
"Suatu hari nanti..."
...*****...
"Betapa banyak keangkuhan dan kesombongan yang jatuh di hutan ini, begitu banyak darah hitam yang mengotori rerumputan dan pepohonan... semua orang selalu saja berperang dengan mengutamakan kesombongannya, sampai akhirnya mereka jatuh dan mati karena kesombongannya itu juga."
"Impianmu memang tercapai, tapi begitu banyak orang yang mengotorinya... selama masih ada keangkuhan dan kesombongan dunia ini tidak akan pernah bisa damai dari peperangan dan perselisihan, apa yang kau ciptakan menghilang di telan waktu, sejarah akan terlupakan dan legenda akan memudar..."
"Dunia yang kau ciptakan memang sesuai dengan keinginanmu, tapi begitu banyak orang yang tidak bersyukur dengan itu dan terus menambah kebusukan dunia ini." Ucapku sambil sesekali menggoyangkan gelas kecil berisi minuman merah gelap di tanganku.
Aku duduk terlentang di atas sofa sambil meminum anggur dan menatap ke arah cermin daun di depanku mengamati dan mengawasi setiap pergerakan yang ada di dalam hutan El'o karena memang menjaga dan mengawasi hutan ini adalah tugasku sebagai roh hutan.
[Sekedar pemanis dan penjelasan Frenya duduk seperti ini... sulit untuk menjelaskan jika tanpa gambar untuk memperjelas. Note: Frenya tidak seperti ini ya dia punya rambut berwarna hijau cerah dan gaunnya sedikit lebih tertutup daripada itu.]
Meminum anggur tidak akan bisa membuatku mabuk sebanyak apapun aku meminumnya itu hanya terasa seperti meminum teh di pagi hari, aku tetap bisa fokus dengan tanpa harus mempedulikan mabuk berat, minuman itu hanya bagaikan air yang manis tidak lebih dan tidak kurang, meminum itu mengingatkanku pada seseorang yang tidak tahan dengan efek memabukkan dari minuman yang satu ini.
..._******_...
"Hmhh... hari ini terlihat lebih cerah dari biasanya." ucapku sambil perlahan berdiri.
Aku tinggal di sebuah pohon besar di tengah hutan yang dikelilingi oleh pegunungan tinggi, pohon yang besar dan menjulang tinggi yang tidak ada satupun orang yang bisa mencapainya kecuali orang-orang yang sudah sering datang ke sini.
"Huhh... sampai kapan kau akan membuatku menunggu, dunia ini sudah terlalu busuk untuk dilihat." ucapku sambil menatap ke arah matahari terbit.
"Dunia ini memang indah, tapi begitu keras dan kejam." Sambungku perlahan kembali duduk.
Di pagi yang cerah ini aku bangkit dari tempat sofaku berdiri di salah satu dahan pohon besar lalu kemudian kembali duduk di kursi yang ada di balkon rumah pohon sambil menatap matahari terbit seperti biasanya, merasakan kehangatan matahari dapat membuat pikiranku menjadi lebih tenang, setiap hari yang kulihat adalah pertumpahan darah yang sia-sia akibat dari tindakan yang semena-mena.
Banyak orang tewas di dalam hutan ini, banyak air mata kesedihan yang mengalir menciptakan dendam dan kebencian, penghianatan, pembunuhan, pembantaian, dan tangisan, begitu banyak aku melihat hal menyedihkan yang telah terjadi di hutan ini ratusan, ribuan, bahkan, jutaan tahun, aku telah melihat banyaknya kesedihan dan tragedi memilukan di hutan ini selama ratusan juta tahun.
Tidak peduli jahat ataupun baik selalu ada yang mati setiap harinya, yang jahat semakin jahat dan yang baik selalu tertindas dan terkhianati, selalu ada yang terpedaya dengan kata-kata manis yang berakhir tragis.
"Hmm rasanya masih sama seperti biasanya." Ucapku sambil meminum secangkir teh hangat sambil menikmati pemandangan pagi.
"Ahh... pagi yang sejuk dan menenangkan." Ucapku perlahan meminum teh yang hangat."
"Kalau begitu kau harus memakai selimut agar tidak kedinginan Frenya." Ucap seseorang padaku sembari meletakkan selimut di punggungku.
"Hm... kau tidak perlu datang sesering ini lolovi."
"Tidak masalah, aku punya banyak waktu luang untuk menemanimu di sini."
"Ya... terserah padamu... apa kau mau teh?" ucapku sambil menuangkan teh hangat ke gelas kecil.
