I Was Reincarnated As A Dragon

I Was Reincarnated As A Dragon
Chapter 83: Kerberos Dan Kemenangan ( Luna )


__ADS_3

Duarr


"Untungnya hanya yang kecil, jadi ini mudah untuk di atasi."


Dengan menggabungkan sihir api pada tebasan pedangku aku dapat membuat ledakan yang cukup besar untuk membunuh beberapa monster sekaligus, walaupun mereka mempunyai koloni yang cukup banyak monster yang satu ini juga terbilang cukup lemah jadi mereka mudah dikalahkan, monster seperti ini memiliki beberapa jenis dan salah satu dari yang terlemah sedang berada di hadapan kami.


Mereka memang terlihat mengerikan dan kuat, tapi itu hanya sekedar apa yang terlihat diluar saja, dalam koloni monster satu ini hanya ada satu yang kuat dan itu adalah alpha mereka, black dog tidak jauh berbeda dengan serigala satu yang memimpin sisanya menjalankan, ada dua alpha yang meresahkan dan menakutkan di dalam koloni monster seperi ini, tapi itu pun jika koloni mereka berada dalam jumlah yang banyak sedangkan 27 itu angka yang kurang bagus untuk mereka yang artinya mungkin tidak ada alpha yang kuat.


Ssttt!


Bunyi lolongan anjing menggema di sekelilingku, tapi dengan perlahan suara-suara itu sudah tidak terdengar lagi, tebasan demi tebasan aku lancarkan pada setiap monster yang ingin menerkamku sampai mereka yang ada di hadapanku kocar-kacir ingin melarikan diri, tapi tentunya itu tidak akan semudah saat mereka melakukan penyerangan.


"Itu yang terakhir..."


"... tapi, ada yang aneh walaupun hanya koloni kecil seharusnya ada alpha yang mengaturnya."


Suara gemerincing pedang yang bergetar setiap kali pedangku dan taring monster itu berpapasan, daging yang robek dan darah yang bercucuran keluar dari tubuh monster-monster itu tanpa bisa lari dariku, sambil mengibaskan pedangku yang penuh dengan darah monster aku telah membunuh semua monster yang ada di hadapanku, tapi meskipun begitu perasaan mengganjal muncul di benakku membuat hati dan perasaanku menjadi tidak tenang.


"Kie apa kau bertemu dengan pimpinan monster itu?"


"Tidak ada, bagaimana denganmu?" sahutnya sembari bertanya.


"Aku juga tidak, aku merasa ada yang janggal dengan pergerakan monster ini."


"Aku juga/"


DUARRR!!!


"Apa itu?" ucap Kie dengan panik.


"Ayo!!"


Dalam pikiran yang tidak tenang aku pergi menghampiri Kie yang juga sudah selesai menghabisi monster-monster bagiannya, dengan sedikit kekhawatiran aku bertanya tentang keberadaan alpha monster itu pada Kie, tapi sayangnya dia juga tidak melihat adanya alpha di kelompok monster yang dia bunuh.


Ketika kami sedang memikirkan tentang kejanggalan yang ada tiba-tiba saja ada suara ledakan yang cukup besar bersumber dari arah karavan pedagang yang membuat kami berdua terkejut dan mulai merasa panik, di tengah kepanikan itu aku langsung menarik tangan Kie mengajaknya untuk melihat apa yang sedang terjadi di sana.


***


"A-apa yang terjadi di ini?" ucap Kie menatap kobaran asap hitam yang berterbangan.


"Lia, Rin!!" ucapku berlari dengan panik.


Saat kami keluar ke pinggiran hutan tempat kereta karavan berbaris yang kami lihat pertama kali adalah kobaran api beserta asap hitam pekat yang menghalangi pandangan mata, perlahan samar-samar aku melihat pelindung transparan yang muncul dari balik kepulan asap itu, dan yang lebih mengagetkan lagi Lia dan Rin yang terbaring lemah berada di dalamnya bersama dengan Emma yang menderita luka bakar di tangan kirinya sambil menggunakan sihirnya melindungi mereka dan para pedagang dengan pelindung itu.


