
Aku akhirnya bisa menyadari maksud dari rantai sihir ini, rantai ini tidak mengekangku dari kekuatan sihir yang kumiliki, tapi mengekangku menggunakan rasa sakit yang berlebihan.
Perlahan aku menyandarkan tubuhku di dinding sambil merasakan rasa sakit yang ada di sekujur tubuhku saat ini, rasa sakit dari rantai ini tidak pernah hanya disatu titik saja.
"S-sebaiknya aku mencari udara segar di luar." Ucapku sambil mencoba untuk berdiri.
"Ekhhh!!"
Aku harus tenang... rasa sakit ini hanya sebentar saja...
Perlahan aku berdiri dengan berpegangan pada dinding lalu sedikit demi sedikit berjalan ke luar rumah dinding untuk menenangkan diriku, nafasku seperti orang yang baru saja lari maraton begitu berat dan terengah-engah padahal aku hanya berjalan beberapa langkah saja.
.
.
.
"K-kenapa rasa sakitnya masih belum berkurang aaa!!"
Brukkk
Sudah cukup lama aku berjalan, tapi rasa sakit ini tak kunjung berkurang, tubuhku sedikit gemetar karena rasa sakitnya aku bahkan berjalan dengan berpegangan dengan dinding dan bebatuan yang ada di sekitarku karena kakiku yang tidak bisa menopang berat tubuhku.
Karena aku tidak bisa memperhatikan sekitarku kakiku tiba-tiba tersandung sebuah batu dan kemudian aku terjatuh tersungkur ke tanah.
"A-aduh!! s-sakit!! sebaiknya aku berbaring sebentar di sini, aku tidak sanggup berjalan." ucapku sambil membalikkan tubuhku.
"Aghh... ini menyakitkan, tapi dia cukup baik hanya memberiku hukuman seperti ini, padahal pembunuhan adalah kejahatan besar." Gumamku sambil menatap ke atas.
Apa karena yang kubunuh itu hanya sekedar monster saja? yahh tidak perlu dipikirkan.
Setelah sempat terjatuh aku kemudian membalik tubuhku lalu berbaring sambil menunggu sakit di tubuhku berkurang, setidaknya sampai aku cukup kuat untuk berjalan tanpa berpegangan pada dinding.
.
.
"Hm... seperti sudah cukup berkurang, yoshh... a-aduh... aku ingin mencari udara segar di luar." Ucapku sambil mencoba untuk bangkit.
"Huhh... kakiku masih gemetar... arghhh!!! hentikan omong kosong ini!!"
DUARRR
"Huhh huhh huhh... yahh ini lebih baik." Ucapku dengan agak kesal sambil mengangkat kakiku yang terjepit.
Karena rasa sakitnya sudah berkurang aku kemudian berdiri dengan perlahan, tapi karena kakiku masih sedikit lemas aku hampir saja terjatuh lagi dan kesal dengan itu aku menghentakkan kakiku dengan keras ke tanah sampai-sampai tanah itu retak dan kakiku sedikit tersangkut di retakan itu, tapi aku tidak masalah dengan itu aku bisa menariknya keluar dengan paksa.
Yang terpenting adalah kakiku yang sebelumnya terasa lemas kini telah kembali seperti sebelum, tidak ada gemetar dan tidak ada lemas lagi rasanya sudah jauh lebih baik.
"Hm... cahaya apa itu? apa jangan-jangan itu... woahh!!! mulut guanya di sana!!"
Sepertinya aku benar-benar tidak fokus dengan sekitarku sampai-sampai aku tidak menyadari bahwa mulut gua sudah ada di hadapan mataku, cahaya terang matahari, angin sepoi-sepoi berhembus dari luar, ditambah dengan aroma rumput dan tanaman yang masuk dari arah luar membuatku merasa sangat senang dan bahagia.
__ADS_1
"Ahhh... aku tidak sabar untuk merasakan itu semua dengan tubuh baru ini."
.
.
.
"Halo dunia... seorang gadis cantik baru saja datang dengan kisah petualangan dan kehidupan barunya... siapa dia? itulah aku... hehehehe."
"YEEE!!!"
Melihat cahaya terang itu aku kemudian berjalan ke arahnya dengan penuh semangat, cahaya itu semakin terang dan semakin terang saat aku mendekatinya lalu kemudian dengan semangat aku mengibaskan tanaman merambat yang ada di mulut gua seperti sebuah tirai dan berteriak cukup keras sesaat setelah aku menginjakkan kakiku di luar gua.
"Wahhh ini luar biasa!! owhh ternyata gua ini ada di dalam tebing." Ucapku menatap ke mulut gua.
.
.
.
"Sudah lama aku tidak menikmati pemandangan hijau seperti ini... udaranya juga sangat bersih." Ucapku berjalan sambil menatap pepohonan.
"Owh!! apa itu?!"
Aku berjalan di bawah rimbunnya pepohonan hijau dari hutan ini menikmati udara segar dan pemandangan hijau pepohonan sampai pada akhirnya mataku tertuju ke suatu tempat di depan, dan dengan sangat penasaran aku pun berjalan menuju ke tempat itu.
.
.
"Ahh... ini sangat menyenangkan." Ucapku sambil berbaring.
