I Was Reincarnated As A Dragon

I Was Reincarnated As A Dragon
Chapter 71: Pulang [Dryad Frenya part 2]


__ADS_3

"Itu bukan rantai penyegel, siapa yang berani melakukan itu padanya?" ucapku agak kesal.


"Hm... dari aura yang ada di rantai itu apa Ardner yang melakukannya? tapi apa yang membuatnya seperti itu? sebaiknya aku mengawasinya juga."


Rantai yang di lehernya bukanlah rantai penyegel melainkan rantai kutukan, sebuah rantai sihir yang memberikan kutukan kesakitan yang berlipat setiap kali orang itu menggunakan kekuatan sihirnya.


Melihat gadis itu diperlakukan seperti itu membuatku sedikit marah dengan orang yang melakukannya, melihat bentuk dan aura yang terpancar dari rantai itu aku bisa menduga kalau itu adalah perbuatan Ardner, walaupun aku tidak tau masalah apa yang sedang terjadi di antara mereka berdua, tapi aku sangat yakin dengan hal itu.


...........


"Eh! aku tertidur... wah!! dia sudah bangun" ucap gadis itu terbangun dari tidurnya.


"Selamat sore nona." Ucap Sira padanya.


"Ya... maaf ya Sira... aku malah tertidur." Ucapnya sambil sedikit tersenyum tipis.


Aku terus mengamati dirinya yang sedang tertidur di dekat kura-kura raksasa itu dari jauh, sementara Sira masih berjaga di di sampingnya sambil sesekali menatap ke arahnya dengan cukup lama dan kemudian kembali menatap kura-kura itu, sampai akhirnya dia bangun karena kura-kura besar itu menggerakkan tubuhnya mencoba untuk bangkit kembali.


"Hehehehe... yahh... sepertinya dia baik-baik saja." Ucapku lega melihatnya yang sudah bangun.


"Tapi kenapa dia tidak melepasnya ya? seharusnya rantai itu hanya bagaikan benang tipis yang mudah putus, apa dia sengaja melakukannya?" ucapku sambil menatapnya dengan heran dari balik semak-semak.


"Tidak masalah nona, lagi pula anda memang perlu istirahat." Sahut Sira padanya.


"Sepertinya dia sudah tidak berniat lagi untuk menyerang kita." Ucap Sira sambil menatap kura-kura itu.


"Sepertinya memang begitu." Sahutnya sambil mencoba untuk berdiri.


"Nona!"


...........


Suasana sore hari menghiasi hutan dengan dengan pemandangan langit jingga yang menawan, tapi di saat dia juga ingin berdiri gadis itu kembali terjatuh dan kesulitan untuk berdiri terlihat sangat jelas di wajahnya kalau dia sedang menahan rasa sakit akibat rantai itu, dia mendekap erat kedua tangannya dengan nafas berat merasakan rasa sakitnya.


"Hm... kura-kura yang baik."


Perlahan kura-kura Crystal menjatuhkan air matanya langsung ke atas kepala gadis manis itu, gadis itu tampak sedang kebingungan ketika monster besar itu melakukan itu padanya, tapi mungkin perlu waktu bagi monster kura-kura Crystal untuk mengetahui siapa yang ada di hadapannya, sehingga dia langsung melakukan itu untuk mengobati rasa sakit yang ada di tubuh gadis itu.


...........


Setelah kura-kura itu mengobatinya monster itu kemudian pergi bertelur di pinggiran hutan di dekat danau, gadis manis itu terlihat sangat penasaran lalu mengikutinya dan melihat kura-kura itu bertelur dari dekat, wajah keingintahuannya benar-benar menggemaskan dan sangat imut.


"Hm... hey Sira ayo pergi dari sini... di sini sudah sangat gelap." Ucapnya sembari berjalan pulang.


"Baik nona." Sahut Sira.


