
Perang saudara benar-benar pecah, suara pedang, ledakan, dan teriakan prajurit bergema di telingaku.
Goro dengan cepat membawaku dengan kudanya melewati setiap gang yang ada di ibu kota untuk menghindari dan mengelabui para prajurit penghianat.
Setelah dikejar terus-menerus kami akhirnya bertemu dengan para petualang yang ada di pihak kami, petualang itu berada di bawah perintah guild master untuk menjaga keamanan dan keselamatanku.
Aku sangat bersyukur bisa bertemu dengan mereka, tapi sepertinya para penghianat itu juga tidak menyerah untuk menangkapku dan terus mengejarku menerobos pertahanan para petualang.
"Putri menunduklah!" seru Goro.
Tanpa pikir panjang aku langsung mengikuti arahan Goro untuk menunduk, bersama dengan sekelompok petualang kami berhasil mencapai gerbang keluar dari ibu kota.
Sttt!! Sttt!! Sttt!!
"Aaghhh!!!"
.
.
.
Aku mendengar suara jeritan dari belakangku, perlahan aku mulai melihat ke belakang, kami sedang dihujani dengan anak panah, puluhan bahkan ratusan anak panah berterbangan mengarah pada kami.
"Putri, jangan melihat ke belakang!" ujar Goro.
"Tapi..."
"Sebentar lagi kita akan keluar dari ibu kota, jadi bertahanlah..." lanjut Goro.
"Baik!" sahutku sambil berbalik.
Petualang yang semula berjumlah 30 orang sekarang hanya tersisa kurang dari 10 orang, sementara sisanya terkena serangan anak panah.
"Apa ini...!"
Aku melihat ada cairan merah menetes ke tanganku ini darah, tapi milik siapa? perlahan aku melihat ke arah Goro dan benar saja ada tiga anak panah yang menancap di punggung dan bahunya.
"Goro..." ucapku khawatir dengan kondisinya.
"Tidak apa putri, ini bukan apa-apa!"
"Tapi, Goro..."
"Tinggal satu langkah lagi kita akan sampai di depan gerbang dan keluar dari ibu kota." Ujar Goro.
Ssttt!!
"A-a...!"
"Putri!!!"
Goro memacu kudanya dengan sangat cepat melewati jalanan sempit di depan kami dan secara perlahan aku mulai bisa melihat gerbang keluar yang berada di depanku, dengan perasaan yang lega aku berpikir akan bisa selamat dari penghianatan di ibu kota, tapi dengan cepat sebuah anak panah melesat ke arahku dan berhasil mengenai dada kananku dan membuatku terjatuh dari atas kuda dengan sangat keras.
"Sakit!!"
"Bertahanlah putri!!" ucap Goro padaku.
Anak panah itu menusuk dalam ke tubuhku membuatku nyaris tidak bisa bergerak karena rasa sakitnya benar-benar menjalar ke seluruh tubuh, melihatku terjatuh lantas membuat Goro langsung memberhentikan kudanya dan berlari ke arahku yang kemudian kembali mengangkatku ke atas kuda, tapi sebelum sempat menaikkanku ke atas kuda kami telah dikepung oleh para prajurit penghianat.
Aku, Goro, dan delapan petualang terkepung oleh ratusan prajurit di depan gerbang, padahal hanya tinggal selangkah lagi saja kamu bisa keluar dari ibu kota.
"Aaghhhhh!!!!!"
Goro berteriak sangat keras dan langsung menyerang para prajurit itu dengan membabi buta, menebas setiap prajurit menggunakan pedangnya dan meledakkan jalan dengan setiap sihir yang dia miliki.
Doarrrrrr!!!
Ada seseorang datang melesat dengan cepat dan menghantam tanah sampai-sampai tanah pijakannya bergetar dan hancur, orang itu adalah guild master, Aldark.
"Pergilah, Goro!! biar aku yang membereskannya." Ucapnya dengan lantang.
"Woi woi wo!! jangan terburu-buru pak tua, aku yang akan menjadi lawanmu, dan takkan kubiarkan putri lolos!" ucap seseorang keluar dari barisan prajurit penghianat.
"Komandan Lyon...! kenapa!?" ucapku padanya dengan sedih dan kecewa.
"Kenapa...? hmm... kenapa ya... mungkin karena aku tidak suka dengan pemimpin yang lemah!" sahutnya.
"Anda jangan mendengarkan ucapannya! pergilah putri!" ujar Aldark padaku.
