I Was Reincarnated As A Dragon

I Was Reincarnated As A Dragon
Chapter 18: Permohonan


__ADS_3

"Wuahhh... kenyang! terima kasih masih makanannya."


"Terima kasih makanannya." Ucap Sira selesai menyantap makanannya.


Sepertinya ada sesuatu yang menjanggal dipikirannya dan sangat ingin ia tanyakan, dilihat dari raut wajahnya yang tampak serius.


"Jika ada sesuatu yang ingin kau tau tanyakan saja! aku akan menjawabnya jika aku bisa!" Ucapku padanya.


"Y-ya... sebenarnya ada sesuatu yang ingin saya tanyakan tuan!?" Ujarnya ingin bertanya.


"Ya... ada apa?" sahutku.


"Begini tuan, apa anda yang telah membunuh naga bumi yang ada di dekat tikungan batu besar itu?" tanyanya padaku.


"Naga?"


"Maaf tuan! karena menanyakan yang aneh!" ujar Sira.


"Tidak tidak! tak masalah lohh... naga? hmm... iya aku yang membunuhnya." Ucapku menjawabnya.


"Tapi, itu bukan atas keinginanku, dia sendiri yang memintanya..." lanjutku agak murung.


Aku menjelaskan secara singkat tentang apa yang dia tanyakan, sebenarnya aku sedang tidak ingin membahas tentang itu, tapi karena tampaknya dia sangat ingin mengetahuinya jadi aku ceritakan saja padanya.


"Jadi begitu... sekali lagi maaf tuan karena menanyakan hal yang kurang mengenakkan." Ujarnya setelah mendengar penjelasanku.


"Memangnya ada apa?" tanyaku padanya.


"Tidak ada apa-apa, saya cuma ingin tau." jawabnya.


Sepertinya dia memang sedang menyembunyikan sesuatu dariku, tapi biarlah mungkin itu cuma perasaanku saja atau mungkin juga karena itu tidak terlalu penting untuk dibicarakan.


"Apa makananmu enak? bagaimana rasanya?" tanyaku padanya mengalihkan pembicaraan.


"Y-ya... itu sangat enak tuan." Sahutnya.


"Syukurlah... kupikir kau tidak suka dengan daging itu, hehehe." Ucapku dengan lega.


Aku senang dia suka dengan itu, yahh karena itu cuma daging panggang biasa kupikir dia tidak menyukainya.


"Ahh... aku haus! apa kau juga mau minum?"


"T-tentu tuan..." sahutnya.


"Tunggu sebentar ya!" lanjutku.


Aku kemudian menyuguhi minuman kedepannya dengan wadah kecil, tentunya seukuran dengannya, sementara aku minum di dalam kolam.


"Ahhh... airnya menyegarkan!" ucapku dengan gembira.


"Bagaimana denganmu?"


"Sangat menyegarkan, tuan!" jawabnya.

__ADS_1


Setelah cukup kenyang aku kembali berbaring sambil merenggangkan kedua sayapku, itu sangat lebar.


Jika aku berendam di danau belakangku mungkin kau takkan bisa melihat airnya karena tertutup sayap dan badanku, ya mungkin karena danaunya terlalu kecil, hehe.


Melihatku berbaring Sira juga mengikutiku dengan berbaring di depanku, tubuh Sira terlihat sangat kecil, terlalu kecil lebih kecil dari pergelangan tanganku.


Aku terus melihat ke arahnya karena dia tampak sangat imut dengan ukuran itu apalagi dengan semua gumpalan bulu itu dia semakin terlihat seperti boneka hewan yang lembut, hehehe


"A-anu... tuan ada apa?" tanya Sira.


Dia tampaknya sedikit terganggu dengan tatapanku yang terus melihat ke arahnya, orang lain pasti juga akan bertanya seperti itu jika ditatap terus-menerus tanpa alasan yang jelas, itu wajar.


"Ah...! maaf maaf...! aku hanya berpikir kau terlihat sangat imut... tidak tidak! maksudku anu...aaa... lupakan saja!" ucapku sedikit salah tingkah.


"Y-yahh... tak apa tuan."


Aku menjawabnya dengan apa yang ada di pikiranku, itu sedikit memalukan ok, kata-kata itu langsung keluar dari mulutku secara spontan.


Tap! Tap! Tap!


