
"Yang benar saja, jangan main-main denganku… jika begitu aku tidak akan bisa memilikinya, hehehehe hahahahaha!! tidak bisa tidak akan kubiarkan! kau milikku…"
...
"Nona berhati-hatilah, saya merasakan sesuatu yang buruk akan terjadi!" ucapku serius pada nona Shea.
"Yah, dia sudah sangat mengerikan."
Walaupun Leron tertarik dengan pedang yang dibawa oleh nona Shea, tapi nyatanya dia juga baru menyadari bahwa ada campur tangan Frenya dalam keberadaan pedang itu, saat Leron bilang menginginkan pedang itu mungkin dia hanya tertarik dengan kekuatan dari senjata roh itu, tapi setelah mengetahui ada Frenya dibalik keberadaan senjata itu dia tampak sangat kecewa dengan ambisinya yang gagal untuk mendapatkan diri nona Shea.
Tentu saja karena dia tidak mungkin berani berhadapan dengan Frenya yang sama artinya dengan mati konyol, apalagi melihat ketertarikan Frenya dengan nona Shea aku yakin kalau tidak ada orang yang berani menyentuhnya sejauh Ardner yang memberikan kutukan pada nona.
Jujur saja aku pun juga terkejut melihat pedang itu berubah menjadi gelang tangan yang melingkar indah di pergelangan tangan nona, itu membuktikan bahwa Frenya tidak main-main dengan ucapannya.
...
"Masa bodoh dengan orang itu, tidak akan kubiarkan kau pergi dariku! tidak akan pernah HAHAHAHAHA!!!"
Ini berbahaya!
...
"Nona menghindar!!"
DUARRR!!
"Apa itu?!!" tanya nona dengan terkejut.
"Akhh!!"
...
"Sira itu!!?" ucap nona sambil menatap ke arah seseorang yang muncul dari balik kepulan debu tebal.
Sesuatu yang buruk akan segera dimulai!
Mengetahui usahanya yang gagal lantas membuat Leron menjadi sedikit gila, dia berbicara tidak jelas dengan ekspresi menakutkan –walau itu tidak menakutkan untukku– sambil menengadah ke atas sambil memegangi wajah yang penuh tekanan, meskipun begitu dia masih sempat-sempatnya mengeluarkan aura membunuh yang menyelimuti tubuhnya.
__ADS_1
Leron kemudian membangkitkan lima orang komandan iblis terdahulu yang berdiri tegak melayang di belakangnya dengan posisi siap menyerang, disaat yang bersamaan tiba-tiba saja ada sesuatu yang terlempar dari samping kanan kami dengan sangat cepat dan kuat sampai-sampai pepohonan yang dihantamnya menjadi tumbang.
Setelah beberapa saat diselimuti oleh debu yang tebal secara perlahan terlihat seseorang yang sedang terkapar penuh luka bersama dengan satu makhluk roh petir yang juga terluka parah dan sudah mulai menghilang menjadi butiran cahaya.
Bahkan nona sampai terkejut melihat sesuatu yang terlempar itu ternyata adalah seseorang yang sedang terluka parah dengan bersimbah darah, beda halnya dengan Leron yang tampak biasa-biasa saja dan mulai menunjukkan sifat aslinya sebagai seorang komandan iblis yang kejam, tatapannya mulai berubah menjadi sangat tajam dengan senyuman licik yang sekarang menjadi ekspresinya.
Sangat memuakkan jika harus menatap wajah yang penuh kesombongan itu, aku lebih suka menatap wajah polos penuh dengan keinginan tahuan dan semangat keceriaan dari nona Shea.
...
"Kenapa kau sangat lama Leron?!" ucap seseorang yang muncul dari balik pepohonan.
"Hah!! kau sendiri sangat lama menghadapi dua orang itu!!"
Sudah kuduga mereka pasti berpasangan, tapi tampaknya dia lebih kuat dari Leron… siapa dia sebenarnya? dan juga orang itu kurang beruntung harus berhadapan dengan para komandan iblis,, pikirku sambil menatap ke arah orang yang sedang terkapar itu.
"Dua orang itu cukup menyulitkan terlebih lagi ahli pedang itu dia seperti mayat hidup, aku perlu sedikit waktu untuk memotong sisa tangannya."
"Bilang saja kau kewalahan menghadapi mereka!"
...
"Sira, orang itu masih hidupkan?" tanya nona padaku sambil menatap dan berjalan ke arah orang yang terluka itu.
Ini bukan saatnya untuk mengkhawatirkan orang lain.
...........
"Nona ini bukan saatnya untuk mengkhawatirkan orang lain."
"Lukanya sangat parah, apa masih bisa diselamatkan…?" ucap nona sambil memegang tubuh manusia yang penuh darah itu.
