I Was Reincarnated As A Dragon

I Was Reincarnated As A Dragon
Chapter 14: Pertarungan Antar Raksasa


__ADS_3

"Tidak jangan mendekat..." ucapku sangat takut.


Monster naga itu mengarahkan tangannya yang besar kearah kami, aku benar-benar takut dia seperti sedang ingin memakan kami.


Taring-taringnya yang mengerikan hembusan nafasnya yang begitu dingin dan tatapannya yang tajam menakutkan, kami tak mungkin bisa selamat.


Wind slash!!!


Lightning slash!!!


Goro melancarkan serangannya kearah monster itu, tapi monster tak terluka sama sekali bahkan tak ada goresan di sisiknya.


Seakan tak mempedulikan serangan itu dia masih mengarahkan tangannya yang penuh dengan cakar yang tajam dan besar pada kami,


dia bisa merobek tubuh kami hanya dengan satu jari tangannya saja.


Sstttt!!!


Sringgg!!!


"Putri menjauhlah!" seru Goro padaku.


Goro menahan cakar naga itu dengan pedangnya, tapi tiba-tiba monster itu menggunakan tangannya yang lain dan menangkap Goro.


"Eh...!"


Aku terkejut dengan apa yang kulihat, naga itu tidak memakan Goro tapi hanya memindahkannya saja begitu juga dengan kami, apa yang terjadi di sini?


Monster naga itu kemudian memukul bongkahan es yang ada ditempat kami berdiri sebelumnya, apa yang dia lakukan?


"Ha...!"


" ... "


" ... "


Naga itu perlahan mengangkat seekor monster dari dalam es itu, monster dengan diameter dua setengah meter diangkat dengan mudahnya, tampaknya itu adalah monster lava dan sepertinya monster itu sudah mati tapi diawetkan di dalam balok es.


Setelah berhasil mengangkat monster lava naga itu lalu membakarnya dengan semburan api biru yang sangat panas sampai-sampai monster itu terpanggang.


Naga itu kemudian memakannya sampai hanya tersisa sedikit daging di bagian ekornya saja, sementara sisanya lenyap menjadi tulang belulang.


Setelah selesai memakan monster lava dia kembali menatap kami dan meletakkan sepotong daging besar di depan kami, ini membingungkan ada apa dengan monster ini?


Perlahan dia kemudian berbalik dan berjalan menuju sebuah kolam besar dan minum di sana.


"Apa yang harus kita lakukan Goro?" ucapku masih dengan ketakutan.


"Kita harus segera pergi dari sini, walaupun naga itu tidak menunjukkan tanda-tanda akan menyerang kita, tapi dia tetap sangat berbahaya." Sahutnya.


"Tapi bagaimana? aku bahkan tidak bisa melihat ada pintu keluar di tempat ini." Lanjutku.


"Pasti ada jalan keluar di suatu tempat, hanya saja kita belum bisa menemukannya." Ujar Goro.


"Benar juga, hey Rumi apa kau tau jalan keluar dari sini?" tanyaku pada Rumi.


Rumi tampaknya masih sangat ketakutan dan tidak mau keluar lagi.


"Hey Rumi! jawab aku!! jika kau tidak menjawab kita tidak akan bisa keluar dari tempat ini." Ucapku dengan pelan.


"Tiga..."


"Tiga!? apa maksudmu?" tanyaku sekali lagi.


"Ada tiga pintu keluar dari tempat ini, tapi semuanya tertutup oleh bongkahan es yang sangat tebal." Jelasnya.


"Dimana letak pintu-pintu itu?" tanya Goro.


"Satu diantaranya ada di belakang kita saat ini, sedangkan sisanya ada di balik naga itu." Ucap Rumi.


"Dibelakang kita!? apa maksudmu dinding es ini?" ucapku bertanya.


"Ya..." jawabnya


"Ini sangat tebal, tapi... akan kucoba." Ujar Goro.


[ fire Lance ]

__ADS_1


"Akan ku bantu." Ucap Rumi.


