
Ardner...!
"Apa kau bersenang-senang?" tanyanya pada kami.
"A-aku..." sahut nona sambil perlahan mengangkat wajahnya.
Duarr!!
"Nona.../!"
"Jangan mengganggu, Sira!!" ucap Ardner sambil mencekik leher nona Shea.
" ...! "
Ini gawat!
Keluar dari gua yang cukup panjang itu berdiri di hadapan kami laki-laki berjirah sisik hitam yang tidak lain adalah Ardner, dia datang dengan tatapan yang mengerikan dan terlihat sangat marah pada nona Shea yang bahkan hanya diam sambil menundukkan wajahnya dengan tangan yang gemetar.
Meskipun pertanyaannya sederhana, tapi itu adalah kata-kata yang bertujuan untuk menyindir nona Shea dan itu terbukti bisa membuat nona terlihat gemetar saat bicara padanya, bahkan sebelum nona Shea menyelesaikan ucapannya Ardner sudah lebih dulu menghempaskan nona di dinding mulut gua lalu mencekiknya sampai nona terlihat merintih kesakitan.
Saat aku ingin melangkahkan kakiku Ardner langsung mengertakku untuk tidak ikut campur, tapi aku tidak peduli dan tidak takut dengannya hanya saja nona Shea memberiku isyarat dengan matanya agar aku tidak mencampuri urusannya dengan Ardner, dan itu membuatku kesal karena aku tidak bisa berbuat apa-apa untuk membantunya.
"T-tunggu... a-aku bi...sa m-menjelaskannya..." ucap nona sambil merintih.
"Bagus, jelaskanlah!"
"Ra... rantainya... t-terlepas sen.../"
Brukk!!
"Akhh!!"
"Kau pikir aku akan percaya dengan omong kosong itu?!!" bentak Ardner.
Nona?! sial! apa tidak ada bisaku bantu?
***
"A-apa itu?" ucap seseorang tiba-tiba muncul tak jauh dari tempatku berdiri.
...
"Ha? gawat! mereka keluar di saat yang tidak tepat! grahh!" ucapku sambil melompat ke arah orang-orang itu.
"Diamlah di belakangku dan jangan bergerak!" ucapku pada mereka.
Berbicara dengan terbata-bata karena cekikikan Ardner nona Shea berniat untuk memberikan penjelasan, tapi baru dua kata keluar dari mulutnya Ardner sudah melemparkan nona Shea ke sebongkah batu besar yang tak jauh dari tempat mereka.
Saat Ardner mencekik nona Shea yang sudah terluka dengan punggung dan sayap yang berdarah karena benturan kerasnya dengan bongkahan batu itu tiba-tiba saja orang-orang dari gua keluar dengan ekspresi wajah tercengang dan keringat dingin yang bercucuran, melihat orang-orang bodoh yang kaku itu aku kemudian melompati batu yang menghalangi kami dan mendarat di hadapan mereka lalu meminta agar mereka tidak menimbulkan pergerakan yang dapat memancing Ardner datang membunuh mereka.
"A-apa yang terjadi padanya?" tanya lelaki manusia sebelumnya padaku.
"Seperti yang kau lihat" jawabku singkat.
"Kenapa kau tidak membantunya? dia terlihat sangat terdesak oleh orang itu!" ucapnya lagi.
"Tidak, nona Shea tidak akan senang dengan itu."
"B-bukannya gadis itu sangat kuat! kenapa dia bisa terlihat selemah itu? dia bahkan tidak memberikan sedikitpun perlawanan padanya!" tanya seorang perempuan di sampingnya.
"Sekuat apapun nona Shea, dia tidak akan pernah melawan orang itu… bukan karena dia tidak sanggup untuk bertarung dengannya, tapi karena ada sesuatu hal yang membuatnya tidak ingin melakukan itu, meskipun jika nyawanya terancam" ucapku duduk di depan mereka.
Melihat kepribadian nona Shea, tentu saja dia tidak akan memberikan perlawanan pada Ardner karena ada perasaan bersalah yang menghalanginya untuk melakukan itu, tapi kurasa Ardner terlalu keras padanya.
Duduk menatap ke arah nona Shea yang sedang di siksa Ardner dengan air mata yang berjatuhan, sebagian orang-orang payah itu bertanya keheranan dan sisanya terdiam dengan wajah pucat dan berkeringat dingin setelah melihat keadaan nona yang nampak tidak berdaya melawan Ardner tanpa ada perlawanan.
Tapi, itu memang terlihat aneh karena orang sekuat nona Shea sama sekali tidak memberikan perlawanan ketika di siksa seperti itu, seandainya aku tidak tau permasalahannya aku juga akan berpikiran seperti itu, tapi aku mengetahui apa yang terjadi di sini dan apa yang menyebabkan nona seperti itu.