Saat aku meminum teh tiba-tiba saja lolovi muncul dari belakangku dan langsung menyelimuti tubuhku dengan selimut agar tidak kedinginan, melihat dia datang aku kemudian mempersilahkan dia duduk lalu menyuguhkan secangkir teh hangat pada, dia selalu datang ke sini setiap pagi dan menemaniku meminum teh sambil bercerita tentang keseharian kami.
Lolovi sama sepertiku dia adalah seorang roh atau lebih tepatnya dia adalah roh air bisa dibilang dia satu-satunya roh yang sering mengunjungiku lebih dari roh mana pun, dia juga sering memberi tahuku tentang keadaan dan kabar di dunia roh lolovi adalah sahabat baikku sejak lama.
"Terima kasih." Sahutnya sambil mengambil gelas teh yang aku tuangkan sebelumnya.
"Jadi apa ada cerita menarik untukku?" tanyaku padanya.
"Hm... sepertinya tidak ada... aku hanya ingin bertemu denganmu saja." Sahutnya sambil meminum teh yang kuberikan.
"Ooh... baiklah... kalau begitu mari kita nikmati pagi hari ini." Ucapku sambil mengangkat gelas tehku ke arah lolovi.
"Tentu saja."
.
.
...*****...
"Sepertinya sudah cukup dulu Frenya." Ucapnya sambil meletakkan gelas teh di ayah meja.
"Ya... sampaikan salamku pada ratu dan yang lainnya."
Kami sedikit berbicara satu sama lain sambil meminum teh hangat menikmati pemandangan pagi yang cerah, sampai akhirnya lolovi mengakhiri jamuan minum teh ini dan bersiap untuk pulang ke dunia roh, sebelum dia menghilang aku menitipkan salam kepadanya untuk para roh lainnya dan juga untuk ratu.
"Oh benar juga... ada salam dari Shyla ' sesekali pulanglah ke rumah sebelum aku menyeretmu ' ya... seperti itulah katanya."
Apa apaan orang itu...
"Baiklah... kalau begitu sampai jumpa lagi nanti Frenya." Ucapnya sambil melakukan teleport.
"Ya aku menantikannya." Sahutku padanya
Begitu pun sebaliknya dia juga menyampaikan salam dari orang yang menyebalkan padaku, aku hanya diam mendengar ocehan itu lalu kemudian lolovi pergi dengan teleport pulang ke dunia roh sementara aku masih duduk menikmati cahaya pagi sambil sesekali meminum teh di depanku.
...*****...
"Halo dunia... seorang gadis cantik baru saja datang dengan kisah petualangan dan kehidupan barunya... siapa dia? itulah aku... hehehehe."
"YEEE**EE."
"Hm... apa itu?" ucapku sedikit bingung.
...
"Dia... gadis itu... apa mungkin, hm... sebaiknya aku mengawasinya dulu."
__ADS_1
"Wahhh!!! ini sangat menakjubkan ahahahaha." Ucapku sambil berlarian di padang rumput.
"Oww dia sangat bersenang-senang ya hehehe."
Di saat aku kembali menikmati minumanku tiba-tiba aku mendengar suara kejauhan yang dibawa oleh pepohonan padaku ditambah lagi aku juga merasakan aura kekuatan yang tidak terlalu asing bagiku, langsung saja aku membuat cermin kecil di depanku untuk melihat apa yang sedang terjadi dari asal suara itu.
Saat pertama melihatnya aku benar-benar tidak asing dengan wajah itu, tapi aku sedikit ragu dengan kekuatannya jadi aku memutuskan untuk tetap mengawasinya dari kejauhan.
...........
"Ah ya... benar juga... aku belum makan... hm... kira-kira apa ada yang bisa kumakan di hutan ini?"
"Rasanya jadi lemas lagi huhh... kenapa Sira masih belum datang?"
.
.
"Hutan sebesar ini tidak mungkin tidak ada makanan iyakan?" ucapnya sambil berjalan.
...........
"Hehehehe... wah wah... aku tidak menyangka dia akan selucu ini." Ucapku sambil tertawa kecil melihat tingkah laku gadis itu.
Gadis muda itu tampak sangat bersenang-senang berlarian di padang rumput yang hijau, sampai akhirnya dia berhenti dan kembali masuk ke dalam hutan dengan sedikit lemas karena kelaparan, dia terlihat sangat menggemaskan ketika seperti itu aku bahkan hampir tidak bisa menghentikan tawaku saat melihatnya.