"Ayo, putri!!" seru Goro.
Aku langsung menaiki kuda dengan terus memegangi anak panah yang masih menancap di dadaku dengan wajah pucat menahan sakit, aku dan Goro kemudian langsung pergi meninggalkan guild master dan menerobos pasukan itu.
"Akhh...!!"
Rasa sakit dari anak panah itu semakin menjadi-jadi di tambah dengan guncangan dari atas kuda membuatku menjerit kesakitan sambil terus memegang anak panah yang masih menancap di dadaku itu.
"Bertahanlah putri! saya akan mencari tempat yang aman untuk mengobati anda!" ucap Goro padaku.
Tak lama kemudian untuk menghindari para pengejar yang menyusul kami masuk ke dalam hutan agar lebih mudah melakukan pelarian, kami kemudian berhenti di dekat aliran sungai yang kami temukan untuk mengobati lukaku yang sudah semakin banyak meneteskan darah.
Goro mengangkatku dari atas kuda dan menyandarkan tubuhku di sebuah batang pohon, aku yang masih terus memegang anak panah itu sesekali menjerit kesakitan karena ini pertama kalinya aku merasakan sakit yang luar biasa.
Berbeda denganku Goro bisa mencabut semua anak panah yang menancap di tubuhnya dengan sangat mudah, perlahan Goro kemudian mendekatiku untuk membantu mencabut anak panah itu.
"Putri saya akan mencabutnya, jadi bertahanlah..."
"B-baik..." ucapku agak takut.
"T-tunggu Goro...! jangan terlalu kasar."
"Baik putri, akan saya mencabutnya dengan cepat, tolong tahan sebentar." Ucapnya padaku sambil memintaku untuk menggigit kain yang sudah dibulatkan.
"Y-ya..."
"Eghhh!!!!"
Perlahan dia mulai memegang anak panah itu dengan kuat dan bersiap untuk mencabutnya, tapi karena aku masih takut dengan rasa sakitnya aku mintanya untuk tidak terlalu kasar, Goro kemudian memasukkan sebuah kain ke dalam mulutku untuk meredam suaraku lalu mencabut anak panah itu dengan satu kali tarikan seperti yang dia katakan, dan sekali lagi aku menjerit keras saat anak panah itu tercabut, dia kemudian langsung melilitkan perban di tubuhku untuk menekan pendarahannya.
"Apa kalian sudah selesai?!"
" ...!! "
"Tidak perlu khawatir Putri, dia ada di pihak kita." Ucapku Goro meyakinkan.
Aku benar-benar sangat terkejut dengan kemunculan seseorang di balik pohon tempatku bersandar, bagaimana bisa? dari tadi cuma ada kami berdua di tempat ini, dengan napas yang putus-putus dan debaran jantung yang menjadi-jadi aku sangat takut dengan orang itu karena saat ini tidak ada orang yang bisaku percaya selain Goro.
"Greis, bagaimana rencana kita selanjutnya?" tanya Goro.
"Tetap seperti semula, kita akan membawa putri pergi ke benteng selatan di sana ada 2 ribu pasukan perbatasan, dari sana kita akan mengumpulkan kekuatan untuk merebut kembali ibu kota." Jelasnya.
"Di sana!!"
"Sebaiknya kita segera pergi dari sini!" lanjutnya.
"Aku setuju." Sahut Goro.
Samar-samar aku mendengar suara para pengejar dari balik pepohonan yang sudah sangat dekat dengan kami, tanpa menunggu lama kami pun langsung pergi menuju benteng selatan, yang letaknya tidak terlalu jauh jika dibandingkan dengan benteng-benteng yang lainnya, itu adalah tempat terdekat yang bisa kami capai saat ini.
...*****...
"Ada apa ini?!" ucapku dengan kaget dan tidak percaya melihatnya.
"Mustahil! siapa yang melakukan ini?!!" ucap Greis juga terkejut.
Beberapa jam kemudian kami sampai di benteng itu, tapi betapa terkejutnya aku ketika melihat keadaan benteng yang hancur lebur, sebagian besar dari benteng ini tertutup oleh semacam kristal es, sementara sisanya hancur tak tersisa bahkan Goro dan Greis yang menyaksikan itu juga tak percaya dengan keadaan ini, kenapa bisa begini? apa takdir tidak membiarkanku untuk hidup lebih lama.