"Lia! Lia!! Rin!" ucapku panik sambil memegang wajah Lia sembari sesekali menatap Rin.


"Maafkan kakak Lia hiks..."


"Tenang saja Luna ekhh!! m-mereka baik-baik saja."


"Emma kau terluka!"


"T-tidak perlu khawatir."


Tanpa mempedulikan keadaan sekitarku aku langsung pergi ke arah mereka berteriak memanggil dan menepuk wajah Lia dan Rin yang masih lemah terbaring di tanah, aku memeluk Lia dengan erat sambil menangisinya karena tidak bisa melindungi dan menjadi kakak baik untuknya.


"Apa tidak ada yang khawatir denganku?" ucap Rhom turun dari dahan pohon.


"Ini bukan waktunya untuk bercanda...!" ucap Kie dengan kesal padanya


"Baik baik/"


"... apa yang sebenarnya terjadi di sini?" tanya Kie padanya.


"Saat kalian pergi mengejar monster, ada banyak monster black dog lainnya yang berlarian muncul dari arah sebaliknya... kami bisa mengatasi hal itu, tapi saat sedang menghadapi mereka tiba-tiba saja kami dihujani banyak bola api... dan untungnya aku masih sempat memasang pelindung untuk melindungi para pedagang, tapi Lia dan Rin terkena ledakan dari serangan itu..." jawab Emma sambil memegang tangannya.


Dengan perasaan yang khawatir pada keadaan Lia dan Rin, dari atas pohon Rhom turun ke hadapan kami dengan candaan receh yang tidak tepat, Emma kemudian menjelaskan semua yang terjadi di sini mengenai serangkaian serangan bola api yang menyerang mereka secara tiba-tiba dan karena serangan itulah mereka semua terluka.


"Bola api? siapa yang melakukan itu?" tanyaku padanya kesal.


"Kau bisa tanyakan itu pada monster besar di sebelah sana." Jawab Rhom sambil menunjuk ke belakangnya.


GROAAHHHH!!


"K-kerberos! bagaimana bisa?"


"Sepertinya mereka sedang berebut kekuasaan, dan kita hanyalah korban yang tidak sengaja masuk ke dalam pertempuran mereka." Ucap Rhom menatap serius ke arah kerberos yang mengunyah black dog.


Dari balik kobaran api itu seekor monster anjing berkepala tiga muncul dengan membawa kepala monster black dog lainnya di rahangnya, ya tepat seperti yang dikatakan Rhom mereka adalah dua kelompok black dog yang sedang berebut kekuasaan, itulah sebabnya mengapa kelompok pertama memiliki jumlah yang sedikit itu karena mereka sudah kalah dalam pertarungannya.


Jantungku berdetak kencang dengan perasaan yang sangat tidak menyenangkan melihat seekor monster besar menyeramkan berada tepat di hadapan kami menatap tajam dengan mata merahnya yang menakutkan dan air liur yang menetes melewati sela-sela taring runcing yang terlihat jelas di hadapan mataku.


GROAAHHHH!!


"Tidak ada waktu untuk berpikir, lindungi para pedagang aku akan mengurus gerombolan monster itu!" ucap Rhom sambil berjalan ke arah para monster.


"Akanku bantu." Sahut Kie mengikutinya dari belakang.


***


"Emma obati dulu dirimu/"


"Kau ingin pergi ke mana Luna?"


"Aku akan membuat perhitungan dengan si besar itu."


"Tapi lu/"


"Urus saja dirimu sendiri, setelah itu tolong obati mereka."


Aku sudah berjanji akan melindunginya... aku akan membalas monster itu.