"Eh! apa itu?! h-h-hantu?! t-tidak ayolah tenangkan dirimu, itu mungkin hanya halusinasi saat lapar."
"Upss.. sebaiknya aku diam dulu hehehehe... kalau begitu akanku bantu."
Sepertinya dia bisa sekilas mendengar suara tawaku dan itu sedikit mengganggunya jadi aku menghentikannya lalu membuat sebuah lingkaran cermin besar dengan menganyam sulur-sulur tanaman sebagai jalur teleport lalu perlahan masuk ke dalamnya.
Tidak perlu waktu lama untukku bisa sampai ke tempat gadis manis itu, tapi aku tetap menjaga jarak dengan dirinya agar tidak mengganggunya dan agar dia tidak curiga dengan kehadiranku.
...........
"Hm... jadi mulai dari mana dulu ya...?" ucapku sambil menatap gadis itu dari kejauhan.
Srekk Srekk
"WAAA!!!!"
Bug
"S-sakit!!"
...
Srekk Srekk
Srekk Srekk
"Aaaaa!!!"
.
.
Citt Citt Citt
"Eh! j-jadi itu hanya tikus ya... hehe... hehehehe."
Ssttt
"Mati kau hama sialan." Ucapnya dengan kesal.
"Ehhh... apa yang dia lakukan? a-apa dia takut dengan hal sepele seperti itu?" ucapku kebingungan.
Setelah sampai di tempat gadis itu aku langsung mengawasinya dari kejauhan dan memikirkan cara untuk membantunya, tapi aku malah melihat satu hal yang tidak terduga darinya aku bahkan hampir tidak bisa berkata-kata saat melihat tingkah lakunya itu, gadis naga itu jauh lebih lucu dari yang kukira.
"Ya ampun... kepribadiannya sangat jauh berbeda, yahh... mungkin karena dia masih anak-anak... hehehehe dia menggemaskan."
...........
"Hey bunga cantik, apa kau tau di mana ada makanan?" ucapnya sambil duduk memandangi bunga.
"Wah wah imutnya... hehehehe." Ucapku sambil menatapnya dari jauh.
Setelah cukup lama berjalan dia kemudian duduk bersandar di batang pohon dan mengajak bicara setangkai bunga rumput di sampingnya, aku melihat banyak hal menggemaskan dari kepribadiannya yang bahkan aku tidak pernah menduga bahwa ia bisa seperti itu.
"Siapa itu? siapa di sana?" tanyanya dari kejauhan.
"Pergilah ke arah danau, kau akan menemukan satu pohon apel di pinggiran danau itu, tapi ingat jangan memakan buah yang bercorak." Ucapku padanya sambil menunjuk ke kiri arah danau.
Melihat dirinya yang lemas karena kelaparan aku kemudian memunculkan diriku di hadapannya lalu memberi tahunya tentang letak pohon apel yang sedang berbuah dan juga melarangnya agar tidak memakan buah-buahan bercorak yang ada di sekitarnya, tapi itu semua tergantung bagaimana dia mendengarnya atau tidak karena jarak kami yang terbilang cukup jauh.
Setelah aku mengatakan itu dia kemudian pergi mengejarku, tapi aku menyamarkan auraku dengan pepohonan dan keadaan sekitarku dan karena tidak bisa mengejarku dia kemudian pergi mengikuti arah pandangan dan tempat yang aku tunjukkan sebelumnya.
"Yahh... kalau begitu untuk sekarang sudah selesai."
...*****...
"Eh! tunggu!" ucapku terkejut dengan yang gadis itu lakukan.
__ADS_1
"Woahh!! aku akan petik yang ini dan yang ini... owh! yang ini juga... dan di sana..." ucapnya sambil memetik banyak buah wipel.
"T-tunggu j-jangan ambil buah beracun itu, buah itu tidak bisa dimakan."
.
.
"Hehehe... sepertinya kali ini aku akan pesta apel." ucapnya sambil tersenyum menatap banyaknya buah di depannya.
"Seharusnya aku menghampirinya saja... kuharap kau tidak mati... tapi yahh... dia tidak mungkin mati."
Aku mulai sedikit menyesal karena tidak menghampirinya secara langsung, walaupun dia berhasil sampai di tempat pohon apel yang aku tunjukkan, tapi keadaannya sudah sedikit terlambat dia memetik banyak sekali buah wipel dan membawanya ke dekat danau sambil bersandar di pohon apel itu.
