I Was Reincarnated As A Dragon

I Was Reincarnated As A Dragon
Chapter 165: Takut


__ADS_3

"Aah!! hah hah hah…!!"


"Hanya… mimpi… ya…?" ucapku sambil merangkul kakiku.


Terbangun dalam keheningan kamar tanpa ada satupun orang di sekitarku, jantungku tak henti-hentinya berdebar sangat kencang dengan disertai rasa gelisah dan takut yang menghantuiku bahkan sampai membuat tubuhku bergetar, aku juga seolah mendengar suara halus yang melengking menusuk masuk ke dalam telingaku dan itu membuatku sangat tidak nyaman serta harus menutup rapat telingaku dengan kedua belah telapak tanganku, tapi walaupun begitu aku tetap saja bisa mendengarnya seolah suara itu berasal dari dalam kepalaku.


Aku merangkul erat kakiku dan membenamkan wajahku di antara kedua lututku yang masih terbungkus selimut hangat, aku benar-benar takut dengan mimpi yang aku lihat seakan-akan semua yang aku rasakan itu bukanlah mimpi semata melainkan sebuah kenyataan.


Tubuhku gemetar saat mulai terbayang ketika rantaiku aktif dengan sakit yang luar biasa, dalam mimpiku itu aku juga membentur-benturkan kepalaku ke dinding sambil berteriak seperti orang yang sudah kehilangan akal sehat, itu sangat menakutkan dan aku berharap tidak pernah mengingat mimpi itu lagi.


"Permisi nona, selamat siang."


"Sira… emh, selamat siang" sahutku sambil tersenyum.


Cukup lama aku terdiam sambil merangkul erat kakiku dengan perasaan yang tidak berubah, beberapa saat kemudian Sira mengetuk pintu kamarku dan setelah mengucapkan permisi padaku dia langsung masuk dengan melangkahkan kaki kecilnya yang menggemaskan.


Aku kemudian mengangguk kecil untuk mempersilahkannya masuk sambil memperbaiki posisi dudukku dengan meluruskan kakiku, aku juga berusaha untuk tetap bersikap tenang agar aku bisa lepas dari bayang-bayang mimpi itu, meski begitu tanganku masih saja gemetar dan karena itu aku harus terus menggenggam sisi selimutku untuk menutupinya.


"Ada apa nona, wajah anda terlihat pucat?" ucapnya sambil menatap heran wajahku.


"Eh! apa wajahku terlihat begitu?" ucapku pelan menatap lututku yang tertutup selimut.


" ...? "


"Um… tidak apa-apa, mungkin karena aku terlalu lama berada di dalam kamar" jawabku tersenyum sambil mengambil posisi duduk menyamping dengan kaki menjuntai.


Di saat aku ingin keluar dari selimut untuk menjuntaikan kakiku, Sira tiba-tiba menyinggung tentang wajahku yang terlihat pucat tanpa darah dan jujur aku sendiri tidak sadar dengan kondisi wajahku itu jika Sira tidak mengatakannya, dan agar Sira tidak khawatir denganku, aku langsung mengatakan alasan sederhana padanya seraya tersenyum tipis untuk menunjukkan bahwa aku baik-baik saja.


"Anda yakin?" tanyanya lagi.


"Emh, aku baik-baik saja" ucapku tersenyum sambil mengangguk kecil.


Kakiku gemetar dan seolah mati rasa saat telapak kakiku menyentuh lantai ketika aku mengambil posisi duduk menyamping, walaupun begitu aku beruntung masih bisa berdiri dengan baik tanpa harus terjatuh.


Ah... ini cukup nostalgia.


"Hahh… aku ingin menghirup udara segar di luar, kau mau ikut?" tanyaku pada Sira.


"Ya, tentu nona… hm... tidak, maaf nona… saya ada sedikit urusan yang harus diselesaikan" sahutnya sambil berjalan di sampingku.


"Baiklah, lagipula aku hanya pergi ke danau."


"Sekali lagi, maaf nona."


"Emh, tidak apa, selesaikan saja urusanmu" ucapku tersenyum seraya sedikit menggelengkan kepala.


