I Was Reincarnated As A Dragon

I Was Reincarnated As A Dragon
Chapter 164: Bertarung ~Perspektif Sira~


__ADS_3

"Sira… sekarang apa yang akan kau lakukan? setelah mendengar gadis kecil ini berharap seperti itu, apa kau akan tetap diam?"


Setelah mengatakan itu dia tidak pernah lagi datang ke rumah ini, sebenarnya apa yang dia rencanakan?


"Hah… kenapa nona masih belum datang? ini sudah sangat lama... ya… akanku tunggu sebentar lagi."


Nona pasti melakukannya lagi...


Menunggu kedatangan nona Shea sambil berbaring menatap bunga yang ada di atas meja kamarnya, lagi-lagi ucapan Frenya masih membayangi pikiranku terlebih lagi karena dia tidak pernah lagi mengunjungi rumah nona Shea, walaupun begitu aku yakin dia selalu mengawasi nona Shea karena dia tidak mudah melepaskan ketertarikannya pada hiburan yang dianggapnya menyenangkan.


Meski aku merasa curiga dengan tingkah laku Frenya, tapi tidak bertemu dengannya selama beberapa bulan terakhir adalah sebuah keberuntungan yang membawa kesenangan tersendiri untukku karena dengan tidak adanya Frenya di sini, aku dapat menikmati hariku dengan sangat tenang tanpa ada masalah, dan dengan sedikit menghela nafas untuk menghilangkan Frenya dari kepalaku kini fokus pikiranku kembali pada nona Shea yang sudah pergi sangat lama.


Tapi, mencari nona Shea di tengah hujan belantara juga tidak akan membuahkan hasil, karena itu aku memilih untuk tidak pergi ke manapun lagipula nona Shea bukan gadis yang lemah, meski berulang kali pulang dengan keadaan rantai yang aktif, dia tetap bisa tersenyum seperti biasanya.


...✧✧✧...


Tok Tok Tok...


"Sira, aku pulang…"


...


"Hm... sepertinya nona sudah pulang... hoahh…!" ucapku sembari melompat turun.


.


.


"Anda dari mana saja nona? anda pergi terlalu lama… hm! apa yang terjadi nona!? kenapa gaun anda sangat kotor!? dan kenapa anda…/"


"Aku ingin istirahat… aku mungkin tidak akan makan malam. Jadi, kau tidak perlu menungguku…" potong nona Shea sambil berjalan melewati dengan senyuman lesu.


" … "


Lama aku menunggu sambil berbaring memejamkan mataku, suara ketukan pintu mulai terdengar di telingaku dengan disertai suara nona Shea yang terasa sangat tidak biasa. Setelah mendengar itu, aku kemudian berjalan keluar dari kamar untuk menghampiri nona Shea yang baru saja datang dan sesampainya di depan tangga turun, aku sangat terkejut melihat keadaan nona Shea yang basah kuyup dan dipenuhi lumpur yang mengotori gaunnya.


Dan saat aku menanyakan masalah itu padanya, nona Shea tiba-tiba memotong ucapanku sembari menjatuhkan pandangannya dengan senyuman seperti daun yang layu sebelum akhirnya nona berjalan melewatiku dan menaiki anak tangga menuju kamarnya, aku tidak bisa berkata apapun lagi saat nona Shea berjalan melewatiku bahkan aku tidak tega untuk memanggilnya.


Nona Shea gadis yang suka berpenampilan rapi dan bersih bahkan sering tersenyum dengan riang, tapi apa yang aku lihat hari ini sangat berbeda dengan kebiasaannya, nona Shea terlihat sangat lelah dan seakan ingin mati.


"Sira… bisa bawakan aku air dari kolam?" pinta nona dari lantai atas.


"I-iya tentu nona."


"Terima kasih..."


...


"Hah… baiklah, aku akan memikirkannya nanti" ucapku sembari menghela nafas.


