I Was Reincarnated As A Dragon

I Was Reincarnated As A Dragon
Chapter 19: Kudeta


__ADS_3

Aku Goro salah satu dari penerus keluarga Aldark, keluargaku sudah melayani kerajaan terutama keluarga asli kerajaan selama berabad-abad lamanya.


Suatu hari aku diperintahkan untuk mengawal putri Roha untuk menelusuri lantai labirin, singkat cerita terjadi suatu peristiwa yang tak disangka-sangka, kami terjatuh dari tebing yang curam dan kemudian bertemu dengan sesosok naga putih.


Naga itu menyelamatkan kami dari maut kematian, dia memang terlihat menakutkan tapi jika diperhatikan lebih jelas dia monster yang sangat baik.


Satu hal yang membuatku sangat kagum padanya adalah dia bisa menggunakan sihir pemanggilan yang seharusnya seekor monster takkan bisa melakukan hal semacam itu, dia benar-benar hebat, dia adalah monster terhebat yang pernah kutemui seumur hidupku.


Monster White Dragon itu memerintahkan harimau panggilannya untuk mengawal kami keluar dari labirin, sementara dia bertarung melawan empat monster Black Scorpion sendirian.


Cukup lama berlari kami sampai di jalur teleport dan langsung berpindah ke tempat yang aman, Kemudian harimau suruhan naga itu mengantarkan kami ke dekat pintu gerbang ibu kota.


"Ahhh... aku ingin cepat pulang ke istana." Ujar Putri Roha.


"Tentu putri! saya akan menyewa kereta kuda untuk mengantar anda pulang." Ucapku padanya.


Kami baru saja memasuki ibu kota setelah pulang dari penelusuran lantai labirin, putri terlihat sangat kelelahan apalagi setelah melihat pemandangan yang sangat mengerikan yang seharusnya tidak boleh dilihat oleh seorang anak kecil 14 tahun.


Ktipak Ktipuk Ktipak Ktipuk


"Putri... silahkan naik." Ucapku pada putri.


"Ya, terima kasih, Goro." Sahutnya.


Aku datang dengan membawakan kereta kuda untuk putri, perlahan putri naik dan masuk ke dalam kereta sementara prajurit pengawal mengikuti dari belakang dengan berjalan.


.


.


.


"Sebentar lagi kita akan sampai di depan istana, putri." Ucapku padanya.


"Terima kasih Goro, aku tak sabar untuk segera memberitahukan hal itu kepada ayah!" ujar Putri Roha antusias.


Beberapa saat kemudian kami sampai di depan istana, ada banyak prajurit yang berjaga di depan gerbang kerajaan.


Tap... Tap... Tap...


"Selamat datang, putri... bagaimana petualangan anda?"


"Ya... terasa sangat menegangkan, banyak hal yang tak terduga terjadi." Sahut putri.


Ada beberapa orang yang datang menyambut kepulangan putri, salah satunya adalah kakak kandung dari raja Erfrid bernama Orfist singkatnya paman dari putri Roha.


Aku tidak suka dengan tatapan matanya, seperti ada sesuatu yang sedang dia sembunyikan dan rencanakan, tampak sangat mencurigakan.


Tatapannya penuh dengan kelicikan, aku harus selalu waspada terhadapnya, mungkin saja dia mempunyai niat buruk terhadap putri.


Aku tidak melayani keluarga raja Erfrid tapi aku melayani keluarga ratu Clayria beserta keturunannya sebagai penguasa asli dari kerajaan Amonia.


"Apa anda baik-baik saja, putri?!" tanyanya sekali lagi.


"Ya tentu paman, aku baik-baik saja walaupun ada beberapa kejadian yang nyaris membahayakan, tapi sepenuhnya aku baik-baik saja." Jawab putri.


"Senang mendengarnya putri, seandainya ayahmu bisa mendengar petualang mu dia pasti akan sangat senang." Ujarnya.


"Ayah kenapa paman? apa ada sesuatu yang terjadi padanya?" tanya putri padanya.


"Begini putri... ini tentang kondisi kesehatan ayahmu raja Erfrid, beberapa hari yang lalu dia tiba-tiba terjatuh tak sadarkan diri di ruang kerjanya, bahkan sampai saat ini dia masih belum sadar." Ujarnya dengan murung.