Menatap langit-langit untuk beberapa saat aku terlihat sangat menyedihkan karena takut dengan hal sepele seperti itu, tapi meskipun begitu setidaknya aku masih memiliki sifat manusiawiku karena ini bukan pertama kalinya aku takut dengan mimpi terutama saat aku masih menjadi manusia.


Tidak ingin terlalu lama terkekang rasa takut ini, aku kemudian mengajak Sira untuk jalan-jalan agar aku dapat melupakan mimpi itu dengan menikmati hari yang cerah, tapi entah kesibukan apa yang sedang Sira lakukan dia tiba-tiba menolak ajakanku untuk pergi, aku tidak mempermasalahkan hal itu karena aku tidak ingin mencampuri urusan pribadinya, aku sendiri juga tidak suka jika ada orang yang ikut campur dalam urusan pribadiku. Jadi, aku bisa memaklumi itu.

__ADS_1


"Kalau begitu, saya pamit nona… permisi."


"Ya, berhati-hatilah Sira" sahutku padanya.


Setelah tiba di depan pintu rumah, Sira dan aku kemudian mengambil jalan yang berbeda dengan Sira yang menuju masuk ke dalam labirin sementara aku pergi ke arah sebaliknya menuju ke luar gua, entah kemana Sira pergi dia terlihat menggunakan sihir teleport, dan sebelum dia menghilang aku melambaikan tanganku padanya sambil tersenyum tipis beberapa saat hingga akhirnya Sira benar-benar menghilang tanpa jejak.


...✧⁠✧✧...


"Apa tempat ini memang terlihat gelap? Tidak mungkin cuma perasaanku saja, hahh… baiklah, tidak masalah… lagipula aku sudah terbiasa jalan-jalan sendiri."


.


.


"Ahh~ aku suka udara ini."


Berjalan sendirian di gua yang lembab dan cukup gelap, entah kenapa aku merasa tidak nyaman dengan keadaan gua ini padahal aku sudah sangat sering melewati jalan ini tanpa merasakan apapun.


Hari ini aku merasa sangat berbeda dengan biasanya, aku menjadi sering takut dengan hal-hal kecil yang bahkan membuatku merinding.


Sepanjang jalan hingga aku sampai di mulut gua, aku terus memegangi tanganku dan sesekali mengelusnya karena perasaanku yang tidak nyaman, nafasku terdengar kasar bukan karena aku sedang kedinginan melainkan karena aku tidak betah dengan keadaan ini seolah ada orang yang mengincarku dari balik kegelapan.


Untuk menghilangkan rasa takut yang tidak biasa ini aku kemudian bergegas membuka rimbunnya tanaman merambat yang memenuhi mulut gua dan mengikatnya seperti biasanya, perasaan aneh yang kurasakan sepanjang jalan seakan terangkat saat cahaya matahari menembus gelapnya gua di belakangku, aku sangat senang saat cahaya hangat menerpa wajahku yang membeku ketakutan, bunga putih bersih dengan sedikit sapuan warna kuning di bagian tengahnya terlihat sangat indah menghiasi bebatuan guaku dan aku sangat menyukai itu.


"Ahh... sebenarnya ada apa denganku?"


Perasaan ini tidak asing untukku...


Menatap tinggi ke langit biru yang cerah, sekilas aku kembali mengingat momen di mana aku sangat kesulitan untuk mendapatkan ketenangan dan terus dihantui rasa takut yang berlebihan, itu adalah momen yang membuatku sangat terpuruk dan aku tidak mungkin bisa melupakannya, tapi meski begitu aku sangat berharap bisa melupakan kejadian hari itu.


...


Srek srek...!


"Siapa di sana?!"


" ... "


"Emh~! hahh… mengagetkan saja."


Kenapa dia sangat sering muncul seperti itu? •_•'


Hampir tiba di dekat danau yang biasa aku kunjungi, semak-semak berukuran sedang di depanku tiba-tiba saja bergoyang dan tentunya itu membuatku terkejut dan reflek mengeluarkan pedangku dengan posisi siap untuk menebasnya, tapi beberapa saat sebelum aku benar-benar memotong semak-semak itu, seekor tupai melompat keluar menatapku tanpa bergerak dan ya itu cukup melegakan, tetapi juga menjengkelkan karena aku sudah cukup sering dikagetkan monster kecil yang satu ini.


