I Was Reincarnated As A Dragon

I Was Reincarnated As A Dragon
Chapter 87: Prajurit dan Petualangan (Ellia)


__ADS_3

"Baiklah karena kalian terus melanjutkan misi kami akan ikut pergi dengan kalian, lagipula kami menuju arah yang sama" ucap kepala prajurit pada kami.


"Terima kasih banyak untuk bantuannya" sahut kak Luna


*****


Selesai dengan sarapan kami semua kemudian melanjutkan perjalanan dengan diiringi oleh prajurit yang kami temui tadi malam untuk pergi ke menuju ke tebing besar mencari tanaman obat yang kami cari.


Walaupun menakutkan rasanya harus berjalan di hutan ini aku bahkan tidak ingin melepaskan genggaman tanganku dari kak Luna, hutan yang rimbun batang pohon yang besar dengan suara-suara mengganggu di sekeliling kami jika bisa aku ingin minta digendong kak Luna, tapi itu tidak mungkin terjadi.


Terlihat beberapa prajurit yang sedang menebas semak-semak di depan kami agar bisa dilewati oleh rombongan ini, sementara Kie dan yang lainnya berjalan dengan santai aku malah sebaliknya langkah demi langkah terasa sangat berat untukku terutama karena aku memang penakut.


"Tenang saja Lia, kakakkan sudah bilang kalau kakak akan melindungimu… di sini juga ada banyak orang jadi kamu tidak perlu khawatir" ucap kak Luna pelan sambil menatapku.


"Aku tau kak, tapi… aku tidak suka dengan perjalanan kali ini, aku merasa ada sesuatu yang akan terjadi kak" sahutku khawatir.


"Mungkin itu karena terlalu khawatir" sahut kak Luna padaku.


"Entahlah…" ucapku menatap ke bawah sambil memegang dadaku.


Sama seperti sebelumnya saat kami memulai perjalanan misi ini perasaanku benar-benar tidak enak, walaupun perjalanan kami hanya tinggal beberapa langkah lagi saja untuk mendapatkan tanaman obat itu dan walaupun kami bersama dengan rombongan para prajurit juga petualang, tapi tetap saja aku merasakan nafasku yang semakin berat setiap langkahnya seolah ada bahaya yang mendekati kami dan itu sangat tidak menyenangkan, aku menggenggam erat tanganku di dada berusaha untuk menenangkan diriku sendiri.


"Lia… kau tidak apa-apa?" tanya Kie padaku.


"Ya seperti itulah…"


"Tenanglah Lia… kami di sini ada untuk melindungi kalian, jadi kau tidak perlu khawatir… iyakan Kie" sambung Zoe sambil merangkul pundak Kie.


"H-hey Zoe…!"


"Ya kalian benar, aku mungkin hanya terlalu khawatir saja."


"Apa kau mau apel? mungkin ini bisa sedikit menghilangkan kekhawatiranmu" ucap salah seorang wanita petualang yang ada di samping kak Luna.


"T-terima kasih…"


"… enak"


Melihatku yang tampak murung Kie dan Zoe berbicara padaku dengan ikut sedikit menyemangatiku dan itu membuatku merasa lebih tenang, di tambah lagi ada seseorang yang juga ikut membantuku untuk menenangkan diri dengan memberikan sebiji apel merah padaku, dan tanpa menunggu aku langsung menggigit buah manis itu dengan gigitan yang tidak terlalu besar, mereka hanya tersenyum saat melihatku seperti itu begitu pun denganku meskipun begitu aku masih belum bisa menghilangkan rasa kekhawatiran ini.


"Baiklah kita semua akan istirahat di tempat ini 10 menit" ucap ketua prajurit.


"Baik ketua" sahut para prajurit.


...


"Hei…" panggil Jun pelan sambil melambaikan dan menepuk-nepuk tanah disampingnya memberi isyarat untuk duduk bersama.


"Ayo kita ke sana" ajak kak Luna.