Dari dalam kepulan asap hitam perlahan bermunculan satu-persatu monster black dog yang berjalan menuju ke arah kami, melihat itu Rhom langsung menarik kembali kedua belatinya dan berjalan ke arah para monster itu di bantu oleh Kie yang juga mengikutinya untuk menghadang langkah para monster agar tidak mendekati para pedagang.


Tidak ingin tinggal diam aku kemudian berdiri sambil memegangi pedangku menatap ke arah kerberos yang telah melukai Lia dengan bola apinya, dengan marah aku menggenggam erat gagang pedangku berjalan menuju kerberos yang berada di tengah-tengah gerombolannya.


Cara tercepat untuk memukul mundur gerombolan monster adalah dengan mengalahkan alpha mereka.


...✧❁❁✧✿( Kie )✿✧❁❁✧...


"Jika kau takut sebaiknya jangan memaksakan diri untuk bertarung Kie mereka lebih kuat dari yang sebelumnya."


"Jangan meremehkanku, aku bisa membunuh monster jauh lebih banyak darimu."


Duarrr


"Jumlah tidak menjamin kekuatan dan keberanian, jika ada ketakutan di hati kecilmu sebaiknya jangan pernah melakukan pertarungan, sedikit saja ada keraguan dalam dirimu akan membuatmu menyesal seumur hidup."


Ssttt!!


"Apa maksudmu?" ucapku sambil menghindari cakaran monster itu.


Sambil terus menghindar dan berbalas serangan monster Rhom mengajakku untuk berbicara, tapi sayangnya aku tidak bisa mengerti apa yang dia katakan padaku, aku masih terlalu sibuk dengan semua monster yang ada di hadapanku.


"Apa kau pernah berpikir pekerjaan ini akan membunuh kita suatu hari nanti?"


DUARRR!!


"Hentikan saja omong kosongmu itu, kita harus fokus pada monster di hadapan kita." Ucapku dengan terus menghindari ledakan dari serangan monster.


.


.


"Mereka tidak ada habis-habisnya."


Suara geraman monster dan ledakan pertarungan lebih dominan masuk ke dalam telingaku daripada suara Rhom yang mengajakku bicara, bilahan pedangku bahkan bajuku penuh dengan bercak darah monster yang terus berdatangan tiada henti, setiap kali aku menebaskan pedangku selalu saja ada monster lain yang bergantian menyerangku begitu juga dengan Rhom, tapi sayangnya dia hanya bersikap santai dan membosankan seperti biasa seakan tidak merasa terdesak sama sekali.


DUARRR!!!


"Luna apa yang dia lakukan? jangan-jangan...!! LUNA HENTIKAN ITU!!!"


"Dia tidak mendengarku!"


"Pergi saja, biar aku yang mengurus monster air liur ini." Ucap Rhom padaku.


"Baiklah! aku serahkan sisanya padamu!"


Di saat aku sibuk menangani monster yang ada di hadapanku tiba-tiba terdengar suara ledakan yang cukup besar disertai dengan serangkaian serangan bola api besar yang jatuh berturut-turut dengan jumlah yang banyak, dan di dalam ledakan itu Luna berjalan sambil terus menebas beberapa monster yang mendekat padanya, dia terlihat marah sambil memendam wajahnya dengan tetesan air mata yang terjatuh dari dagunya mungkin dia seperti itu dikarenakan Lia yang sedang terluka dan tidak sadarkan diri.

__ADS_1


Dan dari pergerakannya Luna sepertinya dia berniat untuk menghadapi kerberos sendiri dan itu jelas tindakan yang berbahaya, aku berusaha untuk menghentikannya dengan berteriak memanggilnya dan sayangnya dia tidak bisa mendengarku karena semua ledakan itu, aku kemudian pergi berlari ke arahnya untuk membantunya dan menyerahkan sisa monster di hadapanku pada Rhom.


***


"Luna/"


Gerrrr!!


"Cih! menyingkirlah monster sialan!"


"Luna! itu berbahaya!!"


