
"Apa kau sudah selesai sira?" tanyaku padanya.
"Ya, ada apa tuan?"
"Baiklah, ayo kita berangkat!" ajakku.
"Eh...! berangkat? kemana, tuan?"
"Entahlah, tapi ada sesuatu yang ingin aku selidiki." Sahutku.
Sambil menatap ke arah lorong gelap yang ada di depanku , aku mengajak Sira menemaniku untuk menyelidiki tentang tatapan tidak mengenakkan itu.
Lorong itu sudah lama kututup karena aku membatasi pergerakanku hanya sampai lantai lima belas, tapi karena ini keadaan yang mengkhawatirkan aku membuka kembali lorong itu, aku harus pergi memberanikan diriku untuk menyelidikinya, aku tidak ingin hidup dengan dihantui oleh rasa takut.
"Jadi, apa kau ingin ikut?" tanyaku sekali lagi.
"Tentu tuan, saya ikut."
"Yoshh... ayo naik, ini akan menjadi perjalanan yang melelahkan."
Setelah Sira naik aku langsung berdiri dan bersiap menuju lorong gelap itu, sangat gelap sampai-sampai aku tidak ingin menginjakkan kakiku di tempat itu, untungnya aku memiliki Eyes of vision dan penglihatan malam, jadi aku tidak perlu khawatir akan tersandung atau diserang oleh monster, dan untuk berjaga-jaga aku menekan dan menyamarkan auraku dengan keadaan sekitarku.
"Apa kau siap, Sira?"
"ya tuan."
"Baiklah ayo kita mulai perjalanan melelahkan ini..."
Cling
"Eh...! apa itu?"
Saat aku ingin melangkahkan kakiku mataku terganggu dengan oleh sebuah benda kecil yang berkilauan, walaupun semua tempat ini terlihat berkilauan karena aku meletakkan beberapa kristal di setiap sudutnya, tapi entah kenapa benda itulah yang justru menarik perhatianku.
"Hm...! benda apa ini? kalung? milik siapa?" ucapku sambil menatap kalung kecil itu dengan kebingungan.
Perlahan aku mengambil kalung itu dengan ujung jariku, kalung itu terlihat sangat kecil dengan liontin mungil berbentuk lingkaran dan ada simbol berbentuk seperti bintang dengan dua pedang yang menancap di samping kanan dan kirinya.
"Um... aku sepertinya pernah melihat simbol ini, tapi di mana ya?"
"Oowhh... benar juga! ini simbol yang ada di bendera istana waktu itu, tapi kenapa ada di sini? apa jangan-jangan putri itu tak sengaja menjatuhkannya."
"Ada apa, tuan?" tanya Sira.
"Sepertinya putri itu menjatuhkan barang miliknya." Sahutku.
"Apa perlu kita kembalikan?"
"Kurasa nanti saja, aku tidak punya waktu untuk melakukan itu, untuk sekarang akan kusimpan kalung kecil ini." Jawabku.
[ Dimension Home ]
Aku kemudian membuka ruang penyimpanan milikku untuk menyimpannya agar tidak terjatuh atau hilang saat aku mengembalikannya nanti, tapi dalam waktu dekat ini sepertinya aku tidak bisa mengembalikannya, karena aku harus mengurus keadaaanku terlebih dahulu.
Nama : _
Umur : 3 Tahun
[ Status ] : _
Rank : A
Level : _
Strength : 5.000.000 +
Ras : Ice Dragon
"Eh...! apa ini? tulisan? tapi, apa artinya?" ucapku dengan bingung melihat ke arah kalung itu.
Saat aku ingin meletakkan kalung itu tiba-tiba ada semacam monitor kecil transparan yang muncul di atas liontinnya dan ada tulisan-tulisan aneh di layar itu, aku benar-benar tidak bisa memahaminya, tapi aku tau kalau itu adalah sebuah tulisan.
"Sira, apa ini?" tanyaku sambil menunjukkan monitor kecil itu pada Sira.
"Ada apa tuan?"
"Lihat, apa ini Sira? apa arti tulisan itu? apa kau tau?"
"Y-yaa... saya tau, memangnya kenapa tuan?"
__ADS_1
"Wooah...! jadi kau tau!? bisa kau bacakan untukku? bisa ya? bisa?" pintaku antusias.
