
"C-cepat!! k-kita harus bisa selamat dari tempat ini." Ucapku kepada kedua rekanku.
"HAHAHAHA kalian pikir bisa lari dariku?!! tidak akan pernah!! bahkan semua orang-orang payah itu sudah mati dan sisanya hanya tinggal kalian saja HAHAHAHAHA..."
.
.
"Huh huh huh... i-ini mustahil! k-kami sudah tidak sanggup lagi..."
"Bertahanlah kalian harus kuat kita tidak boleh/"
"Ketemu... HEHEHEHE."
"Gawat!!"
Benar seharusnya kami tidak pernah mengikuti misi ini... seharusnya kami tidak perlu terlibat dalam bahaya seperti ini...
...*****...
...[ Empat hari sebelumnya, kota Dielth, ibu kota kerajaan Amonia ]...
"Hoahhh!! ini masih terlalu pagi, kenapa kalian malah mengajakku jalan-jalan?" ucapku pada teman-temanku.
"Hehehe... tapi kami tidak ingin mengantri lama untuk puding apel susu yang lembut dan enak itu." Ucapku Ellia padaku.
"Yap benar sekali hehehe, kemarin kami juga tidak dapat bagian pie apel karena antriannya terlalu banyak." Sahut Luna.
"Tapi haruskah kita pergi sepagi ini? kakiku bahkan masih berat untuk berjalan."
"Tentu saja, kalau terlalu siang antriannya akan panjang lagi."
Siang apa...?! ini bahkan masih gelap...
Aku Kiely 18 tahun pekerjaanku hanya penjual bunga di toko bunga membantu ibuku, tapi walaupun begitu aku juga bekerja sampingan sebagai seorang petualang walaupun begitu aku tidak terlalu dengan pertarungan melawan monster atau bandit jalanan, aku menjadi petualang hanya karena ingin mencari tau dan menemukan berbagai jenis bunga dari daerah yang berbeda dan membawanya ke tokoku.
Dipagi buta yang bahkan matahari belum sempat menunjukkan cahayanya ini, kedua sahabatku baikku Ellia dan Luna yang juga tetanggaku itu datang membangunkanku dari tidur cantikku mengajakku berjalan di dalam dinginnya embun pagi yang lembut, memiliki teman yang baik seperti mereka adalah sebuah keberuntungan tapi, juga sebuah tantangan tersendiri bagiku karena aku harus bangun jauh sebelum waktunya, apalagi ibuku selalu membiarkan mereka berdua masuk di pagi buta.
Dengan berat kaki aku terus berjalan mengikuti mereka berdua menyusuri jalanan ibu kota yang masih basah dengan air embun pagi pergi ke toko kecil tempat mereka bisa mendapatkan puding dan pie, tapi jujur saja ini benar-benar masih sangat pagi walaupun begitu sudah ada banyak orang yang berlalu lalang beraktivitas di luar rumah bersiap untuk pergi bekerja sesuai dengan pekerjaan mereka, bahkan aku juga bisa mendengar banyak suara langkah kaki dan orang-orang yang sedang saling berbincang di pinggiran jalan.
"Hoahhh... eemhh... dingin." Ucapku menggigil sambil memegangi kedua tanganku.
"Tenanglah Kie saat kita sampai di tempat itu." Ujar Luna padaku.
"Tapi Luu ini masih sangat pagi, aku yakin tempat itu bahkan masih belum buka."
"Yahh... siapa cepat dia dapat hehehe... " sahut Ellia.
Udara pagi menusuk masuk sampai ke tulangku apalagi semalam telah hujan lebat dan baru saja reda pagi ini, itu membuatku semakin kehilangan semangat untuk berjalan aku lebih suka berbaring ditempat tidurku yang empuk dan selimutku yang hangat daripada harus berjalan ditengah udara dingin seperti ini, sangat berbeda dengan mereka yang terlihat begitu bersemangat untuk mendapatkan makanan kesukaan mereka.
"Hey ayolah, kita bisa minta tolong pada Zoe untuk menyisakan beberapa."
"Tidak akan pernah! apa kau lupa apa yang dia katakan kemarin?! dia bilang akan menyimpan beberapa untuk kita tapi, dia tidak melakukan itu kan!! dia malah menjual habis semuanya." Sahut Luna sedikit merajuk.
