
"Hey Mary jangan terlalu dekat dengan monster itu!" seru Noro pada Mary.
"Tenang saja lohh... dia tak berbahaya." sahut Mary.
"Kenapa kau sangat yakin!? kau jangan terlalu percaya dengan monster ini, bisa saja dia..." ujar Jeane.
"Tak perlu khawatir Jeane, kalau dia monster jahat pasti dia akan menyerang ku, tapi dia tidak melakukannya kan! lihat dia sangat imut!" ucap Mary memotong perkataan Jeane.
Mereka bertiga berdebat tentang monster itu, kalau dilihat lebih jelas monster itu memang terlihat imut dan tampaknya bukan monster yang jahat.
"Ahahahaha... geli...! itu geli...! ahahaha..." tawa Mary dengan keras.
Mary tertawa kegelian ketika monster itu menjilat-jilat wajahnya, tawa Mary mengubah suasana labirin yang mencekam menjadi suasana yang penuh dengan tawa, tentunya tawanya sendiri.
"A-aa apa kau bisa melepaskan ku Shaly?" ucap Han.
"Waaaa!!!" teriakku dengan kaget sambil melempar tubuh Han.
Aku tidak menyadari kalau ternyata Han sudah sadar, apa mungkin dia sudah bangun dari tadi dan menikmati tiduran di atas pahaku, tak kusangka dia adalah orang yang suka mengambil kesempatan dalam kesempitan.
"A-aduh...! sakit! apa kau bisa sedikit lebih lembut Shaly!?" ujarnya padaku.
"Tidak akan pernah! sedikitpun tidak akan!" ucapku sambil membuang muka.
"Jadi, bagaimana situasi kita saat ini?" lanjutnya bertanya.
"Tampak seperti yang kau lihat." Jaawabku dengan singkat.
"Hahh...! apa maksudmu?" ujarnya dengan kebingungan.
"Monster!!!" ucapnya dengan kaget.
Han mulai melihat-lihat keadaan sekitar dan kemudian sangat kaget dengan apa yang dia lihat, tentu saja reaksinya akan seperti itu bagaimana tidak, kau baru saja bangun dan ada monster disebelah mu, kau pasti akan sangat kaget.
"Tenanglah! monster itu tampaknya jinak dan tidak berbahaya, tapi kita tetap tidak boleh lengah!" kataku berusaha menenangkan Han yang terlihat panik.
"Jinak? apa maksudmu?" tanyanya.
"Seperti yang kau lihat, monster itu tidak menyerang Mary padahal dia berada sedekat itu dengannya." Jawabku.
"Terlebih lagi monster itu yang telah menolong kita." Lanjutku.
"Menolong? bagaimana mungkin?" tanyanya sekali lagi.
"Memang sulit untuk dipercaya, tapi itu adalah kenyataan." ujarku menjelaskan.
"Ehhh... kau mau pergi kemana?" ucap Mary pada monster naga itu.
Tiba-tiba Mary bersuara keras memanggil monster itu yang kelihatannya sudah akan pergi.
"Ehhhhh...!" teriaknya dengan kecewa.
"Sudahlah Mary biarkan saja, akan lebih baik jika kita tidak terlalu dekat dengannya!" ucap Jeane.
"Tapi dia sangat imut lohh!" ujar Mary masih dengan sedikit kecewa.
__ADS_1
"Apa yang dikatakan Jeane itu benar, kita tidak boleh terlalu dekat dengan monster itu." sahut Noro.
"Kita akan beristirahat disini sebentar lagi kemudian melanjutkan perjalanan pulang." Ucapku dengan pelan.
"Baiklah..." jawab Mary dengan lemas tak bersemangat.
Beberapa saat kemudian kami pun melanjutkan perjalanan pulang karena tempat ini sudah tidak aman lagi untuk kami, kenyataan kenapa kami masih bisa selamat adalah karena keberuntungan semata.
"Tunggu sebentar... aku akan membawa buah strawberry ini." ujar Mary sambil memungut buah berry yang dibawa oleh monster naga itu.
"Baiklah... tapi cepat, kita harus segera pergi dari sini, aku merasakan sesuatu yang buruk" ucap Noro dengan serius dan sedikit tegang.
Dup! Dup! Dup!
Ada sesuatu yang mendekat ke arah kami dan membuat dinding bergetar, didengar dari suara langkah kakinya, makhluk itu pasti sangat besar.
"Apa itu?" ucap Han sambil melihat ke arah tikungan di depan kami.
"Bersiaplah!" seru Noro dengan tegang.
Tiba-tiba ada kepala naga yang sangat besar muncul dan melihat ke arah kami, kami langsung terdiam menatap kepala naga itu, diameter kepalanya mungkin sekitar 1,5 meter dengan tinggi 10 meter, itu adalah naga kedua dan yang terbesar dari yang kulihat sebelumnya.
"Mustahil! bagaimana kita bisa selamat kali ini!?" ucap Mary gemetar ketakutan.
Dup! Dup! Dup!