Di depanku saat ini ada pemandangan padang rumput yang sangat luas dengan bunga-bunga yang bermekaran mengeluarkan aroma wangi mereka ditambah dengan terpaan angin sepoi-sepoi yang membawa aroma itu ke sana-kemari.
Aku tertawa dengan riang gembira sambil merentangkan tangan dan sayapku berlarian dan berputar lalu kemudian menjatuhkan tubuhku di atas padang rumput itu atau lebih tepatnya di bawah pohon rindang di tepi hutan, karena sekarang harinya sedang cukup panas, bersenang-senang itu boleh, tapi aku tidak ingin sampai membakar kulitku yang lembut.
Kriuk kriuk
"Ah ya... benar juga... aku belum makan... hm... kira-kira apa ada yang bisa kumakan di hutan ini?" ucapku sambil menatap ke arah hutan.
"Rasanya jadi lemas lagi huhh... kenapa Sira masih belum datang?"
Suasana hatiku mulai memudar karena rasa lapar bahkan pemandangan yang indah pun tidak bisa membuat perut kenyang, aku kemudian kembali ke dalam hutan untuk mencari makanan yang bisa kumakan.
...
"Hutan sebesar ini tidak mungkin tidak ada makanan iyakan?" ucapku sambil berjalan.
Langkah kakiku terasa berat saat menyusuri hutan padahal sebelumnya aku aku sangat bersemangat dan antusias ingin menikmati keindahan alam ini, tapi semua itu hilang karena rasa lapar.
Hehehehe...
__ADS_1
"Eh! apa itu?! h-h-hantu?! t-tidak ayolah tenangkan dirimu, itu mungkin hanya halusinasi saat lapar." Ucapku sambil berhenti sejenak.
Tidak mungkin ada hantu, tidak mungkin ada hantu, tidak mungkin, tidak mungkin huhh... tenang fokus lewati saja jalanan ini... bahkan monster lebih menakutkan daripada hantu.
Saat aku berjalan menyusuri hutan tiba-tiba aku mendengar suara tawa kecil dari wanita dewasa, tapi anehnya aku sama sekali tidak bisa merasakan aura keberadaan seseorang di dekatku, sontak saja aku langsung menelan air ludahku lalu berjalan dengan sedikit lebih cepat melewati jalanan itu.
Tenanglah tenang... aku sudah terbiasa dengan ketakutan, itu cuma halusinasi saja...
Srekk Srekk
"WAAA!!!!"
Bug
"S-sakit!!" ucapku sambil mengusap dahiku.
Aku terus mempercepat langkahku untuk melewati jalanan ini, tapi tiba-tiba semak-semak di belakangku bergerak dan mengagetkanku sontak saja aku langsung mengambil langkah lari, tapi sayangnya kepalaku terbentur pohon yang ada di depanku dan membuatku terjatuh dengan pinggulku dan itu rasanya sangat sakit.
Srekk Srekk
"A-a-apa i-itu?!! j-jangan mendekat!!" ucapku berbalik sambil perlahan bergeser ke belakang.
Srekk Srekk
"Aaaaa!!!"
Semak-semak itu terus bergoyangan dan bergerak perlahan aku menggeser posisiku ke belakang, tapi sekali lagi aku terpojok oleh pohon di belakangku, karena sudah terpojok dan tidak bisa bergerak kemana-mana aku menutupi mataku dengan tanganku dan sedikit berteriak.
Citt Citt
"Eh! j-jadi itu hanya tikus ya... hehe... hehehehe."
Ssttt
"Mati kau hama sialan." Ucapku sambil kembali berdiri.
Secara perlahan ada sesuatu yang muncul dari balik semak itu setiap detiknya jantungku terasa berdebar hampir terlepas dan tiba-tiba saja yang keluar dari semak itu adalah seekor tikus kecil, langsung saja aku mengambil sebilah ranting kecil kemudian melemparkannya ke arah tikus itu seperti sebuah belati dan langsung mengenai tikus itu sampai mati.
"Aku akan membunuh semua hama yang kulihat... dan kau hantu sialan tampakkan dirimu agar aku bisa membunuhmu dan akanku buat kau merasakan kematian untuk kedua kalinya." Ucapku dengan agak kesal sambil mengepalkan tanganku.
Darahku mendidih ketika mengetahui yang keluar dari semak itu ada seekor tikus, seketika saja rasa takutku berubah menjadi kekesalan bahkan aku tidak merasa takut lagi dengan suara tawa itu, tidak sama sekali semua itu telah menghilang dari diriku.
"Aku pasti pasti pasti akan membunuh semua hama yang kulihat bahkan hantu pun sudah tidak akan pernah bisa menakut-nakutiku lagi." Ucapku pelan.
Aku berjalan dengan ada air yang menggenang di pelupuk mataku, aku merasa cukup malu dengan diriku sendiri bisa-bisanya aku takut hanya karena hal semacam itu, walaupun rasa takut itu hal yang wajar untuk seorang perempuan.
Selama ini aku sudah terbiasa dengan hal yang lebih menakutkan dari itu, tapi bagaimana bisa aku begitu ketakutan hanya dengan tikus di semak-semak, mungkin suasana hatiku sedang kurang baik.
Kekesalanku kali ini bercampur dengan rasa malu untungnya tidak ada orang yang melihat itu, jika tidak maka aku tidak akan bisa menghadapkan wajahku lagi.
...~•~...
...🌷...
__ADS_1