I Was Reincarnated As A Dragon

I Was Reincarnated As A Dragon
Chapter 155: Danau


__ADS_3

Hm... kalau cuma bertambah tinggi, kenapa aku masih merasa ada mengganjal? hahh... aku tidak suka ini.


"Ekh! apa biasanya memang seterang ini?" ucapku sambil membuka dinding tamanan yang menutupi mulut gua.


Berjalan dengan perasaan bingung dan heran yang masih ada di pikiranku, aku akhirnya sampai di mulut guaku yang tertutup oleh tirai tanaman menjalar sama seperti saat pertama aku melihatnya, satu-satunya yang berbeda hanyalah bunga-bunga putih kecil dengan bagian tengah berwarna keemasan yang bermekaran di setiap untaian tanaman itu dan aku menyukainya karena aromanya sangat wangi, aku kemudian mengikat salah satu sisi tanaman merambat itu seperti gorden jendela rumah dan membiarkan sisi lainnya tetap menutupi sebagian mulut gua, tapi tiba-tiba saja kepalaku langsung terasa pusing karena terpaan sinar matahari yang menyilaukan menabrak wajahku, tapi walau begitu aku juga merasa nyaman dan hangat dengan suasana hari ini.


"Anda baik-baik saja nona?" tanya Sira padaku.


"Ya tidak apa, hanya sedikit pusing saja, um... seingatku aku tidak pernah menganyam rambutku… hei Sira, apa kau yang melakukannya?" ucapku sambil memegang rambut kananku sembari bertanya pada Sira.


"Tidak, bukan saya nona."


"Eh! lalu siapa yang melakukannya?" tanyaku terkejut.


" … "


"Kenapa kau diam Sira? kau tidak ingin mengatakannya?"


"Y-ya bukannya saya tidak ingin mengatakannya nona, tapi dia bilang sebentar lagi anda pasti akan bertemu dengannya."


"Hahh… ya sudahlah" ucapku menghela napas sambil kembali berjalan.


Ugh... kalau saja aku dalam kondisi prima, sudah kubaca pikiranmu Sira.


"J-jangan berjalan terlalu jauh nona" ucap Sira sembari mengikutiku.


"Iya iya aku tau, aku hanya ingin melihat danau."


Melangkahkan kakiku untuk menatap dunia luar setelah terbaring selama beberapa waktu di dalam rumah guaku, udara di luar sangatlah berbeda dengan keadaan di dalam gua yang lembab dan berat, walaupun aku masih merasa sedikit pusing akibat sinar matahari sebelumnya, tapi aku benar-benar menikmati suasana hari ini yang sangat cerah dan aku sangat senang karena kulitku sudah tidak terbakar lagi meski masih ada beberapa bagian yang tampak memerah, tapi jauh lebih baik daripada harus terlihat seperti orang mati dengan kulit yang putih pucat, setidaknya ini masih terlihat normal.


Tapi, satu hal yang membuatku terkejut adalah saat aku melihat ke arah rambut sampingku yang sudah tertata rapi dengan anyaman dan ikat rambut kecil yang terbuat dari tanaman merambat, akhir-akhir ini aku menjadi sangat sering melihat daun yang aneh apalagi Sira sama sekali tidak ingin mengatakan sesuatu tentang siapa orang yang sering datang menjengukku dan itu sangat mengesalkan, seandainya kondisiku jauh lebih baik dari sekarang tanpa perlu bertanya pun aku sudah tau apa yang Sira sembunyikan, tapi sayangnya aku tidak mungkin menggunakan kekuatanku hanya untuk membaca pikiran Sira, apalagi aku baru saja sembuh dan akan sangat merepotkan jika aku sakit lagi, jadi aku langsung pergi meninggalkan Sira tanpa sedikitpun menoleh ke arahnya.



"Emm... aku suka udara hari ini" ucapku sambil tersenyum melihat dedaunan yang bergerak.


"Hm... aku tidak akan memakan buah itu lagi" ucapku pelan sembari menatap ke arah pepohonan buah wipel.


Bruk!


"Owh! ada yg jatuh!" ucapku sambil membuka semak-semak.


"Warna buahnya sangat bagus, oke waktunya makan cemilan" ucapku sambil mengigit buah wipel.


Jalan-jalan untuk melihat keadaan sekitar guaku, aku kembali menyusuri jalanan yang pernah aku lalui untuk menuju ke arah danau kura-kura Cryle, aku juga melihat sangat banyak batang pohon rindang yang daunnya bergoyang saat tertiup angin dan memang seperti itulah keadaan hutan yang aku suka, melihat dan merasakan keadaan yang sangat tenang ini mataku langsung tertuju pada banyaknya buah kembaran apel itu yang tergantung sangat lebat di pohonnya, tapi mengingat ucapan Sira yang mengatakan bahwa buah itu beracun aku menjadi sangat tidak selera dan tidak ingin membuat diriku dalam bahaya karena memakan buah-buahan yang beracun, jadi aku hanya mengabaikannya dan berjalan melewati pohon-pohon itu.