Rumi keluar dari Kristal kontrak dan langsung membantu Goro untuk mencairkan dinding es ini, begitu juga dengan para pengawal yang lainnya, mereka menggunakan sihir api untuk melubangi dinding ini.


Perlahan tapi pasti kami berhasil membuat lubang didinding ini tanpa ketahuan oleh naga itu, dan sekarang kami sedang berada di dalam dalam didinding es ini.


Kami berhasil melubanginya sampai kebagian tengah dinding, tapi tiba-tiba seluruh dinding es menghilang dan berubah menjadi kepingan salju yang lembut.


Dup! Dup! Dup!


Naga itu berjalan mendekati kami ternyata dia telah menyadari bahwa kami sedang menggali lubang untuk melarikan diri, kemudian naga itu menangkap kami satu persatu dan meletakkan kami di atas punggungnya, jantungku nyaris tak berdetak lagi, tubuhku lemas tak berdaya dan tak sanggup berdiri.


Dia membawa kami entah kemana, berjalan menyusuri labirin yang gelap serta persimpangan-persimpangan yang membingungkan.


"Bagaimana ini Goro? kemana kita akan dibawa?" tanyaku dengan lemas.


"S-saya juga tidak tau, putri." Sahutnya.


"Kita tidak akan selamat! kita tidak akan selamat!" ucap salah satu pengawal dengan sangat takut.


Seketika semua orang terdiam tak bisa berbuat apa-apa, Seperti tidak ada harapan lagi untuk kami.


Craahhhhh!!!


Craahhhhh!!!


Tiba-tiba terdengar suara monster menyeramkan di depan kami, bukan hanya satu tapi banyak suara, seketika monster naga ini berhenti berjalan dan mulai melebarkan cakar-cakarnya serta membuka mulutnya yang penuh dengan taring-taring yang tajam.


Suara itu berasal dari persimpangan jalan didepan kami, secara spesifik kami berada di antara tiga persimpangan jalan.


Naga ini menjadi sangat waspada dan langsung menyembur es dari mulutnya, menutup kedua persimpangan itu dengan es tajam yang berbentuk seperti puluhan tombak.


Doarrrrrr!!! Doarrrrrr!!! Doarrrrrr!!!


Setelah kedua persimpangan itu tertutup tiba-tiba ada terdengar suara sesuatu yang sedang mendobrak dan memukul dinding es yang tajam itu disertai dengan getaran yang kuat.


Monster naga ini menurunkan kami berenam dan kemudian melakukan sihir pemanggilan, seketika itu juga datang seekor monster harimau putih yang cukup besar dengan dua taring yang keluar dari mulutnya.


"Saya siap melayani anda tuanku." Ucap Harimau itu pada kami.


" ... "


" ... "


"Apa maksud anda? oh...! atau mungkin anda yang memanggil saya?" Ucapnya menatap ke arah Goro.


" ... "


"Lalu siapa?" tanyanya dengan bingung.


Gerrrrrr!!!


Harimau itu langsung menggeram setelah sang naga menyentuh pundaknya.


"Eh...! apa maksudnya ini!? kau bercanda kan!?"


"Hey kalian! apa benar naga ini yang memanggilku!?" tanyanya pada kami.


" ... "


" ... "


kami hanya mengangguk padanya dengan tubuh yang berkeringat dingin.


"Bagaimana bisa!? mana mungkin monster memanggil monster!" ucapnya.


Harimau itu kemudian menatap ke arah sang naga, sepertinya mereka sedang melakukan percakapan tapi aku tidak bisa mengerti apa yang mereka bicarakan.


"Baiklah... ayo kita pergi dari sin..."


Krakkk!!


Doarrrrrr!!!


Sebelum sempat menyelesaikan ucapannya tiba-tiba dinding es yang dibuat oleh naga itu hancur, seketika keluar dua ekor monster kalajengking raksasa dari kedua persimpangan itu dan langsung menyerang sang naga.


Groaahhhhhh!!!