Dia terus memperhatikan kura-kura itu sampai akhirnya hari menjadi semakin gelap dan kura-kura Crystal itu pun kemudian pergi kembali ke dasar danau, melihat hari yang gelap dia dan Sira juga pergi dari tempat ini menuju ke dalam hutan untuk kembali pulang ke rumahnya.


"Owh... dia sudah ingin pulang, sebaiknya aku ikuti mereka."


.


.


.


"Hey Sira? Sira? ehh!! huhh... hey ayolah Sira setidaknya temani aku sampai mulut gua." Ucapnya pada Sira.


"Dasar Sira apa-apaan sikapnya itu, hm... tapi di mana dia tinggal? ini sudah sangat larut."


Saat mulai memasuki hutan Sira terus berada di atas kepalanya duduk bersantai dan tidur dengan tenang sementara gadis itu berjalan menembus hutan yang gelap dengan arah yang tidak menentu, melihat Sira yang seperti itu membuatku merasa kesal padanya dan prihatin dengan kondisi gadis itu.


....


"Owh... di dalam labirin ya, kalau begitu akanku terangi jalanan sampai kau tiba di mulut gua."


Aku sedikit penasaran dengan letak keberadaan rumahnya karena sudah cukup lama dia berjalan dan aku tidak bisa melihat ada tanda-tanda rumah di hutan ini, bahkan tidak pernah ada rumah di hutan ini, jadi aku mencari informasi dari pepohonan yang dia lewati sebelumnya dan ternyata dia tinggal di dalam labirin.


"Datanglah cahaya roh sahabatku... roh yang menerangi malam, terangilah jalanan mereka sampai mereka menemukan jalan yang benar." Ucapku pelan sambil meniupkan cahaya roh pada mereka.


Untuk mempermudah jalan mereka aku kemudian memanggil cahaya roh di telapak tanganku lalu meniupkannya ke depan mereka untuk menerangi perjalanan pulang mereka.


"Woahh!! dia tertangkap... hehehe."


"Wahh!! ini sangat indah." Ucapnya terkagum-kagum.


"Syukurlah kalau dia menyukai itu... baiklah waktunya mengurus masalah yang satunya." Ucapku sambil berteleport seperti sebelumnya.


Dia tampak sangat senang saat melihat gemerlap cahaya dari roh yang menyinari jalanan di depannya, dia sangat bersenang-senang dengan cahaya-cahaya roh itu, tapi sayangnya aku tidak bisa melihat keimutannya dengan cukup lama karena aku merasakan ada sesuatu yang datang dari arah danau, jadi aku menganyam sulur-sulur lalu menggunakan sihir teleport menuju langsung ke dekat danau.


...*****...


Duarrr


"Wah wah... apa yang kau lakukan sampai-sampai membuat keributan di tempat ini Ardner?" ucapku menyapanya.


"Ini bukan urusanmu." Jawabnya singkat.


"Hm... tentu saja ini urusanku, kau sedang berada di wilayah hutan lindungku, kau tidak bisa berbuat semaunya di tempat ini Ardner... jadi apa yang kau lakukan di sini?"


" ... "


Saat aku tiba di dekat danau aku melihat seorang pria berjirah sisik sedang melancarkan sihir ke dalam danau dan meledakkan airnya, orang itu tidak lain adalah Ardner naga dingin dan keras kepala, melihat tindakannya itu aku kemudian bertanya padanya tentang apa yang dia lakukan, tapi dia menjawabnya dengan kata-kata datar dan tidak ingin mengatakannya serta kembali menggunakan sihir untuk menyerang kura-kura Crystal.


"Hm... bisa kau hentikan sifat dinginmu itu Ardner? jangan sampai kau melakukan hal bodoh hanya untuk meluapkan kemarahanmu, monster itu hanya melakukan apa yang ada instingnya."


"Ini tidak ada urusannya denganmu, aku akan memberikan pelajaran pada monster yang telah mengganggu hukumanku pada gadis itu."


Sudah kuduga... ternyata memang dia.


