I Was Reincarnated As A Dragon

I Was Reincarnated As A Dragon
Chapter 45: Belajar


__ADS_3

Jadi aku ada di lantai sepuluh ya... ini sempurna tidak ada yang akan mengejarku dengan jarak sejauh ini.


"Yahh... ini mempersingkat perjalanan, semakin cepat aku ke atas semakin cepat aku dapat pakaian."


"Baiklah kalau begitu, ayo lanjutkan perjalanan."


Aku sedikit menatap ke beberapa tempat di sekitarku lalu kembali berjalan dengan santai, Sira hanya mengangguk saat aku mengajaknya, aku suka melihatnya yang terjepit di kedua tandukku hehehe.


.


.


.


Hm... setelah dipikir-pikir kembali ah... aku belum bisa mengerti ucapan manusia... pasti sulit jika aku tidak paham, owhh...! bukannya Sira bisa berbicara dengan manusia, yahh... tinggal minta ajari saja hehehe.


"Sira."


"Ya nona?"


"Kau bisa bicara dengan manusiakan?" tanyaku padanya.


"Tentu nona saya bisa."


Ahh... ternyata benar


"Kalau begitu apa kau bisa mengajariku caranya?"


Sambil berjalan aku meminta Sira untuk mengajariku caranya berbicara dengan manusia, mengingat aku belum bisa bicara dengan menggunakan bahasa dunia ini.


Selama ini aku hanya berbicara dengan telepati pada Sira dan belum pernah menggunakan mulutku untuk berbicara secara langsung.


"Tentu saja nona." Jawabnya.


"Woaah... terima kasih Sira, jadi kapan aku bisa mulai belajar mengucapkannya?" ucapku dengan bersemangat.


"Y-yahh bagaimana kalau dimulai dari sesuatu yang sederhana seperti menyebutkan ' *****-***** ' bagaimana nona?"


"Tadi kau bilang apa?"


"Maksudnya ' jalan-jalan ' nona."


"Ooh... b-bisa kita mulai dari huruf vokal saja."


Ah... aku tidak paham.


Aku sama sekali tidak bisa memahami apa yang dikatakan Sira, itu terdengar sulit untuk diucapkan dan sulit untuk dipahami jadi aku memintanya untuk mengajariku dimulai dari huruf vokal saja sebelum sebelum belajar mengeja kata hehe.


"S-saya rasa memang lebih baik dimulai dari sana." Ucapnya.


"Kalau begitu katakan AAAAAAA..." lanjut Sira mempraktekkan.


"AAAAAAA..." ucapku mengikuti Sira.


Huhh... masih terlalu datar.


Aku seperti anak TK yang baru belajar membaca, padahal jika dilihat dari segi usia aku sudah berumur 27 tahun tentunya jika itu digabung dengan usiaku sebelum aku direinkarnasi, sedangkan untuk usiaku sesudah aku direinkarnasi aku baru 9 tahun.


Sangat muda sekali, tapi penampilanku seperti remaja 16 tahun sulit untuk dipercaya jika kau memikirkannya dengan akal logika, tapi bagi dunia yang kutinggali saat ini, mungkin ini adalah sebuah hal yang normal.


Setidaknya menurutku pribadi karena aku tidak pernah berinteraksi dengan dunia luar, aku hanya tinggal di dalam labirin selama 9 tahun terakhir dan jarang sekali keluar dari labirin.


"Selanjutnya EEEEEE..."


"EEEEEE..."


.


.


.


"Sekali lagi nona silahkan ulangi AAAAAAA..."

__ADS_1


"AAAAAAA..." ucapku mengikuti.


Sepanjang perjalanan Sira terus membimbingku mengucapkan huruf vokal secara berurutan dan berulang-ulang, perjalanan ini sama sekali tidak terasa melelahkan dan bahkan terasa sangat menyenangkan sepanjang perjalanan aku terus mengucapkan satu persatu huruf vokal dan juga huruf-huruf lainnya.


Aku seperti sedang belajar bernyanyi, seandainya ada banyak orang yang melakukan itu secara bersamaan mungkin akan terasa seperti grup paduan suara, terlebih lagi warna suaraku terdengar lembut dan halus hehe.


Aku menyukai warna suaraku ini mungkin jika aku masih hidup dan dapat bicara di bumi lamaku aku pasti akan menjadi penyanyi, tapi sayangnya itu tidak mungkin.


"Bagaimana Sira?"


"Ya terdengar bagus nona, sekarang kita bisa melanjutkannya dengan merangkai kata."