"Nona…?"
Setelah beberapa saat kemudian sesosok iblis kembali muncul dari balik pepohonan dari arah terlemparnya orang itu, walaupun aku belum pernah bertemu dengan iblis itu, tapi hanya dengan melihat saja aku sudah bisa tau jika orang itu adalah rekan Leron yang membantu untuk melakukan penghancuran dan pembantaian, karena setiap komandan iblis selalu didampingi oleh wakilnya sebagai rekan walaupun mereka terlihat sangat tidak akur.
Iblis yang baru datang itu memiliki dua cakram yang di kedua belah tangannya, dan iblis itu hanya memakai celana juga rompi bulu monster di pergelangan tangan dan kaki yang juga terlilit bulu, berbeda dengan Leron yang lebih menggunakan omong kosong dalam kata-katanya iblis yang satu ini terlihat lebih dingin dan lebih serius daripada Leron bahkan kekuatannya terasa lebih besar.
__ADS_1
Sementara itu seperti biasanya nona terlihat tidak begitu mempedulikan musuh-musuhnya, nona hanya mempedulikan orang lain daripada dirinya sendiri dia terlihat begitu khawatir dengan kondisi manusia itu sedangkan saat ini ada dua iblis yang cukup mengancam berdiri di hadapannya.
Nona Shea kemudian perlahan berjalan menuju orang yang terluka itu dengan wajah penuh rasa empati seolah merasa penderitaan orang itu, dan tentunya aku juga mengikutinya tanpa melepaskan kewaspadaanku terhadap Leron dan rekannya walaupun mereka masih sibuk dengan perdebatan mereka sendiri, wajah nona menjadi sedikit berubah ketika memegang tubuh orang yang terluka itu terlebih lagi saat nona melihat darah yang berada di telapak tangannya sesudah memegang orang itu.
"Hei Sira…"
"Ada apa nona?"
"Sira, aku menarik ucapanku sebelumnya…"
"Apa maksud anda?"
"Aku menarik perintahku sebelumnya, yah… aku sendiri yang akan melakukan itu" jawab nona seraya berdiri menatap ke arah orang itu.
Jadi tentang itu ya.
"Jangan terpancing amarah nona!"
"Tidak, aku tidak terpancing emosi, tapi jika mereka tidak dihentikan akan banyak korban yang berjatuhan, walau aku berpikir kemungkinan untuk menggunakan cara yang lain..." sahut nona sambil sedikit menunduk sedih.
Hm, apa hanya pikiranku atau memang ada sesuatu yang berbeda dari nona Shea, tidak biasanya dia ragu untuk melakukan sesuatu.
Setelah memastikan keadaan orang yang sekarat itu nona kemudian berdiri dengan masih menatapnya dan entah apa yang direncanakan olehnya nona tiba-tiba bilang bahwa dia menarik perintahnya yang sebelumnya memintaku untuk membunuh Leron, dilihat dari raut wajahnya nona memang tidak menunjukkan ekspresi kemarahan dan terasa lebih menunjukkan rasa kesedihan.
Aku juga merasakan kepribadian nona menjadi sedikit lebih lemah dari biasanya, awal aku bertemu dengannya nona tidak pernah ragu dengan hal yang dia yakini, tapi aku mendapat kesan yang berbeda saat melihat sikap dan raut wajah nona saat ini seperti ada sesuatu yang sedang terjadi dalam dirinya.
Khawatir dengan keadaan nona aku kemudian mengingatkannya agar dia tidak terpancing emosi karena itu akan berakibat sangat buruk, karena sedia payung sebelum hujan lebih baik daripada harus basah kuyup karena kecerobohan, tapi seperti yang kulihat nona hanya berekspresi sedih dengan keputusannya atau mungkin itu karena ada hal lain yang berada di pikirannya, tapi entahlah itu hanya pikiranku saja.
"... Sira bisa kau obati orang ini? setidaknya untuk mengurangi pendarahannya saja" pinta nona padaku.
"Baik nona" sahutku padanya.
"Terima kasih Sira" ucap nona seraya berbalik menatap Leron dan rekannya.
Dengan sedikit menghela nafas nona kemudian memintaku untuk mengobati luka-luka yang ada di tubuh lelaki yang bersimbah darah itu, dan setelah aku mengiyakan perintahnya nona kemudian berbalik menatap ke arah Leron yang sedang berdebat dengan rekannya, disaat yang bersamaan gelang tangan itu kembali memanjang menjadi sulur tanaman yang berangsur-angsur berubah menjadi bilahan pedang tipis yang tajam seperti bentuk sebelumnya.
...🌹*****🌹...
__ADS_1