Berdiri dari atas lantai dua, nona Shea kemudian menoleh ke arahku dan memintaku untuk mengambilkan air dari kolam air yang ada di balik rumah dinding ini, dikarenakan nona Shea yang dipenuhi lumpur tentu saja aku bisa menebak kegunaan air yang dimintanya itu, tapi cara nona Shea mengatakan ucapannya sangat berbeda dengan kebiasaannya, dia memang tersenyum, akan tetapi ketenangan nona Shea saat mengatakan itu terlihat sangat menyedihkan.


Konsentrasiku benar-benar terganggu karena perubahan ekspresi nona Shea, tapi dengan sedikit menghela nafas aku berusaha untuk fokus pada tugas yang diberikan nona Shea padaku, aku langsung memasukkan kepalaku ke dalam Dimensions home untuk mengambil ember kayuku lalu berjalan menuju kolam di belakang rumah sambil menggigit gagang ember itu.



"Panas atau dingin? hm… mungkin sebaiknya panas, lagipula nona Shea terlihat sangat kedinginan."


Masuk ke dalam ruang tersembunyi yang ada di balik rumah dinding ini, aku cukup kebingungan saat berdiri di antara dua kolam air yang cukup luas karena aku pertama kalinya masuk ke sini, tempat ini punya dua jenis air panas dan dingin, dan itulah yang membuatku bingun karena nona tidak menjelaskan air jenis apa yang dia minta.


Tapi, mengingat kondisi nona yang basah kuyup dan juga berlumpur, aku kemudian mengambil air dari kolam air panas karena aku yakin nona Shea pasti sedang kedinginan dan air panas sangat cocok untuk nona saat ini.



Tok Tok Tok...


"Permisi nona" ucapku sambil mengetuk pintu kamar nona Shea.


"Letakkan saja di depan pintu" sahut nona dengan pelan.


"Y-ya baik nona, permisi."


Setelah mengambil seember air panas aku langsung pergi ke lantai dua untuk mengantarkan air itu ke kamar nona Shea, setibanya di depan kamar aku kemudian mengetuk pintunya dan langsung dibalas dengan suara pelan dari nona Shea yang memintaku untuk meletakkan ember berisi air itu di depan pintu kamarnya saja dan sesuai dengan perintah nona Shea, aku kemudian meletakkan ember air itu lalu meninggalkan kamar nona turun ke lantai satu.


"Hahh… aku harap nona baik-baik saja" ucapku sembari berbaring.


Sepertinya aku tidak akan makan malam...


...✧✧✧✧✧...


"Eghh!! arrgghhh!!!"


"Eh! nona!? kali ini ada apa?!" ucapku terkejut.


.


.


Tok Tok Tok!!


"Nona?!! nona?!!"


Brukk!


"Ekhh!! aargghh!!"

__ADS_1


"Hah! nona!! sial! Frenya!! jangan hanya menonton!! aku tau kau melihat ini!! cepatlah datang!"


" ... "


"Frenya!!"


"Oh, ya ampun… kau terlalu berisik Sira, aku sedang ada tamu" sahut Frenya seraya muncul di hadapanku.


"Aku tidak peduli dengan itu, sekarang cepat tolong nona Shea!"


Berbaring di anak tangga lantai bawah sambil menunggu nona Shea keluar, aku kemudian tidur dan mengabaikan makan malam hari ini karena aku masih khawatir dengan keadaan nona dan tidak sopan rasanya jika aku makan sendiri sementara nona Shea sedang dalam masalah.


Lama aku tertidur dengan tenang di anak tangga, samar-samar aku mendengar suara rintihan dan teriakan dari lantai atas yang membuatku langsung terbangun karena aku yakin suara itu berasal dari kamar nona Shea, aku langsung bergegas menuju kamar nona dan mengetuk-ngetuk pintu kamarnya dengan sangat keras, akan tetapi karena yang kudengar hanyalah suara rintihan kesakitan, aku kemudian mendobrak pintu kamar nona Shea untuk masuk ke dalam kamarnya.


Tapi, setelah berhasil masuk, aku sangat terkejut melihat nona Shea yang sudah terkapar sambil memegangi lehernya yang memerah akibat dari rantai kutukan yang aktif seperti besi panas, bahkan dahi nona Shea terlihat dipenuhi darah yang membuat rambut depannya ikut memerah.


