
"Maaf tuan Kin, hanya untuk memastikan apa anda memang tidak akan mencampuri pertarungan ini?" tanyaku pada iblis Kin.
"Kau tidak perlu khawatir aku hanya akan menonton dari sini, lagipula sepertinya komandan juga tidak ingin diganggu" sahutnya sambil duduk di atas cakramnya yang melayang.
Dia masih sangat mencurigakan, sebaiknya aku hati-hati.
"Benar! cukup aku saja yang melawanmu nona, Kin! kau tidak perlu ikut campur dalam pertarungan ini!"
"Tentu komandan, silahkan bersenang-senang!" sahut Kin menatapku.
Karena rasa kecurigaanku pada iblis Kin masih ada aku kemudian kembali bertanya padanya apakah dia benar-benar tidak ingin bertarung atau malah sebaliknya hanya menunggu saat yang tepat untuk menyerangku, sambil melebarkan cakramnya lalu duduk di atasnya dengan satu kaki menjuntai ke bawah.
Iblis Kin melayang-layang di udara menatap ke arahku dari jarak yang cukup jauh kemudian langsung menjawab pertanyaanku itu bahwa dia hanya akan menonton jalannya pertarungan ini tanpa mencampurinya, dan tentunya aku tidak bisa mempercayai sepenuhnya kata-katanya itu karena mereka terlihat sangat licik.
Dengan kesombongan yang terlihat jelas dari kata-kata dan raut wajahnya iblis Leron juga memerintahkan Kin untuk tidak menggangu pertarungan ini, walau begitu aku tetap tidak bisa mempercayainya karena terlihat begitu jelas maksud tersembunyi dari raut wajah Kin, meskipun dia sedang berada cukup jauh dari tempatku, tapi aku tetap bisa melihat raut wajah iblis licik itu, komandan ataupun wakil sama saja terlihat mengerikan dan aku sangat tidak betah dengan semua itu mereka berdua menyebalkan.
"Nah nona, biarku lihat sejauh mana tubuhmu yang rapuh bisa bertahan!"
"Baiklah, tapi sepertinya akan lebih menarik jika kita membuat kesepakatan dalam pertarungan ini" ucapku padanya dengan nada yang meyakinkan.
"Ha? baiklah jadi, kesepakatan apa yang kau inginkan?!" sahutnya masih sambil meremehkanku.
"Sederhana saja, jika anda kalah hentikan semua ini dan agar terlihat adil jika saya yang kalah silahkan lakukan apa yang anda inginkan, saya tidak akan menentang apa yang anda katakan" ucapku padanya
Arghhh!! aku mengatakan itu? serius? kenapa? kenapa aku tidak bisa menjaga ucapanku? bagaimana ini? haah, tenanglah Shea, mau bagaimana lagi aku sudah terlanjur mempertaruhkan harga diriku, aku harus berusaha untuk menang.
"Menarik! kalau begitu aku setuju dengan persyaratan itu dan bersiaplah nona! sebentar lagi kau akan menjadi budakku" ucapnya dengan senyuman menyebalkan.
Sepertinya aku mulai benar-benar menyesali ucapanku. "•_•
Setelah memastikan tidak akan ada campur tangan iblis Kin dalam pertarungan kami, entah bagaimana pikiranku berjalan secara tidak langsung aku malah tak sengaja mempertaruhkan harga diriku dalam pertarungan ini, dan bahkan aku mengatakan itu dengan sangat pasti tanpa adanya keraguan sedikitpun, dan karena itu juga ekspresi iblis Leron terlihat sangat menggila dan begitu bersemangat untuk mengalahkanku.
__ADS_1
Dalam pikiran yang kacau aku bertanya-tanya tentang ucapanku sebelumnya dan aku cukup menyesali itu, tapi karena aku sudah terlanjur mengatakannya tidak ada pilihan lain selain terus berjuang untuk menang dan melupakan sejenak tentang ucapanku itu, walaupun begitu alih-alih ingin serius dengan pertarungan ini aku malah kembali menyesali ucapanku apalagi setelah aku melihat reaksi dari iblis Leron yang cukup menjijikkan dengan setiap kata-katanya yang menyebalkan setelah mendengar perkataanku itu.
"Haaah, jika anda bisa menang saya tidak keberatan dengan itu, tapi sebaiknya jangan terlalu menganggap remeh lawan anda!" ucapku sambil mengangkat pedangku.
"Jangan galak-galak nona, aku tidak ingin melukai kulitmu yang indah itu, aku akan memberikan penawaran terakhir bagaimana jika kau menyerah saja? dan biarkanku menikmatimu?" sahutnya sambil mengulurkan tangannya ke depan.
"Saya hargai nasehat dan tawaran anda, tapi saya bisa menjaga diri saya sendiri jadi anda tidak perlu khawatir dan jangan sungkan untuk menyerang saya, karena jika anda lengah maka bersiaplah untuk merasakan ketajaman pedang saya!"
Menatap tajam penuh keseriusan sambil mengarahkan pedangku pada iblis Leron lantas membuatnya terlihat semakin menyebalkan dengan seolah merasa dirinya bisa untuk mengalahkanku, yaah entah bagaimana aku harus menanggapi orang yang satu ini dia sama sekali tidak menyadari posisinya, entah karena kebanggaan, percaya diri yang berlebih, atau hanya sekedar kesombongan semata dia sangat meremehkan lawannya.
Dengan wajahnya yang penuh kesombongan dia mengulurkan tangannya ke arahku sambil memberikan penawarannya padaku, dan sekali lagi aku menolaknya mentah-mentah tanpa tersenyum sedikitpun sambil terus mengacungkan pedangku dan memberi ancaman halus padanya.
