I Was Reincarnated As A Dragon

I Was Reincarnated As A Dragon
Chapter 24: Pengakuan


__ADS_3

"Apa maksudmu?!"


"Maafkan saya putri... maaf... Hiks... hiks..."


Sepertinya anak ini adalah salah satu dari biang masalah yang terjadi saat ini, sayang sekali padahal kukira dia anak yang baik, tapi ku akui dia cukup berani mengatakan itu di hadapan kami, itu artinya dia sudah siap untuk dihukum dengan hukuman yang berat karena ini bukanlah kejahatan yang kecil.


Meracuni raja adalah tindakan kriminal yang sangat besar, dia pasti akan disiksa dan dipenggal tak peduli apakah dia masih anak-anak atau orang dewasa, aku pernah melihat hal yang serupa beberapa ratus tahun yang lalu, hukum kerajaan memang selalu seperti itu.


"Kenapa... kau melakukan itu!?" tanya putri padanya.


"Hiks... hiks... maafkan saya! saya terpaksa melakukannya... maafkan saya!"


"Hey putri! apa perlu kubunuh anak ini?" tanyaku padanya.


Anak ini terus menangis meminta maaf pada putri dengan wajah yang menyedihkan, tapi hukum adalah hukum, sangsi yang tegas harus diterapkan agar kejadian serupa tidak terulang lagi.


"Tidak... jangan lakukan itu, memang sulit untuk menerimanya, tapi aku sudah memaafkannya." ujar putri.


"Apa kau yakin?! dia orang yang sudah membunuh orang tuamu, jangan terlalu baik pada penjahat, jangan jadi orang yang naif, jika kau tidak tegas pada mereka kejadian ini mungkin akan terulang padamu." Ucapku padanya.


"Jika dia memang ingin membunuhku dia pasti sudah melakukannya dari sebelum kalian datang kemari, tapi dia tidak melakukan itu, dia telah banyak membantuku meringankan sakit ini, membawakan makanan dan minuman dengan mempertaruhkan nyawanya, aku sangat berterima kasih padanya, jadi kumohon jangan sakiti dia." Sahutnya dengan air mata yang bercucuran.


Aku sedikit menekannya dengan kata-kata cukup keras untuk menggoyahkannya, tapi tak kusangka dia tetap mempertahankan pola pikirnya itu, dia ingin anak itu tetap hidup.


"Ya baiklah, lagipula jika terjadi sesuatu padamu itu bukan lagi urusanku, hanya sedikit saran dariku kau boleh jadi orang yang lemah tapi jangan menjadi orang yang bodoh, seorang pemimpin harus bijak dalam mengambil keputusan." Lanjutku padanya.


"Terima... kasih, putri! terima kasih hiks... hiks..."


"Akulah yang harus berterima kasih padamu, terima kasih Uobu."


"Aaaaa!!!!"


Putri Roha kemudian memeluk anak itu sambil berterima kasih, seketika bocah kecil itu menangis dengan keras, sedangkan Goro dan yang lainnya yang hanya berdiri dan bersandar di dinding tanpa berkata-kata sambil melihat drama yang menyedihkan ini.


GROAAHHHHHH!!!!!


"Ayo kita pergi dari sini, putri!" ucap Goro menyela drama tangisan ini.


Secara tiba-tiba Raungan tuan yang begitu keras mengagetkan kami semua, Goro pun langsung mendesak putri untuk segera pergi meninggalkan tempat ini.


"Baik!"


"Biar saya bantu putri!" ujar Goro.


Sepertinya putri masih belum bisa berdiri sendiri, melihat itu Goro langsung menawarkan tumpangan punggung untuknya.


"T-terima kasih, Goro."


"Ayo!!" seruku pada mereka.


"berpeganganlah dengan erat putri!"


"B-baik!"


Setelah putri naik ke punggung Goro, kami semua dengan cepat langsung pergi keluar dari penjara, sekarang putri sudah ada bersama kami sisanya hanyalah bagaimana caranya kami untuk menjaganya sampai para pemberontak ini dibereskan.


GROAAHHHHHH!!!!!!


Dari raungannya tuan benar-benar berniat untuk mengakhiri keadaan ini, dia monster yang unik.


"Sebentar lagi kita akan keluar putri!" ujar Goro.


Cukup lama berlari kami akhirnya bisa keluar dari penjara bawah tanah itu, udara di luar jauh lebih enak daripada di bawah sana, aku tidak akan pernah masuk ke dalam sana lagi.


"Hey kalian! apa kalian tau di mana ayahku?" tanya Goro pada ketiga prajurit pengawal itu.


