
"Kak apa tidak apa-apa meninggalkan Kie sendirian? " tanya Lia padaku.
"Yahh aku juga tidak enak meninggalkannya di sana, tapi kita hanya akan menjadi pengganggu kalau tetap berada di sana hehehe." Jawabku dengan sedikit tertawa.
Aku sebenarnya tidak ingin meninggalkan Kie di sana, tapi aku juga tidak ingin mengganggu kesempatan Zoe untuk mengatakan perasaannya pada Kie, dia sudah sangat lama menunggu hari ini, itulah sebabnya mengapa aku meninggalkan mereka berduaan di tokonya dan tentunya semua tentang kue dan puding pagi hari hanyalah alasan kami untuk membantu Zoe, tapi itupun kalau Kie mau menerimanya karena mereka adalah teman dekat mengatakan hal seperti itu mungkin akan dianggap sebagai candaan.
"Sudah sudah tidak perlu dipikirkan, ayo kita minum minuman hangat di dekat air mancur kota." Ucapku sambil sedikit tersenyum.
"Woa! itu ide bagus, aku ingin minum coklat dan... dan... dan..."
"Iya iya ayo kita pergi."
Yahh hanya ada dua kemungkinan yang di dapat Zoe diterima atau tidak diterima... jika ada pengecualian di dalamnya itu mungkin hanya menunggu.
"Ahh... Kie sangat beruntung ya dia pasti sedang bersenang-senang."
...
Dengan sedikit perbincangan bersama adik manisku aku berjalan menuju ke air mancur kota untuk mendapatkan minuman dan cemilan hangat, Lia terlihat sangat bersemangat untuk segera mendapatkannya matanya terlihat berbinar-binar membayangkan semua makanan itu, dan juga kami ke sana sekaligus untuk menunggu Kie yang tampaknya sedang menikmati harinya atau mungkin sebaliknya.
...***...
"Hahh... akhirnya kita sampai." Ucapku sambil mengangkat kedua tanganku.
"Kak ayo ke sana." Ucapnya sambil berlari dan menunjuk ke salah satu tempat makan di pinggir jalan.
"Baik baik, jangan terburu-buru Lia." Sahutku padanya.
.
.
"Woaa!! aku pesan satu coklat panas!!" ucap Lia dengan bersemangat.
"B-bibi pasti mendengarmu Lia, ayo kita duduk dulu."
"Baik!! hehehehe."
"Aku juga pesan satu teh hangat dan sup."
"Baiklah, tunggu sebentar ya." Sahut bibi pedagang.
...
"Hahahaha seperti biasa kau sangat bersemangat Lia." Ujar salah satu orang yang ada di depan kami.
"Hahahaha benar sekali..." sahut yang lainnya.
"Hehehehe maaf mengganggu." Ucap Lia sambil tersenyum kecil.
"Tidak masalah, kami sudah terbiasa dengan itu."
Setelah berjalan kurang lebih sekitar 30 menit aku dan Lia akhirnya sampai di depan air mancur kota dan dengan sangat bersemangat Lia langsung pergi ke salah satu tempat makan yang sering kami kunjungi sebelum pergi ke guild petualang, tempat makan itu berada di pinggir jalan sebelah kiri air mancur dari jalur yang kami lewati dan juga dekat dengan pedagang buah-buahan.
Kami sering makan di sini jika tidak sempat untuk sarapan di rumah bahkan karena itu kami sangat dekat dengan bibi pedagang di tempat makan ini, tanpa berlama-lama setelah kami sampai di depan tempat makan itu Lia langsung mendobrak meja dan berteriak dengan penuh semangat memesan minumannya dan tentu saja tingkahnya energik itu memancing perhatian banyak orang, tapi untungnya orang-orang di sini sudah sangat mengenal kami dan bisa memahami tingkah lakunya yang kekanak-kanakan itu, aku hanya tersenyum melihat tingkah lakunya itu memiliki adik seperti dia sangatlah menyenangkan.
...
"Sudah cukup tertawanya, ini coklat, sup, dan teh kalian." Ujar bibi sambil menyajikan makanan yang kami pesan.
"Terima kasih bi." Ucapku padanya.
"Woo! sudah sampai, eemmm!! enaknya."
"Pelan-pelan saja Lia." Ucapku pada Lia.
"Hehehehe baik kak."
...
Eemmm... seperti biasa supnya selalu enak.
Brukkk!!
"Uhuk uhuk! eh! K-kie kau sudah sampai?" ucapku terbata-bata karena kaget.
"Kenapa kalian pergi meninggalkanku sendiri hah?!!"
"Sendiri? bukannya kau tadi berdua dengan Zoe? hehehe." ucapku sedikit menyindirnya dengan tatapanku.