Groaahhh!!


"Sial!"


Ssttt!!!


Saat aku ingin mendekati Luna tiba-tiba aku dihadang oleh beberapa monster black dog, karena aku tidak punya banyak waktu aku kemudian menggunakan sihir bumi untuk membuat beberapa tanah runcing dan melayangkannya ke arah monster-monster itu agar bisa membunuh mereka dengan cepat daripada harus menggunakan pedang untuk menebas mereka satu persatu.


"Luna tenanglah, dia sangat berbahaya."


"Aku tau itu Kie, tapi tidak akanku biarkan dia melukai orang-orang lagi." Ucapnya serius sambil menatap ke arah kerberos.


"Huhh... kau tidak akan merubah keputusanmu kan? mau bagaimana lagi kalau begitu biarku bantu."


Setelah membunuh monster-monster yang menghalangi jalanku aku akhirnya bisa menghentikan Luna dari dekat, tapi meskipun begitu Luna orang yang sulit untuk menarik keputusannya dan dengan sedikit terpaksa aku harus menemaninya untuk melawan kerberos walaupun itu akan sedikit sulit.


"Kita mulai?" ucapku bertanya dengan sedikit tersenyum.


"Seperti biasa ayo selesaikan dengan cepat." Jawabnya balas tersenyum.


***


Ssttt!!


Setelah memutuskan untuk bertarung bersama aku dan Kie kemudian memulai pertarungan kami dengan monster anjing kerberos dimulai dengan serangan beberapa tanah runcing dari Kie, tapi serangan itu dapat berhasil dihindarinya dengan mudah tanpa tergores sedikitpun.


"Giliranku!"


Ssttt!!


GROAAHHH!!


"Cih! gagal!"


Karena serangan pertama gagal aku kemudian melompat ke arah kerberos dan bersiap untuk menebas salah satu kepalanya, tapi tiba-tiba dia meraung dan mendorongku dengan raungan kerasnya itu sampai-sampai aku sedikit terpental kembali ke tempatku berdiri sebelumnya.


GERRRR!!


"Gawat!"


Dengan tatapannya yang marah kerberos mengeluarkan api dari mulutnya bersiap untuk melakukan serangan apinya dan dengan cepat beberapa semburan bola api datang menghampiri kami membuat banyak ledakan di sekitar kami berdua, tidak hanya tinggal diam menerima serangan itu aku dan Kie menebas dan membelah beberapa bola api itu menghancurkannya berkeping-keping, tapi tentu saja itu belum cukup karena ada lebih banyak lagi bola-bola api yang berdatangan ke arah kami, membuat kami terjebak di dalam kobaran bara api.


Wusss


"Kalian baik-baik saja?" tanya Rhom pada kami.


"Ya terima kasih." Sahutku.


Di dalam tebalnya asap dan panasnya bara api Rhom datang dengan membelah dan menghilangkan seluruh asap panas itu menggunakan sihir anginnya.


"Bagaimana dengan monster-monster itu... eh!" ucap Kie terkejut menghentikan kalimatnya.


"Seperti yang kau lihat."


"Baaiiklaaah..." •_• ucap Kie sambil kembali memalingkan wajahnya.


Terlihat ingin bertanya pada Rhom Kie kemudian menghentikan ucapannya setelah menatap ke arah para monster yang sudah terkapar tidak bergerak, Rhom sudah menghabisi mereka semua sebelum dia datang untuk membantu kami menghadapi kerberos, tapi wajahnya masih saja terlihat membosankan tanpa ada ekspresi kepanikan sedikitpun.


GROAAHHH


"Menghindar!!" seruku pada mereka.


"Aaa!!"


DUARRR


Kie nyaris saja terkena serangan cakaran dari kerberos saat sedang berbicara dengan Rhom dan untungnya aku sempat memperingatkan mereka berdua tentang serangan itu, mereka berdua kemudian melompat secepat mungkin untuk menghindari itu dan sayangnya malah aku yang kurang cepat menghindarinya .