"Hahahaha... bagaimana, pemandangan yang bagus bukan?" ujar seseorang yang keluar dari balik benteng roboh itu.
Itu adalah Orfist pemimpin para pemberontak yang juga adalah pamanku sendiri, aku tidak tau pastinya tentang kejadian pemberontakan yang terjadi, apa masalahnya dan kenapa pamanku sendiri ingin membunuhku?
"Apa kau kaget, putri? tempatmu untuk berlindung hancur lebur tak tersisa dengan para prajurit yang mati mengenaskan." Ucapnya dengan nada yang mengerikan mengelus kristal yang menutupi benteng di sampingnya.
bagaimana mungkin dia ada di sini? seharusnya dia ada di istana memimpin para prajurit pemberontak!
"Apa kau yang melakukan semua ini?!" tanyaku padanya.
"Hmmm... dari kelihatannya saja sudah jelas kalau ini bukan perbuatanku, tapi ini keadaan yang menguntungkan, hahahaha... kau sudah tamat putri!" lanjutnya.
"Kau berani mengatakan itu pada/"
"Pada apa? putri? junjunganmu? aku tidak mungkin pergi ke sini seorang diri, bocah!"
__ADS_1
Saat Greis ingin menyelesaikan ucapannya tiba-tiba Orfist memotong perkataannya disertai dengan kemunculan prajurit dan petualang yang telah mengepung kami, sontak saja Goro dan Greis langsung menggunakan posisi siap bertarungnya untuk menghadapi mereka semua.
"Jadi, apa kau ingin menyerah putri? jika kau menyerah aku akan membiarkan mereka berdua tetap hidup! bagaimana, putri?!"
"Aku..."
Aku tidak ingin mati, tapi aku juga tidak ingin mereka mati karena melindungiku, mereka orang-orang yang berharga bagiku...
"Kau pikir kami akan menyerah semudah itu dasar licik?!! kami tidak perlu pemimpin yang kuat dan kejam yang kami perlukan hanyalah pemimpin yang baik dan jujur" ucap Greis.
"Kami tidak akan gentar hanya karena ancaman itu." Sahut Goro
"Jadi begitu ya... padahal aku sudah memberikan pilihan untuk kalian, kalau begitu matilah dengan mengenaskan!"
Disaat aku ragu untuk mengambil keputusan yang berat mereka berdua dengan lantangnya memberikan memberikan jawaban pada Orfist, dan saat itu juga pasukan yang dipimpin olehnya langsung menyerang kami dengan serentak untuk membunuh kami tak tinggal diam Goro dan Greis juga melancarkan serangan berusaha untuk menghalau serangan para pemberontak, tapi karena kalah jumlah Goro dan Greis sangat terdesak oleh setiap serangan dari pasukan Orfist yang membuat mereka berdua terluka sangat parah.
Melihat mereka berdua terluka aku yang menyaksikan itu hanya bisa terdiam dan menangis tidak bisa berdiri sama sekali, kakiku gemetar ketakutan dan seluruh tubuhku yang sudah mati rasa tidak bisa digerakkan.
"Putri!!!"
Goro tiba-tiba berteriak memperingatkan ku, benar saja ada seseorang yang ingin menebasku dari belakang, tapi Greis langsung melompat ke arahku dan akhirnya dia lah yang terkena tebasan itu darahnya berterbangan seperti percikan air yang sangat banyak, sesaat setelah itu Greis kemudian tergeletak di atas tanah dengan bersimbah darah.
"Tidak! hentikan itu! aku tidak ingin kehilangan lagi!" ucapku dengan putus asa.
"Hentikannn!!! aku baiklah aku menyerah paman, jadi tolong lepaskan mereka..." teriakku dengan keras dan berlinang air mata.
"Hahahaha... hahahaha... hoohh apa yang kau katakan barusan putri, bolehkah aku mendengarnya sekali lagi?!" ujarnya dengan kegirangan.
"Aku menyerah... bunuh saja aku, tapi jangan sakiti mereka! kumohon! jangan lukai mereka." Ucapku sambil bersujud padanya.
"Baiklah aku akan mengampuni mereka, kalau begitu silahkan bersihkan telapak kaki pamanmu ini dengan mulutmu!" ucap Orfist sambil dengan sengaja menginjak kotoran kuda.
"T-tapi i-itu!"
"Bunuh mereka berdua!!"
"Tunggu!! kumohon jangan lakukan itu, aku akan menurutimu."
