya sambil sedikit memiringkan kepalaku.
__ADS_1
Sira tampak sangat terkejut dan juga mungkin panik mendengar ucapanku tentang buah pahit itu apalagi tau kalau aku sudah memakannya dan hanya menyisakan bagian tengahnya saja yang sudah aku tumpuk di atas rerumputan.
"A-apa anda benar-benar baik-baik saja setelah memakan itu nona?"
"Memangnya kenapa Sira? kau membuatku tambah kebingungan."
"Huhh... sebaiknya anda tidak mengira kalau itu adalah buah apel nona." Ucap Sira sambil menghela nafas.
"Ehh! bukannya itu memang buah apel?"
Aku semakin kebingungan dengan ucapan Sira, buah itu memang terlihat sangat mirip dengan buah apel pada umumnya, tapi sepertinya Sira sangat khawatir denganku karena buah itu, terlihat jelas dari ekspresi wajah imutnya itu.
"Tentu saja bukan nona, itu adalah buah wipel nona."
"Wipel? apa itu berbahaya?"
"Bukan sekedar bahaya, tapi dapat membunuh orang-orang hanya dengan satu gigitannya saja bahkan jika hanya memakan sedikit potongan kecilnya, itu sudah cukup untuk membunuh seseorang dalam hitungan detik nona." jelas Sira.
Membunuh, itu artinya mati mati mati mati...
"Bahkan anda pasti dapat melihat dan menyadarinya sendiri tidak ada satupun buah yang jatuh dimakan oleh hewan ataupun monster padahal di sini sangat banyak hewan-hewan dan monster kecil yang berkeliaran." Sambung Sira menjelaskan.
"Hiks... Sira... aku sudah makan banyak hiks... jadi bagaimana? apa aku akan mati? hiks..."
Pikiranku cukup kacau setelah mengetahui kalau ternyata buah itu sangatlah berbahaya sementara aku sudah memakan belasan buah itu sampai kenyang dan sekarang aku mempertanyakan tentang nasipku sendiri.
"Eh! t-tenanglah nona/"
"Aaaa... haaa... aku tidak ingin mati Sira... tidak mau tidak mau... haaa..."
"T-tenanglah nona tenanglah, c-coba p-pikirkan baik-baik anda masih bisa bertahan hidup sampai sekarang."
"Hiks... hiks..."
Ucapan Sira memang ada benarnya, apa mungkin…
"Owhh!! benar juga... aku punya kemampuan penyembuhan... hehehehe."
Walaupun aku sempat sedikit takut, tapi seketika saja suasana hatiku berubah drastis mengingat kembali kemampuan penyembuhan yang aku miliki dan pastinya karena regenerasi cepat itulah yang membuatku kebal terhadap racun.
Mungkin juga karena tubuhku sudah terbiasa dengan racun mengingat kehidupanku di labirin tidaklah mudah, aku bertahan dengan memakan apapun yang bisa kutemukan, tapi karena sudah terbiasa aku sedikit lupa dengan hal itu hehehe.
"Yahh... kalau begitu tidak ada yang perlu dikhawatirkan hehe."
"Y-ya saya rasa juga begitu he he hehehe..." ucap Sira sambil sedikit tertawa.
"Hoahh... kalau aku ingin tidur sebentar."
BRUSSSS!!!
...~•~...
...🌹...
__ADS_1