Naga hitam itu mendekat ke arah kami dan sekarang naga itu tepat berada di depan kami, bagaimana ini? bagaimana? naga ini benar-benar menakutkan mulutnya dipenuhi oleh taring-taring yang sangat tajam dan besar.
Graahhhh!!!
Graahhhh!!!
Naga besar ini hanya terdiam menatap si naga kecil tanpa ada pergerakan untuk menyerangnya, kami pun hanya bisa diam tak bergerak melihat keberanian si naga kecil.
Kemudian naga besar itu mundur secara perlahan dan menghilangkan dikegelapan labirin, sekali lagi naga kecil ini menyelamatkan kami.
"Waahh... Terima kasih putih, kau telah menyelamatkan kami." ucap Mary dengan lega.
Apa-apaan nama itu!? padahal baru bertemu tapi dia sudah berani menamai monster itu, dan lagi monster naga kecil ini hanya terdiam menatap Mary, tampaknya dia tak mengerti dengan yang dikatakan oleh Mary.
"Woy woy apa-apaan monster ini!? bagaimana bisa dia mengusir monster naga yang jauh lebih besar darinya." Ucap Noro sambil berkeringat dingin menatap ke arah si naga.
Naga itu kemudian pergi lagi menuju kesebuah batu besar dan mengambil sepotong daging lalu membawanya kedepan kami.
"Eh... apa ini!?" tanya Mary pada monster itu.
Seperti biasa monster ini hanya terdiam, tentu karena monster tidak bisa bicara atau mengerti ucapan manusia.
"Apa yang dilakukan monster ini?" tanya Han.
Dia tak akan menjawabnya ok dia itu monster, jadi jangan pernah mengharapkan jawaban darinya, mengerti!
Naga kecil ini kemudian membakar daging itu dengan semburan apinya, daging itupun langsung terpanggang, aromanya benar-benar sangat enak.
"Woaahhhh... aromanya Sangat enak! apa ini untuk kami?" tanya Mary.
__ADS_1
Monster kecil ini hanya mengangguk sambil mendorong daging itu kearah kami, kau pasti bercanda apa daging itu benar bisa dimakan, mungkin saja daging itu beracun.
"Emmm... enak ini enak!" ucap Mary,
"Kenapa kau memakannya!?" ujar Han terkejut melihat Mary.
"Karena ini enak." Jawab Mary.
"Kau harus lebih berhati-hati lagi Mary, bisa saja itu adalah jebakan monster ini." ujar Jeane.
"Aku tidak merasakan apa-apa lohh... ini hanya daging biasa." sahut Mary.
"Aku tidak akan memakannya!" ucap Noro dengan waspada.
Beberapa saat kemudian Mary berhasil menghabiskan daging itu dan mulai mengelus-elus kepala si naga.
"Ahh... kenyangnya... terima kasih putih, itu benar-benar enak." ucap Mary berterima kasih.
Monster naga putih ini tampak sangat senang melihat Mary memakan makanannya.
"Aku ingin memakannya lagi, tapi aku harus pergi, maaf ya putih." Kata Mary mengucapkan perpisahan.
Kami pun pergi meninggalkan si naga putih itu, tapi sepertinya naga ini tidak mengerti arti perpisahan, tentu saja karena dia tidak paham kata-kata manusia.
Naga kecil ini mengikuti kami sampai di jalur teleport.
"Sepertinya cukup sampai disini putih, kuharap aku bisa bertemu denganmu lagi." ucap Mary sekali lagi pada monster itu.
Monster itu hanya diam sambil sesekali menggerakkan kepalanya dan terlihat kebingungan.
"Da da... putih, sekali lagi terima kasih." Kata Mary mengucapkan perpisahan.
Kami langsung menuju ke lantai pertama menggunakan jalur teleport, berbeda dengan cara masuk, cara keluar jauh lebih mudah karena bisa langsung menuju pintu keluar, sedangkan jalur masuk harus berganti-ganti jalur terlebih dahulu.
"Ahhh... akhirnya kita berhasil keluar dengan selamat." ucap Jeane dengan lega.
"Yahh... ku pikir kita tidak akan selamat dan akan berakhir menjadi daging cincang." Sahut Noro.
"Itu tadi nyaris sekali, kita sangat beruntung." ujarku sambil menghela nafas.
"Epttt... hahaha..." tawa Han.
"Hah...! kenapa kau tertawa!?" ucap sedikit kesal.
"Tidak tidak aku hanya teringat wajahmu saat kau menangis, itu benar-benar lucu lohh... kau tak pernah seperti itu padaku." ucapnya sambil mengejek.
"Hahh... berisik! diamlah jangan banyak bicara!" sahutku dengan wajah sedikit memerah.
Sial dia mengejekku, padahal itu adalah momen yang menegangkan tapi dia menganggapnya sebagai bahan lawakan untuk mempermalukan ku.
"Hahahaha..."
"Hehehehe"
Mereka semua tertawa melihatku, aghhh memalukan memalukan kenapa ini terjadi padaku?
__ADS_1
...~•~...