I Was Reincarnated As A Dragon

I Was Reincarnated As A Dragon
Chapter 84:Luna


__ADS_3

"Ahh... rasanya sangat tidak enak." Ucapku dari dalam selimut.


"Obat memang seperti itu Luna." Sahut Emma.


"Tolong jangan dengarkan ucapanku, ini hanya keluhan..."


"... aghh... menyebalkan! perutku mual."


"Hahh... kau itu sudah dewasa Luna, jangan bersikap seperti anak-anak, kau tau mana yang baik untuk dirimu." Sahutnya lagi sambil menghela nafas.


Cukup lelah berdebat dengan Rin aku terus bersembunyi di balik selimutku masih sambil merasakan obat pahit yang masih membekas di mulutku dan membuat perutku mual ingin segera memuntahkan isinya, dan itu sangat tidak menyenangkan dari kecil aku tidak pernah ingin meminum obat terutama jika itu rasanya pahit dan itu berlangsung hingga saat ini, isi perutku nyaris keluar gara-gara dipaksa harus meminum obat pahit itu oleh Lia, hariku sedang kurang beruntung.


"Mau bagaimana lagi aku tidak suka minum yang pahit... oh ya! di mana Lia? dia tidak terdengar lagi?" tanyaku masih dalam selimut.


"Dia tidur." Jawabnya.


"Baguslah kalau begitu."


"Kau juga sebaiknya tidur, dan hentikanlah keluhan tidak berguna itu." Lanjut Emma padaku.


"Ah ya baiklah." Sahutku sambil perlahan menutup mata.


Cukup dengan semua keluhanku yang tampak tidak berguna aku kemudian memejamkan mataku untuk beristirahat dan tidur, juga agar aku tidak lagi merasakan sisa pahit dari obat yang diberikan Emma sebelumnya, karena rasanya sangat menggangu di mulutku.


...*****...


"Kak... kakak... kak Luna?"


"Iya iya tunggu 5 menit lagi... hoahhh... aku masih mau tidur."


"Tapi, ini sudah waktunya makan malam kak." Ucap Lia semakin cepat mengguncang tubuhku.


"Iya iya... berhenti mendorong Lia, tubuh kakak masih terasa remuk." Ucapku sambil berusaha duduk.


Dalam keadaan setengah bangun samar-samar aku mendengar suara Lia yang sedang memanggilku, tapi aku sedang malas untuk bangun tidur karena rasa kantuk masih menguasai kepalaku, dan karena aku tidak ingin bangun Lia terus mendorong-dorong tubuhku dengan cukup kuat, entah karena apa saat Lia mendorongku rasanya menjadi sedikit sakit dan pegal-pegal.


"Hehehehe maaf kak."


"Eh! makan malam? aku tertidur selama itu ya."


"Kak Luna kan memang harus banyak istirahat." Sahut Lia sambil duduk di sampingku.


Aku sedikit terkejut tau kalau aku bisa tertidur pulas sampai tiba waktu makan malam karena biasanya aku tidak pernah tidur siang sampai selama itu, paling lama mungkin hanya sekitar dua jam saja dan yah... jika itu dalam kondisi baik-baik saja, tapi tidak dengan kondisi seperti ini, dan mungkin juga ini karena obatnya.


"Aghh...! bukannya semakin membaik setelah tidur, ini malah semakin sakit." Ucapku sambil memegang pangkal leherku.


"Tenanglah Luna... jangan mulai mengeluh, itu hanya efek karena kau tidur di tanah." Sahut Emma.


"Aku tidak suka minum obat."


"Itu bahkan tidak ada hubungannya, hahh... aku bingung bagaimana orang tuamu bisa membesarkanmu."


"Jangan membawa ibu dan ayahku ke dalam masalah ini, tentu saja mereka membesarkanku dengan baik."


"Sudahlah kak... yang berlalu biarlah berlalu dan sekarang waktunya kita makan malam hehe." Ucap Lia sambil memelukku dari belakang.


