
"Woahh... kenyangnya." ucapku sambil berbaring.
"Hmmm... sebenarnya apa yang terjadi!? kenapa naga itu tidak menyerangku dan malah seakan melindungiku." lanjutku dengan kebingungan.
"Um... hmm... ahh..."
Dengan perut yang kenyang aku berguling-guling memikirkan setiap kejadian yang ku alami.
"Um... aku ini nagakan tapi kenapa aku sangat lemah!? bukannya naga itu adalah makhluk mitologi yang terkenal karena kekuatannya." Ujarku dengan memasang ekspresi kebingungan.
"Hmm... yahh...! tak perlu dipikirkan, tapi apa aku bisa sekuat itu… mampu mengalahkan musuh hanya dengan satu pukulan!?"
Aku terus memikirkan monster naga itu dengan perasaan kagum dan juga iri, jujur saja aku sangat iri dengan kekuatan yang dimilikinya.
"Aku ingin seperti itu, kuat dan bisa membela diri." Sambil memejamkan mata aku berharap bisa menjadi kuat.
Tentunya aku tak akan pernah menjadi kuat hanya dengan berharap saja, kekuatan tak datang dengan sendirinya, aku harus belajar dan juga berlatih untuk menjadi kuat.
"Yoshh...! kalau begitu sudah diputuskan, aku harus menjadi kuat!" kataku pada diriku sendiri dengan suara lantang dan penuh semangat.
"Tapi sebelum itu, aku harus melakukan sesuatu dengan kepiting besar ini, jika terus dibiarkan maka dagingnya pasti akan membusuk dan akan mencemari air danau, tidak... itu tak boleh terjadi.
"Aku tidak ingin kehilangan tempat sebagus ini, tapi bagaimana? tubuh kepiting ini sangat besar."
"Hmmm...!?" gumamku.
"Owhhh... benar juga, bagaimana kalau kubekukan saja tubuhnya, meletakkan sesuatu disuhu yang dingin akan memperlambat pembusukan, tapi apa aku bisa melakukannya? dilihat dari segi manapun tubuh kepiting ini tetap sangat besar, terlebih lagi mungkin keberhasilanku waktu itu hanya sebuah kebetulan." Ucapku sambil merenung.
"Yahh... aku takkan tau hasilnya jika tidak mencoba."
Cukup lama berpikir aku menemukan cara untuk membereskan si capit besar, terlebih lagi aku tidak ingin kehilangan makanan yang enak ini.
"Baiklah...! mari kita mulai pengawetnya!" ujarku penuh semangat.
Aku pun langsung memulai menyemburkan es dari mulutku mulai dari bagian kaki dan capitnya.
.
.
.
(1 jam kemudian...)
"Huahhh... perlu tenaga ekstra untuk menyelesaikan semua ini!" ucapku dengan menghela nafas panjang karena kelelahan.
"Semangattt!!! demi makan enak!" ujarku berusaha mengembalikan rasa semangat.
Brasss!!!
Crasss!!!
Aku terus menyemburkan es untuk menutupi seluruh tubuh monster kepiting untuk mengawetkannya.
.
.
.
__ADS_1
"Yeahhh...! akhirnya selesai... ini benar-benar melelahkan, tapi...! yeee!! aku berhasil melakukannya, dengan ini dagingnya takkan membusuk karena sudah terawetkan dan aku tak perlu khawatir kehabisan makanan untuk beberapa bulan kedepan." Kataku dengan perasaan sangat senang.
"Kalau begitu, waktunya menata rumah agar layak huni."
Berjalan menyusuri setiap bagian dari lorong dan pintu masuk, aku berusaha untuk mengenali setiap tempat yang ada disekitar lokasi danau untuk mempersiapkan pertahanan dan keamanan rumah baruku.
"Hmm... kurang lebih ada sekitar lima buah pintu masuk kearah danau ini itu terlalu banyak...terlalu berisiko jika dibiarkan terbuka, yahhh... kalau begitu ku tutup saja semuanya secara permanen,
"Rumah ini cukup punya satu pintu saja."
Aku langsung membuat keputusan untuk menyegel empat buah pintu yang ada dan hanya menyisakan satu untukku keluar masuk.
"Baiklah mari kita tutup tempat ini dengan beberapa balok es." ucapku dengan yakin.
.
.
.
"wahh...!! ini cukup melelahkan, apalagi jarak dari pintu ke pintu sangat jauh…"
Aku berhasil menutup satu persatu pintu dengan es yang keras dan tak akan bisa mencair tentunya karena itu terbuat dari sihir dan bukan dari air yang dibekukan dalam kulkas.
"Satu persatu pekerjaanku sudah selesai, sisanya hanya tinggal belajar dan berlatih, tapi bagaimana caraku belajar? yang ku ketahui hanyalah semburan es, apa ada orang yang akan mengajariku!?" kataku sambil merenung.
"Hmm...!? yahh... kalau ingin pintar kau harus belajar dari ahlinya dan siapa lagi kalau bukan pengalaman."
Pengalaman adalah guru terbaik untuk belajar, kau mengerti? dengan belajar dari pengalaman kita dapat mengerti berbagai hal, contohnya jika kau melihat ibumu memasak lambat-laun kau juga pasti akan bisa memasak.
"Kalau begitu, aku hanya harus melihat cara penggunaan sihir dan menirukannya." Ucapku masih dengan sedikit ragu.
"Baiklah...! kumulai saja dari pelajaran mengamati, belajar praktek adalah cara tercepat untuk melakukan sesuatu."
"Hmm... monster seperti apa yang akan kutemui yahh... kuharap bukan monster mengerikan seperti sebelumnya." dengan sedikit ragu aku berjalan menyusuri rute ku yang sebelumnya.