"I-I-iyaa... tunggu sebentar, tuan."
Di dunia lamaku aku ini terbilang cukup pintar loh, aku memiliki ketertarikan tersendiri dengan ilmu pengetahuan karena dulu aku memiliki masalah dengan keluargaku sehingga aku harus bisa mencari nafkah sendiri dengan bermodalkan pengetahuan dan keahlian, pengetahuan kupakai untuk mendapatkan beasiswa agar aku tetap bisa bersekolah sedangkan keahlian kupakai untuk masuk ke dunia kerja.
"Jadi! jadi! jadi! bagaimana Sira? apa artinya?"
"Eh! anu... begini tuan, di sana tertulis nama, umur, kekuatan, keahlian, dan ras yang anda miliki." Jelasnya.
"Nama? umur?"
Owhh... jadi ini semacam identitas diri, berarti yang di atas ini nama, umur, eh! umur?
"Hey Sira! berapa umurku yang tertulis di sana?"
"Anu... E-ee... tiga tahun, tuan"
" ... "
Apa aku memang semuda itu... padahal kukira aku sudah puluhan tahun di dunia ini, mengingat tubuhku yang sudah sebesar ini.
"Ada apa, tuan?"
"Tidak, tidak, bukan apa-apa."
Mungkin kalung ini bisa dijadikan penanda waktu, walaupun hanya ada tahun tanpa detik, menit, hari, minggu, dan bulan, tapi setidaknya aku bisa tau sudah berada lama aku berada di dunia ini, maaf yahh untuk sekarang aku pinjam dulu kalungmu ini putri, hehehe... nanti akan ku kembalikan, he...
"Terima kasih, Sira."
"Y-ya... jadi apa anda akan tetap menyimpannya?" tanya Sira.
"Ya... kurasa seperti itu, lagi pula aku tidak punya waktu untuk mengurusinya, ayo pergi!" ucapku menyudahi pembicaraan.
Aku kemudian berjalan memasuki lorong menuju lantai yang lebih dalam untuk menyelidiki masalah yang kualami.
"Hm... cukup gelap." Ucapku sambil melihat jalanan sekitarku.
"Ya... bahkan sangat gelap." Sahut Sira.
Sudah cukup lama kami berjalan, lebih tepatnya aku yang berjalan, tapi kami bahkan belum bisa melihat pintu masuk lantai enam belas mungkin itu karena keadaan labirin yang gelap dan rumit terlebih lagi luas setiap lantai yang satu dengan yang lainnya sangatlah berbeda, jadi hal yang wajar jika kami belum menemukan pintu masuknya.
"Hey! Sira apa itu?" Ucapku sambil menunjuk ke arah benda yang bersinar merah menyala.
"Entahlah tuan, saya tidak bisa melihatnya dengan jelas, bagaimana kalau kita lihat lebih dekat tuan?" usul Sira.
"Boleh saja."
karena penasaran aku akhirnya mendekati batu bersinar itu, tiba-tiba saja beberapa batu lainnya juga ikut bersinar mengelilingiku dan juga Sira.
"Wooah...! sangat indahkan Sira?"
"Entahlah tuan, tiba-tiba saya merasa tidak enak, seperti ada yang aneh dengan batu-batu itu."
"Mungkin itu hanya perasaanmu saja."
"I-iyaa mungkin."
"Aku akan ambil satu untuk hiasan, hehe..."
.
.
.
Bursss
"Eh!"
"Awas!!!"
Duarrrrr
"Fuuuhh... hampir saja, apa itu tadi?" ucapku berusaha mencari tau keadaan.
"Tuan!!!"
"Ya... aku bisa melihatnya."
__ADS_1
Ah...! sial
Hanya itu yang ada di pikiranku saat melihat ada puluhan kadal merah di sekelilingku dengan mulut yang berapi-api ingin melancarkan serangan, tubuh mereka memang terlihat lebih kecil dariku mungkin hanya berdiameter sekitar lima meter, sangat mudah untuk dibunuh, hanya saja jumlah mereka yang sedikit merepotkan, ada sekitar 32 ekor salamander di sekelilingku benar-benar menyusahkan.
"Sira jangan bergerak! tetaplah berpegangan di atas sana." Perintahku pada Sira.
"Tapi tuan."
"Tidak perlu khawatir, aku hanya tidak ingin membuang-buang waktu dengan meladeni mereka."