Hanya satu hal yang membuat nona seperti itu dan itu adalah perasaannya sendiri, nona tidak akan pernah memberikan perlawanan pada apapun kekejaman Ardner sebelum permintaan maafnya diterima, meski begitu aku sedikit tidak setuju dengan perlakuan Ardner pada nona Shea karena walau bagaimanapun juga nona masih anak-anak yang masih rapuh untuk diperlakukan seperti itu.
"Bukannya itu tindakan bunuh diri?!" ucap lelaki payah itu.
"Hei bocah! penasaran juga ada batasnya, justru kalianlah yang sedang bunuh diri dengan muncul di tempat ini, seharusnya kalian tidak keluar dari gua itu!" ucapku sambil terus menatap ke arah nona dan Ardner.
Alih-alih membunuh nona Shea, justru kalianlah yang akan berakhir di tangannya.
"M-mau bagaimana lagi, ada suara benturan keras yang membuat kami tergesa-gesa untuk keluar" ucapnya lagi.
__ADS_1
...
"Jangan harap bisa membodohiku dengan air matamu itu... MANUSIA?!!" ucap Ardner sambil menatap tajam ke arah kami.
...
"Aghh! ini benar-benar gawat! tetaplah berkumpul di belakangku!" ucapku dalam posisi siap siaga.
"Jadi mereka yang membuatmu melupakan hukuman dariku! baiklah aku akan membunuh mereka.../" ucap Ardner sambil melepaskan cekikikannya pada nona.
Ucapan pria payah itu memang benar bahwa tindakan nona hanya tindakan bunuh diri, tapi itu hanya terjadi jika nona Shea adalah orang biasa sedangkan kenyataannya nona tidak akan bisa dibunuh semudah itu, dan sejujurnya justru merekalah yang akan mati di tangan Ardner karena Ardner sangat membenci manusia.
Dan benar saja belum sempat setengah menit setelah aku berbicara Ardner sudah menatap tajam ke arah kami sembari memperlihatkan auranya yang sangat menakutkan - bukan untukku karena aku sudah sering melihatnya - lalu melepaskan cekikikannya pada nona Shea, dan karena itu aku langsung mengambil posisi siap siaga untuk menghadapinya agar dia tidak membunuh orang-orang payah di belakangku.
***
"Tidak! kumohon jangan sakiti mereka..." pinta nona Shea sambil memegangi kaki Ardner.
Bug!
"… akhh!!"
"Cih! jadi kau menentangku hanya untuk mereka?! kalau begitu lawan aku atau mereka akan mati!"
" ... "
…
"Sebaiknya kita segera pergi dari tempat ini!" ucap seorang perempuan dari rombongan orang-orang itu.
"Kalian justru akan mati jika pergi dari sini, tetaplah di belakangku!" sahutku padanya.
…
Terjatuh tersimpuh setelah Ardner melepaskan cekikikannya nona Shea kemudian memegangi kaki Ardner dan memintanya agar tidak menyakiti orang-orang ini, tapi tentunya itu adalah tindakan yang percuma karena Ardner langsung menendang pundak kanan nona hingga nona kembali terhempas ke tebing batu dengan darah yang bercucuran.
Bahkan nona Shea hanya terdiam memegangi pundaknya itu ketika Ardner mulai membentaknya dengan dua pilihan yang mungkin sulit untuk dipilih olehnya, melihat tidak ada jawaban dari nona Shea Ardner kembali melangkahkan kakinya ke arah kami dengan tatapan membunuh sembari mengepalkan tangannya yang diselimuti aura sihir yang kuat.
Melihat makhluk menyeramkan dengan niat membunuh lantas membuat orang-orang itu terlihat sangat panik dan ingin pergi dari tempat ini, tapi aku kemudian menyarankan kepada mereka agar tidak melakukan itu karena mereka hanya akan mengantarkan nyawa jika pergi tanpa perlindunganku ataupun nona Shea.
"Menyingkirlah!!"
Pakk!!
Berlari dengan kaki yang pincang dan tangan yang berdarah nona Shea berdiri di hadapan Ardner sembari merentangkan tangannya menghalangi jalannya, punggung nona dipenuhi darah yang mengalir dari pangkal sayapnya yang patah bahkan punggungnya terlihat penuh dengan luka memar dan goresan, tapi Ardner tetap tidak mempedulikannya dan mengayunkan tangannya ke wajah nona Shea sampai dia tersungkur ke tanah.
***
"Ini sangat kebetulan, aku sudah cukup lama tidak membunuh seseorang."
"Sebaiknya hentikan itu Ardner…/" ucapku padanya.