Aku kemudian berteriak keras memanggil Frenya agar dia mau datang ke tempat ini karena hanya dia yang bisa membantu nona Shea, perlu beberapa saat untuk Frenya datang memenuhi panggilanku dan selama itu juga nona Shea terus merintih yang membuatku sangat khawatir.


Beberapa saat setelahnya Frenya kemudian muncul di depanku dengan raut wajah yang sedikit terganggu, tapi aku tidak peduli dengan ocehan tidak berguna itu dan memintanya untuk secepatnya mengobati nona Shea.


"Heumm... sepertinya dia dalam keadaan yang buruk hehehe."


"Tidak ada yang lucu untuk ditertawakan di tempat ini, cepatlah obati nona Shea!"


"Ah maaf maaf, kau tidak perlu khawatir Sira, lagipula dia tidak akan mati hanya karena masalah sepele seperti ini."


"Jangan main-main Frenya!"


"Aku tidak sedang bercanda, jika kau serius peduli dengannya kenapa tidak kau temui Ardner dan pinta dia melepaskan anak ini, itu lebih baik daripada harus mengoceh sia-sia di sini iyakan? ataukah kau takut harus berhadapan dengannya, Sira?" sahut Frenya menatapku sembari menutup sebelah matanya.


" … "


"Aghh! Arrgghhh!!"


"Ya… semuanya terserah padamu lagipula itu bukan urusanku" sambungnya sambil menggendong nona Shea ke tempat tidurnya.


Nona...


Kembali berfokus pada nona Shea yang masih tergeletak kesakitan, aku merasa sangat kesal dengan sikap Frenya yang tertawa saat melihat nona menderita, tapi bukannya sadar Frenya malah terdengar sedang mengejek nona Shea padahal keadaan nona sangatlah buruk, kesal mendengar perkataannya itu aku langsung membentaknya dengan cukup keras. Akan tetapi, sama seperti biasanya dia sama sekali tidak peduli dengan ucapanku.


Frenya juga memberiku saran untuk tidak terlalu banyak berkata-kata dan lebih berfokus untuk menghentikan perbuatan Ardner pada nona Shea, aku sangat peduli terhadap kondisi nona Shea, tapi melawan Ardner perlu persiapan yang benar-benar matang karena itu hanyalah tindakan bunuh diri, meskipun mungkin aku masih bisa selamat karena hubungan pertemanan kami.


Aku hanya terdiam dengan pikiran yang benar-benar buntu karena ucapan Frenya dan secara tiba-tiba nona Shea kembali menjerit keras yang kemudian mengubah arah pandangan kami untuk kembali berfokus pada nona Shea, melihat itu Frenya kemudian mengangkat tubuh nona lalu meletakkannya di atas tempat tidurnya, sebelum akhirnya dia membersihkan sisa darah yang ada di kepala nona sembari menggunakan sihir penyembuhannya.


"Aku ingin mencari udara segar, sisanya aku serahkan padamu" ucapku sembari berjalan keluar kamar.


"Semoga beruntung" sahutnya sambil tersenyum.


...✧⁠✧✧...


Keluar dari rumah dinding setelah menyerahkan urusan nona Shea pada Frenya, aku kembali mengingat perkataannya padaku beberapa saat lalu sambil terus mempertimbangkan kemungkinan yang akan terjadi walaupun hasil akhirnya sudah dapat dipastikan berakhir dengan kegagalan, tapi aku tetap ingin mencoba bertemu dengan Ardner karena akan sangat berbahaya jika kejadian hari ini terulang kembali.


Aku langsung menggunakan sihir teleport menuju ke labirin lantai bawah, jauh sebelum aku bertemu dengan nona Shea aku sudah terlebih dahulu menjelajahi labirin hingga masuk jauh ke dalamnya bahkan lebih jauh daripada saat aku menjelajahi labirin bersama nona Shea, selama aku masih mengingat jalan dan tempat terakhir yang aku kunjungi di dalam labirin, aku bisa menggunakan sihir teleport untuk keluar masuk tempat itu karena seperti itulah cara kerja dari sihir teleport itu.


