
Sritt!
"Cih! aku benar-benar akan menghilangkan kedua tangan itu darimu!" ucapnya dengan kesal.
"Silahkan saja!" sahutku sambil tersenyum.
"Aku tidak akan segan melakukannya!" ucapnya masih dengan kesal.
"Hm, apa itu ancaman? karena saya tidak takut dengan itu!" sahutku sambil tersenyum puas.
Hehehehe, rasakan pembalasanku!
Dalam pertarungan ini aku tidak hanya menggunakan tebasan, tapi aku juga melancarkan pukulan yang penuh dengan kuku tajam padanya sampai akhirnya setelah beberapa kali saling berganti serang aku kemudian memutar tubuh saat dia berusaha untuk mengelak dari tebasanku dan berhasil menggores dadanya dengan cukup dalam menggunakan cakarku itu.
Dan yeah aku sangat puas melihat raut wajahnya yang terlihat kesal padaku, itu adalah poin awal dari kemenanganku walaupun akan lebih baik jika saja dia terkena tebasanku.
Raut wajah penuh kekesalan dan matanya yang sudah sangat tersulut emosi aku benar-benar sangat menikmati itu, ucapannya yang dia lontarkan juga sudah mulai berubah menjadi ancaman yang akan membuat bulu kuduk merinding jika dia benar-benar bisa melakukannya, tapi tentunya melakukan itu padaku tidak akan semudah yang dibayangkan.
Dengan tersenyum puas melihat keadaan yang menggelikan ini aku tidak mengindahkan ancaman dari iblis Leron itu, karena ancaman receh seperti itu tidak akan pernah bisa membuatku takut, walaupun dia mengatakan akan memotong tangan dan kakiku sekalipun aku tidak akan pernah takut padanya itu karena dia sudah berulang kali melontarkan ancaman padaku dan aku sudah cukup kebal dengan itu.
"Kau benar-benar membuatku marah nona!" ucapnya sambil bola api dari tangannya.
…
Hm, merah ya? itu lebih mirip matahari mini daripada api, eh tunggu! bukannya matahari itu orange?
"Tapi, yang di atas sana warnanya kuning" ucapku pelan menengadah ke atas. "•_•
…
"Apa yang kau lihat nona!!" ucapnya sambil melemparkan bola-bola api itu.
"Woaa bahaya!!"
Sring!!
Keras!!, pikirku sambil terus menangkis bola-bola api itu dengan pedangku.
__ADS_1
DUARRR
"Walaupun kecil, tapi efeknya cukup besar!" ucapku pelan menatap ke belakang.
"Ekh! sepertinya tanganku terkena sedikit serpihan api itu!" ucapku sambil memegang tanganku.
Penuh dengan kekesalan terhadapku iblis Leron kemudian menggunakan sihirnya membuat lima buah bola api merah seukuran bola golf di kedua belah tanganny bahkan juga di belakang tubuhnya, melihat itu sedikit mengingatkanku pada matahari yang ada di atas kepalaku walaupun sangat jelas perbedaannya dengan apa yang terlihat.
Masih sambil menatap ke arah matahari yang bersinar cerah di atas kepalaku iblis Leron tiba-tiba melemparkan dan memunculkan bola-bola api itu secara terus menerus sampai lima kali lemparan yang dia arahkan padaku, dan karena aku cukup lengah saat dia melakukan serangan itu aku sedikit terkejut saat harus menangkis dan memotong setiap bola-bola kecil itu.
Walaupun sedikit terkejut aku tetap berhasil menangkis juga membelah bola api itu dan bahkan aku dapat merasakan kekerasan dari bola-bola merah yang melesat dengan cepat itu, aku merasakan keras dan panas setiap kali aku menangkis dan membelahnya aku dapat mendengar suara pedangku yang bergemerincing dengan percikan api saat keduanya saling berhantaman.
Aku seperti sedang membelah sebongkah batu keras yang membara bahkan aku sedikit berkeringat karena bola-bola itu terasa sangat panas saat melewatiku dan juga ada beberapa bola api yang berhasil menggores kulit tanganku sampai memerah dan melepuh.
"Bagaimana nona?!! cukup menyakitkan bukan?" ucapnya padaku sambil tersenyum tajam.
"Itu memang sakit, tapi tidak berguna sama sekali!" jawabku padanya.
Ah, aku tidak suka kulitku tergores! beruntung regenerasiku tidak ikut tertahan oleh rantai ini.
Setelah selesai melakukan serangannya dan berhasil menggoresku iblis Leron terlihat begitu puas dengan senyuman liciknya yang mengerikan tergambar di wajahnya, dia juga kembali membanggakan dirinya dengan serangan kecil itu, tapi jujur aku sedikit bingung dengan jalan pikiran iblis ini dia terlihat begitu puas dengan serangan kecil yang bahkan tidak benar-benar melukaiku karena luka gores itu langsung menghilang setelah beberapa detik melukaiku.
"Sayap? ha!!? sejak kapan!!?" ucapku terkejut.
K-kenapa regenerasiku tidak bekerja?!
"Cih! gawat!! jika terus dibiarkan…" kataku menjatuhkan pedangku.
"ARGHHH!!! haah haah haah! sakit!! jadi itu gunanya serangan tadi?!"
Bug!
"Akhh!"
DUARR!
...
__ADS_1
"Ekhh! s-sakit!! Sir… tidak! aku tidak boleh merepotkannya, ini karena aku yang terlalu meremehkannya!" ucapku berusaha bangkit dengan meraih batang pohon di belakangku.