Ahh... ini semua salahmu Zoe... aku benci kau.
"Oaahh... aku masih ingin tidur."
"Hehehe, maaf ya Kie." Ucap Ellia
.
.
.
"Yahh ini dia... tempatnya." Ucapku Luna sambil tersenyum.
Di tengah jalan yang basah oleh air hujan aku sedikit mengeluh tentang keadaanku saat ini karena terjebak dengan kedua temanku yang sangat bersemangat ini, harus terpaksa bangun dan berjalan demi menemani temanku yang terus-menerus memanggil dan memukul-mukul pintu kamarku benar-benar sangat menyenangkan. •_•
Jarak rumah kami dengan toko kue itu hanya sekitar satu kilometer saja, jadi tidak perlu waktu lama bagi kami untuk sampai ke tempat itu dan setelah sampai di depan toko itu
"Wah... ada apa kalian datang sepagi ini?" ujar Zoe terkejut sambil keluar dari tokonya.
Siapa orang yang keluar dari toko dengan terkejut itu? yap dialah Zoe anak laki-laki sebaya dengan kami yang juga anak dari pemilik toko kue ini, dialah orang yang menjalankan bisnis keluarganya berjualan kue dan hidangan penutup lainnya walaupun toko ini kecil, tapi makanan di sini cukup laris dan diminati oleh orang-orang terutama bagi orang-orang yang sedang mencari makanan penutup yang manis.
Dan dialah juga orang yang telah membuat keadaanku menjadi seperti ini, karena janji palsu yang dia katakan pada kami kemarin padahal kami sudah bersusah payah membantu untuk menangani pelanggannya, tapi dia tidak menyisakan satu pun untuk kami dan malah menjual semuanya dia bahkan tidak bisa membuatkannya untuk kami karena kemarin bahan-bahan juga ikut habis, tapi walaupun begitu dia sudah mendapatkan banyak bom mentah di wajahnya itu.
"Yoo Zoe apa kabarmu?" ucapku menyapanya sambil menarik tempat duduk.
"Ya aku baik/"
"Mana pu ding ku!" ucapku Lia memojokkan Zoe di dinding.
"T-tenanglah Lia."
"Tenang?!! setelah kebohonganmu memanfaatkan kami kemarin... kami tidak akan membiarkanmu lolos... mana pie dan puding kami?!!" ucapku Luna sambil menarik leher baju Zoe.
"T-tenanglah dulu, i-ini masih sangat pagi aku bahkan belum mempersiapkan satupun/"
"Kau tidak bohong kan?!!" ucap Luna menatap tajam matanya.
"Tidak tidak tidak... aku tidak bohong, cepatlah menjauh k-kau terlalu dekat..."ucap Zoe sambil mencoba menjauhkan wajahnya dari Luna dan Lia.
...
"Huh huh huh... mereka... berbahaya..." ucap Zoe dengan pelan.
Aku dengar itu •_•
"Awas saja kalau kau berbohong lagi." Ujar Lia padanya.
Sambil menarik kursi dari bawah meja aku duduk dengan meletakkan kepalaku di atas meja berusaha untuk tidur kembali walaupun itu tidak mungkin, karena mereka bertiga sangat berisik dengan perdebatannya, Lia dan Luna memojokkan Zoe di dinding membuatnya tidak bisa bergerak karena leher bajunya sedang dipegang oleh Luna, mereka benar-benar menceramahinya karena tindakannya kemarin dan setelah puas melakukan itu Luna dan Lia kemudian melepaskannya dan membiarkannya untuk bernapas lega.
Setelah melepaskan Zoe mereka berdua kemudian mengambil kursi di dekatku lalu duduk satu meja bersamaku dengan masih memberikan tatapan tajam pada Zoe.
"Kau tidak ikut memarahiku?"
"Kau hanya akan semakin senang kalau aku melakukan itu, karena kapan lagi kau bisa sedekat itu dengan tiga wanita."
"Woy woy woy! ucapanmu itu seolah-olah aku tidak populer di kalangan wanita." Ucapnya agak tersinggung.
"Apa aku salah?" tanyaku padanya.