"Woaa... benarkah."


Karena aku sudah bisa menyebutkan setiap hurufnya dengan baik, Sira kemudian melanjutkannya dengan mengajariku cara untuk berbicara, memang untuk itulah tujuan awalku.


"Kalau begitu kita mulai dengan.../


"T-tunggu Sira." Ucapku memotong ucapan Sira.


"Ya nona?"


"Bagaimana kalau sambil menulis saja." Pintaku pada Sira.


Mengingat aku hanya belajar mengeja tanpa tau bentuk hurufnya itu pasti sangat menyulitkan, karena kemampuan menulis pasti juga diperlukan dalam berbagai hal dan akan sangat berguna di mana pun aku berada.


"Y-yah... tentu nona, tapi tulisan saya... anu bagaimana ya... b-bisa dibilang kurang bagus hehehe."


"Hm... tidak masalah yang penting aku tau bentuk hurufnya, bisakan Sira." Pintaku sekali lagi.


Kuharap tidak seburuk yang kupikirkan hehe.


"Baiklah nona, tunggu sebentar."


Sira kemudian turun dan dengan tangan kecilnya dia mengambil satu kristal kecil yang cukup runcing lalu menuliskan satu persatu huruf di atas tanah secara berurutan.


"Mungkin kurang lebih seperti ini nona." Ucap Sira sambil menunjuk ke arah tulisannya.


"Ooh... jadi yang ini A-B-C-D-E, apa benar seperti itu Sira." Tanyaku padanya sambil menunjuk dan mengeja.


"Benar nona, karena kita mengeja hurufnya dari awal sampai akhir dengan berurutan jadi anda tidak akan kesulitan untuk mengetahui penyebutan hurufnya bahkan anda bisa tau hanya dengan melihat urutan hurufnya saja." Jawab Sira.


"Oh ya Sira... berapa lama lagi kita akan sampai di lantai 9?"


"Hm... mungkin setelah kita melewati belokan di depan kita akan melihat lorong penghubung lantai 9." Jawabnya.


Jadi begitu ya... yahh... tak masalah, aku tidak perlu buru-buru ke luar, setidaknya sampai aku bisa mengucapkan beberapa kalimat dengan benar.


"Memangnya ada apa nona?" tanya Sira.


"Tidak ada apa-apa... F-G-H-I-J-K." Lanjutku mengeja.


"Eh!? suara apa itu? Sira apa kau mendengarnya?"


"Ya nona."


Itu seperti suara aliran sungai.


Aku mendengar suara seperti seperti aliran air yang deras dari balik dinding di depanku, aku kemudian pergi untuk memeriksanya diikuti oleh Sira yang berjalan di belakangku, aku sedikit berharap kalau itu memang aliran air karena sekarang aku memang sedang perlu minum.


"Woaa... ternyata benar itu sungai, airnya juga jernih hehe, aku ingin minum."


"Ahhh... airnya segar."


Setelah berjalan cukup lama aku akhirnya menemukan asal suara itu yang ternyata benar kalau itu adalah suara aliran sungai dan langsung saja aku mengambil airnya dengan kedua tanganku lalu meminumnya secara perlahan untuk menghilangkan rasa hausku.


Sira juga ikut minum bersama di sebelahku sambil sesekali menepuk-nepuk airnya, mungkin Sira sedikit takut dengan air sampai-sampai melakukan itu, tapi tingkahnya itu terlihat menggemaskan, aku sedikit tersenyum ke arahnya sambil meminum airku.


Hm... airnya sangat menyegarkan, sekalian saja aku mandi di sini, rasanya sudah lengket.


"Sira apa kau keberatan?" ucapku sambil sedikit tersenyum.


"M-maksudnya nona?"

__ADS_1


Humph... tidak peka, apa Sira tidak tau dengan privasi.


"T-tunggu nona... waaa!!!"


.


"Nona?!"


"Tunggulah di sana Sira chichichi... aku akan mengeluarkanmu setelah selesai." Ucapku sambil tertawa kecil.


Aku mengangkat Sira kemudian melemparkannya ke dalam dimensi ruang penyimpanan, karena tidak mungkin aku terang-terangan membuka baju di hadapannya dan harus menghapus ingatannya sekali lagi, sekali saja sudah cukup.


"Yahh... kalau begitu waktunya mandi hehehe."


Aku kemudian membuka bajuku yang hanya selembar jubah usang itu lalu menceburkan kakiku ke sungai dangkal itu, perlahan aku menyiramkan air ke kaki dan pahaku lalu dengan pelan aku menggosoknya.


