I Was Reincarnated As A Dragon

I Was Reincarnated As A Dragon
Chapter 36: Pria Misterius


__ADS_3

"Yeee.... aku dapat banyak makanan, horee! hehehe."


Setelah menyelesaikan urusanku dengan para monster sialan itu aku kembali berjalan pulang ke rumah persinggahanku untuk beristirahat dan bersantai menikmati hasil buruan yang kudapat dari Pertarungan itu, aku mendapat banyak sekali makanan hehe, walaupun agak menjijikkan mengingat itu adalah serangga kelabang dan kalajengking, tapi aku sudah terbiasa memakannya jadi itu buka masalah lagi bagiku.


"~Makan... makan... makan...~ chichichi... ahh... aku tidak sabar ingin segera pulang dan makan makananku hehehe." Ucapku sambil tertawa kecil.


.


.


.


"Hm... tadi aku lewat mana ya? mungkin lewat sini tidak tidak mungkin saja lewat sini, arghhhhh!! kenapa aku sangat payah mengingat jalan?!!"


Sebelum aku sampai di lokasi tujuh lorong aku sempat melewati beberapa belokan dan tikungan.


Tentu karena ini adalah labirin banyak tikungan itu hal yang wajar terlebih lagi aku baru sekali melewati jalanan ini, semua belokan itu masih terasa asing bagiku.


Aghh... ini mungkin karena aku sering menggunakan sihir pembalik untuk menutupi jejakku... jadi sekarang bagaimana ya... hm...


.


.


"Oh...! bagaimana kalau aku pakai eyes of vision?! um... tapi jika aku terlalu banyak menggunakan sihir mungkin indra dan instingku akan melemah."


"Kalau begitu waktunya untuk memakai Indra penciuman hehehe, sesekali aku harus mengandalkan kemampuan alami ku, jika tidak digunakan penciumanku pasti akan tumpul."


"Endus endus endus... hm... bukan yang ini... endus... endus... um... endus?! owhh! ini! benar yang ini! yee!! aku menemukannya."


Setelah berpikir dan merenung aku memutuskan untuk menggunakan Indra penciumanku, aku berjalan bolak-balik di depan lorong-lorong itu mengendus setiap pintu lorongnya untuk menemukan sisa-sisa aroma saat aku melewatinya dan akhirnya aku berhasil menemukan jalan pulang.


"Yee... kalau begitu saatnya pulang."


.


.


.


Langsung saja aku berjalan masuk ke lorong itu, aku sudah tidak sabar untuk menyantap makananku rasanya sudah sangat lapar dan juga rasanya tidak enak meninggal Sira terlalu lama, aku hanya perlu melewati beberapa belokan setelah itu aku akan sampai di tempat persembunyianku.


"Belok kiri... belok kiri lagi... belok kanan... lalu uwahh...! itu dia, aku berhasil! yee... aku pulang my home."


Cukup lama aku berjalan melewati jalanan lorong dan beberapa belokan tunggal akhirnya aku sampai di rumahku.


"Sira? ehh! tidak ada!"


"Sira? ah percuma aku tidak bisa menemukan aura keberadaannya."


Saat aku tiba di rumah aku sedikit terkejut karena tidak menemukan Sira di atas batunya, hanya ada ruangan kosong di sini aku bahkan juga tidak bisa merasakan aura keberadaannya di dalam gua ini.

__ADS_1


Apa dia pergi? tapi kemana ya? hm... sepertinya aku harus menunda makanku lagi.


"Huhh... rasanya tidak enak harus makan sendiri, arghhh...!! lain kali akan ku pasang tali pengikat agar dia tidak kelayapan."


"Kucari saja lah padahal aku baru sampai, huhhh... makan..." Ucapku sedikit menghela nafas berat.


Karena Sira tidak ada aku kemudian kembali ke luar untuk mencarinya, biasanya dia selalu memberi tahuku menggunakan telepati jika ingin berpergian, tapi dia pergi tanpa meninggalkan pesan apapun.


Langkahku benar-benar berat apa lagi dengan perut kosong dan juga lelah rasanya semakin bertambah berat.


.


.


.


"Sira!? oii Sira!? apa kau di sini? yahoo! Sira?!"


Aku mencarinya di balik bebatuan dan juga jalanan kecil di retakan dinding labirin, aku juga kembali ke jalan yang ku lewati sebelumnya kalau-kalau dia ada di sana.


Aku juga tidak bilang-bilang padanya kalau aku ingin pergi jadi mungkin dia juga mencariku di sana.


Aku berputar-putar kesana-kemari mencarinya, tapi aku tidak bisa menemukannya, dia sangat kecil jadi cukup sulit untuk mencarinya.


"Pada akhirnya aku kembali ke tempat ini lagi, yahh... lagi pula sebelumnya aku sudah membunuh semua monster yang ada di sini jadi tidak ada yang perlu dikhawatirkan lagi."


