I Was Reincarnated As A Dragon

I Was Reincarnated As A Dragon
Chapter 153: Aneh


__ADS_3

"Hoahhh!! emh! woa!! tubuhku sudah terasa sangat ringan! hehehe" ucapku tertawa kecil sambil menggerak-gerakkan tanganku.


"Oh selamat pagi nona, apa anda sudah lebih baik?" tanya Sira sembari membuka pintu kamarku.


"Ya tentu hehehe… aku sudah seribu kali lipat lebih baik dari sebelumnya! tenagaku juga sudah pulih kem…"


Duarr!!


"Eh!" •_•


" … "


Entah berapa lama aku terbaring di tempat tidur, aku benar-benar kesulitan untuk membuka mataku bahkan tubuhku terasa sangat sakit dan panas, tapi semua itu langsung menghilang begitu saja saat aku terbangun bahkan tubuhku sudah terasa sangat ringan dan mudah untuk digerakkan sangat jauh berbeda dengan keadaanku sebelumnya.


Aku terbangun dengan suasana hati yang sangat bagus sambil menggerak-gerakkan tanganku untuk mengetahui apakah masih ada rasa sakit atau tidak dan ternyata memang tidak ada hehe, tak lama kemudian pintu kamarku terbuka dengan Sira kecil yang perlahan masuk ke dalam kamarku, Sira tampak sedikit terkejut saat melihat ke arahku sebelumnya akhirnya ia bertanya tentang keadaanku, dan tentunya keadaanku saat ini benar-benar sudah sangat baik.


Aku kemudian tersenyum padanya sambil menggerak-gerakkan tanganku memukul udara untuk menunjukkan bahwa aku sudah sangat bugar, tapi sayangnya aku terlalu bersemangat saat menunjukkan itu dan tanpa sengaja aku malah memukul dinding kamar di samping kiriku dan bumm! dinding kamarku retak dengan retakan yang cukup besar hingga sampai di atas langit-langit kamarku.


"Hehehe a-aku… akan memperbaikinya nanti." ucapku sambil tersenyum.("^_^)


"Ya... kalau begitu saya akan mengambilkan sarapan untuk anda nona, permisi" ucap Sira sembari kembali berjalan ke luar kamar.


"Iya terima kasih, Sira" ucapku padanya.


Setelah terdiam selama beberapa saat sambil menatap ke arah retakan yang aku buat, tersenyum tipis sembari menggaruk kepalaku aku sangat ceroboh sampai-sampai merusak kamarku sendiri, Sira bahkan mengangkat alisnya sambil menatap heran ke arahku saat aku mengatakan akan memperbaikinya padahal jelas aku sedang tidak bisa menggunakan sihirku untuk memperbaikinya, setelah mengiyakan ucapanku Sira kemudian pergi untuk mengambilkan sarapanku, dan aku cukup menantikan itu karena memang perutku sudah memerlukan asupan makanan hehe.


"Hm... apa sayapku memang selebar ini?"


***


Tok Tok Tok


"Permisi nona."


"Ya masuk saja Sira" ucapku padanya.


Yahh... lupakan saja.


.


.


Hm... di mana makananku?


...

__ADS_1


"Silahkan nona" ucap Sira sembari mendorong semangkuk bubur ke arahku.


Ternyata di dalam sana ("^_^)


"Terima kasih, Sira."


Duduk menunggu di atas kasur dengan kaki yang masih terbungkus selimut, aku menatap telapak tanganku sambil menggerak-gerakkan jariku seolah menggenggam sesuatu karena aku merasa ada yang aneh pada tubuhku, walaupun begitu jujur saja aku sendiri bingung dengan apa yang aku rasakan saat ini, aku memang merasakan adanya keanehan, tapi aku tidak mengerti apa yang membuatku berpikir seperti ini, mungkin ada yang salah dengan pikiranku.


Setelah beberapa saat aku kebingungan Sira kemudian datang sembari mengetuk pintu lalu masuk setelah aku aku mempersilahkannya, meski awalnya aku cukup bingung karena dia datang dengan tangan kosong, tapi setelah Sira melompat naik ke atas meja dia kemudian masuk ke dalam ruang penyimpanannya lalu mendorong dan mengeluarkan satu nampan berisi air putih dan satu mangkuk bubur dengan potongan sayur di dalamnya.


"Emm enak... sejak kapan kau bisa memasak bubur, Sira?" tanyaku padanya.


"Sejak kapan anda tau kalau itu bubur, nona?" sahut Sira balik bertanya.


"Eh!?" •_•


Apa mengetahui itu memang terdengar aneh? ini cuma buburkan? bubur? bu...bur?


"Ahh ternyata begitu, normalnya aku memang tidak tau iyakan?"


"Y-ya... seperti itulah, lalu kenapa anda bisa tau?" tanyanya padaku.


"Hm... apa kau ingin tau itu?" tanyaku sembari tersenyum.


"Hehehehe… tapi, aku tidak bisa mengatakannya sekarang, karena ini rahasia" ucapku sambil tersenyum dan tertawa kecil sembari sedikit menyimpitkan mataku menatap ke arahnya.


" … "


"Hahh... baiklah saya juga tidak akan memaksa anda untuk mengatakannya" ucap Sira padaku.


"Hehe maaf ya."


Karena perutku sudah lapar dengan aroma bubur yang menggoda aku kemudian meraih mangkuk bubur itu dan langsung memakannya, sementara Sira hanya duduk di atas meja sambil menjilati tangannya, aku cukup terkejut dengan Sira karena dia bisa memasak, tapi saat aku bertanya tentang hal itu dia malah balik bertanya padaku dengan wajah yang heran dan itu membuatku sedikit berpikir karena ucapannya.