Melihat apa yang dilakukan oleh Ardner di tempat ini tidak ada satu hal pun yang dapat aku pikirkan kecuali dia yang sedang marah pada kura-kura itu karena telah menghilangkan rasa sakit dari rantai sihir yang dipasang olehnya, dan ternyata itu memang benar dan juga fakta tentang dirinya yang telah memasangkan rantai sihir di leher gadis itu, wajar saja jika ada orang yang tega melakukan hal itu pada gadis secantik dia.


"Hentikan saja tindakan konyolmu itu Ardner, apa gunanya bagimu membunuh monster lemah seperti dia." Ucapku sambil menatap kura-kura yang mulai terlihat terluka.


"Sudah kubilang ini tidak ada urusannya denganmu." Ucapnya dengan nada dingin.


"Memangnya apa yang telah gadis itu lakukan sampai-sampai kau menghukumnya dengan rantai itu?"


" ... "


Dia memang orang yang keras kepala...


"Aku tidak tau apa masalah kalian, tapi apapun yang kau lakukan padanya sebaiknya cepat hentikan itu, dan hentikanlah tindakanmu yang kekanak-kanakan ini, sebelum ada masalah yang akan datang padamu." Ucapku padanya.


"Lagi pula kau tidak mungkin bisa membunuhnya karena dia adalah orang yang berharga dan istimewa." Lanjutku menatap ke arah hutan.


"Cih! lain kali aku akanku buat dirimu menyesal karena telah menghalangiku Frenya." Ucapnya dengan kasar sembari pergi dengan teleport.


"Wahh... kasarnya... aku merinding mendengarnya hehehehe." Ucapku sambil tertawa kecil padanya.


.....


"Untuk sementara dia tidak akan berbuat ulah lagi... huhh... kalau begitu aku akan memperbaiki kerusakan yang ada dan juga... mengobati kura-kura ini."


.


.


"Baiklah kau sudah bisa pergi." Ucapku tersenyum pada kura-kura itu.


GROAHH


Setelah aku sedikit mengejek dan menasehatinya Ardner kemudian pergi dengan kesal meninggalkan kura-kura yang terluka parah di dalam danau, tampak sangat jelas ekspresi kekesalan di wajahnya sebelum dia pergi menghilang, aku hanya tersenyum dan tertawa kecil melihat dirinya yang seperti itu.


Saat dia pergi aku kemudian memperbaiki kawasan hutan yang rusak sampai sama seperti sedia kala bahkan pohon apel yang sebelumnya terinjak pun ikut kembali berdiri kokoh dengan buah-buah yang bergelantungan, aku juga mengobati kura-kura malang yang terluka akibat dari serangan Ardner sebelumnya dan mempersilahkan dia untuk pergi lagi ke dasar danau.

__ADS_1


"Hm... apa mereka sudah sampai ya? sebaiknya aku menghampirinya." Ucapku sambil membuka kembali sihir teleport.


Selesai mengurus Ardner dan memperbaiki hutan aku kemudian pergi kembali ke tempat gadis manis itu untuk memastikan secara langsung apa dia sudah sampai ke rumahnya atau belum.


...*****...


"Hm... sepertinya dia sangat mengantuk, kalau begitu biarku antar dia pulang." Ucapku sambil mendekatinya.


"Wah wah... kau tampaknya sangat menikmati ini ya Sira! akanku buat kau menikmati pemandangan malam yang indah hehehehe."


.


.


.


"Hehehehe... silahkan nikmatilah pemandangan bintang-bintang Sira." Ucapku sambil menatap Sira di atas daun.


Sesaat tiba di dekat gadis itu aku sedikit terkejut melihat ke arahnya yang sedang tertidur lelap bersandar di sebuah batang pohon dengan dikelilingi oleh para cahaya roh yang aku kirim sebelumnya, aku juga melihat Sira yang juga sedang tertidur pulas di atas kepalanya tanpa mempedulikan keadaan gadis itu.