Aku terkena goresan cakar kerberos di pundak kiriku sampai-sampai aku terlempar cukup jauh ke sebuah batang pohon, aku dapat merasakan begitu sakitnya luka robek di pundakku dan bahkan aku melihat darahku mengalir membasahi bahu dan lengan kiriku.


"A-aku tidak apa-apa, bagaimana dengan kalian?"


"Ya tenang saja." Sahut Rhom.


"S-sebaiknya kita cepat mengalahkannya, atau kita yang akan dikalahkannya." Ucapku dengan serius.


"Bagaimana dengan lukamu luu?" tanya Kie padaku.


"T-tidak masalah, aku masih bisa mengatasi ini."


"Baiklah aku akan mengalihkan perhatiannya kalian serang dia, tapi pastikan serangan kalian bisa membunuhnya." Ucap Rhom mengusulkan rencananya.


"Baik." Sahut kami bersamaan.


Setelah selesai mengusulkan rencananya Rhom langsung pergi memutari kerberos mengalihkan pandangannya sesuai dengan rencana awal yang dia usulkan, karena kerberos mempunyai tiga kepala mengalihkannya akan sedikit lebih sulit, tapi walaupun begitu mereka juga akan kesulitan untuk bergerak karena memiliki tiga pikiran yang berbeda dan itulah yang membuat kami mempunyai celah untuk menyerang mereka.


Satu tubuh tidak akan bisa bergerak mengikuti kehendak tiga kepala yang berpikir berbeda, kerberos akan sangat kesulitan untuk memilih menyerang aku dan Kie atau menyerang Rhom dan bahkan mungkin salah satu kepalanya berpikir untuk tetap bertahan tanpa menyerang.


GROAAHHHH!!!


Rhom terus mengelilingi kerberos dan menghindari setiap serangan darinya bahkan Rhom berhasil melancarkan beberapa serangan yang tepat mengenai tubuh kerberos sampai-sampai monster besar itu meraung kesakitan.


"Kie ini kesempatan kita."


"Aku mengerti." Sahutnya.


Dengan keadaanku yang terluka cukup parah sekali lagi aku dan Kie memantapkan tekad dan keberanian kami untuk mengalahkan kerberos, kami langsung menyerangnya sekuat tenaga menggunakan sihir kami masing-masing, aku menggunakan sihir angin membuatnya masuk ke dalam pusaran pisau angin yang menebas dan menghalangi pandangannya agar dia tidak bisa menghindar dari serangan-serangan selanjutnya.


Ssttt


GROAAHHHH!!


Sementara itu Kie menggunakan sihir buminya membentuk beberapa buah tanah runcing yang cukup besar kemudian melemparkannya ke arah kerberos yang terperangkap di dalam pusaran pisau anginku, di dalam sana kerberos meraung dengan keras sambil meronta-ronta berusaha keluar dari pusaran anginku, tapi tentunya itu adalah hal yang percuma karena dia terjepit dan tertusuk oleh sihir bumi milik Kie.


"Akan aku bantu menyelesaikannya." Ujar Rhom sambil menyelimuti pusaran angin itu dengan dengan sihir api.


...✧❁❁✧✿( Kie )✿✧❁❁✧...


"Ekhh!!"


"Luna!! area lukanya! ini gawat jangan-jangan/"


"Sebaiknya kita cepat mengobati Luna, racunnya sudah mulai menyebar." Ucap Rhom menatap dan mengangkat tubuh Luna.


"Ya aku setuju." Sahutku.


Setelah membakar kerberos dalam kobaran api dan sayatan pusaran pisau angin Luna terjatuh dan merintih dengan memegangi luka di pundak kirinya menahan sakit akibat cakaran dari kerberos sebelumnya, terlihat sangat jelas kulit di sekitar area lukanya mulai berubah menjadi merah keunguan seperti luka lebam akibat pukulan.