"Eh... siapa itu?" ucapku melihat ke arah luar


Brukkk!!!


"Eh! dia kenapa?!" ucapku agak panik.


"Sira apa kau bisa mengobatinya!?" tanyaku pada Sira.


"Baik tuan!" sahutnya.


Oowh...! jadi begitu cara menggunakan sihir penyembuhan! apa aku bisa melakukannya?


"Orang itu?"


Aku seperti pernah bertemu dengannya, benar juga dia adalah salah seorang dari pengawal gadis waktu itu.


"Hey Sira! bukankah dia orang yang mengawal gadis yang kemarin?" tanyaku pada Sira.


"Sepertinya begitu." Jawabnya.


"Apa yang terjadi padanya? kenapa dia bisa terluka seperti ini?" lanjutku.


"Entahlah mungkin ada sesuatu yang terjadi." Sahut Sira.


Ini bukan masalah yang kecil orang itu terluka sangat parah bahkan masih ada anak panah yang menancap di punggungnya, apa sebenarnya terjadi padanya? bagaimana keadaan gadis putri itu?


Untuk sementara aku akan menyimpan semua pertanyaan itu sampai dia bangun dan bisa berbicara.


.


.


.

__ADS_1


"Haa...! tuan naga tolong bantu saya! tolong bantu saya! selamatan putri Roha!" ucap pria itu


Beberapa saat kemudian dia bangun dengan keadaan yang sangat panik sambil bersujud padaku, tapi aku tidak tau apa yang dia ucapkan, aku tidak mengerti.


"A-ano...! Sira, apa yang dia ucapkan?" tanyaku pada Sira dengan kebingungan.


"Tunggu sebentar tuan." Sahut Sira.


Sira kemudian berbicara padanya dan sepertinya itu pembicaraan yang menegangkan.


"Jadi bagaimana?" tanyaku sekali lagi padanya.


"Sepertinya dia ingin meminta bantuan kepada anda tuan." jawabnya.


"Bantuan?" ucapku dengan bingung.


"Ya... dia bilang dia ingin meminta bantuan pada anda untuk menyelamatkan gadis putri yang waktu itu." lanjutnya.


"Memangnya apa yang terjadi pada putri itu?" lanjutku bertanya.


Sira kembali bertanya pada pria itu tentang apa yang terjadi dengan putri cantik yang dulu pernah kuselamatkan bersamanya.


"Bagaimana Sira apa yang terjadi?!"


"Putri itu tampaknya sedang ditawan oleh pemberontak kerajaan dan sepertinya akan dieksekusi dan dibunuh sebagai bukti kudeta yang terjadi." Jelas Sira.


"Kudeta? pemberontakan? ehhh...! bukankah itu sangat gawat!!" ucapku dengan kaget dan panik.


Ada apa ini kenapa bisa terjadi kudeta? gawat! gawat! gawat! ini berbahaya! bagaimana keadaan putri itu sekarang?! apa dia baik-baik saja? jelas tidak.


Aku harus membantunya, walau hanya sebentar tapi aku sudah menganggapnya seperti sahabatku sendiri, aku akan menyelamatkannya.


"Yoshh... ayo kita pergi!" ucapku dengan yakin.


"Apa anda yakin tuan?" tanya Sira padaku.


Tentu saja dia akan bertanya seperti itu, pria ini maupun gadis itu sama sekali tidak ada hubungannya denganku lalu kenapa aku membantunya? kenapa aku ingin menolongnya? sangat aneh bukan?


Tapi sekali sahabat tetap sahabat walaupun cuma aku yang beranggapan seperti itu, aku tidak akan menarik apa yang sudah aku putuskan.


"Tentu! bagaimanapun dia adalah sahabatku!" jawabku.


"Baiklah tuan."


"Naiklah!" ucapku pada mereka.


"Eh...! tapi tuan." Ujar Sira dengan sedikit ragu.


"Tak masalah... ajak juga pria itu." Ucapku meyakinkannya.


Aku mengulurkan sayapku ke tanah agar mereka mudah menaikiku, Sira kemudian melompat dan memanggil pria itu untuk naik ke punggungku.


Setelah mereka naik aku langsung melompat dan berlari menuju pintu keluar dari labirin.

__ADS_1


Tunggu aku! aku pasti akan menolongmu!


...~•~...


__ADS_2