"Jangan lakukan itu putri!!" teriak Goro dengan tangan ditahan oleh para pemberontak.
...
Hiks hiks bau… pahit hiks… ini menjijikkan, tapi aku harus bertahan.
"Ha!!? apa-apaan ekspresi itu?!! makan dan bersihkan dengan mulutmu! awas saja kalau memuntahkan itu aku akan membunuh mereka berdua!"
"B-baik!"
Tidak sanggup melihat Greis dan Goro terluka air mataku kembali mengalir deras dan dengan harapan yang terputus aku kemudian meminta kepada orfist untuk menghentikan serangan prajuritnya agar tidak melukai mereka berdua lebih dari ini, meski aku melawan tetap saja itu tidak akan mengubah keadaan dan malah akan semakin memburuk dengan terbunuhnya Goro dan Greis, untuk menghentikan itu terjadi aku kemudian mengambil keputusan untuk menyerahkan diriku.
Dengan air mata ketakutan yang mengalir membasahi pipiku aku bersujud pada Orfist memohon padanya untuk membebaskan Goro dan Greis agar mereka berdua tidak terbunuh, pamanku Orfist kemudian tertawa keras mendengar permintaanku dia kemudian dengan sengaja dia menginjak kotoran kuda yang berada di dekatnya lalu memintaku untuk membersihkan telapak kakinya yang penuh dengan kotoran kuda itu menggunakan mulutku tanpa memuntahkannya.
Rasa pahit, menjijikkan, dan bau menyengat dari kotoran kuda yang berada di mulutku membuat perutku tak karuan mual dan hampir muntah, tapi jika aku sampai memuntahkan itu maka keselamatan Goro dan Greis akan terancam, dengan sangat terpaksa aku harus terus bertahan dengan siksaan ini.
"Hah hah hah hah…"
"Bagus, anda membersihkannya dengan baik tuan putri ataukah harusku bilang keponakan tercintaku."
Bug!
"Akhh!!"
"Menjijikkan!" ucap Orfist menatap hina ke arahku.
Dengan sekuat tenaga aku bertahan menjilati dan membersihkan telapak kaki yang penuh kotoran itu dengan tatapan hina yang terus memandangiku, cukup lama melakukan itu aku akhirnya berhasil menyelesaikannya, tapi setelah selesai Orfist kemudian menendang perutku dengan keras dan membuatku terkapar tidak bisa bergerak sama sekali.
Para prajurit Orfist pun mengepungku dan menodongkan senjatanya ke leherku lalu memasangkan rantai panjang ke leherku, dan aku hanya bisa pasrah dengan keadaanku saat ini karena aku tidak ingin mereka terluka karena melindungiku.
"Putri!" ucap Goro dengan lemas.
"Tak apa Goro, aku baik-baik saja." Ucapku padanya.
"Kau dengar sendiri bocah, kali ini nyawamu akan ku ampuni berterima kasihlah pada putri bodoh mu ini!" ujar Orfist pada Goro.
...***...
"Putri!!!!"
Aku pun ditangkap dengan rantai panjang yang melilit di leherku dan kemudian aku dilempar ke dalam jeruji besi untuk dibawa ke ibu kota, walau aku tidak tau apa yang akan terjadi nantinya bagiku ini adalah pilihan yang terbaik dan aku tidak menyesal dengan ini semua, Goro yang terluka parah berteriak sangat keras ketika melihatku dibawa oleh Orfist, tapi itu tidak akan ada gunanya aku sendiri hanya duduk diam dengan tubuh yang gemetar lemas tak berdaya.
Dengan ditarik oleh dua ekor kuda jeruji besi ini berjalan dengan cepat melewati tanah lapang kemudian masuk kembali ke dalam hutan, dan dikarenakan luka di dadaku yang terasa sangat sakit kesadaranku mulai memudar dan akhirnya aku pingsan dengan tubuh lemah di dalam jeruji besi itu.
...*****...
"Ekhh! dimana ini?" ucapku menatap ruangan gelap di sekitarku.
"Selamat malam putri" ujar seseorang yang terdengar seperti pamanku Orfist.
"Paman…" sahutku dengan lemah.
Penuh dengan rasa sakit aku terbangun di sebuah ruangan gelap yang hanya diberi penerangan obor seadanya, menatap ke sekelilingku dengan tubuh masih terbaring lemas dan rantai berat melilit leherku, sayup-sayup aku mendengar suara pamanku Orfist menyapaku dari denganku walaupun begitu aku yang tidak bisa mengangkat kepalaku hanya bisa menatap kakinya yang berdiri tepat di hadapanku.