...✧✧✧✧✧...


"Baiklah, sekarang tinggal mencarinya."


Jika cara ini gagal, tidak ada cara lain selain memaksanya untuk berhenti...


.


.


"Ardner!!"


Masalah ini harus secepatnya diselesaikan...


"ARDNER!!!" teriakku sambil terus berlari menyusuri labirin.


Setelah aku berhasil masuk ke labirin lantai dalam, aku langsung berlari menelusuri jalur labirin yang sangat luas ini untuk mencari keberadaan Ardner sambil sesekali memanggilnya agar dia cepat muncul di depanku, mengingat bahwa labirin ini adalah wilayahnya dia pasti akan terganggu jika ada orang yang terus berteriak memanggil-manggil namanya, dan dia tidak mungkin tidak mengetahui itu.


Aku tidak ingin masalah yang di hadapi nona Shea terus berkelanjutan dan membuatnya tertekan, tapi seperti rencana awalku, jika aku gagal berbincang dengan Ardner, aku mungkin akan mengambil tindakan yang sedikit merepotkan, itupun jika semuanya berjalan dengan lancar.



"ARDNER!!!"


"Cih! ayolah kawan, jangan terlalu sombong… aku tau kau mendengarku, aku tidak mungkin mengelilingi labirin hanya untuk mencarimu, aku tidak ingin membuang banyak waktu."


"Sebaiknya kau tidak berharap aku akan melepaskan gadis itu" ucap Ardner sembari perlahan muncul dari portal teleport.


"Akhirnya kau muncul, langsung saja… bisakah kau sudahi permainanmu ini? perbuatanmu pada nona Shea terlalu berlebihan, Ardner" sahutku padanya.


Entah berapa jauh sudah aku menyusuri labirin, Ardner belum juga datang menghampiriku padahal aku sudah mengelilingi lantai labirin wilayahnya. Selain itu, aku sangat yakin jika tempat yang aku lewati ini berada dalam pengawasannya dan sangat tidak mungkin jika dia tidak mengetahui keberadaanku.


Cukup lama aku mencari Ardner dengan mengelilingi lantai labirin, aku sempat berpikir bahwa yang kulakukan ini adalah tindakan yang sia-sia karena dia tidak juga kunjung datang menemuiku dan aku sama sekali tidak mengetahui keberadaannya, tapi tidak berselang lama setelah aku berhenti berlari dan bergumam kesal padanya, Ardner akhirnya muncul dari balik portal teleportnya dengan raut wajah yang kurang menyenangkan, dia juga bisa menebak tujuan kedatanganku dengan sangat tepat dan itu artinya aku tidak perlu menjelaskan lebih lanjut mengenai perbincangan ini, karena memang aku tidak ingin membuang banyak waktu.


"Sebaiknya kau pergi, aku tidak akan melepaskannya sampai dia benar-benar menderita... itulah hukuman untuk gadis itu" ucap Ardner sambil berbalik.


" ... "


Ini akan sulit...


"Apa kau tidak bisa sedikit lebih lembut pada wanita, setidaknya berikan keringanan pada nona Shea? lagipula nona Shea akan tetap patuh meski kau tidak menggunakan rantai itu."

__ADS_1


"Hukuman tetaplah hukuman, aku tidak memandang apapun selain itu… pergilah, aku tidak punya waktu untuk meladenimu, Sira!" sahutnya sambil menatapku dengan pandangan datar.


"Begitu ya… berarti aku memang tidak punya cara lain..."


"Ha?"


Tidak lama kami bicara mengenai nona Shea wajah Ardner terlihat tidak peduli dengan semua yang telah aku katakan, dia bahkan kembali membuka teleport dan hampir saja pergi dari teman ini jika saja aku tidak kembali berbicara, tapi seperti apapun aku bicara padanya dia benar-benar tidak pandang bulu untuk menghukum orang.