Aku kemudian dengan perlahan memindahkan Sira ke atas sebuah daun tanaman merambat lalu sedikit demi sedikit mempertinggi batangnya sampai menjulang tinggi di udara, bukannya aku tidak suka dengannya, tapi aku kasihan pada gadis ini karena dia tampak sangat kelelahan sampai-sampai harus tertidur di tempat seperti ini, lagi pula aku sudah lama tidak menyapa Sira dengan meriah.


"Huhh... kenapa sangat dingin." Ucap Sira.


"Eh!! Waaa!!! kenapa aku ada di atas sini?!! turunkan aku!! woy!! turunkan aku!!" ucap Sira sambil berpegangan pada sulur tanaman.


"Ow... kupikir akan bisa sedikit lebih lama, ya... biarkan saja." Ucapku sambil membatalkan sihirku.


"Eh! Ehhh!! WAAAAAA!!"


.


.


.


"Hm... sampai kapan kau akan menutup matamu Sira?" tanyaku pada Sira.


"Eh! huhh huhh huhh selamat." Ucap Sira dengan lega.


Saat menjatuhkan Sira dari ketinggian aku dengan cepat menangkapnya menggunakan seutas sulur tanaman membuatnya bergelantungan di pohon seperti ayunan.


"Kau! Frenya!"


"Hm... kenapa kau terlihat sangat kaget Sira?"


"Jangan pura-pura tidak tau! apa maksudmu dengan menjatuhkanku dari ketinggian hah!!?" ucapannya dengan kesal.


"Hehehehe... kau terlihat sangat lucu Sira." Ucapku sambil tertawa kecil padanya.


Dia benar-benar menjadi kucing kecil hehehehe.


"Hah!! apa maksudmu!!?"


Sira terlihat sangat kaget dan kesal ketika tau kalau aku yang menjatuhkan dirinya dari ketinggian, dari dulu aku memang suka melakukan itu pada gumpalan bulu sepertinya terutama karena tingkah lakunya mulai membuatku merasa marah.


"Hehehehe... yahh kau terlihat sangat lucu Sira, seorang bawahan yang bertindak seperti majikan." Ucapku sambil mendekatkan wajah padanya.


"Hey jangan lakukan itu, cepat turunkan aku dari sini! cepatlah!" pintanya padaku.


Aku menarik sulur tanaman yang mengikat Sira kemudian mendekatkan wajahnya padaku lalu berbicara padanya dengan mengatakan sedikit kekesalanku sembari mendorong-dorong tubuhnya yang bergelantungan, satu kalimat sederhana yang mewakili semua keluhan padanya tentang apa yang dia lakukan.


"Hoy ayolah Frenya aku tidak bisa berpikir di atas sini!" lanjutnya sedikit putus asa.


Karena Sira sudah terlihat mulai putus asa bergelantungan aku kemudian melepaskan dan menurunkannya sedikit menjahili Sira adalah hal yang menyenangkan karena sudah lama aku tidak melakukan itu padanya.


"Huhh... jadi apa maksudmu dengan bawahan yang bertindak sebagai majikan itu?" tanya Sira sambil berusaha untuk berdiri tegak.


"Dia memang orang yang baik, tapi jangan pernah memanfaatkan kebaikannya untuk memanjakan dirimu sendiri, walau bagaimanapun dia adalah tuanmu yang harus kau layani dan bukannya dia yang melayanimu." Ucapku sambil menatap gadis yang tertidur itu.


" ... "


"Hm..."


Wajah ini... dirimu tidak pernah berubah ya Shea kau masih saja sama seperti dulu, terlihat sangat cantik... hehehehe tapi mungkin hanya kepribadianmu yang sedikit berbeda.


Dengan perlahan aku mendekati gadis manis yang tertidur itu lalu membelai halus rambut dan wajahnya mengingat kembali ke masa lalu, dengan tanpa mempedulikan ucapan Sira karena pandanganku hanya terfokus pada gadis cantik yang sedang tertidur di depanku ini.