"Kau sudah terlalu lama tidur, cepatlah bagus dasar pemalas!!" ucap Orfist sambil menarik rambutku.
"Arghh!!! paman sakit!!"
Brukk!!
"Ekhh!! hah hah hah!"
"Cepat berdiri!!"
Bug!! Bug!! Bug!! Bug!! Bug!!
"Akhh!! hentikan paman!!"
Dengan sangat kasar paman Orfist menarik rambutku dan memaksaku untuk berdiri, tapi karena aku masih terlalu lemah untuk menopang tubuhku pamanku itu kemudian melemparkanku ke dinding dengan sangat kasar yang membuatku menjerit kesakitan dengan napas yang tersengal-sengal, paman Orfist kemudian menendang-nendang tubuhku dengan keras berulangkali sampai-sampai aku kesulitan untuk bernapas, merintih kesakitan dengan tubuh gemetar aku kemudian berusaha untuk duduk bersandar pada dinding dingin di belakangku memintanya untuk berhenti menendangku.
Bug!!
"Cepat lepas pakaianmu! mantan putri sepertimu tidak pantas memakai pakaian bagus!"
"T-tapi/"
Bug!!
"Lakukan saja, aku tidak ingin mendengar penolakan!!"
Benar, aku sudah menyerah, aku sudah kalah… aku tidak berhak untuk menolaknya apapun keinginannya dan perintahnya walaupun itu memalukan walaupun itu sangat hina yang menanglah yang berkuasa,, pikirku sambil perlahan satu-persatu melepaskan pakaianku.
Setelah berhenti menendangku paman Orfist kemudian memintaku untuk melepaskan semua pakaianku dan tentu saja aku ingin menolak itu, tapi sebelum aku mengatakan penolakanku dia sudah terlebih dahulu menendangku dengan lebih keras dari sebelumnya.
Dengan penuh keterpaksaan aku menuruti keinginannya untuk melepaskan pakaianku karena aku adalah pihak yang kalah, aku memang tidak berhak untuk menolak perintah dari yang menang, meski itu hal yang memalukan dan sangat hina, dengan perlahan aku membuka baju dan rokku juga semua pakaian yang aku kenakan sampai aku benar-benar menjadi bugil tanpa satupun kain yang menutupiku.
"Sayang sekali padahal kau punya tubuh yang bagus" ucapnya sambil mengambil daguku.
"Jahat, paman jahat… kenapa paman melakukan ini? apa aku ada salah dengan paman?" ucapku lemah.
"Tidak ada dan aku juga tidak dendam dan benci denganmu, tapi aku hanya tidak suka dengan kelahiranmu" jawabnya.
"Tapi kenapa?"
"Salahkan saja orang tuamu, aku sudah berjuang dengan sangat keras, membatu orang-orang untuk berubah menjadi pribadi yang berbeda untuk mendapatkan hati ibumu, tapi hanya dengan senyuman konyol dari adik bodohku yang bahkan tidak pernah tertarik dengan apapun, dia malah memilihnya sebagai pendampingnya, kesal, marah, aku putus asa untuk memilikinya dan berusaha untuk merelakan dirinya, tapu aku tidak mempermasalahkan hal itu karena berada di sisinya sudah cukup untuk membuatku merasa bahagia…"
" …tapi, saat Eira melahirkanmu hatiku hancur berkeping-keping melihatnya tergeletak tak bernyawa, dan itu semua karena dirimu! ini semua karena keberadaanmu! seandainya kau tidak terlahir ke dunia ini Eira tidak mungkin mati!! dan aku bisa terus bersamanya!! semua yang terjadi karena kelahiranmu!!" ucap Orfist seraya membenturkan kepalaku di dinding.
Brukk!!!
"Arrkkkhh!!!"
"Selama belasan tahun aku menunggu saat-saat seperti ini, aku terus mengumpulkan kekuatan dan rekan-rekan untuk melakukan pemberontakan terhadap raja lemah itu, dan akhirnya aku berhasil menjatuhkan kedudukannya… aku berhasil membunuhnya dan hanya kau satu-satunya pewaris sah tahta kerajaan ini, mungkin akan lebih baik jika kau menjadi selirku mengantikan kegagalanku mendapatkan ibumu, tapi keberadaanmu akan menjadi ancaman terhadap kekuasaan yang akanku pimpin nanti, orang-orang yang membangkang akan menyerukan namamu sebagai sumber semangat mereka dalam melawanku, tidak akan kubiarkan itu terjadi! tidak akan pernah!!" sambungnya sembari mencengkeram daguku dengan kuat.