"Master Aldark telah tewas, kapten."


" ... "


Goro seketika berhenti berlari setelah mendengar kabar itu tampaknya dia sangat terkejut mendengarnya, bagus sekarang bertambah lah kabar duka di tempat ini.


"Goro... apa kau baik-baik saja?" ujar putri.


"Bukan masalah, lagipula memang seperti inilah jalan yang dipilihnya." Sahut Goro.


"Mari putri, kita harus mencari tempat yang aman untuk anda." Lanjutnya.


Setelah melakukan perbincangan kecil dengan putri Goro kembali berlari melanjutkan perjalanan, dia tampak kurang baik.


"Di sana!! jangan biarkan putri lari!!!"


"Merepotkan! pergilah lebih dulu, aku akan mengurus mereka." Ucapku pada mereka.

__ADS_1


"Apa kau yakin?"


"Mereka hanyalah serangga kecil yang mudah untuk dibunuh, jadi tak perlu khawatir." Lanjutku.


Aku kemudian menyuruh mereka untuk pergi lebih dulu agar mereka bisa melarikan diri dari kejaran para prajurit penghianat ini, kurang lebih ada sekitar dua puluh prajurit yang mengejar kami mereka tidak terlalu kuat, tapi untuk sekarang kami harus menghindari pertarungan sebanyak mungkin.


"Baiklah! kalau begitu kami pergi."


"Berhati-hatilah!" ujar putri.


"Sudah kubilang tidak perlu khawatir denganku, aku tidak lemah seperti kalian, pergilah!" Ucapku padanya.


Rawwwrr!!


Aku langsung melompat meninggalkan mereka dan pergi ke arah para prajurit penghianat itu dan lalu menerkam mereka.


"Dasar monster brengsek!!"


Rawwwrr!!!


Krakkk


Yang bermulut besar memang harus mati lebih dulu, sudah lama aku tidak membunuh sebanyak ini, aku harus berterima kasih pada tuan karena telah memanggilku dalam kesenangan seperti ini.


Mari kita nikmati kegembiraan ini sedikit lebih lama, tadinya memang ingin seperti itu, tapi aku harus segera pergi mengawal putri, jika terjadi sesuatu padanya aku akan dalam masalah besar.


Aku kemudian menggunakan cakar angin untuk menebas sisa prajurit payah ini, sangat disayangkan aku tidak bisa menikmatinya dengan sedikit lebih lama.


Setelah selesai dengan mereka aku langsung menuju ke arah putri untuk kembali menjaga keamanannya.


"Ke mana mereka pergi?! ke atas?!"


Sepertinya mereka sedang dikejar oleh pasukan yang lain, aku harus segera bergabung dengan mereka.


Rawwwrr!!!


Aku kemudian dengan cepat menaiki tangga sambil mengikuti arah aroma tubuh mereka ke atas istana, ada banyak prajurit yang mengejar mereka dan lagi aku merasakan ada satu yang cukup kuat.


Cukup lama mengikuti aroma mereka aku sampai di taman atas atap istana, sangat indah seandainya tidak ada darah dan mayat.


"Di sana!"


Mereka benar-benar terpojok oleh para prajurit penghianat, melihat itu aku langsung melompat ke depan mereka dan menerkam beberapa orang yang ada di sana.


"Yahh... kami sedikit kesusahan melewati mereka." Sahut Goro.


"Hahahaha... hanya karena ada kucing itu kau pikir bisa lolos dariku putri?!" ujar orang yang paling depan.


Sekali lagi aku bertemu dengan orang yang sombong dan angkuh, aku tidak suka dengan orang-orang seperti itu, aku sangat ingin membunuhnya.


"Oi oi... manusia payah! apa yang baru saja kau katakan?!"


"aku ini memang sama dengan kucing, tapi setidaknya jangan samakan aku dengan hewan kecil yang lemah itu, aku ini monster terhormat aku adalah monster harimau putih dari pengunungan Tyratu dengan gelar raja harimau Agung, makhluk kecil seperti itu tidak sebanding denganku." Lanjutku.


.


.


.


"Aa...!"


"Hm... akhirnya kau mengerti."


Seketika mereka semua langsung mundur beberapa langkah dengan sangat ketakutan, aku bisa merasakan itu, ekspresi wajah ketakutan memang hiburan yang terbaik.


"Sepertinya bukan karena itu mereka ketakutan, Sira, tapi..." Ujar putri.


Apa maksudnya, memangnya kenapa mereka bertingkah seperti itu kalau bukan karena takut padaku.


"Aa...!"