Ssttt
Duarrr
Aku mengangkat tanganku setinggi yang aku bisa laku menghentakkannya dengan sangat keras sampai-sampai tanah pijakanku terbongkar dan hancur disertai dengan puluhan hingga ratusan ranjau tombak besar yang bermunculan dari atas tanah – entahlah aku tidak benar-benar menghitungnya hehe – dan langsung menusuk gerombolan Salamander itu, walaupun begitu masih ada beberapa ekor yang tersisa karena memang seranganku tidak benar-benar mengenai mereka, itu hanya sekedar serangan yang membabi-buta.
"Apa aku berlebihan?" ucapku sambil menatap tanah yang kupukul.
"T-tidak... itu serangan yang sempurna."
[ Freezing ]
Aku kemudian mengangkat kembali tanganku lalu menggunakan pembekuan untuk membuat penerangan sekaligus untuk membekukan kadal-kadal yang sudah tertusuk ranjau tombakku, benar saja masih ada yang tersisa dari mereka, aku dapat melihatnya dengan jelas karena sekarang keadaan di sekitarku terlihat sangat terang.
"Yahh... sepertinya masih ada yang tersisa, silahkan kau urus Sira."
"Dengan senang hati, tuan."
Roarrrr
Shittt Shittt
Mendengar ucapanku Sira langsung melompat dan melancarkan serangan wind claw ke arah monster-monster itu dan mengenai mereka dengan sangat telak.
Masih ada sekitar empat ekor kadal yang tersisa dari seranganku, jadi untuk mengatasi mereka aku meminta Sira untuk mengurus keempat monster Salamander itu, dia menyelesaikannya dengan sangat baik, good job Sira.
"Bagaimana Sira?"
"Sangat mudah, tuan."
"Baiklah... mari kita simpan itu dan beristirahat sejenak di tempat ini."
"Baik tuan."
Aku kemudian mengambil beberapa salamander untuk bekal perjalanan nanti, aku tidak mengambil semuanya karena sebagian dari mereka telah ikut membatu menjadi bongkahan es dikarenakan sihir pembekuan yang aku lakukan sebelumnya.
Ah... benar-benar sangat disayangkan, padahal ini akan menjadi sumber makanan, tapi... ya sudahlah, lagi pula masih banyak monster yang berkeliaran, jadi makananku masih tersedia, hehe.
Setelah memungut beberapa ekor monster aku menutup jalur masuk yang ada dengan tanah dan es yang tebal agar para monster tidak datang kemari dan mengganggu tidur siangku.
Sesekali aku menggunakan Eyes of vision untuk melihat situasi sekitar dan juga untuk melihat keadaan di luar labirin apakah sudah malam atau masih siang, untuk lantai enam belas aku masih sanggup untuk melihat ke luar labirin, tapi entah saat aku masuk lebih jauh ke dalam labirin mungkin aku tidak akan bisa lagi menggunakannya, aku hanya bisa mengandalkan kalung milik putri untuk mengetahui waktu walaupun hanya waktu tahun yang kuketahui, tapi itu sudah lebih dari cukup.
Sepertinya keadaan sudah cukup tenang...
"Sebaiknya... hoahhhhh... aku tidur sebentar."
Mungkin karena kelelahan dengan perjalanan yang panjang dan juga karena pertarungan kecil tadi aku tertidur dengan lelap, perjalanan ini terasa sangat lama padahal aku masih berada di lantai enam belas.
.
.
.
"Emhhh... hoahhhh... apa aku tidur terlalu lama? owhh... kau sudah bangun Sira?"
"Ya... selamat malam tuan." Ucapnya padaku.
"Oowhhh... apa sudah malam?"
Kriuk Kriuk
" ... "
"S-sepertinya memang sudah malam, hehehe." Ucapku sambil tertawa kecil.
Perutku selalu berbunyi tepat pada waktunya hehe, itu adalah kebiasaanku dari dulu –kebiasaan perutku– mereka selalu menagih makanan tepat waktu jadi aku sangat yakin kalau hari sedang malam terlebih lagi aku sudah melewatkan makan siang.
"Bagaimana kalau kita makan malam, Sira?"
__ADS_1
"Ya... sepertinya anda juga sangat lapar tuan, hehe."
...~•~...