I Was Reincarnated As A Dragon

I Was Reincarnated As A Dragon
Chapter 56: Kristal Sihir


__ADS_3

Setelah selesai melepas kepergian jiwa-jiwa itu aku kemudian berdiri untuk melanjutkan perjalananku mencari petunjuk arah selanjutnya dan untuk memastikan bahwa jalan yang kulewati ini adalah jalanan yang benar juga untuk mengetahui seberapa dekat aku dengan gua pintu keluar itu.


Hm... pedang itu sepertinya masih bagus, yahh kalau begitu... daripada sia-sia dan menjadi besi berkarat lebih baik aku yang menggunakannya... hehehe.


"Anu... nona."


"Ya ada apa?"


"Untuk apa anda membawa pedang itu?" Tanya Sira padaku.


"Hm...yahh... karena aku suka bentuknya yang ringan dan tipis, dan juga mungkin ini akan berguna untuk memotong-motong sesuatu." Jawabku.


"Memangnya ada apa Sira?"


Sebelum melanjutkan perjalanan aku mengambil pedang milik petualang itu lalu membawanya bersamaku, sekarang tanganku benar-benar penuh dengan barang bawaan.


Tangan kananku membawa vas bunga dan satunya lagi membawa pedang aku cukup kerepotan dengan itu terlebih lagi rasa sakit di leherku masih belum hilang dan bahkan masih belum berkurang sedikitpun.


Tapi aku tetap bersikap seperti biasanya saja seolah tidak terjadi apa-apa, aku tidak ingin membuat orang di sekitarku merasa khawatir denganku, lagi pula rasanya tidak terlalu sakit jadi tidak ada yang perlu dikhawatirkan.


"Tidak, bukan apa-apa, hanya sedikit penasaran hehehe." Sahutnya.


.


.


.


"Hm... kalau tidak salah... ada di sana, wooah! itu dia tempatnya! lihat Sira!" Ucapku sambil menunjuk bunga-bunga yang bermekaran.


Cukup lama aku berjalan menyusuri jalanan labirin akhirnya aku melihat petunjuk arah yang kedua, itu adalah tumpukan bunga-bunga yang bersinar di kegelapan.


Dari bunga itu terpancar energi sihir yang menyebabkan bunganya berwarna-warni bagaikan pelangi, ada yang bewarna merah muda, kuning, biru, dan lain sebagainya, bunga-bunga itu benar-benar sangat indah aku hampir tidak bisa memalingkan wajahku saat melihatnya, aura keindahan bunga-bunga itu membuat suasana mencekam di sini menjadi sangat tenang dan nyaman sangat menghanyutkan.


"Ya nona, tempat ini sangat menakjubkan." Sahut Sira.


Ssttt!!


Tampaknya aku tidak diberikan kesempatan untuk menikmati bunga indah itu, tiba-tiba saja ada sulur-sulur tanaman yang melesat menyerangku dengan gesit dari bawah bunga-bunga itu, menyadari serangan itu aku langsung melompat menghindar ke belakang.


Huh... apa itu tadi?


"Anda baik-baik saja nona?"


"Ya, tapi apa itu tadi?"


"Mungkin itu monster yang berkamuflase dengan tumbuhan yang ada di sini." .


Grahhh...


Ahh... tidak bisakah aku melewati hari ini tanpa bertarung, leherku bahkan masih terasa sakit.


"Yahh... seperti itulah bentuknya." Ucap Sira sambil menatap ke arah monster tanaman itu.


Perlahan sosok monster yang menyerangku itu menunjukkan dirinya, monster itu memiliki bentuk tubuh yang kurang lebih sama dengan manusia hanya saja terlihat begitu menyeramkan dengan kulit hijau pekat dan tubuh yang dililit sulur-sulur tanaman, monster itu berdiri di atas tumpukan bunga dengan sulurnya.

__ADS_1


Aku tidak bisa bertarung dengan kondisi seperti ini...


"Hm... Sira bisa kau hadapi dia?" pintaku pada Sira.


"Tentu nona dengan senang hati." Sahutnya.