__ADS_1


Naga itu terjatuh terkena hantaman capit dari monster kalajengking itu, namun dengan cepat naga itu kembali bangkit dan menyerang balik dengan kepalan tangannya, salah satu monster kalajengking itu terpental terkena pukulan keras dari sang naga.


Sementara yang satunya menyerang dengan ekornya yang runcing tapi berhasil di tangkap oleh monster naga itu.


Akan tetapi, dua ekor kalajengking tiba-tiba datang dari persimpangan yang sama dan menyerangnya secara bersamaan dan berhasil membuat naga itu terpojok.


"Ayo kita pergi dari sini!" ucap harimau itu pada kami.


Kami pun menuruti kata-katanya dan langsung pergi masuk ke sebuah gua kecil yang ada di antara persimpangan jalan yang besar itu.


Groaahhhhhh!!!


Doarrrrrr!!


Naga itu kembali meraung dengan keras dan kemudian terdengar suara ledakan dari arah pertarungan mereka, bahkan getaran dari pertarungan mereka sangatlah kuat mengguncang lantai labirin.


"Jangan berhenti berjalan! kita harus menjauh sejauh-jauhnya dari tempat ini." Ucap harimau itu dengan tegas.


"B-baik..." ucapku gemetar.


"Disana! itu jalur teleport!" ucap salah satu prajurit pengawal.


"Baiklah... putri anda pergilah lebih dulu dengan para pengawal." Ujar Goro padaku.


"Bagaimana denganmu?" tanyaku khawatir.


"Saya akan menjaga tempat ini sampai anda berhasil keluar." Ucap Goro.


"Tak perlu khawatir putri, saya akan menyusul setelah anda." Lanjutnya.


"Baiklah... tapi cepatlah." Ucapku padanya.


"Baik." Sahutnya.


"Hey!! cepatlah! ayo bergegas." Ucap tuan harimau.


Aku langsung berdiri di atas lingkaran teleport bersama dengan keempat prajurit serta harimau itu dan langsung berpindah keluar dari labirin, beberapa saat setelah kami keluar Goro menyusul kami keluar.


"Dimana ini?" tanyaku melihat keadaan sekitar yang penuh dengan pepohonan rindang.


"Ini mungkin adalah pintu tersembunyi yang ada di dalam hutan Elo (el')" ucap tuan harimau.


"pintu tersembunyi?" ucapku Bingung.


"Ya... selain lima pintu utama ada beberapa pintu lagi yang tersembunyi dan tidak ada yang mengetahuinya, biasanya itu terbentuk akibat monster besar yang mencoba untuk keluar dari labirin." Jelas tuan harimau.


"Jadi begitu." ucap Goro dengan paham.


Sementara aku hanya menganggukkan kepalaku tanpa berkata apa-apa.


"Baiklah... aku akan mengantar kalian keluar dari hutan, mendekat lah." Ucap tuan harimau sambil menyuruh kami mendekat.


kami pun menurutinya dan mendekat padanya seketika kami langsung berpindah tempat ke depan pintu gerbang masuk ibu kota.


"Hah...!" ucapku dengan kaget.


"Tak perlu kaget itu hanya sihir teleport." Jelasnya.


"O-oh...! begitu yah...!"


"Kira-kira bagaimana keadaan naga itu?" lanjutku bertanya.


"Tenang saja, dia bukan monster yang lemah." Sahut harimau itu.


"Baiklah... kalau begitu aku pamit, permisi." ucapnya dengan sopan.


"Terima kasih banyak." Ucapku padanya.


"Bukan masalah... sampai berjumpa lagi anak kecil." Sahutnya


Harimau itupun pergi dengan sihir teleport, mungkin dia pergi ke tempat naga itu.


Kami pun berpisah dengannya dan kembali pulang ke istana untuk memberi tau apa yang kulihat pada ayahku.


Hari ini aku telah melihat sebuah pertarungan yang sangat menegangkan dan mendebarkan, pertarungan antara monster naga dengan empat monster kalajengking.


Sebuah mimpi buruk yang tak ingin pernah kau alami selama hidupmu.

__ADS_1


...~•~...


__ADS_2