"Baik kak" sahutku sambil tersenyum.


Cukup lama kami berjalan menembus rimbunnya pepohonan hutan ketua prajurit kemudian menghentikan langkahnya dan menginstruksikan kepada kami untuk beristirahat sebelum melanjutkan perjalanan, beberapa saat setelahnya semua orang terlihat duduk bersandar dan ada juga yang tetap berdiri sambil berbincang-bincang dengan teman-temannya, di saat yang sama Jun memanggil kami dengan memberi isyarat untuk duduk bersamanya bersandar di pohon, dengan sedikit menarik tanganku kak Luna mengajakku untuk pergi ke sana dan dengan sedikit tersenyum aku mengikutinya lalu duduk bersandar di batang pohon yang sama dengan mereka.


...


"Yahh… sebentar lagi kalian akan sampai di dekat tebing itu" ucap Jun sambil menatap ke atas.


"Ya seperti itulah/"


"Oh benar juga, aku akan berkeliling di sekitar sini untuk mencari beberapa tanaman obatnya" ucap Kie memotong ucapan kak Luna.


"Apa kau mau kami temani?" tanya kak Luna.


"Tidak perlu, lagi pula hanya sebentar saja… aku pergi dulu"


"Aku akan ikut" ucap Zoe.


"S-sudahku bilang tidak perlu/"


"Tidak aku akan tetap ikut…" potong Zoe.


"Terserah…"

__ADS_1


Hahh seandainya aku bisa setenang mereka semua…


Semua orang yang ada di sini terlihat sangat tenang dengan candaan mereka masing-masing, tapi tidak denganku walaupun aku sudah tampak tenang pikiranku masih benar-benar ketakutan apalagi kami sudah masuk sangat jauh ke dalam hutan, aku bahkan sedikit iri dengan ketenangan dan keberanian mereka sementara aku mempunyai sifat yang berbeda sangat menyedihkan.


"Ahh… angin di hutan memang sejuk" ucapku sambil berbaring di kaki kak Luna.


"Emh... aku tidak bisa melihat apa-apa…" •_• ucapku pelan menatap ke atas.


"Hmm... apa kau sudah jauh lebih baik Lia?" ucap kak Luna menatapku sambil mengelus kepalaku.


"Ya sedikit" jawabku.


Boing Boing


"L-lia a-apa yang kau lakukan? k-kau juga punya itukan!"


"Hei kakak kenapa punyamu lebih besar?" tanyaku sambil mendorong-dorong dada kak Luna dengan jariku.


"H-hentikan i-itu dan jangan bertanya seperti itu lagi" ucapnya sambil menangkap tanganku.


"Kalian sangat akrab ya hehe" ucap Jun tertawa kecil sambil menatap kami.


"Tentu hehehe" sahutku padanya sambil tersenyum.


Karena cukup melelahkan aku membaringkan tubuhku dan menjadikan paha empuk kak Luna sebagai bantal sambil menatap dedaunan yang bergoyang dengan merasakan hembusan angin yang berhembus ke arah kami, walaupun agak sulit rasanya untuk melihat dedaunan di atas karena terhalang dada kak Luna dan karena sedikit penasaran aku kemudian mendorong-dorong benda bulat empuk itu dengan jariku sambil sedikit bertanya, tapi kak Luna dengan cepat memegangi tanganku dan memintaku untuk tidak menanyakan itu lagi.


...✧❁❁✧✿( Luna )✿✧❁❁✧...


Ya ampun… ada apa dengan adikku yang satu ini... tapi, yahh… itu artinya dia sudah tenang.


Secara tiba-tiba Lia yang berbaring di kakiku menyentuh-nyentuh dadaku sambil menanyakan satu hal yang membuatku tercengang saat mendengarnya, ya… seharusnya itu tidak perlu ditanyakan semua tergantung pertumbuhan.


