I Was Reincarnated As A Dragon

I Was Reincarnated As A Dragon
Chapter 104: The Tiger King's Perspective 2


__ADS_3

Graaahh!!


Krakk!!


"Terlalu banyak pengganggu di tempat ini, sepertinya aku harus menyingkirkan mereka terlebih dahulu dan lagi nona pasti akan sangat terganggu dengan prajurit undead ini!" ucapku sambil meremukkan tengkorak undead.


Setelah beberapa belati menyerangku dan semua undead komandan berkumpul mereka kemudian terus menerus menyerangku dengan serangan bertubi-tubi, tebasan pedang, tombak dan serangan sihir menghancurkan pijakanku setiap kali aku melompat menghindari mereka.


Ditambah lagi bukannya hanya undead komandan yang menyerangku, tapi juga para prajurit undead yang sebelumnya telah berdatangan dari balik pepohonan dan semak juga ikut serta mengepungku, tapi karena mereka lebih lemah aku dengan sangat mudah membunuhnya dan menghancurkan tengkorak-tengkorak mereka.


Aku tidak begitu mempermasalahkan kedatangan pasukan undead, tapi bertambahnya undead ke tempat ini mungkin akan mempengaruhi keadaan nona karena nona Shea sangat tidak suka dengan bau busuk yang berasal dari tubuh mereka.


Jika terus seperti ini, akan sangat sulit menghadapi mereka.


Ssttt!!


"Tidak akan semudah itu!!" ucapku sambil melemparkan undead cantik itu.


Brukk!


Undead komandan iblis yang membawa pedang terus menghujaniku dengan serangan-serangannya, sisi kanan, kiri, atas, dan bawah, bahkan dia juga menggabungkan teknik berpedangnya dengan sihir api dan angin yang berbahaya, tapi meski begitu aku tetap bisa menghindari semua serangannya dan berhasil memukul mundurnya walau yang terkena pukulanku hanya pedangnya saja, karena dia sempat menggerakkan pedangnya sebagai perisai untuk menghalau seranganku.


Tidak memberiku kesempatan untuk berpikir dan melakukan serangan balik salah satu dari undead wanita cantik itu muncul dari belakang lalu langsung menebaskan ujung tombaknya padaku, dan dengan cepat aku menggeser posisi lalu meraih gagang tombak itu kemudian melemparkannya bersama dengan undead cantik itu.


"Ha! mereka semakin mengganas, akan sangat merepotkan jika harus berhadapan dengan lima sekaligus, aku akan memisahkan mereka!" ucapku sambil mengangkat tangan kananku.


...


"Baiklah! waktunya membuat beberapa debu berterbangan! HAAA!!!"


DUARRR!!!


Karena aku cukup kesulitan untuk menghadapi kelima undead komandan yang terus menerus menyerangku, aku kemudian berencana untuk memisahkan mereka berlima agar dapat menyerang dan menghentikan mereka satu persatu karena itu akan lebih mudah daripada harus melawan mereka secara bersamaan.


Untuk memisahkan mereka aku kemudian menghempaskan tanganku dengan sangat keras ke atas tanah sampai-sampai membuatnya retak dan banyak kepingan tanah yang hancur berterbangan dengan ukuran-ukuran yang cukup besar, setelah itu aku langsung menggunakan sihir angin untuk membuat sebuah pusaran badai besar yang menghempaskan banyak para prajurit undead hingga tulang mereka berhamburan ke sana kemari.


Mereka masih bisa bertahan, tapi mereka tidak akan bisa lagi bersembunyi di balik prajurit undead lagi.


"Kalau begitu, akanku mulai serangan selanjutnya" ucapku sambil menatap kelima undead komandan yang sedang bertahan di dalam badai yang kubuat.


...


Ssttt!!


"…!"


"Tidak akan semudah itu untuk melepaskan diri, hm cukup cantik… ya lupakan saja, kalau begitu tinggal membebaskannya dari sihir pengendali" ucapku memegang kepalanya.


.


.

__ADS_1


Perawakannya sangat bagus, kurasa karena itulah Leron menjadikannya sebagai boneka. •_•


"Sepertinya perlu sedikit waktu untuk menghilangkan sihir pengendali yang ada padanya, apalagi tampaknya Leron sangat berhati-hati kehilangan mainannya."


Walau para prajurit undead telah terhempas akan tetapi tidak dengan kelima undead komandan yang masih bisa bertahan walaupun sambil menancapkan senjata mereka ke tanah, dalam gumpalan debu yang berterbangan dan kencangnya angin yang berputar aku kemudian kembali melakukan seranganku dengan mengubah bebatuan yang terangkat menjadi batu-batu runcing.


