
"Oh ya Sira, bisa tolong tutup jalur yang menuju tempat ini? aku tidak ingin ada orang lain yang mengambilnya."
"Iya, baik… nona."
Setelah mengambil beberapa kristal untuk keperluan dekorasi rumah dindingku, aku kemudian menggendong Sira di perutku dan berniat untuk segera pulang, tapi saat aku melihat semua kilauan cantik dari bebatuan kristal di tempat ini, aku merasa tidak enak untuk meninggalkannya.
Karena itulah, aku meminta Sira untuk menutup jalur masuk ke tempat ini dengan sihir buminya dan hanya menyisakan jalan masuk satu arah dari rumah dindingku, bisa dibilang hanya ada satu jalan masuk ke tempat ini yaitu melalui mulut gua dari jalan rumahku dan jika ada orang asing yang mau mengambilnya mereka terlebih dahulu harus berhadapan denganku.
...✧✧✧✧✧...
Gruss!!
"Ini yang terakhir, nona."
"Ya, terima kasih Sira, sekarang aku tidak khawatir lagi untuk meninggalkannya."
"Anda cukup serakah nona."
"H-hah?! aku tidak serakah Sira…! aku hanya melindungi apa yang sudah menjadi kepunyaanku, apa kau tidak pernah dengar… siapa yang dapat duluan dialah yang jadi pemiliknya" ucapku sambil tersenyum.
"Ah~ ternyata ada hal seperti itu."
"L-lagipula bukan cuma itu tujuanku memintamu menutup jalan ini, aku tidak ingin ada monster tersesat yang datang ke tempatku, aku sedang tidak ingin bertarung."
"Itu cukup masuk akal."
"Kau masih tidak percaya ya?"
"Hampir."
"Ugh! aku berkata jujur loh… Sira."
Berhasil menutup kedua jalur yang ada dengan reruntuhan dari penggunaan sihir bumi, aku benar-benar sangat senang karena semua jalan masuk itu sudah tertutup rapat, tapi saat aku ingin berjalan pulang, Sira yang ada dalam peganganku tiba-tiba saja mengeluarkan ekspresi aneh sambil berbicara dengan menutup sebelah matanya, perkataan Sira terdengar cukup menusuk, tapi memang terlihat sesuai dengan apa yang aku lakukan dari sudut pandangnya.
Sulit untukku menyangkalnya karena aku memang terlihat serakah dengan tidak membiarkan orang lain mengambil kristal mineral itu, tapi tentunya aku tidak ingin menganggap itu sebagai keserakahan karena aku melakukannya untuk melindungi diriku dan keberadaan kristal itu hanya sebuah keberuntungan yang kebetulan ada di jalur rumahku. Jadi, aku juga ingin melindunginya ehehe.
Walaupun begitu Sira masih saja terlihat tidak percaya dengan ucapanku dan mengeluarkan senyuman yang sangat jelas sedang mengejekku, ya itu cukup mengesalkan, tapi aku tidak bisa berbicara lagi. Jadi, aku hanya bisa menghela nafas pasrah sambil melanjutkan perjalanan pulang ke rumah dindingku.
...✧✧✧✧✧...
"Hahh…! kita sampai, letakkan saja kristal itu di dalam kamarku sisanya biar aku yang mengurusnya."
"Baaik... nona."
…
"Emh... ahh~! ya… kalau begitu aku jalan-jalan ke luar dulu… Sira! aku akan pergi sebentar, tolong jaga rumah selagi aku tidak ada!"
"Baik nona!!" sahutnya berteriak dari dalam kamarku.
…
"Baiklah, aku pergi ehehe."
__ADS_1
Sampai di depan rumah dengan hembusan nafas yang cukup kasar, aku langsung duduk di atas batu yang ada di depan pintu masuk rumah dindingku, sementara Sira aku minta untuk meletakkan kristal mineral sihir yang baru aku ambil ke dalam kamarku untuk kemudian aku olah menjadi pernak pernik kecil yang akan menghiasi rumahku ini karena memang itulah tujuan awalku.
Duduk dalam keheningan sambil menatap langit-langit gua yang menjatuhkan beberapa tetes air ke tempat yang sama setiap saatnya, aku benar-benar bosan dengan suasana seperti ini yang terasa sangat hampa dan sepi. Oleh karena itu, aku kemudian menitipkan rumah dindingku pada Sira yang masih berada di dalam kamarku sementara aku ingin mencari suasana baru dengan jalan-jalan menyusuri hutan untuk melihat makhluk-makhluk eksotis yang ada di dalamnya.
"Ahh~! hari yang cerah, yosh! waktunya untuk mengepakkan sayapku lagi"
"Yahh… aku harap hari ini jauh lebih baik dari hari-hari sebelumnya" gumamku sembari berjalan keluar gua.