Entah apa lagi yang ada di pikirkan iblis Leron tiba-tiba saja dia mengarahkan tangannya ke belakangku dan memuji sayapku, aku curiga dengan gerak-gerik kemudian menatap kedua sayapku dan benar saja kedua belah sayapku berlubang dengan bara api yang membakarnya sedikit demi sedikit, melihat itu sontak saja membuatku terkejut karena sayapku yang terbakar tidak menunjukkan tanda-tanda penyembuhan dan malahan semakin memperbesar luka bakarnya.
Rasa perih dan panas sangat terasa di kedua sayapku bahkan sampai ke punggungku, sayapku yang putih berubah menjadi hitam dan merah pada setiap luka bakarnya, aku bahkan dapat mencium aroma kulit terbakar dan melihat dengan jelas sayapku yang telah hangus.
Melihat tidak ada tanda-tanda regenerasi pada sayapku dan karena lukanya semakin membesar membuatku merasa khawatir jika efek pembakarannya sampai ke tubuhku mungkin akan berakibat fatal apalagi sihirnya yang mampu menghambat regenerasiku.
Dan dengan penuh keterpaksaan aku menjatuhkan pedangku kemudian mencengkeram kedua belah sayapku lalu merobeknya dengan rintihan rasa sakit setiap kali aku menariknya, rasa sakit yang menjadi-jadi menghantam punggungku setelah kedua sayapku putus, sambil terus memeluk tubuhku yang bersimbah darah aku terjatuh dengan bertumpu pada lututku, tapi tiba-tiba saja iblis Leron muncul di hadapanku dan langsung menendang perutku sampai aku tersungkur ke tanah.
Setelah berhasil membuatku terjatuh iblis Leron kemudian sekali lagi menendang tubuhku sampai akhirnya aku terpental menghantam pohon dan tersandar di sana, masih merasakan sakit di sekujur tubuhku sekilas aku ingin memanggil Sira untuk membantuku, tapi aku langsung menghentikan itu karena aku tidak ingin merepotkan dirinya apalagi mengingat dirinya yang sudah menghadapi kelima undead suruhan Leron seorang diri, sedangkan aku sendiri malah kewalahan hanya karena menghadapi satu orang.
Crakk!
"ARGHHH!!! tanganku?!! aaa!! ekhh!!"
"Nona nona nona! aku tau kau itu kuat, tapi kau terlalu polos dalam pertarungan, apa kau tau akan lebih mudah jika mengincar titik lemah lawan daripada harus menggunakan kekuatan!" ucapnya sambil mencekik leherku.
"J-jadi itu yang kau incar dari awal! ekhh!!" kataku sambil berusaha melepaskan tangannya dari leherku.
Saat sedang memegang batang pohon untuk berusaha berdiri satu serangan sihir seperti bulan sabit menebas tanganku hingga putus dan mengeluarkan banyak darah bahkan pohon yang aku pegang juga ikut terpotong dan tumbang, sambil merintih memegangi lengan kananku yang terpotong aku berusaha mencegah pendarahan yang lebih besar karena lukaku tak kunjung sembuh seperti ada sesuatu yang menghalangi kemampuan regenerasiku.
Dan sesaat setelahnya iblis Leron kembali mendekat ke arahku lalu mencengkeram leherku dengan sangat kuat lalu mengangkat tubuhku sampai-sampai aku kesulitan untuk bernapas, sesak napas, darah yang bercucuran, dan sakit yang berlebih aku benar-benar tidak bisa bergerak lagi, satu hal yang aku sadari dari ucapannya adalah dia yang memang sudah mengincar kedua sayapku karena itu merupakan titik yang paling lemah dan berisiko terkena serangan.
"Aku tau kau punya kemampuan regenerasi yang cepat, matamu juga sangatlah tajam dalam melihat serangan dan kau punya refleks yang bagus dalam menghadapi serangan dadakan, tapi satu hal yang membuatmu gagal adalah kau yang terlalu ceroboh, hanya dengan melihat gerakanmu aku tau kau hanyalah seorang anak amatir yang baru belajar bertarung" ucapnya sambil terus mencengkeram leherku.
"…!"
Sakit!! k-kenapa regenerasiku tidak bekerja? Sira tolong!
"Haa, apa itu air mata? apa kau menangis nona? HAHAHAHA!! menangislah sekeras yang kau bisa, biarkan aku yang menghapus air matamu nona" ucapnya sambil mengelus wajahku.
Dengan terus mencekik leherku iblis Leron menjelaskan semua pengamatannya tentangku, kemampuan regenerasiku, penglihatanku, juga pergerakanku dia bisa menebak dan mengetahui kemampuan khususku, setelah dia mengatakan itu semua aku menjadi sadar bahwa bukan dia yang menganggap remehku, tapi aku yang terlalu meremehkannya.
Sejak awal pertarungan dia sudah mengamati setiap pergerakanku dia orang yang hebat dan kuat, walaupun aku kuat kekuatanku sama sekali tidak berguna untuk menghadapi orang yang sudah sangat terlatih dalam pertarungan, aku baru hidup sembilan tahun dan yang aku hadapi hanyalah monster liar yang tidak teratur wajar saja jika dia menyebutku sebagai anak amatir yang baru belajar, melihat tidak ada celah untukku membalik keadaan aku tidak menyadari air mataku mengalir dengan berharap Sira datang menolongku.
Tanpa melepaskan leherku iblis Leron mengelus dan menyapu air mata di pipiku dengan senyumannya yang terlihat sangat menikmati rasa sakitku, dan aku hanya bisa menggenggam lemah tangannya berusaha untuk melepaskan diri dari cengkeramannya.
__ADS_1
...🌹*****🌹...