I Was Reincarnated As A Dragon

I Was Reincarnated As A Dragon
Chapter 50: Menenun


__ADS_3

"Ayo pulang Sira."


"Baik nona." Sahutnya.


Setelah selesai membereskan gumpalan bulu itu aku kemudian pulang ke rumah, tentunya juga dengan Sira yang juga sudah selesai dengan makanannya.


...


"Hm... ini terlalu bagus untuk dijadikan karpet ruangan, sebaiknya aku jadikan aksesoris baju atau selimut saja." Ucapku sambil memegangi bulu cave bear itu.


Tidak perlu waktu lama untuk bisa sampai di rumah karena tempat ini tidak terlalu jauh dari lokasi rumahku, aku sangat beruntung bisa menemui cave bear di dekat rumahku jadi aku tidak perlu mencarinya jauh-jauh ke sana-kemari.


Saat sampai di rumah aku melihat-lihat kembali bulu dari monster cave bear itu dan setelah dipikir-pikir aku tidak akan membuat karpet dari itu karena bulunya yang terlalu bagus, bulu cave bear itu lebih cocok jika dijadikan sebagai bahan aksesoris pakaian atau sebagai selimut untuk tidur.


Mengenai bulu ini bisa kupikirkan nanti, sebaiknya aku cepat membuat kainnya.


"Sira, aku akan mulai untuk menenun kain, jadi tolong jangan ganggu aku sampai aku selesai membuatnya." Ucapku pada Sira.


"Baik nona."


"Oh ya, satu lagi aku sudah meletakkan makanan di dapur untuk persediaan dua bulan, kau bisa memakannya tanpa harus menungguku." Lanjutku.


"Baik nona." Ucapnya sambil berjalan ke dapur.


"Wahh... dia langsung pergi ke dapur, padahal baru saja makan hehehe." Ucapku pelan.


Kadang aku lupa kalau Sira bisa makan sangat banyak dengan tubuh sekecil itu, Sira langsung pergi ke dapur saat aku menyebutkan ada makanan di sana, mungkin makanannya akan habis sebelum waktu dua bulan.


"Yahh... sekarang waktunya kerja keras."


Aku kemudian masuk ke dalam kamar di lantai satu lalu menguncinya agar tidak ada gangguan saat aku sedang menenun kain, karena untuk menenun kain perlu konsentrasi dan ketenangan.


Menenun itu tidaklah mudah perlu waktu dan konsentrasi dalam pembuatannya, tapi karena aku sudah belajar mulai dari sekolah dasar aku sudah terbiasa dengan semua itu.


Aku belajar menenun dari nenekku, nenekku orang yang hebat dia mengajariku banyak hal yang berguna.


"Sudah sangat lama aku tidak melakukan ini, tapi aku akan berusaha." Ucapku sambil duduk di depan alat tenun.


Setelah selesai memasang benang pada alat tenun itu aku langsung memulai proses pembuatan kainnya, melakukan ini mengingatkanku pada masa lalu, benar-benar nostalgia.


Suara alat ini seakan membawa ketenangan yang menghanyutkan, bahkan jika tidak menyadarinya kau pasti sudah tidak makan berhari-hari, tapi untungnya aku tidak akan mati hanya karena itu, aku bisa bertahan tanpa makanan selama beberapa hari.


Tapi, agar tidak terjadi hal yang sulit aku juga menyediakan makanan sendiri di dalam kamar, walaupun mungkin aku akan sering lupa makan saat membuat ini.

__ADS_1


*****


"Sepertinya ini sudah cukup, aku bisa membuat setidaknya dua buah baju dengan ini."


"Hm... kira-kira sudah berapa lama aku membuat ini?" ucapku sambil menatap pintu.


Entah berapa lama aku menenun kain ini, tapi aku sudah berhasil menyelesaikannya dengan baik, cukup untuk membuat beberapa baju sederhana dan mungkin akan ada sisa kainnya.


"Sebaiknya aku melihat keadaan Sira mungkin dia sedang kelaparan karena kehabisan makanan hehehe."


.


.


"Sira."


"Hm... di mana dia ya? Sira?"


"Hoaahhhh... saya di sini nona." Sahut Sira.


Setelah beberapa kali memanggilnya Sira akhirnya dia menjawabku, ternyata dia sedang tidur di kamar atas, yahh awalnya kukira dia sedang berada di dapur karena memang itu kebiasaannya hehehe.