Membuka tirai tanaman merambat yang berjatuhan menutupi mulut gua, aku langsung menyeringai dengan sedikit mendesah saat cahaya matahari mulai menusuk mataku dengan sinarnya yang terang. Tapi meskipun begitu, aku cukup bersemangat untuk memulai hariku yang baru, terlebih lagi karena sudah beberapa hari terakhir tidak pernah berjalan jauh dari guaku. Jadi, aku berharap ini akan menjadi hari yang bagus dan berbeda dengan hari-hari sebelumnya.
...✧✧✧✧✧...
"Sepertinya aku beruntung cuaca sedang berawan… ya… walau tampaknya ini bukan pertanda baik" ucapku sembari terbang menatap sekitar.
Setelah beberapa jam aku terbang di atas hutan, siang yang bagus dengan cahaya matahari yang menyebar luas ke penjuru hutan perlahan redup karena terhalang oleh awan yang terkumpul, aku suka dengan di hari yang tidak terlalu panas, tapi aku tidak begitu suka melihat awan tebal berwarna abu-abu kehitaman yang berkumpul sangat banyak karena itu pertanda akan turun hujan di tempat yang aku lewati.
"Hahh…! sepertinya memang akan turun hujan, sebaiknya aku mendarat dulu."
Cuaca yang semakin gelap dengan perubahan suhu di udara, aku dapat merasakan hawa dingin dengan sangat jelas dan karena itu aku kemudian memutuskan untuk mendarat di bawah pepohonan yang rindang, aku tidak ingin memaksa untuk terbang jika memang hari akan hujan.
"Gerimis kecil ya… ini tidak akan membasahi gaunku sih, tapi mungkin ada baiknya aku pulang saja…"
DUARR!!!
"Eh! itu…! jangan-jangan ada orang yang bertarung?!" ucapku kembali terbang.
Tepat setelah aku mendarat, butiran air mulai berjatuhan dengan jumlah yang jelas tidak bisa dihitung, tapi karena hanya sebesar butiran embun pagi, tetesan air itu begitu terasa di kulitku dan satu-satunya yang bisa aku rasakan hanyalah dingin dari hembusan angin yang berhembus saat aku mengulurkan tanganku untuk menangkap butiran air itu.
"Ah… itu ular yang besar, tapi apa yang dia lawan?" ucapku kebingungan.
...
"Ugh! dingin! seharusnya aku tidak terlalu tinggi."
Memantau keadaan dari setiap sudut pandanganku dengan teliti untuk mencari asal suara ledakan yang mengagetkan itu, aku cukup terkejut saat melihat kepala ular yang menjulang tinggi dengan ukuran yang sangat besar bahkan lebih tinggi dari pohon yang ada di sekitarnya.
Ular besar itu seakan menatap sesuatu yang ada di bawahnya dengan lidah khas ular yang menjulur beberapa saat sekali dan tatapan yang terlihat sangat mengerikan – ya aku tidak takut sih – dan karena penasaran aku langsung terbang mendekat ke arah ular itu dengan berada tepat di atasnya di antara awan yang gelap, dan aku mulai menyesali tindakanku ini karena semakin dekat dengan awan hujan, semakin basah dan dingin juga tubuhku.
"Hm... ular itu menatap ke… eh? gawat! mereka dalam bahaya! t-tapi… i-itu besar, argh! siapa peduli dengan ukurannya, aku jauh lebih besar darimu ular!"
…
"Haa!!"
Duarr!!
"Cih! ternyata dia cukup tangguh! kalian… apa kalian baik-baik saja…"
DUARR!!
"Arghh!!! sudahku bilang, aku jauh lebih besar darimu dasar ular sialan!''
Groahhh!
__ADS_1
Brukk!
"Sekarang kesempatanku!" ucapku sambil berlari di atas tubuh ular itu.
Memperhatikan arah pandangan dari ular raksasa itu, aku sangat terkejut karena ternyata dia sedang akan memangsa sekelompok petualang yang sudah terluka, sebenarnya aku sempat ragu untuk menolong mereka karena ukuran dari ular itu sangat tidak masuk akal dengan diameter sekitar 3-4 meter dan panjang yang sulit untukku perkirakan, bahkan ular sekelas Titanoboa pun tidak ada artinya jika dibandingkan dengan ular kobra berduri ini, apalagi sekarang aku sedang dalam bentuk manusiaku yang bisa dia telah hanya dalam satu gigitan.
Tapi, membayangkan hal seperti itu tidak akan ada hasilnya karena justru akulah yang bisa menelannya secara utuh –bukan dalam bentuk manusia–, dan karena sudah dalam keadaan yang terdesak aku kemudian langsung meluncur lalu mendaratkan satu tendangan ke kepala belakang ular itu sebelum akhirnya aku mendarat tepat di hadapan semua petualang.