"Apa kau berniat melawanku dengan kekuatanmu yang tidak seberapa itu? jangan bermimpi terlalu tinggi Sira... jika kau merasa mampu cobalah untuk menghentikan seranganku ini" ucapnya mengibaskan tangannya sambil menggunakan sihir cakar naga ke arah kami.
Langsung menggunakan sihir kuat! dia benar-benar ingin membunuh...
Ssttt...
DUARRR!!
Nona!!!
"Hahh hahhh hahh... ekhh!!" rintih nona memegangi tangannya sembari tersimpuh dengan luka yang cukup parah.
Tatapan membunuh yang selalu terpasang di wajahnya benar-benar membuat orang-orang di belakangku gemetar ketakutan saat melihat langkah Ardner yang mulai mendekat, aku kemudian dengan cepat memintanya untuk menghentikan tindakan yang akan dia lakukan ini, tapi Ardner langsung mengertakku dengan ucapan yang terdengar merendahkanku dan benci untuk mengakuinya ucapannya itu memang benar aku sama sekali tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan kekuatannya.
Dan tepat setelah menyelesaikan ucapannya Ardner langsung melakukan serangan sihir kuat dengan kibasan tangannya dan itu membuktikan seberapa besar keinginannya untuk membunuh seseorang, tapi secara tiba-tiba nona Shea muncul di hadapanku dengan taburan kepingan salju dan tanpa perlindungan apapun dia menerima serangan Ardner hingga tersimpuh dengan luka yang cukup parah pada kedua tangan dan sayap kirinya karena menahan serangan itu, bahkan nona terlihat sangat kesakitan dengan napasnya yang tidak teratur.
Melihat nona Shea yang kesulitan untuk mempertahankan posisi tubuhnya aku langsung berjongkok di sampingnya sembari menopang tubuhnya agar tidak terjatuh.
"Apa kau ingin mati?!!" tanya Ardner terlihat kesal.
"S-sejak awal aku sudah mempersilahkannya, tapi tolong kumohon jangan sakiti mereka" ucap nona masih sambil menahan sakitnya.
"Dasar naif!! ada baiknya jika kau menyadari posisimu terlebih dahulu daripada harus mengetahui penghianatan dan kekecewaan, hentikanlah selagi masih sempat..."
"ARGHHH!!!!" jerit nona tersungkur ke tanah.
__ADS_1
"Nona?!"
Terluka karena serangan itu, Ardner dengan kesal bertanya pada nona Shea yang sangat mudah merelakan nyawanya sendiri demi orang lain, tapi sambil tersenyum nona menjawabnya dengan jawaban yang sangat mantap, nona Shea terlihat sangat pasrah jika Ardner ingin membunuhnya dan meminta agar dia tidak menyakiti orang-orang payah yang kini terduduk lemas karena gemetaran.
Mendengar perkataan nona Shea lantas membuat Ardner terlihat semakin kesal dan menasehatinya untuk sadar dengan posisinya sebagai seorang monster yang tidak mungkin bisa berdampingan dengan manusia.
Setelah menyelesaikan ucapannya Ardner kemudian memasangkan rantai kutukan baru pada leher nona Shea sebelum akhirnya dia pergi meninggalkan kami, dan karena itu nona Shea menjerit keras dengan tersungkur sambil memegang rantai yang melilit lehernya dan aku sangat khawatir dengan keadaannya itu.
"Ekhh!! ARRGGGHHHH!!!"
"Nona?! nona?! ini gawat!" ucapku sembari berubah wujud sambil menggunakan sihir penyembuhan.
Bruk!
Cih! Ardner sialan! bahkan dia membuat regenerasinya melambat… tubuh nona juga menolak sihir penyembuhan dariku, tapi jika aku memaksakannya mungkin akan berhasil...
"Hei kalian! cepat bantu aku dengan sihir penyembuhan!"
" … "
Melihat nona yang terus menjerit kesakitan aku kemudian berubah ke bentuk manusia harimau lalu duduk menyilangkan kakiku di dekat nona, dan dengan cepat aku langsung menggunakan sihir penyembuhan pada diri nona Shea untuk menghilangkan rasa sakitnya, akan tetapi setiap aku menggunakan sihir penyembuhan tubuh nona sama sekali tidak meresponnya dan malah sihirku seakan meledak dan membuatku sedikit tergeser dari tempat dudukku.
Tidak menyerah sampai di situ aku kemudian kembali menggunakan sihirku lalu meminta para manusia itu untuk membantuku mengobati nona Shea, tapi bukannya membantuku mereka malah terlihat mematung di posisinya masing-masing dengan ekspresi yang sangat ketakutan.
"Jangan pura-pura tuli, brengsek!"