Merasakan perubahan pada paman aku sontak bertanya padanya tentang perbuatannya ini yang terasa sangat berbeda dari sejak aku kecil, Orfist yang kukenal adalah orang yang baik dan ramah juga orang yang setia pada kerajaan ini, dengan suasana yang senyap di ruangan dingin ini dia perlahan duduk berjongkok di hadapanku memegangi daguku lalu menjelaskan semua hal yang terjadi padanya, ya… itu semua hanyalah tentang sebuah kecemburuan yang berubah menjadi dendam yang semakin mengakar kuat di dalam dirinya sampai akhirnya melakukan pemberontakan ini.
Setelah menceritakan semua itu dia kemudian mencengkeram rambutku lalu membenturkan kepalaku dengan keras pada dinding ruangan ini sampai-sampai darah mengalir dari dahiku dan membuat kepalaku bergejolak dengan rasa sakit dan pusing, dan dengan perlahan dia kembali mengambil daguku mengangkat paksa pandanganku dan bilang akan menjadikanku sebagai selirnya, tapi dia tidak benar-benar ingin melakukan itu yang dia inginkan adalah membunuhku dengan cara yang menyiksaku agar aku mati dengan perlahan, setidaknya seperti itulah kesan yang kudapat dari mata dan ucapannya.
Bug!!
"Akhh!!"
"Pakai ini!!" perintahnya padaku.
...
__ADS_1
"Ayo jalan!!" ucapnya sambil menarik rantai panjang di leherku
Brukk!!
"Apa yang kau lakukan?!! cepat berdiri!!"
Aku yang tersandar lemas tanpa pakaian hanya bisa menutupi tubuhku dengan tanganku dan pasrah dengan apapun yang dia inginkan nantinya, setelah membelai-belai wajah dan tubuhku yang lemah dia kemudian kembali menendangku lalu melemparkan sebuah pakaian usang dan kotor padaku memintaku untuk memakainya, tanpa ada penolakan aku langsung memakai pakaian yang sedikit lebih besar dari perawakanku itu yang bahkan tidak bisa menutupi tubuhku dengan baik.
Dengan hanya menggunakan baju usang untuk menutupi tubuhku, Orfist kemudian menarik rantai di leherku dengan kuat memaksaku untuk berjalan mengikutinya sampai-sampai aku tersungkur jatuh ke kedepan, walaupun aku terjatuh dan merintih tetap saja Orfist tidak memberiku waktu untuk beristirahat dia terus menarik paksaku meskipun aku sedang tersungkur, bahkan dengan sangat kasar dia menyeretku sampai aku tiba di depan pintu ruangan gelap ini, rasa tercekik, sakit, lemas, aku benar-benar dibuat tidak berdaya dengan kekejaman yang dia lakukan.
"Berdiri!! atau aku akan benar-benar menyeretmu sampai di ruangan penyiksaan!!"
"B… ik" ucapku lemas tak berdaya untuk bicara.
Dengan kaki yang gemetar aku memaksakan kakiku untuk berdiri dengan berpegangan pada pintu jeruji ruangan ini walaupun aku benar-benar sudah tidak sanggup lagi untuk melangkah, aku bahkan tidak sanggup mengeluarkan suaraku untuk berbicara karena leherku yang tercekik setelah diseret paksa sampai keluar ruangan.
Setelah aku berhasil berdiri Orfist langsung menarikku berjalan menuju ke tempat yang lebih gelap dari jalur penjara ini, tidak ada satu orang pun yang berada di penjara-penjara yang aku lewati, ruangan penjara yang ada di jalur ini sangatlah kosong tanpa ada tanda kehidupan di dalamnya, napas yang terpotong-potong, kaki yang gemetar, dan jantung yang tak henti berdebar kencang aku sangat takut dengan kondisiku kedepannya.
"Selamat datang tuan Orfist." ucap seseorang menyapa.
"Buka pintunya!"
"Baiklah, silahkan masuk" sahut orang itu membukakan pintu jeruji.
"Cepat jalan!!" ucap Orfist sambil menarikku sampai terjatuh.