"Ya baiklah, kakak juga sudah mulai lapar." Sahutku sambil tersenyum tipis.


...*****...


"Bagaimana keadaanmu Luna?" tanya Kie padaku.


"Ya sedikit pegal-pegal, tapi sudah jauh lebih baik."


"Yahh... kalau begitu kau harus cepat makan agar tidak semakin sakit." Lanjut Kie.


"Dia sakit karena serangan monster bukan karena demam." Ucap Rhom dari samping.


"Aku setuju itu." Sahut Rin.


"Tidak bisakah kalian jangan menyela pembicaraan kami." Ucapku pada mereka.


"Baik..." Sahut mereka bersamaan.


Karena perutku sudah mulai terasa lapar dan juga aku tidak ingin memulai perdebatan dengan Emma, aku kemudian membuka selimutku lalu berdiri berjalan beriringan dengan Lia dan Emma menuju ke arah orang-orang yang sudah menunggu di dekat api unggun.


Di sana juga terlihat Rin, Cia, dan Rhom yang sedang memasak makanan juga Kie yang sedang melambaikan tangannya ke arahku dengan satu tangan lainnya mengaduk-aduk panci makanan sambil sedikit menanyai tentang keadaanku, dan aku hanya menjawabnya dengan jawaban yang jujur.


"Huhh... kalian jangan memulai itu lagi." Ucap Emma dari belakangku.

__ADS_1


"Kak..."


"Iya Lia, lagi pula tidak ada gunanya meributkan hal yang tidak jelas." Ucapku sambil mengelus kepalanya.


...


"Kalian juga Kak Rin, Rhom." Ucap Cia pada mereka.


"Kami hanya mengatakan kebenarannya." Sahut Rhom padanya.


"Ya seperti itulah." Sambung Rin.


Mereka party yang unik... "•_•


...


"Ini untukmu Luna."


"Ya terima kasih Kie."


.


.


"Aku tambah lagi."


Pusing mendengar pembicaraan mereka Kie kemudian memberikan sepiring makanan padaku sebelum akhirnya dia duduk bersebelahan denganku sambil juga memegang piring makanannya, dengan lahap aku kemudian memakan makananku sampai tak tersisa, entah kenapa aku merasa sangat lapar malam ini bahkan aku juga sempat menambah makananku sebanyak dua kali dan jelas itu lebih banyak dari porsi makanku yang biasanya.


"Mau tambah lagi?" tanya Kie padaku.


"Tidak, aku sudah kenyang... oh ya Emma! kenapa kau tidak menutup lukanya juga? ini cukup mengganggu loh." Ucapku sambil menatap bahu kiriku.


"Ya karena sisa racun itu menghalangi penyembuhannya, jadi mungkin sebaiknya kita menunggu sampai kau sembuh dari racunnya dulu." Jawabnya sambil minum.


"Ehh! kalau seperti itu lukanya akan sembuh duluan, dan mungkin ini akan membekas." (ᴗ͈_ᴗ͈)


"Hahh... luka sebesar itu juga tidak akan sembuh dalam sehari..." Ucap Emma sambil berjalan ke arahku.


"Ya mau bagaimana lagi aku tidak ingin lukanya membekas."


"... biarku lihat dulu... hm..." Sambung Emma sambil membuka baju kiriku juga perbannya.


"Tenang saja Luna aku punya obat yang bisa menghilangkan bekas luka." Ucap Kie dari sampingku.


"Hey nona kami punya obat oles yang sudah jadi di dalam kereta, apa kau mau?" ucap salah satu pedagang.


"Yahh... ini sudah bisa di sembuhkan, tapi hanya bagian luarnya saja sedangkan untuk bagian dalamnya perlu waktu untuk sembuh, jadi apa kau mau?"


"Ya lakukan saja asalkan tidak berbekas... Maaf ya paman, tapi mungkin lain kali saja hehe."


"Ya baiklah, tapi jika kalian perlu sesuatu jangan sungkan mengatakannya." Sahut pedagang itu.