Keadaannya sangat buruk...
"Ekhh! t-tidak apa Sira... aku bisa… menahannya… tidak perlu mengkhawatirkanku… haah, yang terpenting kita harus mengantar mereka pulang… sebelum… keadaan tambah memburuk! "
"Tapi, keadaan anda saat ini sedang tidak baik nona, biar saya yang mengantarkan mereka pulang" usulku padanya.
"Tidak mau, aku tetap ingin ikut! aku… ingin… ik…ut…" ucap nona sambil perlahan berdiri.
"Nona!!" ucapku kembali berubah menjadi harimau besar.
Brukk!
Menyaksikan tindakan konyol mereka aku kemudian sedikit membentaknya untuk segera membantu, tapi mereka malah terlihat sangat ketakutan dan enggan untuk membantu menggunakan sihir penyembuhan pada nona.
Dengan perlahan nona Shea kembali bangkit lalu duduk sambil berusaha menahan sakitnya dan memintaku untuk tidak merasa khawatir padanya, nona Shea juga berniat untuk kembali ke tujuan awalnya mengantarkan orang-orang bodoh itu pulang ke tempat asalnya, yah jika aku menjadi nona Shea mungkin aku akan mengantarkan mereka pulang ke alam baka karena mereka sama sekali tidak tergerak untuk membantuku.
Karena keadaan nona Shea yang sedang tidak dalam keadaan baik aku kemudian menyarankan padanya agar dia tidak melakukan itu dan membiarkanku untuk mengantarkan mereka, tapi nona malah menolaknya dan tetap ingin ikut sembari berdiri dengan perlahan, akan tetapi saat bisa berdiri tegak nona Shea kemudian kembali terjatuh karena hilang kesadaran, melihat itu sontak aku langsung berubah ke wujud harimau lalu berbaring di tanah untuk menopang tubuhnya.
"Wah wah, dia sangat memaksakan diri ya" ucap seseorang perlahan berjalan ke arah kami.
Frenya ya... tapi untuk apa dia menyamar?
" … "
"Ah maaf mengejutkan, aku tidak bermaksud menakut-nakuti kalian" ucap Frenya pada orang-orang itu.
Secara tiba-tiba beberapa saat setelah nona pingsan perlahan muncul dari balik pusaran dedaunan seorang wanita dewasa dengan rambut panjang terurai dan gaun putih serta dua tanduk hitam di atas kepalanya, dan dari caranya muncul hingga auranya dan cara bicaranya aku dapat menebak bahwa itu adalah Frenya yang menyamar.
Dan wajah penyamaran serta penampilannya itu terlihat sangat mirip dengan nona Shea hanya saja terlihat lebih dewasa dan tanpa sayap di punggungnya, bahkan aku dapat mengatakan bahwa itu 97% sangat mirip dengan nona Shea dan mungkin jika aku tidak mengenal Frenya aku pasti sudah mengatakan itu 100% nona Shea.
"Apa-apaan penam…/"
..
"Shuttt… apa kau pikir aku sudi menampakkan diriku di hadapan orang-orang, Siraa?" bisiknya pelan sambil tersenyum.
"Glek... ti-tidak" sahutku pelan sambil menelan ludah.
...
"Karena aku sudah ada di sini, aku akan membawanya pulang untuk merawat ' adikku yang manis ini ' dan sebelumnya maaf atas keributan yang terjadi" sambungnya sembari menggendong nona Shea.
"Sira, kau kawal mereka sampai di tempat yang aman… bala bantuan sudah menunggu mereka di sisi lain hutan ini…" ucapnya lagi seraya perlahan menghilang menjadi dedaunan.
"Y-ya b-baik" ucapku berbaring sambil mematung.
Merasa aneh dengan penyamarannya aku kemudian ingin menyinggungnya, akan tetapi dia sudah terlebih dulu menutup mulutku lalu berbisik pelan dengan senyuman dan suara yang dapat membuat seluruh tulangku bergetar hebat, bukan karena itu sebuah rayuan ataupun godaan yang meluluhkan hati, tapi karena itu ancaman keras agar aku tidak menyinggungnya lagi, mengingat aku hampir celaka dua kali dalam semalam aku hanya menggelengkan kepalaku sembari menelan ludah saat dia menyebutkan namaku dengan cukup lama dan pelan.
Selesai berbisik di telingaku dia kemudian menggendong nona Shea dan sebelum menghilang Frenya memintaku untuk mengawal para manusia yang terdiam bagaikan patung itu, bukan hanya mereka bahkan aku juga ikut mematung seolah waktu dunia sudah berhenti karena isi pikiranku hanyalah tatapan menyeramkan dari Frenya.
...🌺🌺🌺...
__ADS_1