
Setelah mengalahkan cave bear hanya dengan satu tendangannya nona dan aku kemudian kembali melanjutkan perjalanan mencari lingkaran teleport agar lebih cepat sampai ke lantai atas.
Nona masih terlihat gembira dan bersemangat walaupun dia tidak bisa menggunakan sihirnya karena terkekang rantai sihir itu, tapi aku tidak menyangka kalau nona bisa mengalahkan Ardner dalam pertarungannya, nona mampu mengimbangi kekuatan dan kecepatannya bahkan mendesaknya sampai tidak bisa bergerak sama sekali.
.
.
.
"Itu dia nona, jalur teleport lantai labirin." Ucapku pada nona sambil menunjuk ke arah lingkaran teleport.
"Woahh! yoshh tanpa berlama-lama lagi ayo kita pergi ke lantai satu." Ucap nona dengan semangat.
Setelah cukup lama berjalan akhirnya kami berhasil menemukan lokasi lingkaran teleport yang dicari-cari sebelumnya dan tanpa menunggu-nunggu lagi nona langsung berlari ke arah lingkaran itu kemudian berdiri di atasnya, aku hanya berjalan dengan perlahan mengikutinya dari belakang memasuki lingkaran teleport itu.
***
"Woahh!!! ini menakjubkan!" ucap nona terkagum-kagum.
Lingkaran itu langsung aktif saat kami berdiri di atasnya, sesuai dengan tujuan kami sebelumnya lingkaran itu mengirim kami ke lantai satu, nona sampai terkagum-kagum melihatnya padahal itu adalah hal yang biasa sama seperti saat pertama kali aku menggunakan sihir teleport dulu, dia memang selalu seperti itu.
"Anda mau kemana nona?" ucapku bertanya.
"Kalau tidak salah dulu saat aku menggunakan sihir penglihatan jarak jauh aku melihat tempat yang bagus dari arah sana dan juga ada mulut gua pintu keluar labirin di tempat itu." Jawabnya sambil berjalan.
Yahh... aku seharusnya tau itu, aku tidak perlu sekhawatir itu dengan nona, lagi pula nona masih sangat kuat.
Kupikir nona berjalan ke arah sana karena merasakan ada sesuatu yang terjadi, tapi ternyata dia hanya berjalan menuju tempat yang dulu pernah dia lihat, aku sempat khawatir karena itu, tapi aku sadar aku tidak perlu seperti itu nona dapat menendang monster setinggi 4 meter sampai mati dan terpental cukup jauh juga melubangi dinding batu labirin dengan pukulannya, dia masih sangat kuat.
.
.
.
"Hm... tempat yang bagus... nona... eh! di mana nona?"
"Ah sial... sepertinya aku salah jalur... NONA?!" ucapku sambil menatap ke belakang sembari memanggil nona dengan keras.
Aku terus mengikuti langkah kakinya dari samping sambil juga sesekali mengamati keadaan sekitarku, tapi tanpa kusadari nona telah menghilang, aku terlalu fokus pada sekitarku sampai-sampai aku tidak menyadari bahwa nona sudah tidak ada di dekatku.
"Di sana!"
.
.
.
"Hm... tidak salah lagi, aroma manis ini memang milik nona." Ucapku sambil mengendus-endus.
Aku kembali ke tempat sebelumnya untuk mencari jejak nona dan setelah sedikit mengendus-endus aku akhirnya menemukan lokasi nona, aku langsung berlari ke jalan sebelumnya lalu memasuki jalur yang terasa pekat dengan aroma nona untuk menyusulnya, sebelumnya memang ada dua jalur di depan kami dan karena aku yang terlalu fokus aku malah memasuki jalur yang berlainan dengannya.
"Nona?! anda di sini?! nona?!" Panggilku sambil menatap sekitar.
...
"Itu dia...! ehh! apa yang nona lakukan di sana? berdoa? untuk apa?"
__ADS_1
"Apa yang anda lakukan di sini nona?" tanyaku padanya.
Cukup lama aku menyusuri jalur ini sambil mengikuti aroma nona akhirnya aku berhasil menemukannya, dia tampak sedang duduk sambil merimpitkan kedua telapak tangannya seperti sedang berdoa menghadap ke gundukan tanah kecil di depannya.
"Sira... dari mana saja kau?"
"Tadi saya sedikit tersesat nona."Jawabku.
"Ooh... yahh lupakan saja, bisa kau bantu aku menggali lubang?"
"Menggali lubang? untuk apa nona?" tanyaku padanya.
"Lihat... ya... aku memang tidak mengenal mereka, tapi aku ingin mereka mendapatkan pemakaman yang lebih layak, sebagaimana yang seharusnya." Ucap nona sambil menunjuk ke arah tengkorak yang berserakan.
Aku sedikit terkejut dengan ucapan nona, dia memintaku membuat lubang untuk menguburkan tengkorak yang berserakan di sini, aku tau nona itu orang yang baik, tapi melakukan ini sama sekali tidak ada artinya.
"Anda baik-baik saja nona? anda terlihat kurang sehat." Tanyaku pada nona.