Aku memang cukup kesal dengannya, tapi aku tidak ingin ikut-ikutan memarahinya karena aku sudah cukup puas menghajarnya kemarin siang, walaupun dia tampak menyesal saat diceramahi Luna dan Lia pagi ini aku dapat menebak isi pikirannya, aku yakin kalau Zoe sangat suka dan menikmatinya karena kapan lagi dirinya bisa sedekat itu dengan gadis cantik seperti Lia dan Luna apalagi wajahnya hanya berjarak beberapa centimeter saja dari mereka berdua.
__ADS_1
"Tentu saja salah, aku ini pria yang populer di kalangan wanita." ujarnya sambil menata rambutnya.
"Hentikan itu, aku hampir muntah melihatnya."
"Itu menjijikkan." Sahut Luna setuju dengan ucapanku.
"Yap benar sekali." Sambung Lia.
"E-ehh apa aku memang seburuk itu." Ujarnya dengan awan hitam di kepalanya.
"Tenang saja Zoe, aku yakin akan ada wanita yang menganggapmu berharga." Ucapku sambil duduk dengan sedikit menyemangatinya.
"Hahh... yahh tapi, hanya kau wanita yang ada di hatiku Kie... aku sangat mencintaimu Kie." Ucapnya sambil mengambil daguku.
Cup
"Eh! "
" ... " " ... "
Aaaapa yang dia lakukan? tidak tidak tidak ini tidak mungkin, apa dia benar-benar mengatakan itu? apa dia benar-benar menyukaiku? tidak mungkin tenang aku harus tenang...
"Hentikan itu, rayuanmu tidak akan mempan padaku dan jangan menciumku seenaknya!!" ucapku menepis tangannya sambil kembali merebahkan kepalaku di atas meja.
Aaaa!! gawat! bagaimana ini!!
"I-itu benar Zoe tindakanmu ini tidak sopan." Ujar Luna angkat bicara.
"Kalau begitu kalian tunggu sebentar, aku ingin membuka dan merapikan tokoku dulu.
.
.
.
Eh! dia menatapku...
"Ughh! dingin." Ucapku mengalihkan perhatian dengan menggigil kedinginan.
Aku sangat tercengang dan tidak bisa berkata-kata lagi dengan apa yang dilakukan Zoe padaku untungnya aku dapat menenangkan diriku dengan cepat dan memukul tangannya yang memegang daguku, dia melakukan hal yang tidak pernah kupikirkan sebelumnya aku akui dia sangat berani mencium keningku di depan banyak orang dan karena ulahnya itu aku harus memendam wajahku di atas meja untuk menutupi wajahku yang memanas, dia memang tampan dan berani, tapi kepercayaan dirinya nyaris membuatku meledak.
Setelah sukses membuatku salah tingkah dia kemudian pergi ke dalam tokonya bersiap untuk membukanya sementara aku, Luna, dan Ellia menunggu duduk di meja depan tokonya itu dengan masih setengah tercengang memikirkan kejadian sebelumnya, karena bagian depan toko sudah dibuka dari luar aku sedikit mengintip Zoe yang berada di dalam tokonya dari balik tanganku, tapi sayangnya dia menyadari kalau aku sedang memperhatikannya jadi dengan cepat aku mengalihkan pandanganku menatap Luna dan Lia dengan bertingkah seperti kedinginan.
"Ahh... pagi ini terasa sangat dingin." Sahut Lia.
"Mungkin ini karena hujan tadi malam." Sambung Luna sambil memegangi kedua tangannya.
"Sebaiknya kalian masuk, di luar sangat dingin." Ucap Zoe mempersilahkan kami untuk masuk.
.
.
"Ahh... ini terasa lebih hangat." Ucap Lia sambil duduk.
"Yahh... ini sangat nyaman." Sahut Luna.
Berada di luar sini sangatlah dingin aku bahkan terus menggosok-gosokkan telapak tanganku untuk mendapatkan sedikit kehangatan, begitu juga dengan Lia yang juga ikut menggosokkan tangannya dan menempelkan telapak tangannya di pipinya sedangkan Luna hanya memeluk dirinya sendiri sambil sesekali meniup telapak tangannya, karena cahaya matahari pagi terhalang oleh awan mendung yang belum hilang suasana di kota benar-benar terasa sangat dingin.