"Hahh... jangan mengulanginya lagi ya… hehehe… bye bye" ucapku berjongkok sambil melambaikan tanganku.


.


.

__ADS_1


"Ahh... langit hari ini begitu cerah…"


Cukup senang karena yang muncul itu hanyalah tupai kecil yang sering lewat di tempat ini, aku kemudian kembali berjalan ke tepian sungai menatap aliran air yang tersapu angin, aku menutup mataku cukup lama sambil menengadah ke langit biru yang cerah membiarkan wajahku diterpa sinar matahari yang hangat.


Aku merasa sangat tenang karena untuk sekilas aku bisa melupakan kejadian buruk yang pernah aku alami. Meski begitu, aku juga merasa hampa dengan kehidupanku ini karena tidak ada orang bisa aku ajak bicara kecuali Sira yang sekarang pun juga sedang tidak ada di dekatku.


"… mungkin tidak ada salahnya jika aku berjalan lebih jauh."


.


.


"Entah kenapa kesannya mulai sedikit berbeda, ini pasti karena aku sudah sangat sering melihatnya... mungkin?"


...


"Ahh… setidaknya sensasi udaranya tidak berubah."


Merasa sudah cukup dengan pemandangan danau dan karena Cryle juga tidak muncul ke permukaan, aku kemudian mencoba untuk mencari suasana baru dengan jalan-jalan di hutan yang tidak jauh dari danau, tapi sekali lagi aku sangat sering berkeliling di tempat ini dan semua pemandangan yang aku lihat mulai terasa kurang mengesankan.


Karena itulah, aku memutuskan untuk terbang berkeliling melihat hutan dari udara, walaupun kesannya tidak jauh berbeda, tapi terbang mengudara lebih menyenangkan daripada hanya diam di tempat tanpa melakukan apapun.


Aku benar-benar senang dengan sentuhan angin kecil di atas kulitku karena itu terasa menggelikan, aku sangat berterima kasih pada angin lembut karena sudah menghiburku dari suasana hati yang buruk, dan karena sudah cukup bersemangat aku kemudian melaju kencang di udara untuk lebih menikmati suasana ini.


"Yosh! mari tambah kecepatan ehehehe."


...✧⁠✧✧...


"Ugh! Cukup sulit terbang dengan keadaan seperti ini, sebaiknya aku aku turun dulu."


...


"Em... sepertinya aku pernah ke bukit itu, baiklah aku akan mendarat di sana."


.


.


"Ahh... tempat ini sangat nyaman... meski cuaca agak terik, tapi untungnya pohon ini masih ada di sini."


Seperti biasa aku sangat menikmati penerbanganku, tapi satu hal yang tidak bisa aku nikmati adalah cuaca yang semakin memanas, itu cukup menyebalkan karena aku baru saja membangun semangatku untuk menjalani kehidupanku hari ini, dan sayang sekali aku masih tidak bersahabat dengan matahari.


Oleh karena itu, aku memutuskan untuk mencari tempat pendaratan yang cocok dijadikan sebagai tempat bersantai sambil menikmati pemandangan, dan sepertinya hari ini aku sangat beruntung karena aku menemukan bukti rumput yang dulu pernah aku singgahi saat rantaiku aktif.


Tidak ada yang berubah dari bukit rumput ini, semuanya terlihat hijau dan dipenuhi bunga rumput dengan aroma yang khas, bahkan pohon yang tumbuh di tengah bukit ini tampak tak mengalami perubahan setelah beberapa bulan aku tinggalkan, tapi aku itu bukan masalah untukku karena aku menyukainya.


Aku tersenyum sambil duduk bersandar pada batang pohon itu menatap awan-awan yang berjalan dan juga rumput yang bergoyang tertiup angin dengan anggunnya.


"Aku menyukai ini... tapi, tetap saja ketenangan ini terasa menakutkan" ucapku sambil tersenyum lurus ke depan.

__ADS_1


...🌹🌹🌹🌹🌹...


__ADS_2