"Baik paman." Sahut Lia dan Cia bersamaan sambil terus memakan makanannya.


Kie dan beberapa pedagang sedikit memberiku saran untuk memakai obat oles yang bisa menghilangkan bekas luka, tapi tentu itu juga tidak akan hilang sepenuhnya dan beruntungnya aku karena Emma sudah bisa menggunakan sihirnya untuk menghilangkan luka itu, hanya saja bagian dalam belum bisa disembuhkan sepenuhnya, walaupun begitu aku sudah bisa istirahat dengan tenang tanpa perlu khawatir dengan bekas luka lagi.


...***...


"Baiklah sudah selesai Luna, sekarang kita sudah bisa melepas perbannya." Ucap Emma sambil membuka perbanku.


"Terima kasih ya Emma, sekarang aku bisa lebih tenang." Ucapku lega.


"Hahh... kau khawatir hanya karena luka, bagaimana mungkin kau bisa menjadi petualangan Luna?" tanya Rin sedikit mengejek.


"Y-yahh biasanya aku tidak pernah mengalami luka sebesar ini." jawabku.


Aku benar-benar sangat lega karena luka itu bisa menutup, karena jika tidak aku sulit membayangkan apa yang akan terjadi nantinya khususnya untuk misi yang sedangku jalani ini, itu pasti akan sangat menyulitkan, tapi walaupun begitu aku tetap bisa merasakan sakit karena lukanya masih belum sembuh total.


"Masalah wanita..." ucapku Rhom mengejekku.


"Memangnya kau tau apa masalah perempuan?" •_• tanya Cia padanya.


"Tidak, aku hanya sering mendengar itu dari petualangan lainnya, mereka bilang wanita itu sering marah-marah tidak jelas dan mudah cemas tidak beralasan..." Jawabnya sambil melempar kerikil ke arah api unggun.


"Penggosip." Potong Lia.


"Payah." Sahut Cia


"Tidak berguna, menyebalkan." Ucapku padanya.

__ADS_1


"Sebaiknya kau mati saja bersama teman-teman penggosipmu itu." Timpal Kie padanya.


"Malam ini kau jaga, aku mau tidur." Ucap Rin padanya sambil kembali ke dalam selimutnya.


"Hei kenapa kalian marah padaku... hoy Rin kau yang berjaga malam ini kan?"


"Ha? apa aku perlu membalikkan kata-katamu itu? karena aku sudah sangat mengantuk, selamat malam hoahhh."


"Sebaiknya kita juga tidur Lia."


"Baik kak... ayo Cia, Emma, Kie."


"Tentu." Sahut Kie.


"Baiklah."


...***...


"Tidur yang nyenyak ya Lia, cup... selamat malam."


Laki-laki selalu saja berpikir buruk tentang wanita padahal mereka tidak memahami apa yang kami rasakan, mereka hanya mengambil kesimpulan berdasarkan pemahaman mereka saja tanpa mengambil sudut pandang dari kami yang merasakannya, mereka menyebalkan.


Kami semua berbondong-bondong menimpali Rhom yang bicara sok tau tentang kehidupan wanita lalu tidur meninggalkannya sendirian terbangun di dalam malam tanpa mempedulikannya sedikitpun.


Aku tidur di dekat Lia dan Cia secara berjejer dengan Emma dan Rin dan Kie di belakangku yang juga terdengar sudah tertidur pulas, aku kemudian memasukkan Lia ke dalam selimut yang sama denganku lalu mengucapkan selamat malam padanya setelah itu barulah aku tidur sambil memeluknya.


...✧❁❁✧✿( Ellia )✿✧❁❁✧...


"Eemmhhh...ahh... sudah pagi ya, eh! tidak biasanya kak Luna belum bangun... WAAAA!!!"


"A-ada apa Lia?!" tanya kak Luna dengan kaget.


"Ha? apa yang terjadi?!" ucap Cia bertanya.