Brukk!!!
"Sakit!" ucapku pelan berusaha untuk berdiri kembali.
"Dasar lambat!! ayo!!" ucap Orfist sambil menyeretku yang masih terkapar.
"Ekhh!! aagh!!" jeritku sambil memegang rantai di leherku.
Tanpa menatap ke depan pandanganku hanya tertuju pada kakiku yang gemetar dengan pasrah tiba-tiba saja ada seseorang yang menyapa kami, tapi aku tidak menatapnya karena aku sendiri juga sibuk dengan takdir memilukan ini, setelah itu pamanku Orfist kemudian memintanya untuk membukakan pintu jeruji di depan kami, tepat setelah orang itu membukakan jerujinya secara mendadak Orfist menarikku sampai aku kembali terjatuh tersungkur di samping kakinya.
Dia terus menarik-narik rantai itu berusaha untuk membuatku mau berdiri, tapi aku sudah tidak sanggup lagi untuk berdiri kakiku terasa sangat lemah untuk menopang tubuhku bahkan setelah berulang-ulang kali mencoba untuk berdiri tetap saja aku selalu kembali tersungkur, sampai akhirnya Orfist menyeret paksaku yang masih tersungkur tanpa mempedulikan keadaanku masuk ke dalam ruangan itu.
***
Brukk!!
Sakit!
"Gantung dia, dan jangan biarkan dia menyentuh tanah!"
"Tentu saja tuan."
"Arghh!!!"
...
"Terus siksa dia dan jangan berhenti walau dia meminta ampun!"
"Dengan senang hati" sahut orang itu.
Kejam! mereka kejam!
"Selamat tinggal keponakanku yang tersayang."
"J…ngan… pam…an…" ucap dengan lemah.
Prakk!!
"Akhh!! ti…ak! hent…kan!"
"Maaf putri, tapi aku tidak akan berhenti."
Prakk!! Prakk!! Prakk!!
"Arghhh!!! ku…mohon hen…tikan…"
"Ekhh!!"
Setelah menyeretku sampai di tengah-tengah ruangan gelap ini Orfist kemudian meminta orang itu untuk menggantungku, dan sesuai dengan ucapannya orang itu kemudian melepaskan rantai yang ada di leherku dan memindahkannya ke kedua tanganku kemudian memasang rantai itu ke katrol yang ada di atas langit-langit ruangan lalu menarik ujungnya dan membuatku menggantung dengan tangan di atas dan kaki yang tidak menyentuh tanah.
Tanganku terasa seakan-akan ingin putus saat aku menggantung seperti itu dan tentunya ini adalah yang kesekian kalinya aku merintih kesakitan dengan penyiksaan yang dilakukan oleh Orfist dan orang-orangnya, setelah aku digantung aku semakin sulit untuk mendapatkan napasku apalagi saat pamanku Orfist memerintahkan kepada seseorang yang sebelumnya membukakan pintu jeruji untuk menyiksaku tanpa henti, dan tepat setelah dia pergi orang itu langsung memukuliku berulang-ulang menggunakan cambuk dengan sangat kuat yang membuatku semakin kesakitan dan sangat tersiksa.
...***** ***** *****...
"Hen…tikan…hiks hiks… hent…ikan… ku…mohon…"
Prakk!!
"Akhh!!"
Entah berapa lama aku terus dicambuki dan dipukuli oleh orang suruhan Orfist itu, aku benar-benar sudah tidak berdaya lagi bahkan untuk menyelesaikan satu kalimat pun, berulangkali aku tak sadarkan diri dan saat aku bangun dari pingsanku aku terbangun dengan rasa sakit di sekujur tubuhku dan orang itu yang terus memukuliku walaupun aku sedang pingsan dengan tubuh yang sangat lemah, kain pakaian yang tipis membuat cambukan itu terasa sangat jelas di kulitku apalagi saat dia mencambuk kakiku yang bahkan tidak tertutup apapun, darahku mengalir dari ujung kepala sampai ke ujung jariku dengan luka cambuk di sekujur tubuhku tanpa celah sedikitpun, setiap ujung lukaku selalu tersambung dengan luka yang lainnya yang semuanya terlumuri oleh darah merah.
"Hm, kau beruntung aku ada urusan lain."
...***...
"Am…pun… hen…tikan… hiks… jangan… lakukan…lagi…" ucapku hampir kehilangan kesadaran.
