
"Kondisinya semakin parah ya" ucapku sambil berjalan menuju kamar Shea.
"Seperti itulah" sahut Sira berjalan di sampingku.
"Di mana temanmu sebelumnya?" tanya Sira padaku.
"Dia sudah pulang" jawabku singkat sambil tersenyum seraya membuka pintu kamar Shea.
Menunggu Lolovi pulang ke dunia roh aku langsung pergi ke rumah dinding Shea untuk melihat keadaannya secara langsung, meskipun aku sudah tau seperti apa kondisi Shea saat ini karena aku dapat melihatnya dari setangkai bunga yang aku letakkan di atas meja kamarnya, dia benar-benar sangat parah terutama untuk demamnya.
Setelah sedikit berbicara dengan Sira yang masih sangat konyol karena melompat dari lantai dua, aku kemudian berbalik dan berjalan menuju ke arah pintu kamar Shea yang berada di kamar paling ujung sebelah kanan, Shea benar-benar tau bagaimana harus menghangatkan dirinya karena kamarnya bersebelahan dengan danau kecil yang berisi air panas, setelah tiba di depan kamar Shea aku kemudian membuka kamar itu lalu masuk dan berjalan mendekati Shea yang terbaring di atas kasurnya.
…
"Ini hanya demam biasa, mungkin terjadi karena Shea terlalu banyak menerima sakit dari rantainya" ucapku sembari memeriksa keadaan Shea.
"Apa nona akan baik-baik saja?" tanya Sira padaku.
"Dia akan sembuh dalam beberapa hari" jawabku padanya.
"Baguslah kalau begitu, tapi ini sangat mengejutkan… kenapa orang sekuat nona Shea bisa sakit karena masalah seperti ini?" sahut Sira kembali bertanya.
"Memangnya kenapa jika Shea sakit? lagipula dia hanya anak gadis biasa."
"Kurasa hanya kau yang bisa mengatakan itu dengan santai, apa kau tidak bisa sedikit terkejut Frenya" ucap Sira padaku.
"Aku sudah lama terkejut saat melihatnya" sahutku sambil tersenyum.
Masuk ke kamar Shea, aku langsung mendekatinya lalu menggeser kursi yang ada di samping tempat tidurnya sebelum akhirnya aku memeriksa kondisi kesehatan Shea, saat aku meletakkan tanganku di dahinya aku dapat merasakan suhu tubuhnya sangat panas bahkan lebih panas dari yang kukira, keringatnya tak henti berjatuhan dengan wajah yang memerah tidak bisa membuka matanya, tapi ini bukan masalah besar karena Shea hanya terkena demam saja yang akan sembuh dalam waktu dekat.
Memang cukup mengejutkan jika orang seperti Shea sakit hanya karena terkena demam, tapi bagiku itu adalah hal yang wajar, tidak peduli apa rasnya dan seberapa kuatnya dia, Shea tetap seorang anak kecil yang akan sakit jika dia tidak bisa menjaga dirinya dan ini sudah tidak lagi bisa mengejutkanku karena aku sudah pernah melihatnya.
…
__ADS_1
"Bisakah kau periksa luka di tangan nona? proses penyembuhan lukanya sangat lambat, aku juga tidak bisa membantu penyembuhannya karena tubuh nona Shea menolak sihir penyembuhanku" jelas Sira sembari bertanya padaku.
"Luka? hm… apa ini karena dia menyentuh rantai… ah jadi begitu" ucapku sambil memegang tangan Shea.
Kekuatannya masih sangat lemah ya, bahkan untuk sekedar kutukan kecil dia masih kesulitan untuk mengatasinya.
"Bagaimana?" tanya Sira lagi.
"Tidak apa, aku akan mengobatinya" jawabku sambil menggunakan kekuatan penyembuhanku.
Di tengah pembicaraan Sira kemudian memintaku untuk melihat luka yang ada di kedua telapak tangan Shea, aku nyaris tidak menyadari bahwa ada luka bakar di tangan Shea jika saja Sira tidak memberitahukannya kepadaku, tanpa berlama-lama setelah mengetahui itu aku langsung meraih tangan Shea kemudian mulai memeriksanya satu persatu, dan benar saja pemulihan luka bakar di tangannya benar-benar sangat lambat bahkan nyaris tidak ada proses untuk menyembuhkan dirinya.
Tapi, aku dapat memahami keadaannya itu, luka Shea terjadi karena dia menyentuh rantai kutukan yang ada di lehernya dan secara tidak langsung kutukan itu masuk ke dalam tubuh Shea dan menciptakan luka bakar di bekas sentuhannya, aku dapat melihat dengan jelas luka bakar Shea dipenuhi oleh aura kutukan yang berasal dari rantai Ardner, dan kabar buruknya luka yang disebabkan oleh kutukan sulit bahkan tidak bisa disembuhkan.
Tapi, tentunya jika itu terjadi pada orang biasa sedangkan untuk Shea, dia sangat berbeda, setelah aku memeriksa kondisi luka Shea aku kemudian langsung menggunakan kemampuan penyembuhanku untuk menghilangkan efek kutukannya dan membantu proses pemulihan pada tubuh Shea, walau begitu tanpa harus aku bantu Shea tetap bisa sembuh dengan sendirinya karena dia memiliki kekuatan yang unik, meski itu masih sangat lemah.
"Sebenarnya ada apa dengan nona Shea? kenapa nona Shea bisa seperti ini?" tanya Sira padaku.