Dia juga memetik salah satu buah apel dari pohon itu, tapi sayangnya buah itu di ambil oleh monster pengerat yang menggangu, pada akhirnya dia kemudian memakan habis semua buah wipel itu walaupun dia tau rasanya sangatlah pahit, dia terlalu baik dan juga terlalu polos kepribadiannya ini benar-benar membuatku tak habis pikir bagaimana mungkin dia bisa memiliki kepribadian seperti itu.
"NONA....!!"
"Hm... apa itu Sira? tapi hehehe... kenapa dia bisa sekecil itu?" ucapku menahan tawa sambil menoleh ke kanan.
"Yahh... seharusnya aku perlu memikirkan itu... tuannya saja sudah seperti itu apalagi bawahannya... hehehehe."
Saat sedang memperhatikannya aku mendengar seseorang sedang memanggilnya yang ternyata adalah Sira si raja kucing kecil yang lucu, dia datang dengan membawa banyak makanan, tapi tidak satupun yang dimakan oleh gadis manis itu tentu saja karena perutnya yang kecil itu pasti sudah penuh dengan buah pahit yang sangat banyak, terlihat jelas dari wajahnya yang kehilangan nafsu makan.
...******...
GROAHHH
"Hm... kura-kura Crystal ya... pilihan buruk karena menantangnya monster seperti itu tidak akan pernah bisa mengalahkannya."
Saat mereka beristirahat di pinggiran danau itu tiba-tiba saja mereka di serang oleh seekor monster kura-kura, tapi itu bukanlah masalah besar lagi pun dia punya kekuatan yang jauh melebihi kura-kura raksasa itu.
.
.
"Eh! ada apa dengannya? seharusnya ledakan kecil seperti itu tidak akan bisa melukainya, ada apa ini?" ucapku merasa heran.
Kura-kura raksasa itu tidaklah terlalu kuat dan bahkan terbilang cukup lemah, tapi saat kura-kura itu menyerangnya dia tampak terjatuh karena tidak bisa mengendalikan kedua sayapnya, aku yang melihat kejadian itu merasa heran dengan apa yang terjadi di sini, karena aku tau kekuatannya tidaklah selemah itu.
...........
"Owh! kura-kura itu cukup kuat... tapi sudah cukup sampai di sini." Ucapnya sambil terbang ke arah monster kura-kura itu.
.
.
Ssttt
Duarrr
GROAAHHH
"Ugh...! kepalanya sangat keras."
.
.
"Mungkin lebih baik jika anda tidak membunuhnya nona, dilihat dari bentuk dan jenisnya itu mungkin monster Crystal." Ucap Sira padanya.
"Memangnya kenapa dengan itu? dia yang duluan menyerangku jadi aku hanya membela diri, tidak salah kan?"
"Y-yahh... tapi monster itu cukup langka untuk bisa dilihat."
"Hm... langka?"
Dia terlihat seakan sedang menahan sakit pada tubuhnya saat ia terjatuh sebelumnya, tapi walaupun begitu dia tetap bisa mengalahkan kura-kura itu dan hampir membunuhnya jika saja Sira tidak menghalanginya.
"Owh... apa dia tidak mengetahui itu?" ucapku kebingungan.
Aku mendengarkan pembicaraan mereka dari kejauhan menggunakan kekuatanku sebagai roh hutan, tapi mereka hanya membicarakan tentang kondisi dan keistimewaan kura-kura itu saja.
...........
"Ada yang aneh dengan dirinya, kenapa dia tampak kesakitan?"
.
.
"Hm... apa yang ada di lehernya itu?" ucapku sambil mengamati tubuhnya dari jauh.
"Itu bukan rantai penyegel, siapa yang berani melakukan itu padanya?" ucapku agak kesal.
Setelah selesai membicarakan tentang kura-kura itu dia kemudian mengobatinya dan duduk bersandar di kepala kura-kura raksasa itu, tapi aku merasakan ada sesuatu yang aneh tentang kondisi dirinya, walaupun dari kejauhan aku tetap bisa melihat nafasnya yang terengah-engah dan tubuhnya yang tampak sedang lemah.
Perlahan aku mengamati tubuhnya dan menemukan ada rantai yang melilit di lehernya, melihat itu membuatku merasa kasihan padanya, tapi juga membuatku merasa marah kepada orang yang melakukan itu.
...🥀~•~🥀...
...Saya tulis sampai sini dulu... kita lanjutkan part2 karena ceritanya sedikit diluar dugaan....
__ADS_1
...🙏...