Yaah walaupun aku tidak menyukainya, tapi dia berhak mendapatkan penghargaan sebagai orang yang mengucapkan kata-kata bejat terbanyak padaku seumur hidupku, dan satu-satunya hadiah yang akan kuberikan padanya adalah mati karena aku sudah cukup kesal dengan sikapnya terlebih lagi aku tidak yakin dia akan menepati janjinya untuk menghentikan pergerakan undead.
"Kau sangat berani nona! kau harus tau aku tidak menyukai penolakan!" sahutnya tersenyum mulai terpancing emosi.
Me-menyeramkan!
Huu dasar laki-laki mesum, padahal dia yang salah, tapi kenapa malah dia yang terpancing emosi? menyebalkan! dan lagi ada apa dengan iblis satu itu? kenapa dia juga cengar-cengir menatapku?
Mendengar ucapanku yang menolak penawarannya lantas membuatnya terlihat begitu kesal dan juga marah padaku dengan ekspresi wajah yang menakutkan dan tatapan mata tajam yang akan langsung membuatku lari jika saja aku tidak mempertaruhkan harga diriku pada pertarungan ini.
Tapi setelah dipikir-pikir lagi kemarahannya itu sangat tidak berdasar yaah seharusnya aku yang marah padanya karena dia selalu berkata tidak sopan padaku, bukan malah dia yang terlihat kesal hanya karena aku menolak penawarannya yang jelas tidak akan pernah mau aku turuti.
Sementara iblis Leron yang menatapku dengan kesal iblis Kin justru sebaliknya, dia malahan terlihat senyum-senyum tidak jelas sambil menatap ke arahku -padahal tidak ada yang lucu di tempat ini- dengan tetap mempertahankan matanya yang tajam, dan tanpa sedikitpun mengurangi rasa kewaspadaanku aku mengubah posisi pedangku ke sebelah kanan sejajar dengan mataku, karena yang aku tuju adalah bagian lehernya atau setidaknya cukup membelah tubuhnya saja.
"Jika itu yang kau mau! aku akan mematahkan lengan dan kakimu agar kau tidak bisa lagi bertarung lagi nona!" ucapnya bersiap untuk menyerangku.
"Silahkan jika anda mampu!" sahutku padanya sambil memantapkan kuda-kuda penyerangan.
Ssttt!!!
__ADS_1
DUARRR!!!
Pukulannya kuat!
"Kau boleh juga nona!"
"Terima kasih atas pujiannya!" ucapku sambil melepaskan genggaman Leron pada pedangku.
Mengancam akan mematahkan lengan dan kakiku iblis Leron tampaknya tidak main-main untuk melakukannya, dia dengan tatapan yang sangat serius kemudian melesat cepat ke arahku hanya bermodalkan tangan kosong yang penuh dengan kuku yang cukup tajam, tidak hanya berdiam diri aku kemudian menguatkan kuda-kuda kakiku dengan sedikit menghentakkannya lalu menahan pukulan dari iblis Leron menggunakan pedangku.
Dan karena hal itu juga kakiku terasa tenggelam ke dalam retakan tanah akibat hentakan kuat dari pukulan iblis Leron, tapi meski pukulannya kuat itu masih belum cukup untuk mematahkan pedangku dan bahkan tidak bisa menggores pedangku, tepat setelah dia melancarkan pukulannya itu aku kemudian langsung melancarkan satu tendangan padanya walaupun dia bisa dengan mudah menghindari itu, yaah meski begitu tujuanku memang hanya untuk menjatuhkannya dariku, menatapnya dari dekat sangat memuakkan.
.........
Auranya itu apa dia menyelimuti tubuhnya dengan sihir? jika dia bisa memegang pedang ini tanpa terluka, apa mungkin fungsi auranya itu untuk pengerasan agar tidak terluka?
"Ada apa nona? kau takut?! apa kau gemetar?! hahahaha!! tapi, sayangnya sudah tidak ada lagi kesempatan untukmu, walaupun sangat disayangkan jika aku harus melukaimu/" ucapnya tertawa sombong sembari merendahkanku.
Sebenarnya apa dia bisa membaca situasi atau tidak? "•_•
"Tidak masalah, mari kita lanjutkan!" kataku memotong ucapannya sembari melakukan serangan padanya.
Tidak apa jika dia kebal terhadap senjata tajam, tapi dia tidak akan bisa lolos dariku sampai aku bisa menebasnya!
Sring!! Sring!!
Dilihat dari mataku aku dapat dengan sangat jelas melihat dan merasakan aura memuakkan seperti warna-warna yang bercampur tidak karuan, aura itu menutupi seluruh tubuhnya bagaikan sebuah perisai tak terlihat yang berkobar seperti api walaupun itu terlihat menjijikka, tapi auranya itu terbukti bisa memperkuat tubuhnya sampai-sampai dia tidak terluka saat menyentuh pedangku padahal aku sangat yakin yang aku tebaskan padanya untuk menghalau pukulannya adalah bagian tajam dari pedang itu.
Dan sekali lagi iblis bejat itu mulai mengatakan hal yang cukup untuk membuatku merasa terpancing emosi, jujur saja darahku seakan mendidih saat mendengar setiap ucapan sombong darinya, entah murni karena kesombongannya atau hanya sekedar ingin memanas-manasiku hanya karena aku sedang berpikir dan menganalisa keadaan dia dengan sengaja menghinaku dan merendahkanku seolah aku takut padanya padahal tidak sama sekali.
Muak dengan ucapannya aku langsung memotong perkataannya itu dan kembali memulai pertarungan dengan menyerangnya lebih dulu, dan karena itu kami saling berganti serang sampai-sampai benturan tangannya dan pedangku memercikkan api yang terlihat jelas berhamburan di udara.
__ADS_1
...🌹*****🌹...