Orang itu bicara dengan sedikit murung dan terlihat sedih, tapi aku tau kalau ekspresi itu cuma kebohongan, dia tidak benar-benar sedih dengan kondisi raja itu cuma topeng yang dia pasang di depan putri.

__ADS_1


Dia tak bisa dipercaya, pasti ada sesuatu yang terjadi pada raja yang jelas itu bukan karena kelelahan kerja, aku harus menyelidikinya.


Putri tampak sangat sedih mendengar berita itu raja Erfrid adalah satu-satunya orang tua yang dia miliki dan sangat dia sayangi.


"Tak mungkin...! itu tidak mungkin... itu bohong kan paman! dia baru saja membalas suratku tiga hari yang lalu!" ucap putri berusaha menyangkal ucapan pamannya.


"Saya juga ingin menyangkal itu... tapi ini adalah kenyataan putri, dia sekarang sedang terbaring di atas tempat tidurnya dengan keadaan yang sangat lemah..." ujarnya sambil meyakinkan putri.


"Ayah..."


Tap! Tap! Tap! Tap! Tap!


Putri berlari sangat kencang melintasi lorong istana menuju ke kamar raja Erfrid, aku memerintahkan prajurit pengawal untuk bersiaga di luar istana sambil menunggu perintah ku selanjutnya sementara aku mengikuti putri pergi ke kamar raja.


Brukkkk!!


"Aaaagh...!"


"Putri!!"


Putri terjatuh terpeleset cukup keras karena berlari sangat kencang.


"Apa anda baik-baik saja?!" ucapku dengan panik.


" ... "


Tap! Tap! Tap!


Dia tidak menjawab apa-apa putri benar-benar sangat murung, dia hanya terdiam dan langsung berdiri kemudian berlar lagi dengan kecepatan yang sama.


Brakkkk!!


"Ayah!!!"


Raja Erfrid benar-benar sedang sekarat terbaring lemas tak berdaya.


"Hiks...! hiks...! ayah..."


Putri Roha menangis sesenggukan memegangi tangan ayahnya yang tidak sadarkan diri di atas kasur.


"Aku sudah pulang lohh... ayah!"


"Putri tenanglah... biarkan raja istirahat." Ucapku berusaha menenangkannya.


Selagi putri memegang tangan raja aku diam-diam menggunakan sihir penilaian kepada tubuh raja untuk mengetahui apakah ini ada hubungannya dengan sihir atau tidak.


Tapi, aku tidak bisa menemukan apa-apa yang kutemukan hanyalah kerusakan pada beberapa bagian organ vitalnya seperti terkena sebuah racun dan juga sepertinya tidak ada tindakan pencegahan yang dilakukan.


Ada yang aneh dengan kondisi raja ini tidak wajar, tindakan ini seperti disengaja, jika raja sakit seharusnya ada para bangsawan atau pejabat yang berkunjung menjenguk raja tapi ini tidak ada sama sekali, terlebih lagi kenapa para penjaga yang ada di sini terlihat sangat mencurigakan.


Aku kemudian pergi meninggalkan putri untuk memberinya ruang bersama ayahnya, aku tidak ingin membuatnya semakin sedih dan lagi aku harus menyelidiki kasus ini, racun itu bukan racun yang mudah untuk disembuhkan.


Selagi aku mencari pelakunya aku juga harus mencari penawar racunnya, aku kembali ke tempat empat pengawal yang sebelumnya kuminta bersiaga di luar istana.


"Kalian pergilah ke guild dan temui ayahku dan berikanlah surat ini dan jangan berikan pada siapapun kecuali padanya, mengerti!" ucapku pada keempat pengawal itu.


"Baik, kapten!" sahut mereka.


"Segeralah pergi dan temui aku di tempat ini nanti malam." Lanjutku.


"Baik!"


Setelah memberikan perintah pada mereka aku bergegas menyelidiki kasus ini dimulai dari ruangan kerja raja, aku tidak boleh menyia-nyiakan waktu sebentar lagi hari akan malam dan kekhawatiran ku setiap detiknya semakin bertambah, ada pertanda apa ini.

__ADS_1


"Aku harus cepat!"