Dan jelas itu bukan luka biasa, ya itu adalah racun kerberos tidak hanya mempunyai serangan yang kuat, tapi juga racun yang dapat melumpuhkan dan bahkan membunuh lawannya jika terkena racunnya itu, tidak ingin membuang-buang waktu berharga kami Rhom langsung mengangkat tubuh Luna yang masih bersimbah darah meninggalkan kerberos yang mati terbakar dalam kobaran api menuju ke tempat Emma dan para pedagang.


...*****...


"Kakak!! Kie apa yang terjadi pada kak Luna?!" tanya Lia padaku.


"Luna terkena racun kerberos, Emma kau bisa mengobatinya?" jawab Rhom sambil membaringkan tubuh Luna sembari bertanya pada Emma.


"Entahlah, racun kerberos sulit untuk di sembuhkan... tapi aku akan berusaha."


Lia yang sudah sadar langsung menghampiri kami dengan air mata yang mulai menggenang di pelupuk matanya melihat Luna yang sedang merintih kesakitan, Rhom kemudian membaringkan tubuh Luna di dekat pohon lalu meminta Emma untuk mengobatinya.


Mendengar ucapan Rhom tentang keadaan Luna Emma menatapnya dengan tatapan yang seolah-olah mengatakan bahwa dia tidak bisa mengobatinya, karena memang racun kerberos tidak akan mudah untuk di sembuhkan, tapi dengan cepat Emma mengubah kata-katanya setelah melihat Lia yang sedih dengan keadaan Luna.


"Aku akan mencobanya, tunggu sebentar." Ucap Emma dengan perlahan duduk di samping Luna.


"Akhh!!!"


"Luna..." ucapku pelan menatap Luna.

__ADS_1


Emma langsung menggunakan sihir penyembuhannya sambil mengeluarkan air dari dalam botol kecil dan mengendalikan airnya membuat air itu melayang-layang di udara membentuk sebuah bola api kecil, sebelum akhirnya dia menggunakan itu untuk menutupi luka yang ada di pundak Luna, setelah air itu menyentuh lukanya Luna menjerit kesakitan dan perlahan-lahan air itu mulai berubah warna menjadi ungu.


Emma terus membuat bola-bola air dan mengulangi proses penyembuhan itu berulang-ulang sampai akhirnya air itu tidak lagi memiliki warna saat menyentuh luka Luna, dan dengan perlahan wajah kesakitan Luna mulai menghilang serta menjadi sedikit lebih tenang.


"Kakak jangan tinggalkan aku kak hiks hiks/"


Tak!


"Aduh! kak!"


"Kakak belum mati Lia, jangan berbicara seperti itu, tapi yahh... aku sedikit lengah." Ucap Luna sambil menyentil dahi Lia.


"Kau beruntung racunnya belum menyebar ke seluruh tubuhmu Luna, jadi aku masih bisa menghentikan pergerakan racun itu dan mengeluarkannya, tapi walaupun begitu masih perlu beberapa waktu agar kau bisa sembuh total." Jelas Emma.


"Terima kasih Emma." Sahut Lia pada Emma.


Mungkin hanya sekedar keberuntungan Emma bisa menanganinya karena Luna baru saja terkena racun itu beberapa saat yang lalu, walau sangat berbahaya racun kerberos tidak menyebar dengan cepat dia memerlukan waktu setidaknya 15-20 menit untuk bisa melumpuhkan tubuh seseorang, tapi tetap saja rasanya akan menjadi sangat sakit setiap menitnya, dan karena itulah orang yang terkena racun kerberos akan menjadi sangat menderita lebih dari racun yang dapat membunuh dalam hitungan detik.


.


.


"Terima kasih banyak karena telah melindungi kami... jika ada sesuatu yang kalian perlukan sebutkan saja, kami akan memberikannya pada kalian." Ucap salah satu pedagang mewakili pedagang lainnya.