Sakit benar-benar sangat sakit aku nyaris tidak merasakan apapun kecuali rasa sakit yang menyiksaku sampai akhirnya orang itu keluar dari ruangan ini dan menghentikan siksaannya, selain terus di siksa dia juga tidak memberiku makan ataupun minum bahkan dia tidak pernah sekalipun menurunkanku dia hanya terus menerus membuat luka di tubuhku tanpa berhenti kecuali saat tiba waktu makan atau keperluan lainnya.
Citt
"Putri?" panggil seseorang padaku.
"Sia…pa?" jawabku berusaha menoleh ke arah suara itu.
"Ini saya Obi."
Ditengah kesadaranku yang memudar seseorang datang membuka pintu jeruji sambil memanggil namaku, suara itu terasa tidak asing di telingaku hanya saja aku tidak berpikir karena terus menahan rasa sakit yang aku rasakan ini, aku kemudian berusaha menoleh ke arah sumber suara itu dan benar saja seorang anak kecil berdiri di hadapanku dengan pandangan kekhawatiran yang tergambar jelas di wajahnya.
Ya dia adalah Obi seorang anak kecil yang pernah diselamatkan oleh ayahku dan terus berada di samping ayahku saat dia bekerja di ruangannya, aku bahkan sudah menganggapnya sebagai adikku sendiri hanya saja aku tidak bisa mengangkat senyuman seperti biasanya saat dia datang menemuiku di ruangan penyiksaan ini.
"Cepat makan ini putri sebelum komandan itu masuk ke dalam sini" ucapnya sambil berdiri di atas kotak kayu.
"Terima kasih, uhuk uhuk! ekhh!"
"Putri!!" ucapnya sambil menggosok-gosok pundakku.
"Ma…af, perutku… tidak… bisa menerima makan… uhuk uhuk!"
"T-tapi setidaknya anda harus minum putri" sahutnya sambil meminumkan air padaku.
"Y-yah… uhuk uhuk!! ekhh!! hentikan… saja Obi… aku tidak kuat lagi."
Obi yang datang menjengukku membawakan beberapa buah makanan dan juga minuman kemudian mengambil tiga buah kotak kayu yang berada di sudut ruangan lalu menyusunnya seperti tangga, setelah semua itu tersusun kuat Obi langsung naik ke atasnya dan membantuku untuk memakan makanan itu, tapi perutku yang selalu dipukul dan ditendang membuat semua makanan itu tidak bisa melewati tenggorokanku dan langsung termuntahkan keluar dari mulutku.
Tanpa putus asa Obi kemudian meletakkan ujung gelas minum yang berisi air di bibirku dan karena tidak makan aku hanya bisa meminum air yang langsung membasahi tenggorokanku yang kering, walaupun begitu tetap saja aku tidak bisa minum lebih dari seteguk air sama seperti saat aku mencoba untuk makan.
"Siapa yang membiarkanmu masuk ke sini!!?"
"Ha!! k-komandan!!" ucap Obi terkejut dengan kedatangan orang itu.
"Dasar bocah/
"Jangan… kumohon… j-jangan sakiti dia…!!"
"Baiklah, tapi…"
Bukk!! Bukk!! Bukk!!
"ARGHHH!!!! hiks… am…pun…"
...***...
"Aku akan memberimu siksaan yang lebih sakit!"
"Am…pun… sakit…"
Bukk!! Bukk!!
"ARRGGGHHH!!!"
Saat Obi ingin memberiku minum yang kedua tiba-tiba saja orang yang menyiksaku sebelumnya telah muncul di hadapan kami dan langsung mencengkeram leher Obi sampai-sampai Obi terlihat kesakitan, tak ingin dia ikut menderita aku kemudian memohon agar orang itu tidak menyakitinya ya… dia memang melepaskan Obi, tapi orang itu kemudian beralih memukuliku dengan cambuknya bahkan lebih kasar dari sebelumnya
Dia juga mengikatkan dua buah bola besi pemberat dengan ukuran yang besar di kedua kakiku lalu menggantungku lebih tinggi dari sebelumnya dan itu membuatku semakin sangat kesakitan dengan beban tambahan dan pukulan-pukulan yang terus dia lancarkan, aku yang sudah putus harapan hanya bisa pasrah dengan apa yang terjadi dan sudah tidak berharap lagi bisa selamat dari tempat ini dan mungkin seperti inilah akhir hidupku.
...🥀*****🥀...
__ADS_1