Tak lama kemudian angin berhembus kencang menjatuhkan beberapa buah-buah itu ke dalam semak-semak yang cukup tebal, dan karena penasaran aku kemudian memeriksanya lalu menemukan beberapa buah wipel dengan warna yang sangat bagus dan karena buah itu cukup menggoda aku kemudian mengambilnya dan langsung menjadikannya sebagai cemilan perjalananku, tapi tiba-tiba saja wajah Sira menjadi sangat aneh ketika dia menatapku bahkan dia terlihat seperti orang yang linglung.


"Nona apa yang ada anda makan?" ucapnya balik bertanya.


"Owh ini, tadi aku melihatnya terjatuh di semak-semak jadi aku mengambilnya, ya rasanya memang agak pahit, tapi cepat berubah manis saat dikunyah."


"Tadi anda bilang tidak akan memakannya lagi" sahut Sira padaku sambil mengibas-ngibaskan tangannya.


"Oh apa aku memang mengatakan itu?"


"Sekitar satu menit yang lalu" jawabnya. •_•


"Hm... yahh… tidak perlu dipikirkan, buah ini cukup enak hehehe."


Terdiam bingung melihat ekspresi wajah Sira yang aneh, dia akhirnya bicara dengan bertanya padaku tentang buah yang aku makan dan jujur saja aku cukup bingung dengan pertanyaannya itu karena jelas dia sudah tau mengenai buah wipel itu dan dialah yang sudah memberitahuku tentangnya, jadi mustahil jika Sira tidak mengetahuinya karena dia bisa melihatnya dengan jelas, tapi karena aku orang baik aku kemudian menjelaskan padanya tentang buah wipel yang terjatuh di semak-semak itu, dan sama seperti sebelumnya buah itu terasa sangat pahit di lidahku, tapi aku menyukainya karena ada rasa manis yang muncul setelah cukup lama dikunyah.


Setelah mengatakan itu aku benar-benar terkejut dengan Sira karena aku sangat yakin bahwa aku sudah bicara dengan sangat pelan mengenai buah itu dan tidak mungkin Sira bisa mendengarnya bahkan aku sendiri nyaris tidak sadar sudah mengatakan itu, tapi Sira benar-benar mengatakannya dan itu membuatku cukup kebingungan, meski begitu aku tidak mempermasalahkannya karena aku cukup menyukai buah itu hehe.

__ADS_1


"Nona anda baru saja sembuh, sebaiknya anda menjaga diri anda" ucap Sira padaku.


"Iya aku mengerti Sira, tapi aku tidak akan membuang apa yang ada di tanganku hehe" sahutku sambil tersenyum.


"Y-ya baiklah nona, tapi jangan terlalu banyak memakannya" sambungnya padaku.


"Ookeh" ucapku sembari mengacungkan jempol tanganku.


Entah apa yang terjadi pada Sira hari ini dirinya terlihat sangat khawatir sambil terus berjalan menatap lurus ke depannya, tapi kurasa kekhawatirannya itu hal yang wajar karena aku sedang memakan buah yang cukup berbahaya, meskipun begitu aku tetap menghargai sebuah makanan karena aku pernah merasakan betapa sulitnya untuk mendapatkan itu, lagipula racunnya tidak berpengaruh padaku jadi aku tidak perlu mengkhawatirkannya, tapi aku tetap akan membatasinya agar tidak berlebihan.


"Owh! aku sudah bisa melihat punggung Cryle dari sini! hei Cryle!! hehe" ucapku sambil memanggil Cryle.


Groaahhh...


Berjalan sambil berbicara dengan Sira benar-benar membuat jalan-jalan ini terasa sangat singkat, walaupun jarak antara guaku dan danau Cryle memang tidak terlalu jauh hehe, menatap lurus sambil mengigit buah terakhirku cangkang kristal milik Cryle sudah terlihat sangat jelas mondar-mandir di depanku dan seperti sebelumnya kristal itu memancarkan cahaya yang terang karena sinar matahari, sontak saja aku kemudian melambaikan tanganku lalu memanggilnya dengan cukup keras sampai dia menoleh ke arahku, aku suka kura-kura ini.


🌹🌹🌹🌹🌹


"Hehehe... hei Cryle bagaimana kabarmu?" ucapku menyapa Cryle.