Aku selalu bersikap biasa-biasa saja padanya dan memperlakukannya sama seperti orang-orang pada umumnya, begitu juga sebaliknya dia juga melakukan hal yang sama karena kami sudah berteman cukup lama sejak aku pindah dan menetap di ibu kota ini bersama dengan orang tuaku, tapi jujur saja setelah kejadian tadi aku merasa tidak tenang saat berada di dekatnya seakan ada sesuatu yang bergejolak di dalam diriku karena baru kali ini dia mengatakan itu padaku.
"Ini untuk kalian, silahkan dinikmati." Ucap Zoe sambil tersenyum menatapku.
Jangan melihatku, jangan melihat...
"Owh! apa ini Zoe?" tanya Lia
"Yahh itu hanya bubur biasa tadi aku memasak lebih, sangat cocok untuk mengurangi rasa dingin." Jawab Zoe.
"Ah... tehnya sangat hangat." Ucap Luna sambil meminum tehnya.
"Apa tidak ada coklat hangat?" tanyaku padanya sambil menatap teh di depanku.
"Makan saja dulu buburmu sebelum dingin, aku akan mempersiapkannya sebentar lagi." Jawabnya padaku sambil tersenyum.
"Y-ya terima kasih." Ucapku sambil kembali menunduk.
Dari dapur Zoe datang menghampiri kami dengan membawa bubur dan juga teh hangat kemudian meletakkannya di hadapan kami, bubur hangat memang cocok dimakan saat hari sedang dingin seperti ini, tapi kepalaku sudah cukup hangat karena Zoe terus saja menatapku sampai akhirnya dia memalingkan wajahnya ke arah Lia yang sedang bertanya, sementara Luna sedang sangat menikmati teh hangat dan buburnya itu.
Aku kemudian memberanikan diri untuk menatapnya dan bertanya tentang coklat hangat padanya, tapi ternyata memang sulit untuk melakukan itu aku kembali menjatuhkan pandanganku ke tanganku di bawah meja, setelah Zoe menjawabku perlahan dia kembali pergi ke arah dapur dan sekali lagi aku bisa bernapas dengan lega.
"Hey Kie apa kau menyukai Zoe?" tanya Luna.
"Uhuk uhuk..."
"Wahh... ternyata benar." Ucap Lia merespon batukku.
"Aaaapa yang kalian katakan, a-aku tidak menyukainya." Jawabku sambil memalingkan wajahku.
"Heummm... benarkah...?" tanya Lia dengan tatapan dan senyuman aneh.
"T-tentu saja." Jawabku.
"Jangan berbohong Kie kita ini sudah berteman lama, jadi kami tau saat kau sedang berbohong hehehe." Lanjut Luna.
"B-berbohong, jadi kalian kira kalau aku ini berbohong?! tidak sama sekali." Ucapku sambil melahap semua makananku.
Mendengar pertanyaan Luna sontak membuatku tersedak air saat sedang meminum tehku ditambah dengan respon spontan dari Lia semakin membuatku memerah dan sedikit melakukan pembantahan, karena aku juga tidak tau apa yang sedang kurasakan dan karena tatapan mereka yang semakin aneh aku kemudian memakan buburku dengan lahap sampai habis begitu juga dengan minuman tehku aku menghabiskan semua bagianku.
.
.
.
"Hm... sudah habis? makanmu cepat juga ya Kie."
"Z-Zoe k-kapan kau di sana?"
"Ini coklatmu, setelah ini ada yang ingin aku bicarakan denganmu." Ucapnya sambil meletakkan secangkir coklat hangat di depanku.
"M-memangnya a-ada apa?"
"Habiskan saja dulu minumanmu, dan juga aku ingin bicara berdua denganmu." Sambungnya sedikit melirik Luna dan Lia.
__ADS_1
"Ow sepertinya kami sedikit mengganggu di sini hehe." Ucap Luna sambil menatapku.
"Benar sekali hehehe." Sahut Lia sambil menutupi mulutnya.
"Aaaapa maksud kalian? kalian sama sekali tidak menggangu." Ucapku agak gugup.
Eh! gawat coklatku habis!! bagaimana ini!!?