"Ah... ini jauh lebih menyegarkan dari yang kukira."


"Kurasa aku akan menerima tubuh ini sekali lagi, lagipula sudah tidak ada yang bisa kulakukan dengan ini." Ucapku sambil menatap ke tanganku yang basah.


Tidak lupa juga aku menggosok tangan, tubuh, sayap dan juga rambutku yang panjang, saat aku duduk rambutku mencapai ke tanah, jadi perlu waktu untuk membersihkan semuanya terlebih lagi aku mempunyai dua sayap yang juga harus dibersihkan.


Rambut dan sayapku terlihat berkilau saat aku membasahinya, aku meletakkan ujung rambutnya ke depan di atas pahaku agar lebih mudah untuk membersihkannya dan agar tidak menggangu saat aku menggosok sayapku, tapi itu juga karena aku suka melihat kilauannya hehe.


Setelah aku selesai mengurus rambut dan sayapku aku kemudian perlahan bercebur dan berendam di aliran air itu, walaupun tubuhku tidak tenggelam karena airnya yang dangkal, separuh dari tubuhku terlihat di permukaan meskipun seluruh bagian tubuhku akan tetap terlihat karena airnya yang sangat jernih.


"Apa ibu dan Yuuna baik-baik saja ya? kuharap mereka baik-baik saja dan hidup dengan bahagia, aku juga harus menjalani kehidupanku dengan baik di dunia ini." Ucapku sambil berendam.


Aku akan mencari banyak teman, hidup dengan damai dan bahagia bersama dengan keluarga dan orang-orang yang aku sayangi.


.


.


.


"Ahh...yahh sudah dulu mandinya, oh iya! sebaiknya aku cuci dulu jubah hitam itu baunya tidak enak."


Setelah puas berendam aku berdiri kemudian berjalan ke tepian dan mengambil jubahku untuk mencucinya, aku duduk di atas batu tepi sungai kemudian menggunakan sihir air untuk membuat gumpalan air yang melayang-layang seperti gelembung dan lalu memasukkan jubahku ke dalamnya.


"Chichichi... ternyata ini cukup menyenangkan." Ucapku sambil tertawa kecil.


Aku memutar-mutar air itu di udara untuk menghilangkan kotoran yang menempel di jubah itu, aku tidak menggosoknya secara langsung karena takut robekan pada jubah itu akan bertambah.


Apalagi setelah tabrakan sebelumnya aku harus lebih berhati-hati karena aku masih belum bisa menemukan penggantinya yang lebih layak.


"Eh! apa itu?"


Saat mencuci aku melihat sesuatu yang bersinar di antara kristal sihir di depanku, karena penasaran aku kemudian menghampirinya untuk melihatnya dari dekat.


"Bunga? lily? kenapa bisa tumbuh di sini? um... yahh... aku bawa saja lah."


Bunga itu terlihat seperti bunga lily, tapi memancarkan sinar biru cerah dengan sedikit kekuningan di tengahnya, karena bunga itu cuma tumbuh sendiri aku mencabutnya lalu menanamnya di vas bunga yang kubuat sendiri.


Bunganya indah...



(Anggap saja warna biru cerah.)


"Yoshh selesai, sekarang tinggal mengeringkan jubah itu." Ucapku sambil memegang jubahku.


Aku kemudian memegang dan mengeluarkan jubah itu dari gelembung air lalu seketika api biru keluar dari tanganku dan langsung membakar jubah itu, tapi bukan jubahnya yang aku bakar melainkan air yang membasahinya agar lebih cepat kering.


Karena aku bisa mengendalikan kekuatan api itu jadi aku bisa membakar apapun tanpa harus menghanguskan benda di dekatnya, karena tidak mungkin aku membakar satu-satunya pakaian yang aku miliki saat ini.


"Yup... sisanya tinggal mengeluarkan Sira." Ucapku sambil membuka dimensi ruang penyimpananku.


"Sira?! Oi...! apa yang kau makan?!"


"Hehehehe... hanya makan siang."


Setelah mengeringkannya aku langsung memakainya lalu membuka dimensi ruang untuk mengeluarkan Sira, aku menarik tubuhnya keluar dari ruang penyimpananku, tapi sepertinya dia sedang menikmati makanan yang ada di dalamnya dilihat dari sisa daging di wajahnya dan juga mulutnya yang masih penuh dengan makanan.

__ADS_1


"Huhh... ya sudahlah lagipula aku juga lapar."


...~•~...


__ADS_2