Nona berkeringat sangat banyak dampai-sampai membasahi tubuhnya nafasnya juga sedikit terengah-engah, dia terlihat seperti orang demam yang menahan sakit karena memaksakan diri untuk bekerja, sontak saja itu membuatku khawatir jika nona dalam wujud naganya aku bisa memaklumi itu karena tubuhnya pasti bertambah besar, tapi memangnya tubuhnya yang sekarang bisa membesar? pasti ada sesuatu yang terjadi dengannya.
"Yahh aku baik-baik saja, ini mungkin karena tadi aku menggali lubang." Jawabnya.
Kelelahan? tidak sepertinya bukan, pasti ada sesuatu yang sedang nona sembunyikan, tapi yahh biarkan saja nona pasti mempunyai alasannya tersendiri mengapa tidak ingin membicarakannya.
"Kalau begitu biar saya bantu nona."
.
.
.
"Ya terima kasih Sira."
Aku berubah menjadi harimau besar lalu menggali satu-persatu lubang secara berjejer berbaris dengan rapi, lalu kemudian aku berubah lagi menjadi sosok manusia harimau mengangkat semua tengkorak yang ada lalu memasukkannya ke dalam lubang galianku untuk menguburkan mereka semua sesuai dengan yang diperintahkan nona.
"Yoshh sudah selesai, ayo kita pergi Sira."
"Baik nona."
Setelah selesai menguburkan semuanya nona kembali menggenggam tangannya lalu berdoa untuk para tengkorak itu, nona cukup lama melakukan itu dia tampak sangat tulus mendoakan mereka semua, selesai berdoa nona kemudian mengajakku melanjutkan perjalanan menuju tempat yang dia cari.
Hm... sepertinya itu pedang sihir, tapi untuk apa nona membawanya?
"Anu... nona."
"Ya ada apa?"
"Untuk apa anda membawa pedang itu?" tanyaku padanya.
"Hm...yahh... karena aku suka bentuknya yang ringan dan tipis, dan juga mungkin ini akan berguna untuk memotong-motong sesuatu." jawab nona.
"Memangnya ada apa Sira?" sambung nona bertanya.
Yahh... pedang memang digunakan untuk memotong.
"Tidak, bukan apa-apa, hanya sedikit penasaran hehehe."
.....
__ADS_1
"Hm... kalau tidak salah... ada di sana, wooah! itu dia tempatnya! lihat Sira!" ucap nona sambil menunjuk ke arah bunga-bunga yang bermekaran.
"Ya nona, tempat ini sangat menakjubkan."
Tempat ini memang sangat indah, tapi... sepertinya ada yang aneh di sini, aku merasakan ada aura monster di sekitar sini.
Ssttt!!!
Jujur saja tempat ini memang indah dipenuhi oleh aroma wangi dari bunga yang bermekaran dan juga bunganya yang tampak bersinar menghilangkan suasana gelap yang ada di sini, tapi tidak ada waktu untuk menikmati pemandangan itu, kami tiba-tiba di serang oleh sulur-sulur tanaman yang bergerak dari bawah bunga-bunga itu.
"Anda baik-baik saja nona?"
"Ya, tapi apa itu tadi?" Jawab nona sembari bertanya.
"Mungkin itu monster yang berkamuflase dengan tumbuhan yang ada di sini." Jawabku.
Grahhh...
"Yahh... seperti itulah bentuknya." Ucapku sambil menatap monster di depanku.
Perlahan monster yang bersembunyi di balik bunga-bunga itu menunjukkan dirinya di hadapan kami, itu adalah monster tumbuhan bentuknya hampir menyerupai manusia, tapi dengan kulit yang sangat hijau dan dililit oleh sulur-sulur tanaman.
"Hm... Sira bisa kau hadapi dia?"
"Tentu nona dengan senang hati."
Graahhhhhh!!
.
.
.
Ssttt!!
Aku meraung dengan keras kemudian berlari mengelilingi monster itu untuk menyerangnya, melihat pergerakanku monster itu kemudian menyerangku dengan sulur-sulurnya berusaha untuk menangkapku, tapi serangan itu terlalu lambat untukku, aku bisa dengan mudah menghindarinya.
Roaarrr
Grahhh!!!
...
"Kau tak akan bisa kabur." Ucap nona sambil terbang melesat.
Ssttt!!
"Terpotong dengan sempurna." Ucapnya sambil mengibaskan pedangnya.
Melihat ada celah aku kemudian langsung menerkam dan merobek pundak kirinya sampai-sampai tangannya juga ikut terlepas, setelah monster itu terluka parah monster itu berniat untuk melarikan diri, tapi nona kemudian melesat dengan cepat lalu memotong kepalanya menggunakan pedang sihir yang sebelumnya dia bawa, sebelum monster itu sempat masuk ke dalam tanah.
"Pedang yang tajam nona." Ucapku padanya.
"Ya... ini lebih tajam dari dugaanku." Sahutnya sambil menatap bilahan pedang itu.
"Yoshh... tempat ini memang indah, tapi tujuan kita ada di depan sana, ayo pergi Sira." Lanjut nona sambil berjalan.
Karena sarung pedangnya telah rusak setelah membersihkannya nona kemudian membungkus bilahan pedang itu dengan sobekan kain dari jubah yang dipakai oleh tengkorak yang sebelumnya telah dimakamkannya, nona kemudian kembali perlahan berjalan menuju tempat yang dia cari sebelumnya.
__ADS_1
...~•~...