Melihat wajahnya dari dekat benar-benar membuatku teringat akan masa lalu, dirinya tidak pernah menunjukkan adanya perubahan, wajahnya masih terlihat sangat cantik dan lembut benar-benar tidak berubah hanya saja kepribadiannya yang terlihat kekanak-kanakan.


"Yahh... aku sadar dengan itu Frenya, aku tau letak kedudukanku terhadapnya, tapi dialah yang memintaku untuk menjadi seperti ini, aku tidak pernah berpikir untuk melakukan itu dan memanfaatkan kebaikannya semua yang kulakukan ini adalah atas perintahnya." Lanjut Sira padaku.


"Setidaknya lihatlah keadaannya sebelum kau melakukan itu, dia sudah cukup lelah dan tersiksa dengan semua rasa sakit itu." Ucapku sambil kembali berdiri dengan masih menatap wajah gadis itu.


"Ekhhh... s-sakit...!" Ucap nona secara tidak sadar.


Hm... apa sesakit itukan dirinya...


Aku bisa menerima bahwa dialah yang memerintahkan Sira agar menjadi seperti ini, tapi aku sedikit kecewa dengan tindakan Sira yang tidak melihat keadaan tentang kondisi dari gadis ini dan tetap melakukan perintahnya tanpa penolakan walaupun dia tau tentang keadaan dari majikannya saat ini.


Dan saat kami sedang berbicara tiba-tiba gadis itu mulai bersuara dan mengigau kesakitan, sepertinya rasa sakit dari rantai kutukan itu benar-benar membuatnya menderita sampai-sampai terbawa ke dalam mimpinya.


"Sebaiknya kita bawa dia pulang untuk beristirahat di tempat yang lebih layak." Ucap Frenya sambil melakukan sihir teleport.


"Hm... memangnya kau tau letak rumah dinding milik nona Frenya?" tanyaku padanya.


"Apa kau meragukanku Sira? karena seingatku ada bunga lily biru di rumah itu." Ucapku sambil menggendongnya.


"Y-yahh..."


Dia sangat ringan hehehe.


Melihat dirinya yang kurang nyaman aku kemudian pergi membawanya langsung ke rumahnya menggunakan sihir teleport, karena aku tau dia pernah membawa setangkai bunga Lily ke sana, bagaimana aku bisa tau itu? yahh sederhana saja saat aku mencari informasi tentang keberadaan rumahnya dengan menggunakan tanaman aku melacak ada tanaman di dalam rumahnya itu di tambah ada auranya yang tersebar di sekitar bunga itu, karena itulah aku tau letak rumahnya.


...*****...


"Jadi di mana kamarnya Sira?"


"Lantai dua kamar ujung sebelah kanan." Jawab Sira.


"Tunggu dulu tadi kau bilang kau tau tentang rumah nona, lalu kenapa kau bertanya?" lanjut Sira sembari bertanya.


"Aku tidak bilang kamarnya, aku hanya bilang rumahnya." Ucapku sambil menaiki anak tangga.


Setelah Sira menyebutkan kamarnya aku langsung menaiki tangga menuju lantai dua untuk membaringkannya di atas tempat tidurnya agar dia bisa sedikit lebih nyaman beristirahat.


.


.


"Sekarang kau bisa tidur dengan nyaman." Ucapku sambil membaringkannya di atas tempat tidur.


Selesai menaiki tangga aku kemudian pergi ke depan kamarnya lalu membuka pintu kamar itu, Sira juga berjalan mengikutiku dari belakang menaiki tangga dan masuk ke dalam kamar, tapi setelah masuk dia hanya kembali berbaring di dekat pintu.


Sesampainya di kamarnya aku langsung membaringkan tubuhnya di atas tempat tidurnya lalu mengambil selimut yang ada di rumah pohonku untuk menyelimutinya agar dia tidak kedinginan.


Hm... tempat ini terlalu kosong, aku tidak melihat adanya barang-barang di tempat ini kecuali yang ada di ruang tamunya.


"Sira apa tempat ini memang sekosong ini?"


"Ya seperti itulah... kami baru saja pindah ke tempat ini saat Ardner menyerang kami di lantai delapan."