Tapi, meskipun sudah menerima tendangan yang cukup keras dariku, nyatanya ular itu masih bisa bangkit seolah tidak terjadi apa-apa dan malah pergelangan kakiku terasa agak pegal setelah menendangnya, dan saat ingin memastikan keadaan para petualang itu tiba-tiba saja kibasan ekor ular yang cukup besar mengarah dengan cepat ke arahku, akan tetapi karena aku berada cukup dekat dengan kelima orang petualang, aku tidak bisa berbuat banyak untuk menghadapi serangan itu.
Jika aku menghindar maka orang-orang yang berada di belakangku akan terkena serangan itu dan jika aku melakukan serangan yang sama kuatnya mereka pasti tetap akan terkena efek serangan itu, aku tidak begitu suka dengan hal-hal yang berbau kekerasan karena itu bukanlah pekerjaan untuk seorang gadis cantik yang menggemaskan.
Tapi, karena sudah terdesak dan tidak punya pilihan lain aku langsung menghentakkan kakiku lalu menangkap ayunan ekor ular itu untuk menghentikannya, dan dengan sekuat tenagaku yang memakai tubuh kecil ini aku mengangkat lalu menghentakkannya dengan keras, tanpa menyia-nyiakan kesempatan dari kelengahan ular itu aku kemudian melanjutkan seranganku dengan berjalan di atas tubuhnya lalu melompat tinggi sebelum akhirnya mendaratkan satu tendangan di tempat yang sama dengan seranganku sebelumnya dan berakhir dengan suara geraman yang memudar.
"Hahh… ular ini cukup merepotkan" ucapku sembari melompat turun.
Sepertinya ular ini masih hidup, yahh… biarlah… aku malas menghabisinya.
Aku berjalan di atas tubuh ular monster dari kepala sampai ke ekornya lalu melompat turun tepat di depan orang-orang sebelumnya, tapi sebelum aku mendatangi mereka aku terlebih dahulu memastikan bahwa monster ular itu telah mati atau tidak dan ternyata dia memang belum mati, ya dia memang punya kulit yang keras dan itu cukup untuk mengurangi kerusakan akibat seranganku.
Walaupun begitu aku sedang dalam keadaan tidak ingin membunuhnya karena membunuh berati memakan dagingnya yang melimpah dan untuk saat ini aku tidak ingin memakan daging. Jadi, aku membiarkannya untuk tetap hidup.
"Jadi, bagaimana keadaan…"
"Jangan mendekat!!! jangan mendekat, jangan mendekat…" teriak salah seorang lelaki dari kelompok petualang itu.
"A-aku tidak bermaksud…"
"Jangan mendekat!! kubilang jangan mendekat… kau iblis mengerikan! menjauhlah dasar putri iblis terkutuk…!"
"Aa!" jeritku memegang lenganku yang terluka.
""Aaa!!""
Berbalik menatap para petualang untuk menanyakan keadaan mereka, baru beberapa kata aku berucap salah satu lelaki dengan ekspresi tegang berteriak keras dalam posisi terduduk seperti orang yang sudah terkepung oleh sesuatu, mengarahkan ujung pedangnya dengan tangan dan tubuh yang gemetar sama seperti rekan-rekannya.
Wajah mereka semua terlihat sangat ketakutan saat melihatku, tapi aku tidak ingin kesalahpahaman ini terus berlanjut tanpa ada penyelesaiannya, aku berusaha mendekat untuk meluruskan salah paham ini dan menjelaskan bahwa aku tidak bermaksud untuk menakut-nakuti mereka, akan tetapi orang itu kembali berteriak dan dengan putus asa melemparkan pedangnya ke arahku.
Aku tidak menghindari lemparan pedang itu dan hanya menahannya yang berakhir dengan luka di tangan kananku, darahku mengalir dari lukaku yang terbuka, aku suka kata putri pada kata pertama ucapannya, tapi aku tidak suka dengan kata iblis di kata keduanya, mereka semua berteriak dan berlarian saat aku fokus menutupi lukaku yang masih berdarah.
"Tung...gu... a…ku…"
Bukan orang jahat...
Tik… tik… tik…
…
"Hiks hiks… kenapa lagi-lagi seperti ini? hiks! HAGGHHH!!!"
Aku ingin menjangkau mereka, tapi aku tidak bisa bergerak dan hanya diam di tempat tanpa bisa berkata banyak, pada akhirnya aku hanya bisa menerima dinginnya air hujan yang berjatuhan dengan deras sambil perlahan tersimpuh di tanah berlumpur menangis dengan keras meratapi hal sama yang selalu terulang –aku tidak sanggup lagi.
...🌹🌹🌹🌹🌹...
__ADS_1