I Was Reincarnated As A Dragon

I Was Reincarnated As A Dragon
Chapter 85: Tailless wolf ( Ellia )


__ADS_3

Waktu terus berlalu mulai saat kami meninggalkan tempat perkemahan pertama kami tadi malam, dan itu rasanya sangat menyenangkan walaupun ada beberapa tragedi beberapa saat sebelumnya, tapi yang berlalu biarlah berlalu dan yang sekarang waktunya untuk kembali ceria dan gembira.


Sepanjang perjalanan kami dihiasi dengan suara dengkuran dari Rhom yang belum juga bangun bahkan sampai makan siang berlalu, dan membangunkannya adalah hal yang mustahil untuk dilakukan sekarang jadi kami hanya membiarkannya saja sampai dia bangun dengan sendirinya.


...*****...


"Terima kasih paman, Rin, Cia, Emma, karena mau memberi kami tumpangan, kami akan mulai perjalanan sendiri dari sini." Ucap kak Luna pada mereka.


"Jika nanti kalian perlu tumpangan jangan ragu untuk menghubungi kami." Ucap paman pedagang pada kami.


"Baik paman, sekali lagi terima kasih banyak atas bantuannya." Sahut Kie.


[2:27]


"Hm..." gumamku pelan sambil menatap kalung arlojiku.


Setelah melakukan perjalanan yang cukup panjang dengan kereta kuda pedagang, kami kemudian turun di sebuah jalanan setapak untuk memulai petualangan kami mencari tanaman obat di dalam hutan, tentunya jika kami berjalan kaki itu akan memakan waktu yang cukup lama dan juga itu sangat melelahkan.


"Anu... bagaimana dengan Rhom?" tanyaku pada mereka.


Dari pagi sampai siang Rhom belum juga menunjukkan tanda-tanda akan bangun dari tidurnya, bukan prihatin dengan keadaannya aku malahan merasa khawatir melihatnya, bagaimana mungkin ada orang yang tidur begitu lama dengan kegaduhan dari kuda dan suara kereta yang berdecit karena jalanan yang berlubang, dia tukang mendengkur.


"Tidak perlu khawatir dia akan bangun sebentar lagi." Jawab Emma.


"Owh..."


"Ayo Lia kita pergi."


"Ookeh kak, sampai berjumpa di guild semua bye bye." Ucapku sambil melambaikan tanganku.


Sambil dengan melambaikan tangan ke arah mereka aku berjalan mengikuti kak Luna dan Kie masuk ke dalam jalanan setapak yang mengarah masuk ke hutan, sesuai dengan namanya ini hanya jalanan setapak yang sempit dan penuh dengan rerumputan semak yang sangat tebal.


"Jadi, bagaimana Kie apa tanaman obat yang kita cari ada di sini?" tanyaku padanya.


"Jangan terburu-buru Lia, kita baru masuk sepuluh langkah ke dalam hutan... aku bahkan masih bisa melihat kereta pedagang dari sini." Jawabnya.


"Y-ya... akukan cuma bertanya."


"Apa kau takut Lia?" tanya kak Luna padaku.


"Y-yahh entahlah... dari awal kita melakukan perjalanan perasaanku sangat tidak enak."


"Mungkin itu hanya perasaanmu saja Lia." Sahut Kie.


"Tenang saja Lia, kakak kan sudah bilang kakak pasti akan melindungimu." Ucap kak Luna tersenyum ke arahku.


Aku memang orang yang mudah panik, mulai dari awal perjalanan kami hatiku ditumbuhi perasaan tidak nyaman dan cemas, tentunya itu bukan tanpa alasan terutama saat Mori mengatakan sesuatu tentang iblis selagi kami masih ada di guild, kekhawatiran akan keselamatan kami benar-benar muncul di hatiku, tapi dengan cepat menenangkanku sambil mengambil bahuku dan tersenyum ke arahku, aku sangat beruntung memiliki kakak yang baik dan perhatian seperti dia.


Sambil terus berjalan mengikuti Kie dari belakang aku menggandeng tangan kak Luna dengan erat berusaha untuk menghilangkan rasa cemas yang terus menghantuiku di setiap langkah kakiku, dan juga untuk menghemat ruang karena jalanan ini sangatlah sempit, aku bisa saja menerobos semak-semak untuk memperluas jalan, tapi hutan tidaklah sesederhana itu ada banyak serangga dan juga hewan berbisa di dalamnya dan itu sangat menggangu.


"Seingatku di depan sana ada aliran sungai, bagaimana kalau kita mendirikan tenda di sana?" tanya Kie.


"Hm... aku tidak keberatan, lagi pula harinya sudah mulai gelap dan juga kita tidak perlu khawatir dengan air jika berada di dekat sungai." Jawab kak Luna.


"Aku juga tidak masalah, lebih cepat kita mendirikan tenda lebih baik." Sahutku.


Semakin jauh kami masuk ke dalam hutan suasana senja mulai terlihat muncul di sekeliling kami menghiasi pepohonan dengan warna jingga kemerahan, dan di sanalah warna rambut Kie tampak menyatu dengan cahaya senja, kami kemudian sepakat untuk mendirikan sebuah tenda di dekat sungai untuk berkemah malam ini, walaupun aku sama sekali tidak menyukai itu.