Graahhhhhh!!!


Karena kondisiku masih belum baik aku kemudian memerintahkan Sira untuk melawan monster itu, walaupun rasa sakitnya sudah jauh berkurang tapi aku masih kesulitan untuk mengontrol nafasku karena rantai itu masih terasa mencekikku.


Sira langsung berubah dan berlari cukup kencang ke arah monster tanaman itu lalu beberapa kali mengelilinginya untuk mengecohnya dan sepertinya monster itu benar-benar termakan oleh umpan Sira, monster itu mengikuti pergerakan Sira tanpa mempedulikan keadaan sekitarnya.


.


.


.


"Yoshh... sepertinya kondisiku sudah lebih baik." Ucapku sambil menatap tanganku.


Karena Sira yang bertarung aku bisa memanfaatkan waktunya untuk memulihkan kondisiku dan perlahan aku sudah tidak lagi merasakan sakit dan sesak nafas, keadaanku sudah benar-benar pulih seperti sebelumnya.


Roaarrr


"Wahh... sepertinya sudah hampir selesai." Ucapku sambil menatap Sira.


Graahhhh


"Wah wah... dia ingin kabur, tidak akan kubiarkan hehehe." Ucapku sambil tertawa kecil menatap monster itu.


...


Ssttt!!


Melihat banyak celah Sira kemudian langsung menerkamnya dengan sangat fatal, bahu dan tangannya robek dan terlepas dari tubuhnya sontak saja monster itu menjerit dan berniat untuk melarikan diri dengan masuk ke dalam tanah.


Tapi melihat itu aku langsung mengambil ancang-ancang lalu melesat ke arahnya sambil memegang pedang di tanganku dan seketika saja aku berhasil mendaratkan pedangku di lehernya lalu memenggal kepalanya dengan sangat rapi.


Jika saja monster itu tidak menoleh ke arahku mungkin kepalanya akan tetap ada di atas lehernya, tapi sayangnya dia memutar kepalanya menatap ke arahku dan saat itu juga kepalanya terjatuh ke tanah, darah hijaunya bercucuran dengan deras keluar dari tubuhnya, itu terlihat sedikit menjijikkan bagiku.


"Terpotong dengan sempurna." Ucapku sambil mengibaskan pedangku.


"Pedang yang tajam nona." Ucap Sira padaku.


"Ya... ini lebih tajam dari dugaanku." Sahutku sambil menatap bilahan pedangnya.


Sejujurnya aku tidak menyangka bahwa pedang itu akan setajam ini walaupun pada dasarnya pedang itu memang tajam, tapi ini diluar perkiraanku, meskipun begitu aku tetap senang dengan hasilnya hehe.


"Yoshh... tempat ini memang indah, tapi tujuan kita ada di depan sana, ayo pergi Sira." Ucapku sambil berjalan.


Setelah membunuh monster itu aku kemudian kembali berjalan memasuki jalur kanan yang ada di sebelah taman bunga itu, sulit rasanya untuk meninggalkan tempat ini pemandangannya cukup memanjakan mata, tapi tempat tujuanku sudah ada di depan sana jadi aku tidak ingin menunda-nunda lagi pun aku bisa pergi ke tempat ini sesuka hatiku kapan pun aku mau.


...


"Owh... apa ini? batu ini sedikit berbeda dengan kristal sihir yang sering kutemui." Ucapku sambil menatap ke sekelilingku.

__ADS_1


Saat aku mulai memasuki jalur ini aku sedikit terpesona dengan tumpukan kristal kecil yang menempel di langit-langit dan dinding labirin, secara fisiknya memang tidak berbeda dengan kristal yang sering aku temui, tapi bentuknya hanya sebesar telapak tangan saja dan tidak lebih dari itu.


"Yahh apa peduliku... kalau begitu akan aku bawa beberapa hehehe." Lanjutku sambil mengambil beberapa kristal kecil itu.


Warna dari kristal itu seperti pelangi berbeda dengan kristal pada umumnya yang hanya memiliki satu warna saja pada batangannya, menurutku itu cukup unik jadi aku mengambil beberapa untuk koleksi hehehe.