Semua ini sesuai dengan perkiraanku, orang ini sangatlah keras kepala jika sudah menyangkut peraturannya, bahkan untuk sekedar memberikan keringanan saja dia tidak bisa diajak kompromi, padahal nona Shea tidak akan pergi dari tanggung jawabnya dan aku tau itu karena aku sudah cukup lama berada di sampingnya, tapi sekali lagi yang aku ajak bicara adalah naga dengan kepala sekeras batu.


Setelah melihat respon darinya yang sama sekali tidak memiliki rasa kasihan dan karena aku sudah terlanjur datang ke tempat ini, aku tidak punya pilihan lain selain memaksanya untuk berhenti meskipun ini sangatlah mustahil untukku lakukan, tapi karena aku sudah bersiap-siap sejak jauh-jauh hari setidaknya aku pasti bisa membuatnya merasa terdesak.


Aku kemudian langsung berubah menjadi manusia harimau dengan posisi siap menerkamnya, tapi meskipun begitu Ardner sama sekali tidak bergeming.


"Percuma! kau tidak akan mampu mengalahkanku Sira, kau hanyalah monster lemah yang tidak bisa mencapai puncak!" ucapnya dengan tatapan sinis.


"Aku tidak peduli, selama aku bisa meringankan beban nona Shea… meskipun harus terbunuh, aku akan selalu menghantuimu sampai kau melepaskannya!" sahutku sembari membuka lebar mulutku.


Bersikap sangat tenang tanpa ada merasakan ancaman, sudah sepantasnya sebagai salah satu dari ras sejati dia tidak akan takut apalagi merasa terancam dengan monster sepertiku, dan justru akulah yang merasakan ancaman darinya bahkan hanya sekedar tatapannya saja sudah sangat terlihat mengerikan.


Secara keseluruhan apa yang Ardner ucapkan memanglah sebuah kenyataan dan itu sangatlah mengesalkan, meskipun hasilnya sudah terlihat sangat jelas bahkan sebelum pertarungan dimulai, aku tetap tidak akan mundur sedikitpun dari tekad yang sudah aku bulatkan ini.


"Baiklah, aku akan meladenimu, tapi jika kau kalah, aku akan menambah rasa sakitnya hingga berlipat ganda…"


"HAAARGHH!!!"


Cepat!


"Uakhh!!"


DUARR!!!


"Ini kekalahan yang terlalu cepat, apa hanya seperti ini kekuatanmu?"


"Haaargh!! kau pikir aku akan kalah dengan pukulan kecil seperti itu? jangan terlalu meremehkanku!" sahutku padanya.


Perlahan berjalan mendekatiku dengan aura yang sangat kuat menyelimuti tubuhnya, terlihat sangat jelas jika dia sedang meremehkanku, tapi gertakan seperti itu tidak akan membuatku mundur selangkah pun, aku benar-benar kesal dengannya karena dia seenaknya saja akan menyakiti nona Shea jika aku tidak berhasil mengalahkannya, dan ini membuat apa yang aku lakukan ini terlihat seperti pedang bermata dua yang akan menusuk nona Shea dan ini sangat jauh dari keinginanku.


Mendengar hal itu aku langsung menyerangnya dengan cakar terbuka yang siap untuk mencabik-cabiknya, tapi dengan cepat dia menghindari seranganku dan mendaratkan satu pukulan keras yang membuatku membentur dinding labirin hingga tertimbun reruntuhan, jujur saja pukulan itu sangat menyakitkan, tapi aku langsung berdiri dan kembali masuk ke dalam posisi menyerang karena nasib nona Shea dipertaruhkan dari hasil pertarungan ini.


"HAARGHH!!!"


Ssttt!!


Aku terus menyerangnya dengan berbagai cara bahkan serangan sihir pun juga aku lakukan padanya dengan jarak yang sangat dekat, tapi Ardner mampu menghindari semua serangan itu dan malah terus berhasil mendaratkan serangannya padaku yang bahkan tidak disertai dengan sihir, dia murni hanya mengandalkan kemampuan fisiknya dalam pertarungan ini, tapi aku merasa sangat terdesak dengan semua pukulannya yang sangat cepat dan kuat.