GROAHH...


"Oww itu suara yang keras dan artinya pasti sehat."


" ... "


"Ada apa Sira? kau juga tidak mengertikan?" ucapku sambil berjalan.


"Aa... yaa... begitulah nona" sahut Sira sembari memalingkan wajahnya.


Setibanya di pinggiran danau aku langsung melambaikan tanganku ke arah Cryle yang sedang berenang lalu menyapanya dengan cukup keras hingga dia menoleh ke arahku, kura-kura besar itu bersuara sangat keras saat dia mendengar ucapanku dan aku sangat menyukai itu, aku kemudian kembali berjalan pelan menuju ke arah pohon apel yang ada di tepi danau tempat aku berteduh saat pertama kali aku datang ke danau ini.


"Owh! ada buah yang matang! itu pasti sangat manis, Sira bisa kau ambilkan apel itu."


Berjalan santai menuju pohon apel sembari menunggu Cryle yang sedang berenang tiba di tepian danau, aku sangat senang melihat ada beberapa buah apel yang matang dengan warna merah merona dan itu sangat menggiurkan, aku langsung meminta Sira untuk mengambilkan buah apel yang sudah matang itu karena aku tidak ingin memanjat pohonnya sendiri, terlebih lagi tidak ada tangga ataupun kayu yang cukup panjang untuk mencapai apel-apel yang tergantung cukup tinggi itu.


Dan memang di sini hanya ada satu pohon apel ini saja sementara pohon-pohon lainnya berada cukup jauh dari tepi danau dan jika aku kembali masuk ke dalam hutan untuk mencari kayu yang panjang aku cukup khawatir dengan terik matahari yang mulai terasa sangat panas bahkan aku tidak ingin mengepakkan sayapku padahal akan sangat mudah bagiku untuk memetik apel itu jika aku terbang, tapi aku tidak mau melakukannya.


Aku suka melihat pemandangan dan menghirup udara di luar sini, tapi aku mungkin akan sedikit fobia dengan panas matahari.


"Bertahanlah Sira, sebentar lagi kau bisa meraihnya" ucapku pada Sira.


"I-itu sangat di luar jangkauan…" sahut Sira sembari berusaha meraih salah satu buah apel.


Sstt...


"Aaa!! apa yang kau lakukan Sira!? jangan gunakan cara itu! kau memotong banyak tangkai bunganya!" ucapku memperingatkan Sira sambil menggigit buah apel yang jatuh.


"I-iya nona."


Berdiri di dekat pohon apel menunggu Sira mengambilkan buahnya untukku, dia cukup mahir memanjat pohon hanya saja karena dahan pohon apel itu terlalu kecil untuk menopang tubuhnya Sira kemudian merubah tampilan dirinya menjadi harimau kecil agar lebih mudah menginjak dahan-dahan kecil dan di sanalah masalah barunya muncul, tangan Sira menjadi sangat pendek untuk mencapai apel-apel yang bergelantungan itu.


Aku terus memberikan arahan kepada Sira agar dia tidak turun dengan tangan kosong, tapi tiba-tiba saja Sira menggunakan sihir anginnya untuk menebas ranting pohon di depannya agar lebih mudah menjatuhkan buah apel yang sedang berusaha dia jangkau dan tentunya aku tidak menyukai cara itu, walaupun aku berhasil mendapat buah apel yang kuinginkan, akan tetapi ada banyak bunga apel yang ikut berjatuhan terkena sihir Sira yang artinya pohon apel ini akan gagal untuk berbuah banyak, dan aku tidak ingin itu terjadi.


"Hahh… ya… baiklah sebaiknya kau turun dari pohon ini Sira" ucapku padanya.


"Baik nona" sahutnya padaku.


.


.


"Tempat ini sangat tenang ya" ucapku sembari duduk bersandar di batang pohon apel.

__ADS_1


Hm... kira-kira bagaimana keadaan kalian di dunia itu? kuharap mama sudah jauh lebih baik.


Groah...


"Owh! bukankah kau naga yang waktu itu?" ucapku sambil tersenyum.


Groah...


Sedikit menghela napas sambil meminta Sira untuk turun, aku memang tidak bisa memaksa kucing kecil ini untuk memanjat, lengah sedikit saja Sira mungkin akan menjatuhkan semua bunga dan buah apel muda yang ada, setidaknya aku sudah mendapat apa yang kuinginkan dan dua buah saja sudah cukup untukku, tak lama kemudian Sira sudah berhasil turun dari pohon dengan ekspresi yang sangat lega sebelum akhirnya dia berbaring di dekatku.