"Pokoknya jangan melakukan itu lagi, sebaiknya kita menyusul Kie dan Zoe… sebentar lagi rombongan akan berjalan"


"Baik kak" sahut Lia sambil kembali duduk.


Tidak ingin dia menanyakan hal-hal aneh lagi aku kemudian mengajaknya untuk menyusul Kie dan Zoe yang sedang mencari tanaman obat di sekitar tempat ini, Lia kemudian bangun dan duduk sebelum akhirnya berdiri mengikutiku.


"Ya… permisi, kami pergi dulu" sahutku sambil berjalan.


"Tunggu kami ya, bye bye" ucap Lia padanya.


Sementara Jun memilih untuk tetap menunggu di bawah pohon aku dan Lia kemudian pergi mengikuti arah jalan yang di tuju Kie sebelumnya, dan dengan melambaikan tangannya ke arah Jun Lia mengikutiku berjalan dari belakang masuk ke dalam semak-semak.


***


"A-anu…kak…" ucap Lia sambil menjepit-jepit kakinya.


"Ada apa Lia?"


"A-aku ingin buang air kecil dulu"


"Hahh… baiklah, tapi jangan jauh-jauh kakak akan tunggu di depan sana"


"Baik kak…" sahut Lia dengan berlari.


Cukup sulit untuk menembus semak-semak hutan yang tebal, tapi untungnya kami hanya mengikuti jalanan yang dilalui oleh Kie dan Zoe jadi jalan kami sudah tidak terlalu sulit lagi, lumayan jauh kami terpisah dari rombongan masuk ke hutan untuk mencari Kie meskipun begitu suara mereka tetap terdengar sampai di tempat kami, dan tiba-tiba saja Lia berhenti dengan terlihat sangat tidak nyaman sambil menjepit-jepit kakinya seolah menahan sesuatu, dan benar saja Lia ternyata sedang ingin buang air kecil.


Karena Lia sudah tidak bisa menahannya aku kemudian mengijinkannya untuk pergi, tapi tetap tidak boleh terlalu jauh dariku karena walau bagaimanapun juga kami sedang berada di dalam hutan, sementara aku tetap berjalan lurus menuju area hutan yang tidak terlalu tebal untuk menunggu Lia di sana.


"Huhh… untunglah sudah tidak terlalu tebal lagi" ucapku dengan terus membuka semak-semak.


"H-hei h-hentikan i-itu..."


"Hm... apa itu?" ucapku berjalan ke arah pohon besar di depanku.


...


"Ha... upt!!" ucapku terkejut sambil berbalik menutupi mulutku dengan tanganku.


Seharusnya aku tau itu…


Setelah melewati beberapa semak-semak yang rimbun aku akhirnya sampai di tempat yang tidak terlalu tebal dengan semak yang mengganggu itu, dan di saat yang bersamaan aku mendengar sesuatu dari balik pohon besar di depanku dengan penuh perasaan aku sedikit mengintipnya dari balik pohon besar di depanku untuk mencari tau asal suara itu, dan ternyata itu adalah Kie dan Zoe yang sedang terlarut dalam momen romantis mereka sambil bersandar di batang pohon menikmati kecupan yang sangat mesra.

__ADS_1


Dengan tercengang bercampur kaget langsung berbalik menempel punggungku di pohon besar itu sambil menutupi mulutku agar tidak menimbulkan suara mengganggu yang mencurigakan.


... kenapa rasanya sangat sakit? tidak tidak sadarlah Luna dia sudah memilih seseorang.


Huhh… kenapa aku sangat bodoh? harusnya aku tau perasaan ini tidak akan pernah bisa terwujud...


"Kak?"


"Eh! L-lia?!" ucapku terkejut dengan kedatangan Lia.


"Hum... apa ada sesuatu di sana?" ucapnya sambil menoleh ke belakangku.


"T-tidak ada apa-apa" ucapku sambil menutupi mata Lia.


Tap Tap Tap


Gawat!