"Sira? hey! ayolah Sira jangan main-main!" ucapku agak mulai kesal.


Jantungku tiba-tiba berdebar sangat kencang seakan ada sesuatu bahaya yang akan datang, sontak saja aku langsung menggunakan kamuflase untuk menekan auraku dan bersembunyi di balik salah satu pintu lorong sambil mengamati situasi sekitarku.


A-apa itu tadi?


Aura mencekam memenuhi tempat ini bahkan tanpa kusadari keringat dingin mulai membasahi tubuhku walaupun aku tidak yakin kalau hewan bersisik bisa berkeringat.


Perlahan aku mendengar beberapa suara langkah kaki besar yang mulai mendekat, karena penasaran aku mengintip pemilik suara langkah kaki itu.


" ... "


Aku hanya terpelongo jantungku semakin berdebar-debar dadaku juga semakin terasa sesak melihat gerombolan naga berjalan secara bersamaan.


Tapi bukan itu yang membuatku merasa waspada, di depan para naga itu ada seorang pria yang sedang duduk di atas salah satu kepala naga.


Tubuhnya ditutupi oleh zirah sisik berwarna hitam pekat dengan dua tanduk melingkar di kepalanya, wajah dan tatapannya sangat dingin seakan dia sangat marah dengan sesuatu.


S-S-siapa itu?


"Tuan ken... aaa!!!"


Keadaan di sini semakin terasa tegang tiba-tiba saja Sira datang menghampiriku dari belakang, kedatangan Sira yang tiba-tiba itu membuat jantungku terasa ingin terlepas sontak saja aku menerkamnya memasukkannya ke dalam mulutku untuk meredam suaranya dan agar orang itu tidak mengetahui keberadaan kami.


Orang itu tampaknya sempat melirik ke arah kami, tapi untungnya dia tidak menyadari keberadaan kami.

__ADS_1


Perlahan orang itu dan gerombolan naganya mulai menghilang dibalik kegelapan labirin, tapi untuk memastikan bahwa mereka sudah pergi aku menunggu beberapa saat sebelum akhirnya aku keluar dari persembunyianku.


Tampaknya sudah aman...


" ... "


"Apa kau baik-baik saja Sira?"


Aku kemudian mengeluarkan Sira dari mulutku dan bertanya padanya, yahh siapa tau dia tergores taring-taringku saat aku menerkamnya atau mungkin kekurangan oksigen saat ada di dalam mulutku.


"Y-Y-Y-ya... S-S-saya B-baik-baik saja." Ucapnya sedikit gemetar.


"Maaf ya... tiba-tiba menerkam mu."


"T-tidak apa tuan."


"Ayo kita pergi dari sini, tempat ini kurang aman." Ucapku padanya sambil dengan mengamati situasi.


"B-B-baik tuan."


Sira tampaknya sangat takut denganku dari saat aku mengeluarkannya dari mulutku dia terus gemetar, jadi untuk mengurangi rasa takutnya aku sedikit mengalihkan pembicaraan dan mengajaknya pergi dari tempat ini.


Aku juga sedikit kurang nyaman jika terus berada di tempat ini, setiap detik dari waktuku terasa penuh dengan ancaman dan bahaya, aku berlari cukup cepat agar lebih cepat sampai di tempat perlindungan.


.


.


.


"Huhh... sampai!" ucapku dengan nafas lega.


Karena orang itu masih berada di lantai 74 aku memutuskan untuk pergi ke lantai 75 dan berniat untuk pergi ke lantai selanjutnya dengan cepat agar dapat menghindarinya, untuk saat ini aku aku akan tinggal di lantai ini dengan tetap menjaga jarak dengan lantai 74.


"S-sebenarnya ada apa tuan? apa ada sesuatu yang terjadi?" tanyanya padaku.


"Yahh... bukan apa-apa... hehehe, ngomong-ngomong dari tadi kau pergi ke mana Sira? kenapa kau tiba-tiba saja menghilang?"


Aku sedikit berbohong padanya tentang apa yang kulihat sebelumnya aku juga kembali mengalihkan pembicaraan agar dia tidak banyak bertanya, aku tidak ingin membuat orang-orang di sekitarku khawatir.


"Dari tadi saya mencari anda tuan, apalagi sebelumnya saya mendengar suara raungan yang sangat keras."


"Ooh jadi begitu."


Hm...apa memang sekeras itu?


Ternyata dari tadi Sira memang sedang mencariku, sepertinya dia terbangun karena mendengar suara raunganku sebelumnya saat aku bertarung dengan monster-monster waktu itu.


"Yahh... sebelumnya memang ada sedikit perkelahian kecil hehehe, maaf ya."


...~•~...

__ADS_1


__ADS_2