Setelah membuat banyak batu runcing aku kemudian melancarkan serangan itu pada undead komandan pengguna tombak sebelumnya, walau dia berhasil menghindari beberapa seranganku, tapi pada akhirnya aku berhasil menjepitnya dan menahan kedua tangannya dengan batu-batu runcing itu.


Jika dilihat dari dekat meski hanya mayat wanita ini cukup cantik dengan tubuh yang bagus, terutama dengan pakaiannya yang sangat **** aku dapat melihat sesuatu yang unik dambaan setiap lelaki dan mungkin juga karena itulah Leron membuatnya menjadi seperti ini, untuk mengabadikan kecantikannya.


Tidak mempedulikan lekukannya aku terus memfokuskan diri untuk menghilangkan sihir pengendali pada tubuh undead komandan ini, meski begitu melakukan ini tidak semudah mengucapkannya wanita undead ini terus memberontak dengan wajah yang terlihat kesal dan mulutnya yang seolah ingin menggigitku, mungkin hanya itu saja yang bisa dia lakukan saat ini karena aku menahan tangan dan kakinya agar tidak bergerak.


Kutukan undead atau mungkin sihir pengendali mayat adalah sebuah sihir terlarang yang ditanam pada mayat untuk membangkitkan dan mengendalikan mayat sesuai dengan kehendak orang yang melakukan sihir itu, sihir ini sangat berpotensi membawa malapetaka karena dapat mengakibatkan banyak korban jiwa jika tidak bisa mengendalikannya, para mayat yang hidup kembali akan merajalela bagaikan monster liar yang terus menyerang siapapun yang ditemuinya.


Apalagi jika orang yang dibangkitkan menggunakan sihir ini adalah orang yang memiliki kekuatan besar seperti para komandan iblis, tentunya itu akan sangat merepotkan apalagi jika ada yang bisa mengendalikan mereka dengan sempurna seperti Leron pastinya itu akan membawa bencana besar.


"B-bebaskan…"


"Ha?! yang benar saja, kau itu sudah mati."


"Haaargh!! haaargh!!"


"Dia semakin memberontak, untungnya keempat lainnya sedang tidak bisa bergerak bebas dalam badai ini" ucapku sambil menatap ke sekelilingku.


Mungkin yang tadi hanya sisa penyesalan dan penderitaannya.


Dikarenakan proses sihirnya cukup lama aku hanya bisa bergantung pada badai yang kubuat untuk menghambat keempat undead lainnya agar tidak menyerangku, tapi saat sedang menggunakan sihir liberation untuk mencabut kutukan undead pada mantan komandan iblis ini tiba-tiba saja sekilas ekspresi wajahnya berubah dan memintaku untuk membebaskannya.


"Aaaarghh…" geramnya perlahan melemah.


"Cara ini sangat merepotkanku, jika aku menghancurkan tubuh mereka mungkin akan lebih baik, tapi…"


...


"Haa, apa kau sedang bimbang Sira? shishishi…" ucap Frenya seraya tertawa kecil.


"Frenya! ah benar juga apa kau bisa/"


"Maaf aku tidak akan membantumu."


"Woi woi! aku bahkan belum menyelesaikan ucapanku!"


"Hehehehe, langsung saja ke intinya ' cepatlah menunduk! ' "


"Apa maksudmu Frenya? apa kau ingin melakukan hal yang aneh lagi?!" tanyaku sedikit curiga.


"Lakukan saja ucapanku dan semoga harimu menyenangkan."


...


"Hah!! apa maksudnya itu?! Frenya?!! Frenya!!" teriakku kesal memanggil Frenya dengan keras.

__ADS_1


Setelah cukup lama berusaha mencabut kutukan undead yang ada pada mayat komandan iblis aku akhirnya berhasil melakukan itu, walaupun ada pilihan lain yang lebih mudah dan pastinya lebih efisien dalam menghadapi kelima undead ini, tapi aku tetap menggunakan cara lama untuk melepaskan kutukannya karena aku ingin mereka mendapatkan pemakaman yang layak, walaupun mereka adalah mantan komandan iblis.


Selesai melakukan itu tiba-tiba saja aku mendengar suara yang berbisik di telingaku dengan nada bicara yang cukup mengesalkan, dan siapa lagi kalau bukan Frenya yang menghubungiku dengan telepati, mendengar suara Frenya mengingatkanku bahwa dia bisa memurnikan kutukan dengan lebih cepat daripada aku mengingat dia adalah seorang roh agung yang mengetahui banyak hal tentang setiap sejarah yang terbentuk di hutan ini, tentunya juga karena dia memiliki senjata yang dapat memurnikan sebuah sihir hitam.


Tapi, bodohnya aku karena melupakan sifatnya yang sangat liar dan menyebalkan, belum sempat menyelesaikan ucapanku Frenya sudah menebak permintaanku dengan sangat tepat dan langsung menolak tanpa pengecualian, dan entah apa tujuannya setelah dia memintaku untuk menunduk dia kemudian memutuskan telepati kami dengan kata terakhir yang cukup membuat darahku meluap karena dia tidak menjelaskan apapun tentang ucapannya itu, tapi sekeras apapun aku memanggilnya dia tetap tidak menjawabku.