"Apa itu?"
Mataku tertuju pada sebuah batu besar di depan ku lebih tepatnya sesuatu yang ada di baliknya, itu seperti ekor yang berlendir monster macam apa itu? perlahan aku mengamatinya dari kejauhan.
"Tempat ini sepertinya aman, dia tak akan menyadari keberadaan ku."
Setelah menemukan tempat yang aman untuk mengamati aku mulai mengarahkan pandanganku pada monster itu, kadal, salamander, tokek? monster itu mirip cicak, dia sepertinya sedang melihat ke arah sesuatu!?
Mengikuti arah pandangan monster itu aku melihat seekor monster kalajengking dengan tinggi tiga meter sedang berjalan menuju si kadal, tiba-tiba mata monster kadal bersinar dan seketika kalajengking itu berubah menjadi batu, mengerikan itu mengerikan! ini gawat! aku harus pergi dari sini...
Srekk...!
"Gawat!! aku ketahuan."
Saat aku berjalan mundur, kakiku tak sengaja menendang sebuah batu kecil dan tak sengaja membuat suara berisik, gawat gawat gawat monster itu melihatku ini berbahaya aku harus pergi secepatnya dari sini.
Ssttt!!!
"Mustahil dia sudah disini..." ucapku dengan kaget.
Di saat aku mengintipnya lagi tiba-tiba monster itu sudah berada dihadapanku dan langsung menyerang ku dengan matanya, sontak saja aku langsung menutupi tubuhku dengan sayap kanan dan kemudian langsung lari sekuat tenaga untuk menghindari serangan mata batu nya.
Krekkk!!!
__ADS_1
"Waaaa...! bagaimana ini, bagaimana ini? sayap ku mulai membatu... Arghh...! tak ada waktu untuk takut."
krakkk!!!
"Arghhhhhh!!!!"
Aku menjerit sangat keras sambil mengigit dan merobek sayapku yang membatu sebelum efek membatunya menjalar ke tubuh.
Perlu keberanian yang besar untuk melakukan itu tapi aku sudah pernah merasakan yang jauh lebih sakit daripada sekedar sayap putus, ini jauh lebih baik daripada mati menjadi patung manekin.
"Syukurlah... aku masih selamat, serangannya hanya mengenai sayapku, aku sangat beruntung bisa selamat." ucapku dengan lega.
Dengan masih menahan sakit aku terus berjalan pulang ke rumah, sesampainya di rumah aku langsung membasuh noda darahku dan menjilatinya, karena air liur adalah obat alami yang dimiliki makhluk hidup.
"Sial ini sangat sakit…!" ucapku sambil menjilatinya
"Apa sayapku bisa tumbuh lagi!? huhh... sekarang aku hanya punya satu sayap, padahal aku belum mencobanya untuk terbang." sambil menghela nafas aku menatap sayapku yang putus.
"Akan ku balas cicak itu, pasti akan ku balas!" ucapku dengan kesal.
"Yoshh...! aku sudah melihat caranya menggunakan sihir, waktunya ujian praktek..." kataku dengan semangat sembari mengalihkan kekesalanku.
"Kalau tak salah energi sihir itu adalah energi kehidupan dari jiwa, yahh... walaupun itu hanya menurut novel fantasi saja, hehe."
Aku langsung mengambil napas panjang dan berkonsentrasi untuk merasakan aliran mana yang ada di tubuhku.
"Fokus, fokuskan semua pikiran pada energi yang ada di tubuhku, jangan terganggu dengan hal lain."
Sambil menutup mata aku berusaha fokus untuk merasakan aliran mana –energi sihir– yang ada dalam diriku, jadi ini energi sihir!? rasanya hangat dan berkobar-kobar dalam diriku, seperti ada api yang terus menyala tanpa bisa padam.
.
.
"Baiklah... aku sudah bisa merasakannya, sisanya tinggal cara mengendalikannya saja." Ucapku dengan sangat tenang.
Setelah cukup lama bermeditasi akhirnya aku berhasil sepenuhnya merasakan energi sihir.
"Aku hanya perlu fokus dengan apa yang aku pikirkan, sama seperti sebelumnya saat aku menyemburkan es, tapi kali ini aku akan menggunakan mata sebagai perantaranya." kataku sambil memejamkan mata.
Waktunya mencoba, apa aku harus mengucapkan mantra!? tapi monster itu tidak mengucapkan mantra sama sekali, kalau dipikir-pikir monster itu adalah makhluk tak berakal, tunggu aku ini punya akal, sudahlah tak perlu dipikirkan.
"Tapi apa objek percobaan ku? hmm... ooh benar juga ku uji saja pada cangkang kepiting itu."
"Yahh... ku coba saja, tak ada salahnya untuk mencoba, jika gagal tinggal di ulangi lagi, sangat sederhana."
"kalau begitu, beku...!" ucapku dengan keras sambil menatap ke arah cangkang kepiting.
"Beku...! beku...! beku...!"
crasss!!!
"Woaahhhh...! berhasil! aku berhasil...!"
"Hape hope hore!!! yeeeee...!!! teriakku gembira kegirangan.
Aku sangat senang karena telah berhasil menguasainya dengan sempurna, tanpa hambatan yang berarti.
"Akan ku namai itu frozen eyes -mata beku- hehe... aku sedikit mengubah elemen sihirnya dengan elemen yang ku kuasai, itu kereeennn aku memang anak jenius." kataku dengan bangga dan sedikit sombong.
__ADS_1
"Hehehehe... hohohoho... bersiaplah cicak lendir aku akan membalas perbuatanmu, benar bersiaplah... tunggu saja kedatanganku kau akan mati." ucapku dengan kata-kata yang kejam.
...~•~...