Dengan menggunakan skill acceleration aku berhasil melewati para penjaga dengan tanpa terdeteksi oleh mereka.


Akhirnya aku sampai di ruangan kerja raja dan memasukinya dari depan pintu semuanya terlihat biasa-biasa saja, aku kemudian berjalan dan mengamati setiap inci dari ruangan itu guna menemukan barang bukti dari kecurigaan ku.


"Tak ada apa-apa di tempat ini... apa itu...!"


Mataku kemudian teralihkan oleh sebuah gelas minum yang ada di meja raja ada sedikit sisa Anggur di dalamnya, perlahan aku mencium bau minuman itu.


"Bau ini...! ini bukan hanya anggur ada sesuatu yang lain di dalamnya."


Tap! Tap! Tap!


"Gawat! ada orang!"


Aku mendengar ada suara langkah kaki menuju ke arah ruangan ini bukan hanya satu ada tapi beberapa orang, dengan cepat aku bersembunyi di luar jendela ruangan.


"Aku kasihan padamu adikku yang malang, kau akan mati dengan cara yang licik... tapi kau tidak perlu khawatir, karena aku yang akan memimpin kerajaan ini."


"Benar sekali tuan, kami tidak sabar menunggu kepemimpinan anda."


"Bagaimana dengan putri kecil itu tuan?" ujar yang lainnya.


"Tak perlu khawatir... putri bodoh itu dan para pengikutnya akan mati menyusul ayah dan rajanya yang payah dan saat itu terjadi maka kepemimpinan kerajaan ini akan jatuh ke tanganku, hahahaha."


Aku mengenali suara itu, dia adalah Orfist sudah kuduga kejadian ini pasti ada hubungannya dengannya, dia dan pengikutnya akan melakukan pemberontakan.


Ini berbahaya! aku harus mengingatkan putri tentang ini.


Aku beruntung hari sudah gelap, aku bisa menyelinap tanpa ketahuan oleh para penjaga, sebelum bertemu putri aku harus memberi tau ayah tentang rencana kudeta yang dilakukan oleh kakak sang raja, Orfist.


Sesuai janji, aku bertemu dengan keempat pengawal beserta ayahku di luar istana tepatnya di gang sempit di dekat istana.


"Jadi, bagaimana keadaannya, Goro?" tanya ayahku.


"Ini sangat gawat ayah, semuanya berada di luar perkiraan ku, kasus ini jauh lebih besar dan berbahaya!" Jawabku dengan tegang.


"Orfist telah merencanakan pemberontakan kepada raja dan berniat untuk membunuh keturunan raja!" lanjutku.


"Jadi begitu... ini benar-benar gawat!"


"Ayah aku ingin meminta bantuan kepada para petualang untuk menghentikan kudeta ini! apa kau bisa membantu?!" tanyaku padanya.


"Entahlah... akhir-akhir ini banyak petualang yang menghilang entah kemana! aku ragu bisa menghentikan pemberontakan ini hanya dengan sedikit orang." Jawabnya.


"Kau sendiri bagaimana, berapa banyak pasukan yang bisa kau kumpulkan?!" lanjutnya bertanya.


"Aku juga tidak yakin ayah! di tempat ini tidak terlihat satupun pasukan yang berada di bawah perintah raja, semuanya hanyalah pasukan khusus yang dipimpin oleh Orfist! satu-satunya pasukan yang ada cuma mereka berempat dan aku sendiri." Jawabku.


"ini sulit, aku hanya bisa mengerahkan kurang lebih dua ribu petualang saja!" ujar ayah.


Jelas itu tidak cukup, dari yang kulihat jumlah pasukan pemberontak ada lebih dari tujuh ribu prajurit, lima ribu diantaranya berjaga di istana sementara sisanya tersebar di penjuru ibu kota sebagai pasukan patroli dan penjaga gerbang.


"Bagaimanapun caranya kita harus menyelamatkan putri Roha dan raja Erfrid sebelum semuanya terlambat!" ucap ayahku.


"Sayang sekali cukup sampai di situ usaha kalian!" ucap seseorang yang tiba-tiba muncul dari kegelapan.


"Pergilah!! Goro!! selamatan raja dan putri Roha!!" teriak ayahku dengan keras.


"Baik ayah!!"


...~•~...

__ADS_1


__ADS_2