"Hm... singkat saja, Shea telah melewati batas yang seharusnya tidak dia sentuh." jawabku sambil meletakkan tangan Shea.
"Tidak, bukan itu, tapi Shea telah menginjakkan kakinya di luar batasan yang ditentukan, dengan kata lain Shea dilarang untuk keluar dari hutan ini, dia akan tetap terkurung di hutan terdalam sampai rantai ini terlepas" jelasku pada Sira.
"Bukannya itu terlalu berlebihan, membatasi kekuatannya saja sudah lebih dari cukup" ucap Sira sambil naik dan duduk di atas meja.
"Hehehehe... tidak apa, aku cukup setuju dengan Ardner meski aku membenci caranya, lagipula Shea masih belum cukup dewasa untuk melihat keadaan di luar sana" sahutku sambil mengganti handuk basah yang ada di kepala Shea.
"Apa kau tidak khawatir dengan pertumbuhan nona Shea jika dia tidak bisa melihat dunia luar, nona Shea sangat ingin mendapatkan banyak teman" ucap Sira padaku.
"Meskipun Shea tidak bisa berinteraksi dengan lingkungan luar, tapi dia tetap bisa melihat dunia luar dari petualang dan pedagang yang masih berada di dalam zona amannya, memang sedikit kejam, tapi itulah yang terbaik untuknya saat ini."
"Menurutku itu bukan keputusan yang terbaik" sahut Sira menentangku.
"Wah wah, kalau begitu… apa kau bisa menghentikan Shea jika dia mengamuk? apa kau sanggup untuk menghadapinya, Sira?" tanyaku padanya.
__ADS_1
"Hahh... jadi begitu ya... maaf meragukanmu" jawab Sira sembari memalingkan wajahnya.
Duduk manis di sampingku sambil menatap ke arah Shea yang sedang aku obati, Sira dia terlihat sangat keheranan dengan keadaan Shea dan berulang kali bertanya kepadaku, walaupun aku juga sedikit terlambat untuk menyadarinya ternyata rantai Ardner bukan hanya sekedar untuk membatasi kekuatan Shea melainkan juga untuk membatasi pergerakannya, dan karena itulah rantai kutukannya tiba-tiba aktif yang menyebabkan Shea menjadi seperti ini.
Aku terus mengganti handuk basah di dahi Shea sambil menyapu keringatnya yang bercucuran, napas Shea masih terdengar sangat kasar dengan wajah yang seolah merintih kesakitan, sementara itu Sira tampak sangat menentang Ardner terutama karena tindakannya yang menjadikan hutan sebagai penjara bagi Shea, tindakan Ardner mungkin akan membuat Shea kesulitan untuk berinteraksi dengan orang lain dikarenakan hidupnya yang terisolasi dari dunia luar, walaupun begitu aku tidak keberatan dengan semua itu karena aku cukup setuju dengan tujuan Ardner, hanya saja aku tidak suka dengan caranya memperlakukan Shea.
Shea belum sepenuhnya bisa membedakan mana yang kawan dan lawan, dia masih sangat polos untuk mengerti itu dan aku tidak ingin jika kepolosan Shea dimanfaatkan oleh orang-orang yang mengaku sebagai temannya, dengan sifatnya yang kekanak-kanakan Shea masih sangat rentan dimanfaatkan orang-orang, setidaknya dengan tetap berada di dalam kawasan hutan aku dapat dengan mudah memperhatikan dan membimbingnya untuk menjadi lebih dewasa, walaupun sifat polos dan rasa ingin taunya tentang dunia luar akan tetap ada.
Meskipun alasan utamaku setuju dengan Ardner adalah agar Shea tetap berada di dalam pengawasanku dengan begitu aku dapat mengontrol kekuatan Shea agar dia tidak lepas kendali dan menghancurkan apapun yang ada di depannya, karena akan sangat merepotkan jika dia sampai mengamuk.
"Shea harus belajar bagaimana caranya untuk mengendalikan kekuatan itu, sebelum dia bisa berpetualang di luar sana."
"S-siapa...?" ucap Shea pelan sambil berusaha membuka matanya.
"Tidak apa… tidurlah Shea, kau perlu banyak istirahat" ucapku sembari mengelus kepalanya.
Terbangun saat aku mengelus rambutnya Shea masih sangat kesulitan untuk membuka mata, tapi dia tetap berusaha untuk menatap ke sekitarnya, dia juga sangat sulit untuk berbicara bahkan suara Shea terdengar sangat pelan dan sedikit serak dengan kalimat yang terputus, aku kemudian kembali mengelusnya sambil tersenyum tipis memintanya untuk kembali tidur dan beristirahat karena kondisinya sekarang masih belum pulih, tak lama kemudian Shea memejamkan matanya dan kembali terlelap dalam tidurnya.
"Baiklah, sebaiknya kita memberinya ruang untuk istirahat" ucapku pada Sira sembari berjalan ke luar kamar.
"Iya baiklah" sahut Sira mengikutiku keluar kamar.
***
"Frenya sebenarnya janji apa yang kau buat sampai-sampai kau melakukan hal seperti ini?" tanya Sira padaku.
"Hm... apa kau penasaran?" ucapku sambil tersenyum.
"Jawab saja pertanyaanku itu!"
"Bukan janji yang sulit, tapi hehehehe... hahh… dia sangat banyak meminta, dia harus membayarnya dengan mahal" ucapku sambil tersenyum tipis.
"("•_•)"
__ADS_1
...☘️☘️☘️☘️☘️...