"Owhh! ternyata kau di sana."


"Ya nona, apa anda sudah selesai?" ucap Sira sambil menuruni tangga.


"Ya, jreng jreng! lihat ini Sira." Ucapku sambil memperlihatkan kain buatanku.


"Hm... putih polos?" ucap Sira sambil menatap kainku.


Ucapan Sira memang benar tidak ada warna lain selain putih di kain tenunku, itu karena aku tidak bisa membuat benang berwarna, jika aku berusaha aku mungkin bisa membuat beberapa warna seperti warna merah jika aku mencampur benangnya dengan darahku dan biru dari darah monster, karena seingatku ada beberapa monster yang memiliki darah berwarna biru seperti laba-laba yang kukalahkan sebelumnya.


"Y-yahh kurasa memang terlihat agak hampa, tapi!! aku suka warna putih polos seperti ini, walaupun mudah kotor."


"Hm... hey Sira sudah berapa lama aku membuat ini?" tanyaku sambil duduk memandangi bunga lily-ku.


"Ya... mungkin sekitar dua bulan atau lebih." Ucap Sira sambil berguling memainkan daun bunga lily.


Yaa... itu hal yang wajar sih... yang tidak wajar aku bisa bertahan selama itu. "•_•


"Duh... Sira jangan mencakar daunnya, nanti kau akan merusaknya." Ucapku sambil menarik vas bunga dari hadapan Sira.


"Hehehehe maaf nona."

__ADS_1


"Sebaiknya aku makan setelah itu melanjutkan ke tahap selanjutnya."


.


.


"Hm... sudah kuduga dia menghabiskannya."


Aku kemudian pergi ke dapur untuk makan sementara Sira masih duduk di meja, aju harus menyiapkan tenaga sebelum kembali untuk membuat baju, tapi seperti yang aku duga semuanya sudah habis, aku memaklumi itu karena memang sudah dua bulan berlalu sejak aku ngisinya.


"Untungnya aku masih punya banyak di ruang penyimpanan, kalau begitu sekalian saja aku stok ulang untuk beberapa hari ke depan."


Karena makanan di dapur sudah habis aku kemudian mengisi ulang persediaan selama beberapa hari ke depan, lalu mengambil sedikit untuk kumakan sendiri.


"Ahh... kenyang, terima kasih makanannya."


"Tapi, sesekali aku ingin makan makanan yang lain bukan hanya makan daging, yahh aku harus cepat menyelesaikan bajuku lalu keluar mencari makanan yang enak hehe."


Mulai saat ini mencari makanan yang enak adalah salah satu tujuanku, karena selama ini aku hanya makan daging terus-menerus dan tidak pernah merasakan makanan yang lain.


Secara alami makanan monster predator sepertiku memang daging, tapi aku yang sekarang tidak lagi bertubuh monster dan entah kenapa aku malah merasa sedikit jijik dengan daging monster.


Mengingat bentuk mereka yang menyeramkan dan sedikit menjijikkan membuatku kehilangan nafsu makan, tapi walaupun begitu itu masih terasa enak saat memasuki mulutku, untuk sekarang cuma itu yang bisa kumakan setidaknya sampai aku keluar dari labirin ini.


"Aku juga akan membeli beberapa bahan dapur lainnya, tentunya jika aku sudah keluar dari labirin ini."


"Emhhh... yahh sebaiknya aku cepat menyelesaikannya." Ucapku sambil melakukan sedikit peregangan.


.


.


"Sira aku akan melanjutkan pekerjaanku jadi jangan melakukan... hey apa kau mendengarkanku?! dan jangan menjadikan bunga itu sebagai mainan."


"Hehe iya nona."


Aku suka bunga itu warnanya terlihat sangat cantik dan anggun, aku merasa tenang ketika menatapnya seolah-olah membawa kehangatan yang menenangkan dan tidak akan kubiarkan itu rusak, untungnya bunga pertamanya sudah berbiji jadi aku bisa memperbanyaknya.


"Kalau begitu aku akan melanjutkan pekerjaanku bye bye." Ucapku sambil masuk ke dalam kamarku.


...


"Yoshh... waktunya membuat baju hehehe."

__ADS_1


...~•~...


...Maaf ya segini dulu 🥀...


__ADS_2