"Yang benar saja! apa dia sedang bermain-main denganku?!!"


Wuss


"Ha?! apa itu tadi?! " ucapku menoleh ke arah belakang.


Ssttt!!!


"Akhh!! ARRGGGHHH!!!" jeritku terhempas cukup jauh.


BRUKKK!!!


"Akhh sial!! ha?! a-apa i-itu tadi… tebasan pedang nona! " ucapku menancapkan cakarku ke tanah sambil menatap ke arah nona Shea.


Sepertinya angin ini juga menghempaskan mereka… nona ya, dia berhasil memojokkan Leron… tapi, apa-apaan serangan tadi itu! takku sangka aku sampai tidak menyadarinya.


"Hm, apa serangan tadi juga mengakhiri kutukan undead pada keempat komandan iblis itu? tidak! seharusnya kutukan undead tidak akan semudah itu menghilang! tapi kenapa mereka tidak bergerak?"


Cukup kesal dengan Frenya yang tidak menjelaskan apa-apa tentang ucapannya tiba-tiba ada hembusan angin yang terasa sangat lembut akan tetapi bercampur dengan aura yang sangat pekat dan terasa dingin, hembusan angin itu menembus semak dan pepohonan di belakangku dan membuatku terdiam sejenak memandangi arah angin itu, karena badai besar yang kubuat sebelumnya menghilang dalam sekejap mata di saat yang sama dengan angin itu yang berhembus dengan cepat.


Beberapa detik setelah hembusan angin itu menerjangku pepohonan di depanku tiba-tiba terpotong dan tumbang dengan sangat sempurna lalu terangkat ke udara secara bersamaan, di saat itu juga terjangan angin yang sangat kuat bagaikan sebuah tebasan menghempaskan tubuhku sampai aku terlempar jauh ke belakang, juga para undead komandan yang sebelumnya tertahan di dalam badai ikut terhempas bahkan lebih jauh dariku.


Untuk menghindari kerusakan yang lebih besar aku kemudian melompat lalu mendarat dengan berlutut sambil menancapkan cakarku ke tanah agar tidak terhempas lebih jauh, napas yang tersengal-sengal dan dadaku yang seakan dipukul sampai ke tulang membuat tubuhku kesulitan bergerak dengan leluasa karena angin itu benar-benar sangat menyakitkan, bahkan ada banyak darah yang keluar dari mulutku karena itu.


Sambil meludahkan sisa darah yang ada di mulutku aku menatap ke arah hutan yang telah terpotong oleh angin itu, dan mendapati nona Shea yang sedang memegang pedang berhasil memojokkan Leron, apalagi para undead komandan juga tidak bisa bergerak setelah serangan besar itu, meski begitu aku akan mempercayai tipu daya ini karena aku tau kutukan undead tidak akan hilang semudah itu apalagi Leron masih hidup walau terluka cukup parah.


Apa Leron menatap ke sini?! sudah kuduga dia pasti punya rencana.


"Untuk memastikannya sebaiknya aku menahan mereka berempat!" ucapku menggunakan sihir bumi menenggelamkan para undead komandan.


Krakk!!


"Apa!!? gawat nona!! teleport!!" ucapku berdiri sambil menggunakan sihir teleport ke arah nona.


...***...


"Hurricane vortex!!" ucapku menggunakan sihir pelindung angin.


"Anda baik-baik saja nona?" ucapku bertanya seraya mengehentikan sihirku.


"Ya, terima kasih Sira" sahut nona sambil tersenyum.


Karena aku masih curiga dengan gerak-gerik Leron yang menghentikan para undead dan sempat sekilas seperti sedang menatap ke arahku aku kemudian berencana untuk menenggelamkan para undead komandan ke dalam tanah, tapi setelah setengah tubuh mereka tenggelam keempat undead itu menghancurkan pijakannya lalu dengan cepat melesat ke arah nona Shea dengan menciptakan senjata dan puluhan serangan sihir lainnya yang tepat berada di atas kepala nona.


Aku yang melihat itu kemudian berusaha berdiri lalu menggunakan sihir teleport jarak dekat ke arah nona Shea berdiri, dan langsung menggunakan sihir perisai angin yang berputar menghempaskan semua serangan para undead komandan sebelumnya, setelah semua serangan itu terhempas aku kemudian menghentikan sihirku dan menanyakan keadaan nona, tapi untungnya nona Shea tidak terluka dan terlihat baik-baik saja dengan senyumannya yang masih sangat polos.

__ADS_1


...🍃*****🍃...


__ADS_2