
"Aku benar-benar tidak menyukai perbuatan kejam seperti itu, aku pasti akan menghentikan dan menyadarkannya jika aku melihatnya melakukan itu" ucapku sembari mengepalkan tanganku dengan serius.
"K-kamu memang sangat berani ya Shea" ucap Noel padaku
"Ini bukan soal keberanian, tapi tentang perikemanusiaan dan menghargai setiap orang yang bernyawa…" sahutku dengan wajah yang serius.
Mendengar cerita dari Toki tentang naga yang kejam dan tidak berperikemanusiaan, aku cukup kesal dengan hal-hal yang berbau kekejaman seperti itu apalagi sampai menghancurkan sebuah negara menurutku tindakan itu sangat berlebihan, dan dengan mengepalkan tanganku aku merasa harus bertindak untuk menghentikan naga itu, tentu saja jika tragedi itu terjadi di hadapan mataku jika tidak terjadi di depanku, aku tidak mungkin bisa menghentikannya karena aku juga tidak tau di mana dia mengamuk hehe.
"Tapi… naga bumi ya…? hm…?"
"Ada apa Shea? apa kau teringat sesuatu?" tanya Toki padaku.
"Um… entahlah, aku tidak ingat kalau ada naga bumi sekuat itu di dalam labirin... rata-rata kekuatan mereka jauh lebih lemah dariku, tapi…"
Apa mungkin orang itu ya? hm...?
"Apa kamu tau sesuatu Shea?" tanya Noel padaku.
"Aku juga bingung, tapi… aku pernah bertemu dan berhadapan dengan seseorang yang selalu di kelilingi naga, ya… mungkin cuma dia lawan kuat yang pernah aku hadapi saat aku sudah seperti ini... kalian ingat saat aku bilang aku pernah berbuat kesalahan dengan para naga iyakan? yahh… orang itulah yang memasangkan rantai ini di leherku... saat pertama kali aku bertatapan muka dengannya tatapannya sangat menyeramkan ugh…! dia sangat menakutkan" ucapku setengah merinding.
" ... "
Um... biarlah, lagi pula mereka tidak akan mendekat.
Mengingat semua naga bumi yang pernah aku temui di dalam labirin, aku sedikit kebingungan dengan naga bumi yang Toki dan Noel katakan karena dalam ingatanku aku tidak mengingat ada naga bumi yang sekuat itu apalagi bisa menghancurkan sebuah negeri kurasa itu agak mustahil untuk dilakukan oleh para naga itu, mereka sangat lemah untuk melakukan hal seperti itu walaupun tidak mustahil untuk menghancurkan beberapa kota saat mengamuk.
__ADS_1
Dan setelah memikirkan tentang naga aku malah teringat laki-laki labirin yang beberapa hari lalu membuatku babak-belur karena aku menghancurkan rantainya dan itu sangat sakit, aku kemudian menceritakan sedikit tentangnya pada Toki dan Noel terutama mengenai dirinya yang memasangkan rantai di leherku, mengingat hal itu membuatku sedikit merinding karena tatapan dan perlakuannya yang cukup kejam padaku, walaupun aku bisa melawannya, tapi aku sedang tidak ingin mencari masalah dengan orang itu.
Toki dan Noel hanya terdiam menatap ke arahku dengan ekspresi yang sulit untuk dijelaskan walau dominan ke arah tercengang, dan itu agak membingungkan bagiku jadi aku hanya menghadapkan pandanganku ke depan dan fokus pada jalan yang kulewati, di dalam perjalanan ini aku juga merasakan ada beberapa monster kecil yang berkeliaran di sekitar kami, tapi karena aku tidak merasakan adanya ancaman aku tidak begitu mempedulikannya.
"D-dari apa yang kau sebut tadi, mungkin saja memang dia naga yang dimaksud..."
Ah kalau begitu sebaiknya aku lain kali saja berurusan dengannya. •_•
Walaupun sempat terdiam beberapa saat Toki seolah sudah menyimpulkan sesuatu tentang pria naga labirin yang aku ceritakan pada mereka, sementara Noel terlihat hanya menyimak pembicaraan kami dengan senyuman yang masih sangat terpaksa karena harus berjalan beriringan dengan Blue sembari memegang erat tongkatnya, padahal Blue terlihat sangat tenang dan sama sekali tidak mengganggunya kecuali hanya hembusan napasnya yang menerbangkan helaian rambut Noel, dan untuk kelompok para lelaki mereka berada jauh di depan kami sambil berbincang dan tertawa.
Berjalan sambil mendengarkan ucapan Toki tentang caranya menyimpulkan mengenai pria naga labirin yang kemungkinan adalah naga malapetaka, aku mulai sedikit meragukan ucapanku yang ingin menghentikan naga kejam itu, alih-alih aku menghentikannya mungkin saja aku yang akan dihajar habis-habisan olehnya, dan tentu saja aku tidak ingin itu terjadi padaku karena yang terjadi sebelumnya sudah sangat menyakitkan.
"... Karena mustahil ada orang yang bisa mengendalikan naga, orang-orang lebih memilih untuk membunuhnya daripada harus menjinakkannya... naga adalah salah satu dari monster yang tidak bisa ditaklukkan kecuali hanya dengan membunuhnya... monster naga adalah ancaman besar yang sangat nyata..." sambung Toki sambil terus berjalan.