"Kak aku sudah mengumpulkan kayu bakarnya."


"Letakkan saja di depan tenda."


"Ookeh..."


Suara derasnya aliran air, burung, dan serangga menjadi teman kami saat berada di hutan mendirikan tenda dan api unggun ya... aku suka mendengar suara-suara itu, tapi sangat tidak menyenangkan mendengar suara raungan dan lolongan monster di sela-sela keindahan alam itu.


Aku merasa ingin segera pulang dan tidur di kasurku, tapi keadaannya tidak mendukungku kami bahkan belum menemukan satupun tanaman yang kami cari dan hari sudah mulai sangat gelap memaksa kami untuk menginap di dalam hutan lagi, dan entah sampai kapan aku akan berada di hutan ini, rasanya sangat tidak menyenangkan.

__ADS_1


"Huhh... akhirnya kita bisa menyelesaikan ini sebelum malam."


"Ya... tapi, kenapa hanya muat dua orang?" tanyaku pada Kie.


"Karena selagi yang dua tertidur satu akan menjaga secara bergantian sampai pagi." Jawabnya.


"Tidak perlu khawatir Lia setiap orang hanya tiga jam saja tidak masalah bukan?" ucap kak Luna padaku.


"Kalau begitu mari kita undi siapa yang pertama berjaga, mulai dari..." ucap Kie sambil mempersilahkan kami memilih sumpit yang sudah berisi nomor.


"... wah! hehe aku dapat nomor satu."


"Aku dapat nomor tiga, itu artinya..." Ucap kak Luna mengambil satu buah sumpit.


"Hee!!! kenapa harus aku yang jaga di tengah malam?!"


"Bersabarlah Lia ini keputusan yang adil." Sahut Kie dengan senyuman liciknya.


Harus tinggal di hutan tanpa tau berapa lama akan seperti ini, dan sekarang aju harus berjaga sendirian di tengah malam dengan suara mencekam dari kesunyian hutan monster, dan ini hal yang mustahil untukku lakukan.


"Anu Kie... bolehkah aku ganti jadi yang pertama? boleh ya boleh?"


"Tidak... kita sudah membuat keputusan yang adil..."


"Tapi/"


"... bagaimana kalau kita memancing ikan untuk makan malam? aku punya pancingan ikan yang bagus loh." Sambung Kie sambil berjalan ke tepi sungai.


"Hm... baiklah, beberapa ikan bakar akan menjadi makan malam yang bagus." Jawab kak Luna.


"Hei...! bagaimana denganku?"


"Tenang saja Lia, kalau kamu takut panggil saja kakak."


"Arghh! kenapa aku mengambil sumpit itu?!"


...✧❁❁✧✿( Kie )✿✧❁❁✧...


"Hm... sepertinya tempat ini banyak ikannya, yahh... aku akan menangkap banyak ikan hehehe." Ucapku sambil melempar kail pancingku.


Shitt!


"Yoshh... tangkapan pertama yang bagus hehehe..."


"Wah padahal aku baru saja ingin bergabung, tapi kau sudah dapat satu."


"Hehe keberuntunganku cukup bagus."


Kami sangat beruntung karena sudah selesai mempersiapkan segala keperluan perkemahan kami sebelum menjelang malam, dan sisanya hanya tinggal mempersiapkan makan malam dengan memancing beberapa ikan di sungai batu ini.


Dan baru beberapa menit saat aku meletakkan ujung kailku di dalam aliran sungai aku sudah mendapatkan hasil tangkapan ikan yang cukup besar, Luna bahkan sampai terkejut melihat itu karena dia baru saja ingin ikut memancing ikan tak terkecuali juga dengan Lia yang masih memainkan api unggun dengan wajah pasrah dan cemberutnya karena aku menolak untuk menukar waktu jaga kami hehe.


"Baiklah sepertinya sudah cukup, ikannya juga besar-besar hehehe." Ucapku sambil menatap ikan pancingan kami.


"Kalau begitu mari kita bakar, sudah waktunya untuk makan malam." Sahut Luna padaku.


...


"Yoshh... masing-masing akan dapat dua ikan bakar, sisanya untuk sarapan besok pagi." Ucapku sambil membagikan ikan-ikan itu.


"Wah...! aromanya sangat menggoda selera." Sahut Luna menatap ikan bakar itu.


"Hehehehe... selamat makan... ahh! ini sangat enak." Ucapku sambil menggigit ikan itu.


"Emm... dagingnya sangat lembut." Ujar Lia sambil mengunyah daging ikan itu.


Aku dan Luna terus memancing ikan sampai mendapatkan cukup banyak ikan segar untuk makan malam, dan tanpa menunggu lama kami langsung membersihkan kotoran perut ikan itu lalu membumbuinya dan menusukkannya pada ranting pohon kecil kemudian membakarnya secara berjejer di dekat api unggun sampai-sampai aroma ikan bakar tercium di sekeliling kami.