Zoe kembali datang dari belakangku dan langsung menyajikan coklat hangat yang aku minta sebelumnya, kemudian dia mengajakku untuk berbicara berdua setelah aku selesai dengan coklatku dia juga melirik ke arah Luna dan Lia seperti sedang mengisyaratkan sesuatu pada mereka, seakan mengerti dengan tatapannya Luna dan Lia berbicara seolah mereka adalah pengganggu sebuah momen, sementara aku masih tertunduk dan karena gugup aku tidak sadar kalau aku sudah menghabiskan minuman coklatnya.
"Yoshh... sepertinya sudah waktunya kita pergi Lia."
"Hehehe ookeh." sahut Lia.
"Aaapa yang kalian katakan? aku ikut/"
Bukk
"Eh!"
"Kau tunggu di sini Kie." Ucap Zoe padaku.
"Ya Kie sebaiknya kau tunggu di sini hehehe." Sahut Luna.
"T-tapi... hey Zoe apa yang kau lakukan menyingkirlah." Ucapku berusaha mendorong tubuh Zoe.
"Hey hey hey kalian mau ke mana? tunggu aku." Sambungku pada mereka.
"Kami akan menunggu di air mancur kota bye bye." Sahut Lia sambil pergi berlari ke luar.
"Tunggu!!"
Karena Luna dan Lia tampak ingin pergi aku kemudian berdiri berniat untuk mengikuti mereka, tapi sayangnya Zoe memukul meja dan menghalangi jalanku dengan wajah yang tersenyum sambil memintaku untuk tetap berada di sini, begitu juga dengan Luna yang tidak keberatan aku tinggal di sini.
Aku berusaha untuk mendorong Zoe yang menghalangi jalanku, tapi tubuhnya tak bergeser sedikitpun layaknya pilar kokoh yang tidak bisa digerakkan lagi, aku kemudian meminta Luna dan Lia untuk menungguku, tapi mereka langsung pergi setelah mengatakan akan menungguku di dekat air mancur kota dan sekarang hanya tinggal aku dan Zoe yang berada di dalam tokonya ini yang bahkan aku hampir terpojok di dinding sangat dekat dengan perapian.
"A-apa yang kau lakukan Zoe aku ingin pergi, menyingkirlah j-jangan menghalangi jalanku."
"Kalau kau ingin pergi ke luar lalu kenapa kau berjalan mundur ke belakang? bukannya pintunya ada di sebelah sana."
Bukk
"A-apa yang ingin... kau... lakukan." Ucapku pelan sambil memalingkan wajahku.
Zoe terus berjalan mendekatiku dengan senyumannya itu dan tanpa kusadari aku juga mengikuti langkah kakinya dan berjalan mundur ke belakang agar dia tidak mendekat, tapi beberapa saat setelahnya aku sudah berhasil terpojok olehnya di samping perapian, Zoe kemudian memukulkan tangan kirinya ke dinding sebelah kiri wajahku membuatku tidak bisa melihat pintu keluar toko kue ini, sontak saja aku langsung memalingkan wajah dan menutup mataku, jantungku berdebar kencang tidak berani untuk menatapnya karena wajah kami berada sangat dekat aku bahkan bisa mendengar suara napasnya dengan jelas.
"Hanya satu..." ucapnya pelan sambil mengambil daguku.
Cup♡
"Selama ini aku selalu ingin mengatakan ini padamu, sejak tujuh tahun yang lalu saat kau pertama pindah ke kota ini aku sama sekali tidak bisa memalingkan pandanganku padamu... kau adalah satu-satunya wanita yang membuat jantungku berdebar dengan kencang saat aku melihat wajahmu... aku terus berusaha untuk bisa dekat denganmu dan mengatakan perasaanku, tapi aku selalu gugup dan tidak berani menghadapimu..." Ucapnya pelan sambil menatap mataku.
"Aku sadar kalau aku tidak mempunyai nyali untuk melakukan ini sejak dulu, tapi aku tidak ingin kau menjadi milik orang lain dan karena itu aku akan mengatakan ini padamu... kalau aku sangat mencintaimu Kie... apa kau ingin menjadi kekasihku?" sambungnya sambil menggigit telingaku.
"Aaah!!♡"
Setelah berhasil memojokkanku Zoe kemudian menurunkan tangan kirinya dan memegang bahuku lalu menarik daguku agar menatap matanya, aku terdiam sambil menatapnya sesuai dengan apa yang dia inginkan dan setelah mendapatkan pandanganku Zoe langsung mengambil bibirku mengecupku dengan lembut, beberapa saat kemudian Zoe menghentikan kecupannya lalu menatapku dan mengatakan perasaannya padaku aku tidak tau harus bagaimana lagi aku hanya terdiam sambil menatapnya tercengang dengan wajah yang memerah.