Tidak berselang lama setelah kami memesan dan juga sedikit berbincang dengan para pelanggan lainnya bibi datang dengan membawakan makanan pesanan kami, tadi tak lama setelahnya seseorang datang dan langsung memukul meja kami dengan cukup keras sampai aku tersedak supku dan siapa lagi kalau bukan Kie yang sudah datang hari menyenangkannya.
"P-pokoknya aku tidak terima kalian meninggalkanku." Ucapnya sambil duduk dengan nada kesal dan merajuk.
"Uahhh... coklat panas memang cocok untuk hari dingin seperti ini... jadi bagaimana? apa semua berjalan lancar Kie?" ucap Lia yang juga menyudutkannya dengan pertanyaan.
"Aaapa maksudmu Lia?"
"Tentu saja hubungan kalian hehehe/"
"Sepertinya kita berhasil hehehe." Ucapku sambil kompak dengan menepuk tangan Lia.
__ADS_1
"Huhuhubungan aaapa? aaku tidak mengerti."
"Eh! a-apa yang kau/
"Sstt sstt sstt... tenang saja Kie kau tidak perlu malu-malu, wajah yang memerah, bibir merah bekas kecupan, dan juga yang lainnya, kau tidak perlu malu mengakuinya Kie... apa kau pikir aku tidak memperhatikannya?" ucapku pelan sambil merangkul lehernya.
Dia datang dengan marah-marah pada kami, tapi aku sudah hafal semua tingkah lakunya Kie bertindak seperti itu hanya karena malu mengakuinya, dia berkata seolah tidak tau dan tidak terjadi apa-apa hanya untuk mengalihkan perhatian saja, melihatnya seperti itu aku langsung merangkul lehernya dan berbisik di dekat wajahnya sambil menunjuk dan menyentuh pipi dan bibirnya juga apa yang kulihat di lehernya, Kie memang masih malu-malu untuk mengakuinya.
"Padahal baru beberapa menit saja, tapi kalian sudah bertindak layaknya pasangan romantis... tapi jangan lupa untuk tidak bertindak terlalu jauh dulu ya hehehe." Sambungku dengan masih merangkulnya.
"Kak sebaiknya hentikan itu, lihat wajahnya sudah hampir meledak." Ucap Lia sambil menatap ke arah kami.
"Upsh! maaf ya hehehe."
.
.
.
"Bi ini uangnya." Ucapku sambil menyerahkan beberapa koin untuk membayar.
"Baik terima kasih ya, jangan lupa untuk datang lagi."
"Tentu saja bibi." Sahut Lia.
Aku terus merangkul leher Kie dan memojokkannya dengan kata-kata dan pernyataan yang aku ucapkan, dari ekspresi wajahnya saat aku mengatakan semua itu sepertinya tebakanku tidaklah meleset mereka pasti sudah menjadi pasangan yang romantis, aku juga sedikit menasehatinya untuk tidak bertindak terlalu jauh karena walau bagaimanapun wanita harus pandai menjaga dirinya walaupun pasangannya adalah teman dekatnya sendiri.
Dan karena wajahnya sudah semerah apel aku kemudian melepaskan rangkulanku, sekilas aku melihat banyak asap yang keluar dari ubun-ubunnya dan mungkin jiwanya hampir saja melayang ke luar karena terlalu panas dengan ucapanku sikapnya benar-benar sangat lucu hehehe, sambil menunggu Kie bisa berpikir jernih aku kembali melanjutkan makanku dan kemudian membayarnya dengan beberapa koin perunggu sesuai dengan harganya, makanan di sini memang murah tapi, sangat enak.
"Jadi, apa kau sudah membaik?"
"Aku tidak bisa berpikir..." sahut Kie sambil menengadah ke atas.
"Selamat ya Kie hehe." Ucap Lia padanya.
"Ya..."
.....
"Ahh... sepertinya awan mendung sudah pergi." Ucapku sambil menghalangi cahaya matahari yang bersinar ke arahku.
"Kak ayo kita duduk di sana." Ucap Lia sambil menunjuk ke arah air mancur.
"Sudahlah Kie jangan terlalu banyak berpikir, sebaiknya kita tenangkan pikiran di dekat air mancur." Ucapku menarik tangannya.
.
.
.
Zoe telah sukses membuat pikirannya kacau balau, Kie hanya mengangguk dengan wajah merahnya saat aku mengajaknya untuk duduk di bangku taman dekat air mancur.
"Jadi, apa kau bersenang-senang Kie?" tanyaku padanya.
"Yahh seperti itula... eh!! woy! kenapa kalian sangat penasaran denganku?" jawabnya sembari bertanya.
"Hanya sekedar ingin tau hehe." Jawab Lia sambil tertawa kecil
"Yap benar." Sahut Lia sambil tersenyum menatapnya.