"Sepertinya tidak ada." Ucapku padanya.


"Baiklah kalau begitu kami akan memperbaiki kerusakan kereta dulu permisi." Sambung pedagang sambil berjalan menuju kereta mereka.


...*****...


"Harinya sudah mulai sore/"


"Dengan kerusakan seperti itu perlu waktu untuk memperbaikinya, kita mungkin akan berkemah di sini malam ini." Ucap Rhom menatap para pedagang yang sedang memperbaiki keretanya.


Karena serangan brutal dari kerberos dan para monster black dog lainnya kereta para pedagang mengalami kerusakan yang cukup parah, atap, ban, dan bagian belakang kereta kuda itu serta bagian-bagian lainnya benar-benar rusak karena serangan monster itu.


"Aku setuju, eh! kau ingin pergi ke mana Rhom?" ucapku seraya bertanya.


"Ini merepotkan, tapi sebaiknya kita mengamankan tempat ini... aku akan memasang beberapa jebakan, sampai jumpa." Jawabnya menyilangkan tangannya di atas kepala sambil berjalan ke dalam hutan.


Dari total empat kereta kuda yang kami ikuti dua diantaranya mengalami kerusakan yang cukup parah, dengan sedikit menatap ke arah para pedagang Rhom kemudian pergi ke dalam hutan untuk mempersiapkan jebakan kalau-kalau ada monster yang datang menyerang kami lagi, walaupun Rhom terlihat seperti orang tanpa beban pikiran dia cukup peka dan peduli terhadap orang-orang yang ada di dekatnya.


"Yoo Luna kita sama-sama terbaring." Ucap Rin pada Luna.


"Yahh kita kurang beruntung." Sahutnya.


"Eh Rin! kau masih belum sembuh?" tanyaku padanya.


"Aku terkena serangan langsung, jadi apa boleh buat." Jawabnya.


"Y-yahh... semoga cepat sembuh." Lanjutku padanya.


"Hentikan itu dan beristirahatlah dengan tenang, kalian masih belum sembuh sepenuhnya." Ucap Emma pada mereka.


"Baik baik kau tidak perlu marah Emma." Sahut Rin padanya sambil menarik selimutnya.


Sebaiknya aku membantu Rhom.


Melihat kondisi Luna yang sudah mulai membaik aku kemudian berdiri dan pergi ke dalam hutan meninggalkannya yang terbaring di dekat Rin bersama dengan Emma dan Lia untuk membantu Rhom memasang jebakan agar tidak ada monster yang berani mendekati kami.


...


...✧❁❁✧✿( Ellia )✿✧❁❁✧...


"Ini obat untukmu Luna, itu akan membantu meredakan rasa sakit dan menetralkan sisa racunnya." Emma sambil memberikan segelas kecil obat penyembuh.


"Apa tidak ada untukku?" tanya Rin di dalam selimutnya.


"Kau hanya perlu istirahat." Sahut Emma agak datar. •_•


Aku duduk di samping kak Luna sambil melihat ke arah Emma yang sedang membuatkan obat penyembuh untuknya, Emma memasukkan beberapa helai daun tanaman obat lalu menyeduhnya dengan air hangat beserta dengan bubuk tanaman yang sudah di tumbuk hingga halus, tapi aku tidak tau itu jenis tanaman apa, yang bisaku lihat hanya tanaman kering yang sudah halus.


"A-apa tidak ada yang bentuk pil?"


Sudah kuduga. "•_•


Kak Luna tampak tidak senang melihat Emma dengan gelas minuman obat tidur di tangannya, ya kak Luna memang selalu seperti itu karena dia tidak suka dengan rasa pahit dari obat cair atau lebih tepatnya mungkin itu adalah jamu, kak Luna selalu terlihat panik ketika sedang dihadapkan dengan minuman jamu terutama jika rasanya pahit.