__ADS_1


Setelah beberapa menit kemudian ikan itu akhirnya matang dengan aroma yang sangat menggiurkan, tanpa berlama-lama lagi kami langsung memakan ikan itu dengan sangat lahap karena daging ikan itu sangat lembut dan enak benar-benar sensasi ikan segar yang baru di tangkap.


GERRR!!!


"Sepertinya ada orang lain yang tertarik dengan aroma ikan bakar ini." Ucap Luna sambil menghentikan gigitannya.


"Yahhh... padahal aku masih ingin lebih lama lagi menikmatinya... jadi ada berapa Lia?" tanyaku pada Lia.


"Yap tidak terlalu banyak hanya 13 ekor saja." Jawabnya.


Grahhh!!


...


"Wahai keheningan kegelapan malam sirnalah kalian dalam terangnya cahaya STARLIGHT!"


Cling Cling


"SEKARANG LUNA!!"


Ssttt!


GRAHHH!!


Saat sedang enak-enaknya menikmati ikan bakar tiba-tiba saja dari balik gelapnya hutan bermunculan banyak mata merah yang disertai dengan geraman para monster, sontak saja kami langsung menghentikan makan malam kami dan mengambil senjata masing-masing.


Setelah menghitung jumlah monster itu salah satu dari mereka langsung melompat ke arah kami dan dengan cepat Lia mengucapkan mantra sihirnya membuat sebuah ledakan cahaya yang menerangi keadaan di sekitar kami, membuat kami dapat melihat dengan jelas seperti apa rupa monster yang menyerang kami.


Taring yang terlihat jelas dengan tulang belakang yang keluar dari tubuhnya seperti duri-duri tajam, ya... itu sangat menyeramkan mereka seperti serigala tak berekor dengan kaki depannya yang terlihat lebih panjang dari kaki belakang, tailless wolf monster yang menyeramkan dengan tinggi sekitar dua meter mereka monster yang rakus.


Setelah cahaya terang itu menyinari area sekitar kami aku langsung memberikan aba-aba kepada Luna untuk menyerang mereka dengan panahnya, dengan cepat Luna dan aku langsung melepaskan sihir api dalam bentuk anak panah tepat ke tubuh monster-monster itu, mungkin ada beberapa yang meleset mengenai pepohonan ya… itu hal yang biasa terjadi karena tidak semua akan berjalan mulus sesuai keinginan.


Beberapa monster yang terkena serangan itu langsung terkapar dan tewas terbakar, sementara sisanya ada yang berhasil bertahan karena terhalang oleh pepohonan dan semak, satu dua tusukan tidak akan membunuh mereka kecuali jika kau mengenainya tepat di titik lemah mereka, setidaknya kepala mereka adalah bagian yang paling mungkin untuk di serang, karena daging mereka sangatlah tebal dan keras sangat sulit untuk mengenai jantungnya.


"Yoshh... sisa sembilan lagi, Lia apa kau bisa mempertahankan cahaya ini dengan sedikit lebih lama lagi?" tanyaku padanya.


"Akanku usahakan."


"Ayo!" seruku sambil berlari menuju para monster itu.


"Baik!" sahut Luna mengikuti.


Melihat para monster yang mulai bergerak menuju kami aku meminta Lia untuk mempertahankan cahayanya agar tidak redup, sementara itu aku dan Luna langsung pergi dengan membawa pedang kami ke arah para monster tailless wolf yang juga berlari menuju kami.


Sring!! Sring!!


Sepertinya Luna sedang kesulitan.


"Apa kau baik-baik saja luu?"


"Sedikit kurang baik, aku kesulitan untuk bergerak karena lukaku masih belum sembuh total." Jawabnya.


Jadi begitu ya... ini gawat terlebih lagi mereka sangat kuat.


DUARR!!


"Eh! apa yang terjadi?!" tanyaku kebingungan.


Monster yang satu ini jauh lebih kuat daripada black dog walaupun jumlah mereka lebih sedikit dibandingkan dengan monster anjing itu, pedang dan tanganku bergetar menahan tebasan dari lima buah cakar tajam yang dapat merobek daging itu, begitu juga dengan Luna apalagi dengan keadaannya yang masih belum sembuh dia sangat kesulitan untuk bergerak lincah seperti biasanya, tapi tiba-tiba ada beberapa buah bola petir sebesar bola sepak menghantam para monster itu dengan sangat cepat yang sontak saja membuat kami berdua kebingungan dari mana asal serangan itu.


"Wah aku kira siapa yang sedang bertarung ternyata itu kalian Kie, Luna." Ucapku seseorang muncul dari balik semak-semak.


"Ehhh!! Zoe!!" ucap kami serentak terkejut."


...✧❁❁✧✿( ... )✿✧❁❁✧...


...***Sedikit info: apa kau tidak asing dengan karavan pedagang yang ditumpangi mereka? Yap itu adalah karavan pedagang yang dihadang oleh Sira saat dia berbelanja....

__ADS_1


...~lihat Ch sebelumnya~ Tapi waktu kejadiannya adalah besok siang.😁***...


__ADS_2