Menatap heran ke arah mangkuk buburku aku akhirnya mengerti maksud ucapan Sira setelah aku memutar otak untuk memikirkannya, benar-benar sangat sederhana dan payahnya aku karena lupa dengan jati diriku sendiri, pertanyaan Sira sangat sederhana dan benar-benar masuk akal karena aku adalah monster yang lama tinggal di dalam labirin dan Sira selalu ada di dekatku dengan waktu yang lama, tentunya dia tau kalau aku tidak pernah melihat ataupun memakan bubur, dia pasti berpikir dari mana aku bisa mengetahui itu sementara aku tidak pernah menyentuh makanan itu seumur hidupku di dunia ini dan orang normalpun juga akan berpikir seperti itu.


Setelah mengetahui itu aku kemudian sedikit mempermainkan pikiran Sira karena aku tidak mungkin secara terang-terangan mengatakan bahwa aku adalah reinkarnasi dari dunia lain, selain karena terdengar seperti sebuah imajinasi anak-anak mengatakan hal itu juga akan membuat privasi dewa diketahui dunia, meski begitu aku lebih khawatir dengan kemungkinan yang pertama karena aku akan dicap sebagai orang yang suka berhalusinasi dan tidak serius, aku tidak begitu peduli dengan privasi dewa karena aku masih kesal dengannya.


***


"Emhh ahh…! aku ingin pergi keluar" ucapku sambil sedikit melakukan peregangan pada tanganku.


Hm... ternyata sayapku memang sedikit lebih besar.


"Sebaiknya kali ini anda jangan berjalan terlalu jauh nona, anda masih perlu istirahat" sahut Sira dari atas meja.

__ADS_1


"Tidak apa, aku sudah jauh lebih baik, istirahat memang bagus, tapi aku tidak bisa terus diam tidak melakukan apa-apa hehehe."


"Hahh… apa boleh buat, jika hanya jalan-jalan di sekitaran gua ini saya rasa tidak akan masalah" sahut Sira menghela napas sambil melompat turun dari meja.


"Hm... kenapa kau merubah tampilanmu Sira?"


"Maaf nona, tapi saya belum terbiasa penuh dengan bentuk sekecil itu, tanpa sadar terkadang saya kembali ke wujud semula" jawabnya sembari berjalan mengikutiku.


"Ohh... tidak apa, aku bisa memahaminya" sahutku sambil berpegangan pada pagar tangga.


Puas dengan perutku yang sudah terisi aku kemudian menjuntaikan kakiku keluar kasur lalu mengangkat kedua tanganku untuk sedikit meregangkan ototku yang sudah terbaring entah berapa lama, aku kemudian berdiri dan melebarkan sayapku untuk melakukan peregangan pada kedua sayap berhargaku itu, setelah selesai melakukan itu aku langsung berjalan menuju keluar kamar, tapi sebelum aku melangkahkan kakiku keluar pintu Sira memberiku sedikit nasehat kecil agar aku tidak kelelahan karena walau bagaimanapun aku baru sembuh dan masih perlu istirahat yang cukup.


Tapi, meski begitu aku tetap ingin jalan-jalan karena aku akan jauh lebih sakti jika tidak bergerak sama sekali, istirahat memang penting, akan tetapi berolahraga juga tidak kalah pentingnya untuk orang yang baru sembuh sepertiku, mendengar ucapanku itu Sira tampak menghela napasnya dengan pasrah lalu melompat turun dari atas meja, dia juga merubah tampilan tubuhnya menjadi harimau dewasa saat dia menyentuh lantai, awalnya aku merasa aneh dengannya karena setahuku Sira hanya berubah saat ada masalah, tapi ternyata dia punya alasan lain.


...*****...


"Hei Sira."


"Ada apa nona?" sahutnya padaku.


"Apa menurutmu aku aneh?" tanyaku pada Sira.


"Kenapa anda bertanya seperti itu?" ucapnya balik bertanya.


"Entahlah, tapi aku merasa ada sesuatu yang berubah dariku" jawabku sambil menatap lurus ke depan.


"Hm... memang benar anda sedikit berubah/"


"Owh!! benarkah?! memangnya apa yang berubah dariku Sira?!" ucapku memotong ucapan Sira sembari bertanya padanya.


Berjalan melewati lorong guaku tiba-tiba saja aku kembali teringat dengan keanehan yang aku rasakan dan itu terasa sangat mengganjal di pikiranku, dalam keheningan suasana gua yang dingin aku bertanya pada Sira dengan tatapan lurus ke depan tentang pendapatnya mengenai diriku, tapi pertanyaanku itu mungkin sedikit konyol terlihat jelas dari ekspresi Sira saat aku bertanya padanya, aku kemudian menjelaskan padanya tentang apa yang aku rasakan, setelah beberapa saat menatap ke arahku Sira kemudian membenarkan tentang adanya perubahan padaku dan aku sangat bersemangat untuk mengetahuinya karena perasaan ini sangat mengganjal di hati dan pikiranku.


"Ya begitulah, anda sedikit berubah setelah sakit selama beberapa hari yang lalu, anda menjadi sedikit lebih tinggi dari sebelumnya nona" jawabnya menjelaskan.


"Eh!? apa hanya itu?" tanyaku heran.


"I-iya... m-mungkin juga ada beberapa bagian yang tumbuh sedikit lebih besar dari sebelumnya."


"Hm... ternyata memang itu ya, aku memang merasa sayapku sedikit lebih besar, rambutku juga terlihat lebih panjang dari sebelumnya... um... ada apa Sira?"


"Tidak, bukan apa-apa nona, lupakan saja" sahutnya sambil mengalihkan pandangannya.


" …? "


...🌹🌹🌹🌹🌹...

__ADS_1


__ADS_2