Walaupun aku bilang beberapa, tapi ini lumayan banyak hehe.


Aku meletakkan kristal-kristal itu di atas syalku lalu membungkusnya bersama dengan pedangku.


"Selain itu tempat ini juga penuh dengan tanaman merambat, buahnya juga sangat mirip dengan stroberi... apa ini stroberi dari dunia lain?" ucapku sambil memetik buah itu.


"Emmm... buah ini enak, daging buahnya tebal dan rasanya sangat persis seperti stroberi." Lanjutku sambil menggigit buah itu.


Di tempat ini juga terdapat tanaman merambat yang terbilang cukup unik setidaknya menurutku, buahnya sangat mirip dengan stroberi hanya saja tidak ada biji di luarnya, tapi bijinya berada di dalam seperti jambu air dan itu pun hanya seukuran biji jeruk, sangat memuaskan lidah.


"Yoshh... aku juga akan mengambil buah ini hehehe."


"Hm... oh! aku ingat! kalau tidak salah dulu aku pernah memetikkan buah ini untuk sekelompok orang... hm... apa mereka baik-baik saja ya? yahh... kuharap mereka tidak masuk ke dalam labirin lagi." Ucapku sambil duduk di atas batu.


...


"Hoahhh... apa yang anda lakukan nona?" tanya Sira padaku.


"Owhh... Sira kau sudah bangun!?"


Saat memulai perjalanan tadi Sira tampak sedikit mengantuk jadi aku mengangkatnya dan meletakkannya di atas kepalaku lalu memintanya untuk segera tidur, tapi sayangnya dia menolak jadi aku mengubah ucapanku dengan kata perintah dan setelah itu Sira akhirnya mau tidur, mau tidak mau dia pasti menurutinya hehe.


"Y-ya nona."


"Hey Sira apa kau tau ini kristal apa?" tanyaku pada Sira.


Karena penasaran aku kemudian bertanya pada Sira dengan terus memegang dan menatap Kristal sihir itu secara seksama, dilihat dari mana pun kristal itu tetap terlihat unik karena berbeda dari kristal pada umumnya, aku suka dengan warnanya yang indah.


"Hm... dilihat dari warna dan kandungan sihirnya sepertinya itu mineral sihir."


"Mineral sihir?"


"Ya bisa dibilang itu kristal sihir yang dicari-cari oleh para semua orang, itu benda yang terbilang langka dan juga mahal jika dijual." Jelas Sira.


Mahal?


"Memangnya ini untuk apa Sira?" tanyaku sekali lagi.


"Biasanya para yang petualang mencari kristal itu lalu mengirimnya ke pandai besi untuk membuat senjata sihir yang kuat dan tidak mudah rusak ketika menghadapi musuh yang kuat... yahh... senjata yang bagus menentukan hasil yang bagus pula." Lanjut Sira menjelaskan.


"Hm... tapi hanya bermodal senjata yang bagus tanpa keahlian bukankah itu percuma?" ucapku sambil bertanya.


"Itu memang benar nona, keahlian itu sangat penting baik itu keahlian kekuatan atau keahlian pemikiran adalah hal yang utama yang harus dimiliki oleh setiap orang terutama untuk para petualang dan prajurit, tapi dengan adanya senjata yang mendukung keahlian itu maka tingkat kemenangan dan keberhasilan sebuah misi akan semakin besar." Jawab Sira menjelaskan.


"Jadi begitu..." ucapku pelan.


"Yahh... kurasa itu ada benarnya."


Apa yang diucapkan Sira memang ada benarnya intinya senjata yang kuat akan mendukung seseorang dalam bertarung melawan musuh yang kuat, tetapi itu pun juga harus disertai oleh keahlian karena jika tidak maka mempunyai senjata yang bagus pun tidak ada gunanya orang itu akan tetap terbunuh walaupun memiliki senjata yang sangat kuat sekalipun.

__ADS_1


...~•~...


__ADS_2