"Apa-apaan kalian ini, jangan-jangan kalian berdua memang sengaja meninggalkanku berduaan dengan Zoe?!"
Karena sedikit penasaran dengan apa yang terjadi dengan mereka walaupun kami sudah mengetahuinya, aku kemudian bertanya pada Kie tentang apa yang sudah mereka lakukan saat kami meninggalkannya, Kie menjawabnya dengan spontan walaupun dia menghentikan kata-katanya dan balik bertanya dengan sedikit kesal, aku dan Lia hanya tersenyum sambil menatap satu sama lain sebagainya Jawaban untuknya, Kie terlihat kesal dengan sikap kami itu, tapi dia juga terlihat sangat menikmatinya.
"Jadi, apa kau benar-benar melakukannya dengan Zoe? apa kau melakukan hubungan b/"
Tok
"Aduh! ka kenapa kau memukulku?" tanya Lia sambil memegang dahinya.
"Ssssttt... kau masih terlalu dini untuk mengatakan itu, paham?"
"Hehehe m-maaf kak."
Terkadang aku bingung dengan pemikiran adikku ini, sesekali dia terlihat bersikap seperti anak-anak dan juga di lain waktu terlihat seperti orang dewasa, walaupun pemikiran seperti itu sudah sangat wajar dengan usianya yang sekarang, umurnya memang sudah 17 tahun dan sudah sanggup untuk berpikiran tentang itu, tapi aku tetap akan menjaganya sampai dia benar-benar matang.
"Yahh itu memang nyaris terjadi, tapi aku tidak melakukannya... aku memukul wajahnya lalu pergi ke sini."
" ... " " ... "
"A-ada a-apa?"
"Weehhhh!!!! j-jadi kau benar-benar melakukannya?!!" ucap Lia terkejut.
"Padahal baru jadian langsung dihajar/
"Sungguh kasihan." Ucapku Lia memotong kata-kataku.
"Ya benar-benar kasihan." Ucapku merasa kasihan pada Zoe.
__ADS_1
"Hey hey hey hentikan itu... aku jadi merasa kasihan dengannya."
"Tapi, apa kau tidak berbohong...?" tanyaku dengan sedikit tersenyum licik.
Kami benar-benar tercengang dengan ucapan Kie yang mengatakan bahwa mereka hampir saja melakukan itu, tapi aku jauh lebih tercengang dan kasihan pada nasip Zoe yang dihajar oleh Kie padahal mereka baru saja jadian kurang dari satu jam yang lalu, aku tidak menyangka kalau Kie benar-benar memukulnya berharap saja hubungan mereka akan berjalan lancar.
"Aapa aaku tampak seperti berbohong? aaku juga harus berhati-hati memberikan semuanya padanya tau... lagipula ini bahkan belum sampai satu hari dan juga kenapa kau sangat suka menjodoh-jodohkan aku dengannya? bukannya kau juga masih sendiri Luu? kau bahkan lebih tua dariku."
Krak
" ... "
"Kak apa kau baik-baik saja?"
Setelah mendengar ucapan Kie seketika saja duniaku yang berwarna langsung menjadi hitam putih jangankan untuk melihat warna bahkan suara sudah tidak terdengar lagi, ucapannya padaku jauh lebih menusuk daripada ucapanku padanya karena ucapannya memang benar aku dua tahun lebih tua darinya, tapi mencari pasangan tidak semudah kelihatannya, apalagi jika orang yang kau sukai telah menyukai orang lain.
"Yahh... kau memang benar, tapi cinta segitiga bukan hal yang menyenangkan."
"Apa yang kau katakan Luu?"
"Tidak ada, bagaimana kalau kita menjalankan misi hari ini... siapa tau ada misi yang bagus untuk kita." Ucapku sambil berdiri menatap mereka berdua.
"Itu ide yang bagus, yoshh... siapa yang lebih cepat sampai di guild dia yang memilih misi." Ucap Lia sambil berlari.
"Tidak akanku biarkan itu terjadi." Ucap Kie sambil menyusul Lia berlari.
"Hey tunggu!" ujarku dari belakang.
Karena tidak ingin terlalu terlarut dalam perasaan aku kemudian mengajak mereka untuk menjalankan misi dari guild, dengan penuh semangat Lia langsung berlari dengan cepat di susul dengan Kie yang tidak ingin kalah sementara aku hanya berjalan biasa mengikuti mereka dari belakang, lagipula letak gedung guild petualang sudah ada di hadapan kami, jadi aku tidak perlu berlari untuk sampai ke sana.
...*****...
"Yeah!! aku menang!! hahahaha!!" ucap Kie sambil tertawa.
"Ehh!! padahal tinggal sedikit lagi." Ucap Lia sambil tertunduk kelelahan.