"Tidak ada, justru obat cair yang lebih cepat berkerja Luna... kau hanya perlu meminum beberapa teguk saja itu tidak sulit kan?" jawab Emma.


"Hm... jadi obat cair itu lebih baik dari obat pil." Ucapku pelan sambil berpikir.


"Tidak juga, karena semua obat itu sama... hanya saja obat cair itu lebih mudah untuk dicerna oleh tubuh sehingga bisa lebih menyembuhkan sakit, berbeda dengan obat pil yang memerlukan waktu untuk melakukan penyembuhan."


"Owh... jadi begitu ya, yoshh... aku mengerti."


"Ini kak cepat habiskan." Ucapku sambil memberikan minuman obat itu.


"T-tunggu Lia/"


"Tidak ada tunggu, kakak harus cepat minum obat ini, ayo cepat kak!"


"T-tapi, Lia/


"Tidak ada tapi-tapian ce… pat… mi… num…" ucapku sambil tersenyum mendekatkan gelas minuman itu ke mulut kak Luna.


"Tidak Lia Lia!! aku tidak mau!! TIDAKKKK!!!"


.


.


.


"Uhuk uhuk uwakk... kenapa Lia? kenapa?" ucap kak Luna sambil menahan muntah.


Sedikit demi sedikit aku mendekatkan gelas minuman obat itu ke dekat wajah kak Luna untuk meminumkan obat itu, karena kak Luna tampak sangat tidak ingin meminumnya aku terpaksa harus melakukan itu, kak Luna bahkan hampir lari ketika aku melakukan itu, tapi dengan cepat aku menarik kakinya kembali ke tempat semula lalu langsung meminumkan obat itu padanya sampai habis terminum.


"Hehehe maaf ya kak, ini demi kebaikan kakak sendiri." Ucapku sambil tersenyum. ^_^


"Jangan menghiraukan rasanya Luna, yang penting kau cepat pulih kembali." Ucap Emma padanya.


"Emma benar kak/"


"Aghh… isi perutku hampir keluar, aku ingin tidur..." ucap kak Luna sambil bersembunyi di balik selimutnya.


...........


"Selamat atas pencapaianmu." Ucap Rin dari dalam selimutnya.


"Aku tidak perlu ucapan selamat darimu, kau tau itu rasanya pahit kan?!"


"Ya tentu, aku tidak pernah ingin meminumnya."


"Lalu kenapa tadi kau memintanya seperti ingin meminumnya?"


"Itu hanya agar kau mau meminum itu."


"Kau tau aku tidak suka itu kan?!"


"Aku tidak tau."


"Kau tau benci kau Rin."


"Terserah padamu sampai jumpa lagi saat makan malam, selamat tidur."


"Sialan." Ucap kak Luna terdengar kesal.


...........


Terdengar sangat jelas kak Luna dan Rin sedang bertengkar di dalam selimut mereka masing-masing, sahut menyahut satu sama lain dengan nada suara yang cukup kesal, inti dari perdebatan mereka berdua hanyalah karena mereka tidak suka minum obat, mereka terlihat lebih parah dariku yang terlihat seperti anak-anak.


"Sudahlah kak, aku minta maaf... jadi jangan ribut dengan Rin, kakak harus banyak beristirahat." Ucapku berusaha menenangkan kak Luna.


"Kakak tidak marah Lia, kakak hanya tidak suka diminta melakukan hal yang tidak kakak sukai." Ucap kak Luna masih bersembunyi di balik selimutnya.


"Tidak bisakah sedikit lebih tenang." Ucap Emma pada mereka.


"Baik baik... bangunkan aku saat makan malam." Ucap Rin dari dalam selimutnya.

__ADS_1


"Hahh… kalau begitu kakak juga ingin tidur." Ucap kak Luna padaku.


"Iya... kakak memang sebaiknya istirahat." Sahutku sambil duduk bersandar pada batang pohon.


__ADS_2