"Ada apa Sira!? apa hanya seperti ini batas kemampuanmu?!"


"HAAARRGGGHHHHH!!!! ARDNEEER!!!"


DUAARR!!


"Membosankan!"


BRUKK!!!


Bertarung dengan sekuat tenagaku untuk menghadapi Ardner, tidak ada satupun seranganku yang bisa menggores ataupun mengenainya, dalam pertarungan ini justru akulah yang sudah terluka cukup parah.


Aku benar-benar kewalahan menghadapinya bahkan tenagaku sudah banyak terkuras dalam beberapa saat terakhir, tapi tidak menyerah sampai di situ aku kemudian menyiapkan sihir angin dengan potensi ledakan yang cukup besar dan aku yakin itu bisa melukai Ardner, akan tetapi dia dapat dengan mudah menghindarinya dan balik menyerangku hingga aku terpental jauh dan sekali lagi membuatku menghantam dinding labirin dengan sangat keras, sebagian tulangku mungkin sudah patah karena semua serangannya dan saat ini aku sangat kesulitan untuk bergerak.


"Kau menjadi sangat lemah Sira, aku bahkan tidak menggunakan sihir, tapi kau sudah sangat kewalahan, seperti yang aku ucapkan tadi… aku akan membuatnya semakin menderita…/"


"Aku masih bisa bertarung…!" ucapku sambil berusaha berdiri.


"Hentikan saja, kemampuan regenerasimu sangat lambat… sekali lagi terkena seranganku, kau pasti akan mati" ucapnya sembari perlahan menghilang masuk ke dalam sihir teleportnya.


.


.


"ARDNER!!! uhuk uhuk!! sial!! haaargghh!!! aku akan terus datang! aku akan terus melawanmu, berapa kali pun itu terulang, aku pasti mengalahkanmu! ARDNEER!!!!"


...


"Aku pasti akan mengalahkanmu, tidak akanku biarkan kau berbuat seenaknya..."


Setelah berhasil menjatuhkanku untuk yang kesekian kalinya, Ardner terlihat sangat tidak puas dengan pertarungan ini dan perlahan berjalan menjauhiku menuju portal teleportnya, tapi itu bukan masalah karena masalah utamanya adalah ancaman Ardner yang mungkin saja bukan sekedar gertakan.


Aku ingin itu terjadi pada nona Shea, dengan berpegangan pada sebongkah batu besar di sampingku aku berusaha untuk berdiri dan melawannya sekali lagi, tapi tampaknya Ardner sudah kehilangan minat untuk melawanku dan memilih tidak mempedulikanku.


Aku meneriakinya dengan sangat keras tanpa peduli dengan darah yang bercucuran keluar dari mulutku, tapi dia tetap tidak menjawab tantanganku dan masuk ke dalam sihir teleportnya sebelum akhirnya dia menghilang dari tempat ini dan karena aku sudah kehabisan tenaga, aku kemudian kembali berubah ke bentuk harimau kecil dan berjalan pulang dengan kaki yang pincang.


...✧⁠✧✧✧✧...


"Hm... sepertinya kau gagal melakukannya, Sira" ucap Frenya sambil tersenyum.


"Berisik...!" sahutku sembari berbaring di bawah tangga.


"Hehehehe..."


Setelah tiba di depan pintu rumah dinding aku langsung dihadang senyuman mengejek dari Frenya yang sangat memuakkan, tapi aku tidak ingin mempedulikannya dan hanya berjalan melewati masuk ke kolong tangga dengan perasaan sangat kesal, aku kemudian berbaring dan mulai memfokuskan kekuatan pada semua lukaku, aku tidak memiliki kemampuan regenerasi secepat milik nona Shea. Jadi, aku harus menyembuhkan lukaku secara manual dengan bantuan sihir penyembuhan.


"Aku membuat anak itu tertidur selama beberapa hari ke depan, selama itu seharusnya dia tidak akan merasakan sakit" ucap Frenya padaku.

__ADS_1


Ah baguslah kalau begitu...


__ADS_2