Aku berdiri dengan menyandarkan tubuhku sambil termenung memikirkan perasaanku yang tidak karuan setelah melihat kecupan mesra kedua orang itu, sedih, sakit, mungkin lebih tepatnya patah hati, aku memang bukan siapa-siapa, tapi entah kenapa rasanya begitu sakit ketika melihat mereka berdua bersama.


Ya… itu mungkin karena aku pernah memendam rasa padanya padahal aku tau kalau dia jauh lebih menyukai Kie daripada aku, aku benar-benar bodoh karena telah memikirkan hal semacam itu dia jauh lebih menyukai temanku daripada diriku.


Dalam pikiran yang sedih merenungi perasaanku yang tidak tersampaikan Lia tiba-tiba saja datang dan mengagetkanku, terlebih lagi Lia menolehkan kepalanya ke belakangku dan sontak saja aku langsung menutupi matanya dengan tanganku lalu menariknya untuk kembali berlindung di balik pohon, tapi tentunya itu tetap memancing perhatian mereka berdua karena suara berisik kami, terdengar jelas ada suara langkah kaki yang mulai mendekat, aku yang mendengar itu langsung menarik tubuh Lia bersembunyi di balik semak-semak hutan


...


"Ehhh! kak Kenapa kita/"


"Ssttt! jangan bersuara Lia" bisikku sambil menutup mulut Lia.


"Memangnya ada apa kak? kenapa kita harus sembunyi?" tanya Lia sambil mengintip dari balik semak-semak.


.........


"Ada apa Zoe?" tanya Kie padanya sambil merapikan rambut dan bajunya.


"Hm... rasanya tadi aku mendengar sesuatu dari sini?" ucap Zoe.


"Mungkin kau salah dengar... sebaiknya kita cepat kembali ini sudah terlalu lama, lagipula aku sudah mendapatkan beberapa tanaman obatnya" ucap Kie menghampirinya.


"Ya baiklah cup."


"S-sudah cukup jangan lakukan itu lagi" ucap Kie sambil berjalan.


.........


"Yoshh… mereka sudah pergi, ayo keluar!" ucapku sambil berdiri dan membersihkan sisa-sisa rerumputan di bajuku.


"Apa kakak baik-baik saja?"


Untuk menghindari penglihatan dan kecurigaan dari Zoe, aku dan Lia terus tiarap bersembunyi di semak-semak sampai akhirnya Kie datang sambil memperbaiki rambutnya kemudian mengajak Zoe pergi kembali ke tempat rombongan prajurit, dan karena situasinya sudah aman kami berdua pun segera keluar dari persembunyian kami.


"Tentu kakak sehat."


"Bukan itu kak, tapi kenapa kakak menangis?"


"Menangis apanya?"


Eh!


"I-ini… tidak tidak, kakak tidak sedang menangis Lia tadi mata kakak tertusuk daun rumput hehehe" ucapku sambil mengusap mataku.


Setelah keluar dari persembunyian kami aku langsung membersihkan sisa dedaunan rumput yang menempel di bajuku dan tanpa kusadari air mataku menetes keluar dengan sendirinya, dan ya… menyakitkan rasanya setiap kali aku melihat mereka bermesraan, tapi dengan cepat aku menghapusnya dan bilang kalau itu hanya karena tertusuk daun rumput saja, aku tidak ingin Lia menjadi sedih karena aku.


"Y-yahh sudahlah Lia, ayo kita pergi" ucapku sambil berjalan.


DUARRR!!!


"Eh!! apa itu?!!" ucap Lia terkejut.


Secara tiba-tiba saat aku ingin melangkahkan kakiku sebuah kilatan cahaya muncul bersamaan dengan suara ledakan yang sangat besar, sontak saja aku dan Lia benar-benar kaget dan tercengang melihat itu ditambah lagi ada kepulan asap yang terlihat sangat jelas di udara dari arah para rombongan prajurit.


"Lia ayo!!" ucapku sambil menarik tangan Lia.

__ADS_1


__ADS_2