Aku duduk bersandar sambil mengigit apelku memandangi danau yang bersinar dan gunung-gunung yang ada di seberangnya, pemandangannya terlihat sangat indah dan membuatku sangat nyaman berada lama di tempat ini terlebih lagi aku suka melihat kura-kura itu berenang.


Suasana tenang ini membuat pikiranku berjalan ke sana kemari dan membuatku teringat lagi pada keluargaku sebelum aku direinkarnasi, aku merindukan keluarga kecilku itu karena adikku baru berusia 7 tahun saat aku meninggalkannya sedangkan ibuku sendiri sangat tegas mendidik anak-anaknya, walaupun tujuannya baik setidaknya aku berharap ibuku bisa sedikit lebih lunak pada adik kecil kesayanganku itu.


Termenung memikirkan tentang keadaan keluargaku tiba-tiba saja ada raungan kecil yang terdengar mendekat dan tentunya aku bisa merasakan aura monster yang satu itu, dia tidak lain adalah naga bumi yang aku temui beberapa hari lalu, sesaat sebelum aku pergi meninggalkan kelompok Toki aku menggunakan sihir teleport untuk memindahkannya ke tempat yang berbeda, tapi aku tidak menyangka dia bisa menemukanku.


GROAHH...


"Hai Cryle hehehe."


...


"Ah... kalian menggemaskan" ucapku sembari mengelus kepala Blue dan Cryle.


Tidak lama setelah naga Blue datang Cryle kemudian juga sampai di depanku dengan raungan yang cukup keras karena memang ukuran kepalanya yang berkali-kali lipat lebih besar dari kepalaku, bahkan dia bisa menelan naga Blue tanpa harus mengunyahnya, kura-kura ini sangat besar.


Aku kemudian berdiri lalu mengelus kedua kepala monster itu sambil tersenyum kecil karena aku menyukai daya tarik mereka yang sangat estetik dan mereka pun juga tampak senang saat aku melakukan itu.


"Hehehe... baiklah, sudah dulu ya… aku tidak ingin mengganggu aktivitas kalian" ucapku sambil kembali duduk.


GROAHH...


"Hahh… emm... apel ini sangat manis."


Groah...


"Hehehe... itu sangat menggemaskan" ucapku tertawa kecil sembari menatap ke arah Blue.


.


.


"Hm... ada apa Sira?"


" ... "


"Haa… ada apa dengan ekspresi itu? hehehe apa kau cemburu dengan mereka Sira?" ucapku tersenyum mengejek Sira.


"Memangnya untuk apa saya cemburu nona?"


Itu terdengar seperti pembelaan diri. ^_^


"Hehehe... kau tetap kucing terbaikku Sira" ucapku sambil mengelus kepala Sira.


Yahh... Sira memang satu-satunya kucing di tempat ini sih hehe...


Cukup puas mengelus-elus kepala kedua monster cantik ini bahkan Blue sampai berguling-guling di rumput saat aku mengelusnya, aku kemudian kembali duduk bersandar sambil sedikit menghela napas karena terik matahari yang cukup panas meskipun aku sudah berada di dalam naungan pohon apel yang rindang dengan dedaunan, aku tetap bisa merasakan panas karena kulitku cukup sensitif terhadap matahari, tapi beruntung ada hembusan angin dari danau yang cukup membantu untuk menyejukkan kulitku ditambah lagi dengan adanya Cryle yang kembali bolak-balik berenang membawa angin segar yang cukup kuat untuk menggoyangkan dedaunan pohon apel ini.


Sementara itu, Blue masih terlihat mengguling-gulingkan tubuhnya di rerumputan samping danau bahkan dia sampai terjatuh ke dalam danau dan dengan tubuh yang masih berendam di air danau Blue kemudian menggeleng-gelengkan kepalanya untuk mengeringkan air yang membasahinya, untuk ukuran seekor naga dia menjadi sangat menggemaskan, dan entah apa yang terjadi Sira dengan tubuh kecilnya tiba-tiba naik ke atas pangkuanku lalu berbaring tanpa ada suara sedikitpun bahkan saat aku bertanya pun dia tidak menjawabnya.


Melihat ekspresinya yang agak kesal aku dapat menebak apa yang terjadi pada Sira saat ini dan itu membuatku sedikit terkejut bahkan sekilas terlihat lucu karena dia merasa cemburu dengan perlakuanku pada Blue dan Cryle, meskipun dia sempat melakukan pembelaan, tapi tetap saja ekspresinya tidak bisa berbohong terlebih lagi saat aku memuji dan mengelus kepalanya yang penuh dengan bulu putih tebal, ekspresi wajahnya malah langsung berubah drastis.


...🌹🌹🌹🌹🌹...

__ADS_1


__ADS_2