"Kenapa Lia? kau berteriak di pagi buta." Tanya Rin dari belakang kak Luna.


"Iiiiiiitu..." ucapku menunjuk ke belakang mereka sambil bersembunyi di balik selimut.


Aku tertidur saat nyenyak tadi malam dan saat aku bangun wajah kak Luna berada tepat di samping wajahku dengan kedua tangannya yang memegangku seperti bantal, ya... itu memang kebiasaannya kak Luna kalau tidur bersama.


Aku kemudian bangun dan duduk sambil mengamati sekitarku yang masih tertutup embun pagi, dan orang-orang yang masih tertidur, tapi aku benar-benar terkejut melihat Rhom yang sedang duduk menatapku dengan tatapan horor dan mata merahnya yang menakutkan, langsung saja aku menarik selimut kak Luna lalu bersembunyi di dalamnya sambil berteriak dengan keras sampai-sampai aku membangun orang-orang yang ada di tempat ini dan membuat mereka semua bertanya-tanya.


Dengan sedikit mengintip aku mengangkat tanganku menunjuk ke arah Rhom yang masih menatap ke arahku dengan tatapan mengerikannya.


"Yo apa tidur kalian nyenyak?" ucap Rhom sambil mengangkat tangannya menyapa Emma.


"Apa yang terjadi padamu Rhom? kau terlihat sangat berantakan." Tanya Emma padanya.


"Coba kau pikirkan sendiri, aku ingin ti... ti..."


Brukkk


"... dur." Ucap Rhom sambil berjalan dan terbaring di atas kereta kuda dengan separo kaki menjuntai.


.....


"Dia menakutkan." Ucapku masih mengintip dari selimut. •_•


"Tenang saja Lia, hoahhh... yahh... ayo kita sarapan setelah itu melanjutkan perjalanan." Ucap kak Luna sambil menutupi mulutnya.


"Untuk makanannya kita tidak perlu repot-repot memasak, aku masih menyimpan sisa makanan tadi malam." Ucap Emma pada kami.


Cukup dengan mata panda milik Rhom kami kemudian mengumpulkan semua orang –tentunya tetap membiarkan Rhom tertidur– lalu menyiapkan makanannya dan sarapan pagi bersama sebelum akhirnya melanjutkan perjalanan.


Sarapan kami dipenuhi cerita dari para pedagang yang menceritakan tentang pengalaman mereka berdagang ke berbagai kota, sambil memakan makananku aku mendengarkan cerita mereka dengan sesekali tersenyum mendengarnya karena ada canda tawa dari mereka, itu semua sangat menyenangkan.


Selesai sarapan kami kemudian menaiki kereta kuda pedagang yang telah selesai di perbaiki tadi malam, dengan sedikit menyeret tubuh Rhom masuk ke dalam mereka aku duduk di samping Cia dan kak Luna dan juga Rhom yang masih berada di bawah kaki kami, dia tertidur sangat pulas sampai-sampai sulit untuk dibangunkan walaupun dia sudah ditendang oleh Rin. •_•


...*****...


"Dia masih belum bangun juga." Ucapku kak Luna melihat Rhom.


"Kasihan ya kak, Rhom pasti sangat kelelahan berjaga semalaman." Ucapku padanya.


"Aku sempat mendengar suara pertarungan dan beberapa lolongan kecil, mungkin tadi malam dia sedang bertarung." Ucap kusir pedagang.


"Kita biarkan saja dia istirahat." Sahut Cia padaku.


Sepanjang perjalanan sampai tiba tengah hari Rhom terus saja tertidur dan tidak bergeming dengan banyaknya benturan ban kereta yang menabrak gundukan dan bebatuan yang ada di jalanan hutan ini, aku menjadi sedikit kasihan dengan keadaannya yang tampak sangat kelelahan ditambah lagi dengan ucapan menyakinkan dari pedagang yang bilang kalau dia bertarung sendirian di malam hari.

__ADS_1


__ADS_2