"Ooh... kalau begitu akanku beri dia hadiah."


Karena tempat ini sangatlah kosong aku kemudian menggunakan sihirku untuk membuat beberapa perabotan rumah seperti meja, kursi, dan lemari untuknya, membuat benda seperti itu sangatlah mudah bagiku karena aku dapat menumbuhkan kayu dan mengendalikannya sesuai keinginanku, tentunya itu semua tidak terlepas dari diriku yang seorang roh hutan.

__ADS_1


Kalau begitu sekalian saja aku memberikan pakaian padanya, dia pasti hanya punya satu itu.


"Datanglah sahabatku loura penuhilah panggilanku, wahai roh gadis penenun sutra."


"Wah Frenya lama tidak berjumpa, bagaimana kabarmu?"


"Aku baik-baik saja." Jawabku padanya.


"Jadi kenapa kau memanggilku ke sini? kau nyaris tidak pernah memanggilku Frenya."


"Apa kau bisa membantu membuatkan pakaian untuk gadis ini?"


Selain membuatkan perabotan rumah aku juga meletakkan bunga Lily di atas mejanya lalu memanggil seorang roh gadis penenun bernama loura dan memintanya membuatkan beberapa pakaian untuk gadis cantik ini, aku bisa menebak kalau gadis ini hanya memiliki satu atau dua buah pakaian saja karena memang nyaris tidak ada barang-barang di rumah ini.


"Ow... siapa gadis manis ini Frenya?" tanyanya padaku.


"Siapa dirinya tidak penting, tapi apa kau bisa membuahkan beberapa pakaian yang sama seperti itu dalam waktu satu malam?"


"Hm... ini benang yang unik aku tidak pernah melihatnya, kainnya juga lembut... yahh aku bisa membuatnya, tapi sepertinya aku perlu bantuan dari yang lainnya jadi aku perlu contoh untuk diperlihatkan kepada roh penenun yang lainnya." Ucapnya sambil memperhatikan gaun yang dipakai oleh si manis ini.


"Contoh ya... kalau begitu ayo kita lepaskan dulu gaun ini." ucapku tanpa ragu.


"Baiklah kalau begitu..." ucap loura sambil menatap Sira.


"A-ada a-apa?"


"Apa kau tidak paham apa itu privasi?"


...


" ... "


"Eh! hey hey hey t-tunggu d-dulu... waaaa!!"


Brukkk


"K-kenapa k-kau sangat suka melakukan ini Frenya..."


Karena loura bilang dia perlu contoh untuk diperlihatkan pada roh yang lain aku kemudian menyarankan agar melepaskan pakaian yang dipakai oleh gadis itu, karena memang tidak ada baju lain yang bisa digunaka sebagai contoh selain yang dipakai olehnya, dan dengan serentak aku dan loura langsung menatap Sira agar dia keluar dari kamar, tapi karena Sira tidak memahami maksud kami aku langsung menendangnya keluar sampai terlempar ke kamar yang satunya lalu menutup pintu kamar kami.


"Kalau begitu biarku bantu melepaskan gaunnya." Ucapku sambil mendudukkan tubuh gadis cantik itu.


.


.


.


Wah wah padahal masih sekecil ini, tapi tubuhmu sangat bagus Shea hehehehe.


"Baiklah sampai jumpa beberapa jam lagi Frenya." Ucapnya sembari pergi kembali ke dunia roh.


....


"Kau punya ukuran yang bagus hehehehe." Ucapku sambil kembali menyelimutinya.


Sebelum aku menarik tubuh gadis itu ke posisi duduk aku terlebih dahulu menggunakan mantra tidur padanya agar dia tidak terbangun saat kami melepaskan gaunnya, setelah itu dengan perlahan kami melepaskannya terlihat sangat jelas lekukan tubuh dan kulit putih mulus miliknya, meski masih terlihat seperti anak remaja dia punya tubuh yang bagus.