Ya kau jauh lebih cocok untuknya daripada aku, dia terlihat lebih bahagia jika bersamamu Kie.
"Tenang saja Lia masih ada kesempatan di lain hari." Ucapku sambil menepuk pundak Lia.
"Ya mungkin lain kali, tapi dia pasti akan memilih misi yang sama dengan yang dulu."
"Kita lihat saja, lagi pula dia yang menang."
"Yahh mau bagaimana lagi." Ucap Lia terlihat pasrah.
Setelah berlarian di jalanan kota akhirnya kami sampai di depan pintu masuk guild, tapi Lia terlihat tidak senang dengan hasilnya karena Kie telah mendahuluinya dan mendapatkan kesempatan untuk memilih misi yang akan kami ambil hari ini, sifat Lia yang kekanak-kanakan kembali muncul karena kalah bersaing dengan Kie dia terlihat menggemaskan dan untuk hari ini kami akan mengikuti apapun misi yang dipilih oleh Kie walaupun kami sudah bisa menebaknya.
"Ayo kita masuk."
"Baik kak."
...........
"Luna, Lia... aku sudah mendapat misi yang cocok." Ucap Kie sambil melambaikan tangannya dari dalam guild.
Cepat sekali...
"Apa dia tidak memilih-milihnya dulu." Ucap Lia menatap Kie.
.
.
"Apa yang kau pilih Kie?" tanyaku padanya.
"Jreng jreng jreng ini dia." Jawabnya sambil memperlihatkan kertas di tangannya
"Um... ' mencari tanaman obat untuk bahan potion penyembuh seperti yang ada di daftar ...' a-apa tidak ada yang lain? t-tampaknya ini sangat sulit Kie." Tanya Lia agak keberatan.
"Hm... tidak, kita akan ambil yang ini... bayarannya lumayan loh..." jawab Kie.
Setelah sedikit menyemangati Lia kami kemudian perlahan masuk ke dalam guild petualang menyusul Kie yang sudah ada di dalam, tapi saat kami baru menginjakkan kaki di depan pintu masuk gedung Kie sudah memanggil kami dengan melambaikan tangannya yang sedang memegang selembar kertas berisi misi yang akan kami ambil, dia sangat cepat memilihnya bahkan tanpa mempertimbangkan untuk bertanya pada kami.
Tanpa harus melihat isinya aku sudah dapat menebak apa misi yang diambil oleh Kie dan benar saja dia selalu mengambil misi yang berkaitan dengan tanaman dan bunga, Lia bahkan terlihat agak keberatan dengan keputusan Kie tentang misi itu, tapi Kie tetap mempertahankan untuk tetap mengambilnya.
Aku dapat memahami Lia tentang itu bukan karena kami tidak setuju untuk mencari tanaman obat, tapi lebih ke bagian betapa sulitnya untuk mendapatkannya, tanaman obat sebenarnya sudah dibudidayakan di kota oleh pihak kerajaan meskipun tidak semua jenis tanaman obat yang mereka tanam dan karena itulah ada banyak misi yang meminta untuk mencari berbagai jenis tanaman obat-obatan agar dapat dilakukan penelitian dan agar dapat menciptakan obat-obatan yang jauh lebih baik daripada yang sebelumnya, tapi misi mencari tanaman obat bukan hanya dari pihak kerajaan saja contohnya adalah misi yang kami ambil saat ini misi ini berasal dari permintaan guild petualang itu sendiri, walaupun pada akhirnya akan tetap berakhir di pihak kerajaan.
"Aku yakin kau tidak hanya memikirkan bayarannya." Ucapku padanya.
"Tentu saja hehehe."
Sudah kuduga...
"Yahh... jadi apa kau setuju Lia." tanyaku pada Lia.
"Ya ya baiklah, lagipula tidak ada pilihan lain dia yang menang." Ucap Lia pasrah.
Bagi Kie bayaran hanyalah hal penting kedua yang dia inginkan sedangkan hal penting pertamanya adalah dia ingin mengkoleksi sendiri tanaman obat itu di rumahnya, dia ingin mengambil misi ini mungkin karena dia tidak memiliki tanaman yang ada di poster misi ini dan hanya itu yang bisa kusimpulkan dari apa yang dia lakukan ini, Kie adalah teman yang sangat menarik.
Kami hanya bisa mengikuti apapun yang Kie inginkan karena dia yang memimpin misi hari ini walaupun aku tidak yakin ini akan menjadi misi yang mudah, beberapa bulan yang lalu kami pernah berjalan dan berkemah di hutan selama satu bulan penuh karena harus menjalankan misi tanaman obat seperti ini entak apa nasip kami nanti.
__ADS_1
Semoga saja ini akan menjadi misi yang mudah...
...♡❁❁✧✿✿✧❁❁♡...