"... Dan orang yang kau katakan tadi sudah pasti bukan seorang penjinak, dia mungkin adalah sang naga malapetaka itu" sambungnya lagi dengan suara yang terdengar serius.
Hm... um... setelah dipikir-pikir orang itu juga tidak mau mengakui kekalahannya, harga dirinya sangat tinggi... tapi...
"Hehehehe... jika dilihat dari sisi sebaliknya, sifatnya itu cukup menggemaskan" ucapku sambil tertawa kecil sembari menutupi mulutku.
"Hei Shea, apa kau benar-benar mendengarkan ucapanku?" tanya Toki padaku. •_•
"Ya aku mendengarnya dengan jelas, aku hanya teringat sesuatu hehehe" jawabku sembari tersenyum dan tertawa kecil.
Menjelaskan sesuatu tentang betapa sulitnya untuk menghentikan seekor monster naga, Toki benar-benar sangat serius dengan tatapan lurus ke depan dan aku cukup menikmati cerita itu, karena cerita Toki terdengar seperti sebuah cerita horor yang menantang meski begitu aku tidak terlalu memperhatikannya karena aku cukup sibuk dengan pikiranku sendiri, sibuk untuk membayangkan hal sebaliknya dari apa yang terjadi padaku terutama membayangkan pria naga labirin menjadi seorang anak kecil yang tidak mau mengalah meskipun dia sudah kalah hehe. •_•
__ADS_1
Hanya satu hal yang bisaku simpulkan tentang apa yang diucapkan oleh Toki dan itu adalah harga diri, bukan kekuatan yang membuat naga menjadi sangat sulit untuk ditaklukkan, akan tetapi harga dirinyalah yang membuat naga tidak bisa ditundukkan, mereka memang kuat meski begitu aku dapat dengan mudah mengalahkannya, jika aku mengabaikan tentang kekuatan mereka satu-satunya hal yang membuat mereka sangat mengerikan adalah harga diri yang tinggi dan tekad yang kuat.
Mereka akan terus bertarung meskipun sudah terluka parah para naga tidak pernah pergi dari pertarungan bahkan hingga mati, begitulah yang aku rasakan saat bertarung dengan sesama monster naga bahkan aku sendiri juga memiliki kedua hal itu hehe, hanya saja aku sadar diri jika memiliki kesalahan dan karena itulah aku membiarkan rantai ini ada di leherku.
"Um... jadi, orang yang menghukummu itu adalah sang naga malapetaka" ucap Noel padaku.
"Ya entahlah aku tidak pernah menanyakan itu padanya, dan yahh… bagiku dia masih sangat membingungkan, saat bertemu denganku tatapannya terlihat sangat marah dan ingin membunuhku dan aku mungkin sudah mati terkena beberapa serangannya jika saja saat itu aku tidak mengecohnya, tapi… saat aku sudah menyerah dia malah tidak membunuhku padahal aku sudah sangat siap untuk mati."
"Meski sedang membicarakan kematian, kamu terlihat sangat tenang ya, Shea" ucap Noel padaku.
"Yahh… soalnya itu hanya masa lalu" sahutku tersenyum sambil menoleh ke arah mereka.
"Hm... mungkin saja alasan dia tidak membunuhmu karena... " ucap Toki sembari menatap ke arahku.
"Karena apa?" tanyaku padanya.
"Eh! tidak tidak, bukan apa-apa hehe... owh s-sepertinya kita sudah hampir sampai di jalan utama hehe." sahutnya sambil tersenyum.
Meskipun terdengar sangat cocok jika pria naga labirin itu adalah si naga malapetaka, tapi sekali lagi itu hanya sekedar pendapat kami saja dan belum tentu benar, lagipula aku tidak pernah berbicara banyak dengannya – karena aku selalu dalam masalah jika dia muncul di depanku – dan aku tidak pernah terpikir untuk menanyakan hal itu padanya, jadi apa yang kami simpulkan masih sangat kabur, aku juga mengungkapkan rasa penasaran dan kebingungan yang aku rasakan dari setiap pergerakan lelaki itu, terutama dari dia yang mengurungkan niatnya untuk membunuhku padahal sangat jelas bahwa dirinya benar-benar marah dengan tatapan yang penuh dengan niat membunuh.
Melangkahkan kakiku dengan kedua tangan kuletakkan di belakang tubuhku, aku sangat menikmati suasana perjalanan ini sampai-sampai ketegangan dari cerita yang kami bicarakan terasa tidak berbobot, bahkan aku dengan santainya membahas sesuatu yang seharusnya tidak dibicarakan oleh anak-anak dan mungkin karena itulah Noel terlihat terheran-heran dengan sikapku, tapi aku bersikap seperti itu karena apa yang aku ceritakan hanyalah sebuah masa lalu yang tidak bisa diubah lagi dan aku sudah sangat senang dengan hasilnya.
Dan entah apa yang dipikirkan oleh Toki dia menatapku dari bawah hingga atas dengan tangan kanan memegang dagunya seperti sedang memikirkan sesuatu, tapi Toki malah seolah mengalihkan perhatian saat aku mulai bertanya tentang apa yang dia pikirkan, dia benar-benar membuatku bingung.
...🌹🌹🌹🌹🌹...
__ADS_1