Selesai dengan itu loura kemudian kembali ke dunia roh untuk membuatkan pakaian yang kuminta sementara aku menunggu dan memandangi tubuh mulus mungil gadis manis ini lalu menyelimutinya kembali menggunakan selimut.


Siapapun yang berhasil memilikimu adalah pria yang sangat beruntung di dunia ini.


...*****...


.


.


.


"Yup... ini dia Frenya sesuai dengan model dan ukurannya."


"Ow... sudah selesai ya... terima kasih loura."


"Sama-sama... kalau begitu sampai jumpa di dunia roh, itu pun kalau kau ada waktu untuk berkunjung... oh ya aku juga membuatkan beberapa baju tidur untuknya, karena mungkin cukup sulit jika tidur dengan menggunakan gaun."


"Sekali lagi terima kasih telah membantuku."


"Ya... panggil saja aku kalau kau perlu bantuan, sampai jumpa." Ucapnya kembali pulang.


Berjam-jam telah berlalu dan embun pagi sudah bermunculan akhirnya loura datang dengan membawakan pesanan pakaian yang kuminta, dia juga membuatkan beberapa baju tidur untuknya ada yang imut dan juga ada yang sederhana sangat sesuai dengan perawakan gadis ini.


Aku langsung kembali memakaikan gaunnya lalu memasukkan sisanya ke dalam lemari yang sudah aku sediakan sebelumnya, aku kemudian mengucapkan terima kasih padanya karena telah membantuku sebelum akhirnya dia pulang ke dunia roh.


"Baiklah tinggal melakukan hal terakhir... membuatkan sarapan untuknya setelah itu aku akan pergi." Ucapku sambil membuka pintu kamar.


...........


"Kau tidur sangat nyenyak ya Sira hehehehe."


"Aku nyaris mati dua kali tadi malam dan kau bilang itu tidur yang nyenyak?!" ucapnya dengan kesal.


"Hehehehe... lain kali peka lah dengan keadaan." Ucapku sambil tertawa kecil.


"Cih! terserah padamu."


Setelah keluar dari kamar aku kemudian pergi menuruni tangga bersama Sira yang juga baru bangun dari tidurnya yang nyenyak, aku ingin membuatkan sarapan untuk Shea karena aku sudah mengawasinya seharian penuh.


...........


"Sebaiknya aku membawakan makanan dari rumah saja." Ucapku sambil menatap ke dapur yang kosong.


.


.


.


"Hoahh... emhhh... eh! kenapa aku ada di kamar?"


"Wah... dia sudah bangun, kalau begitu waktunya aku pergi."


Aku kemudian membuat sebuah meja makan dengan enam kursi lalu membawakan makanan dari rumahku dan menatanya dengan rapi, roti, susu, lauk pauk, teh, dan beberapa buah-buahan yang segar, serta makanan penutup lainnya, selesai menyiapkan semua itu aku kemudian pergi karena sudah terdengar suara gadis itu yang mulai bangun.


"Apa kau tidak ingin bertemu dengan secara langsung?" tanya Sira padaku.


"Mungkin lain kali."


Bukannya aku tidak memperlihatkan diriku padanya, tapi aku ingin memperlihatkan diriku di momen yang tepat sambil terus mengawasi dan memperhatikan dirinya dari kejauhan.


...*****...


"Baiklah... aku akan mengawasimu dari sini." Ucapku sambil duduk di atas sofa panjang.


"Yahh... bagaimana kalau Shea? itu nama yang singkat, jelas, mudah diucapkan, dan juga mudah untuk diingat."


"Eh! jadi kau belum punya nama... hehehehe... sekarang aku benar-benar yakin kalau itu memanglah dirimu." Ucapku agak terkejut.


"Hm... nama yang bagus." Ucap Sira.


"Tentu saja hehehe."


"Baiklah... lalu di mana gadis yang satunya Shea? si rubah ekor sembilan itu..." ucapku sambil tersenyum.


...🌺🌺🌺🌺🌺...

__ADS_1


__ADS_2