Saat aku berbalik melihat ke belakang aku benar-benar terkejut melihat pemandangan yang mengerikan, ya itu tuan dengan wajah yang menakutkan dan mulut yang penuh dengan darah bahkan taring-taringnya terlihat dengan jelas mengerikan.


Jika saja itu bukan tuan mungkin aku sudah pergi meninggalkan tempat ini, bukan karena takut ,tapi karena aku tidak ingin berhadapan dengan monster seperti itu dan orang waras pun juga pasti tidak ingin berhadapan dengannya.


"Sira, Bagaimana keadaannya?" ujar tuan.


"Y-ya...! seperti yang anda lihat di sini keadaannya sedang kurang baik."


"Jadi begitu, akan ku bantu." Lanjutnya.


.

__ADS_1


.


.


Sekilas aku melihat matanya bercahaya menatap tajam ke arah depan, mengikuti arah tatapannya aku sangat terkejut melihat semua prajurit berubah menjadi patung es kecuali pimpinan pasukan itu, dia hanya menyisakan satu orang saja.


Membunuh hanya dengan tatapan mata tuan benar-benar sangat berbahaya, tapi kemampuan itu sangat cocok untuk keadaan darurat seperti ini.


"Apa-apaan monster itu...!" ucap orang itu dengan ketakutan.


.


.


.


"Bukankah dia?"


"Ya putri, saya juga meminta bantuan kepada naga itu." Sahut Goro.


"Baiklah waktunya mengakhirinya!" Ujar tuan.


Sstttt


"Tunggu!!!"


"Putri!!!!"


Di saat tuan mengarahkan cakarnya pada orang itu tiba-tiba putri melompat ke depannya dan menghalangi cakar tuan dengan tubuhnya, itu nyaris saja jika tuan tidak menghentikan serangannya mungkin cakarnya sudah menembus kepala putri.


"Dasar bodoh!! apa yang kau lakukan, apa kau ingin mati hah!!" ucapku dengan marah.


"Kumohon jangan bunuh dia."


"Hahh!!! apa kau masih waras putri! dia orang yang mencoba membunuhmu!"


Apa-apaan putri ini lagi-lagi dia melakukan hal yang bodoh, padahal sudah kubilang untuk tidak menjadi orang yang bodoh, apa dia benar-benar mencerna ucapanku.


"Apa yang dia katakan, Sira?" tanya tuan padaku.


"Dia memohon agar anda tidak membunuh orang itu, tuan." Jawabku


"Apa dia serius?"


"Sepertinya begitu." Sahutku.


"Ah... baiklah, jika dia memang menginginkan itu."


Dengan sedikit menghela nafas tuan menarik kembali cakarnya yang tajam dari atas kepala putri Roha,


"Terima ka...!"


Syutttt


Sebelum sempat menyelesaikan ucapannya putri Roha ditusuk dari belakang oleh orang gila yang haus akan kekuasaan ini, aku sudah menduga ini, tapi apa boleh buat nasi sudah menjadi bubur, itulah akibatnya jika kau mengasihani seorang penjahat.


Orang ini tak mungkin menyerah untuk membunuh putri hanya karena diselamatkan olehnya, apa lagi dalam kesempatan yang bagus seperti ini dia tak mungkin menyia-nyiakannya.


"Aku tidak perlu rasa kasihan darimu keponakanku yang tersayang."


"Putri!!!"


Semua orang yang ada di sini benar-benar terkejut melihatnya, tak terlebih Uobu yang langsung terduduk diam dengan tatapan mata yang menyedihkan seakan-akan sedang trauma.


Brukkkk


"Hahahaha... hahahaha... kau memang bodoh putri! sebaiknya jangan pernah percaya dengan penjahat."


Dia kemudian melempar tubuh putri kecil ini dengan kasar tanpa melepaskan pedangnya dari tubuh putri, dia juga tertawa dengan keras menikmati penderitaan putri.


"Sampai jumpa..."


Sstttt


Krakk


Saat orang itu mencoba untuk lari tuan langsung menyerangnya dengan cakarnya seketika orang itu langsung terlempar ke udara dan berakhir di dalam mulut besar sang White Dragon.


"Putri bertahanlah! saya akan menyembuhkan anda!" ujar Goro dengan panik.


"Putri..." ucap bocah Uobu dengan sedih.


Melihat kondisi putri yang kritis tuan langsung mengarahkan jarinya ke atas kepala putri dan kemudian mengobatinya, seketika semua lukanya langsung hilang tanpa meninggalkan bekas sedikitpun bahkan untuk luka yang sebelumnya.

__ADS_1


__ADS_2