Tidak berselang lama setelah dia mengatakan itu padaku dia kemudian beralih menggigit telingaku dan karena terkejut aku langsung sedikit bersuara mendesah juga kakiku yang mulai terasa lemas, ini pertama kalinya ada orang yang melakukan ini padaku dan ini juga yang pertama kalinya aku melakukannya, Zoe adalah orang yang mendapatkan semua hal pertama bagiku.
"Apa jawabanmu Kie?" ucapnya dengan lembut padaku.
"Aku aku..."
"Aku tidak tau harus bagaimana, aku juga merasakan hal yang sama denganmu saat kau menyelamatkanku dari kejaran penjahat enam tahun yang lalu, jantungku berdebar dan hatiku seolah bergejolak, tapi aku bingung harus bagaimana menyikapi ini, apakah perasaan ini benar cinta atau hanya sekedar kekaguman semata..." ucapku mengutarakan perasaanku.
"Jadi begitu ya..." ucapnya sambil sedikit menunduk.
"Tapi, aku tidak keberatan dengan itu... karena kau adalah orang yang aku kagumi."
"A-apa itu artinya..." ucapnya kembali menatap mataku.
Saat aku mengatakan alasanku Zoe hanya terdiam dan menundukkan pandangannya ke bawah dengan tatapan mata yang sedikit murung, aku sedikit ragu dengan apa yang aku rasakan apakah yang kurasakan hanya kekaguman atau benar memang perasaan suka, tapi aku tetap menyetujui dan menerimanya sebagai orang yang berhak mendapatkan hatiku sepenuhnya, aku tidak keberatan apakah yang kurasakan itu cinta atau kekaguman karena bagiku cinta itu berawal dari rasa kagum.
...
"Yeaaah!!! ahahaha... aku mencintaimu Kie, aku mencintaimu..."
"H-hey turunkan aku Zoe."
Mendengar jawabanku Zoe kemudian kembali mengangkat wajahnya dan menatapku dengan matanya yang terlihat benar-benar bahagia, aku hanya tersenyum membalas pertanyaannya itu karena jawabanku sudah cukup jelas, Zoe langsung mengangkatku dan berputar-putar dengan senangnya, tapi karena aku takut terlempar aku memintanya untuk kembali menurunkanku, aku tidak ingin hubungan kami bermasalah karena hal itu.
"Hehe... maaf aku terbawa suasana/"
Cup♡
.
.
.
"T-tunggu jangan y-yang itu..."
.....
Plakk!!
"Kubilang cukup hentikan itu! jangan berani macam-macam atauku tendang wajahmu."
" ... "
"Aku pergi..."
Di saat Zoe minta maaf padaku aku langsung mengaitkan tanganku di lehernya lalu mencium pipinya dia tampak terkejut saat aku melakukan itu, tapi sesaat setelah itu dia membuatku menyandarkan tubuhku di dinding dan kemudian kami melanjutkan kembali kecupan manis yang sempat tertunda itu dengan penuh gairah.
Tapi sangat disayangkan karena dia terlalu terbawa suasana dan hampir menyentuh sesuatu yang belum bisa dia miliki, aku kemudian memberikan sedikit tanda merah lima jari di wajahnya agar dia berhenti, sebagai seorang wanita aku harus pandai menjaga diri walaupun orang yang kusukai adalah temanku sendiri, dan setelah melakukan itu aku langsung pergi dari toko itu meninggalkannya yang masih tercengang dengan apa yang baru saja aku lakukan padanya.
...♡❁❁✧✿✿✧❁❁♡...
...Note: Seperti keterangan di atas (awal chapter), ini adalah empat hari sebelum ketiga orang yang di temui Shea berpetualang di dalam hutan El'o....
...Sebelum mereka bertemu dengan Shea......
...Ca****tatan: Kira-kira Chapter 91 kita akan masuk ke dalam POV Shea... dan satu volume(12/13 Ch "menurut saya") kedepannya akan membahas ketiga orang ini dulu 🙏...
__ADS_1