
"Coba lihat aku dapat ikan yang besar loh hehehe…"
"Oh! itu sangat besar, Shea" ucap Toki padaku.
"Hehe… tapi Toki, dia kenapa?" tanyaku padanya sambil menatap heran ke arah Noel yang bersembunyi di balik pohon.
"Y-ya... dia mungkin masih takut dengan naga itu" jawab Toki sembari menyiapkan panci dan air.
"Kuharap dia tidak pingsan" ucapku padanya. ("•_•)
Keluar dari sungai aku langsung pergi membawa ikan hasil tangkapanku ke arah Toki yang sedang mempersiapkan peralatan memasaknya, dia tampak terkejut ketika melihat ikan sebesar pahaku itu, beda halnya dengan Noel yang terlihat sangat gemetaran sambil bersandar di pohon karena ada naga bumi yang terus menatap ke arahnya dari balik pohon, begitupun dengan naga bumi itu yang tampaknya penasaran dengan Noel yang bersembunyi, mereka berdua seperti sedang bermain petak umpet.
"Aku juga berharap seperti itu, tapi Shea apa naga itu benar-benar aman?" tanya Toki padaku.
"Um… selama dia tidak merasa terancam mungkin naga itu tetap akan tenang"jawabku padanya.
"Baguslah... kalau begitu dia tidak masalah untuk ditinggalkan" ucapnya lagi.
"Ya tidak perlu khawatir, selama aku ada di sini dia akan tetap jinak, mungkin." ("•_•)
Berbincang-bincang tentang naga bumi yang sedang memergoki Noel di balik pohon tingkah mereka berdua sangat menggemaskan meskipun nyatanya Noel sedang takut setengah mati dengan keberadaan naga itu, bahkan Toki tampak masih meragukan keamanan dari naga itu, akan tetapi walaupun tidak yakin seratus persen aku tetep meyakinkan bahwa naga yang imut itu akan tetap jinak saat di hadapkanku setidaknya seperti itulah kesimpulan yang bisa kuambil dari tingkah lakunya.
"Yosh…! aku akan membersihkan ikan ini" ucapku sambil mengangkat ikan besar di tanganku.
"Maaf merepotkanmu Shea" sahut Toki padaku.
"Tidak masalah, lagipula ini ikan tangkapanku" ucapku sambil tersenyum.
…
"Um... ternyata dia punya tas besar, t-tapi untungnya aku tidak membakar hutan di sana he hehe" ucapku sambil menatap ke arah Toki yang mengambil tas besar dari semak-semak hutan.
Pamit pergi ke pinggiran sungai untuk membersihkan dan memotong-motong ikan besarku, Toki tampak merasa tidak enak denganku karena aku selalu melakukan pekerjaan untuk mereka, tapi aku tidak keberatan untuk melakukannya karena aku suka membantu orang lain dan juga karena aku ikut makan bersama mereka, berdiam diri dan menikmati makanan tanpa membantu sedikitpun akan sangat membuatku merasa tidak nyaman lagipula aku yang menangkap ikan itu berarti aku juga yang akan membersihkannya, dan lagi Toki juga terlihat sedang sibuk membuat tungku api dan menyiapkan rempah-rempah makanan dari tas punggungnya yang sebelumnya dia pungut dari dalam semak-semak yang tidak jauh dari area hutan yang aku bakar.
"Hahh… lupakan itu, saatnya memotong" ucapku sambil merubah gelangku menjadi pedang.
"Baiklah mari kita mulai hehehe" ucapku sembari mengangkat pedangku.
.
.
"Hm... ini lebih banyak dari dugaanku, yahh… tidak masalah aku bisa membakar sisanya."
Meletakkan ikanku di atas batu besar di pinggir sungai aku kemudian mengubah bentuk gelangku menjadi pedang seperti awal aku mendapatkannya, dan tanpa berlama-lama aku langsung memotong setiap sirip dan kepala dari ikan itu lalu membelah dagingnya sampai ujung ekor untuk memisahkan tulangnya, sebelum akhirnya aku memotong-motong dagingnya setebal dua jariku.
Setelah semuanya terpotong aku sedikit terkejut dengan hasilnya karena daging ikan itu terlihat lebih banyak, tapi mengingat kembali seberapa besar ukuran ikannya hasil sebanyak itu sudah pasti akan didapatkan, dan aku senang karena potongan ikan itu cukup untuk semua orang.
"Shea, jika sudah selesai masukkan saja ke dalam panci ini" ucap Toki padaku.
__ADS_1
"Baik hehehe" sahutku sambil tersenyum.
"Oh ya, sebaiknya setelah ini kau istirahat saja… biar aku yang memasaknya."
"Eghhh…! aku juga ingin membantu" ucapku terkejut.
"Tidak boleh! sebaiknya kau temani Noel saja… dia tampak kesulitan dengan naga itu."
"Emh!! baiklah" sahutku sedikit cemberut.
Hiks... padahal itu akan menjadi masakan perdanaku.
Datang menghampiriku sambil membawa sebuah panci besar untuk wadah daging ikan aku hanya tersenyum mengiyakan ucapannya, dan dengan cepat aku masukkan daging ikan yang sudah bersih ke dalam panci yang dibawa oleh Toki, tapi aku sangat terkejut saat Toki memintaku untuk duduk diam dan beristirahat padahal aku sama sekali tidak merasa kelelahan dan juga aku sangat ingin memperlihatkan keahlian memasakku padanya, terlebih lagi itu akan menjadi masakan pertamaku dengan tubuh ini, akan tetapi Toki tetap melarangku dan memintaku untuk menemani Noel yang sedang berada diambang ketakutannya dengan mata yang berkaca-kaca karena naga bumi itu terus mendorong-dorongkan kepalanya ke arah Noel, dan mau tidak mau aku memang harus duduk diam menemaninya.
***
"Aaaa!!!" teriak Noel dengan keras.
Groah...!
Hahh… dia sudah sangat jinak loh…("•_•)
"Baik baik… jangan menakut-nakuti dia ya" ucapku pada naga itu.
Groah...
"Jangan mendekat jangan mendekat jangan mendekat jangan mendekat!" ucap Noel sambil menutup matanya.
Groah...
"Hehehe naga baik" ucapku tersenyum sembari mengelus kepala naga itu.
Baru beberapa langkah aku berjalan suara teriak Noel terdengar cukup keras memecah keheningan suara alam yang tenang, bahkan naga yang berada di dekatnya terlihat kebingungan dengan teriakan itu sembari menarik kembali kepalanya menjauh dari Noel, ya aku bersyukur naga itu tidak menerkamnya saat terkejut dengan suara teriakan Noel yang tiba-tiba, sembari berjalan mendatangi tempat mereka aku mengatakan pada naga itu agar tidak menakut-nakuti Noel karena aku sedikit khawatir dengan kesehatannya, naga bumi itu kemudian memiringkan kepalanya lalu meraung kecil saat aku selesai dengan ucapanku dan aku sangat menyukai tingkahnya itu.
Sementara itu Noel terlihat masih gemetaran sembari mengucapkan kalimat secara berulang dengan satu tangan yang terangkat seolah mendorong sesuatu padahal naga itu sudah menjauhkan kepalanya, aku kemudian mendekati Noel dan duduk di sampingnya sambil berusaha untuk membuatnya merasa tenang diikuti dengan naga bumi sebelumnya yang berbaring di sampingku.
"Tidak apa-apa lohh… dia naga yang baik" ucapku pada Noel sambil tersenyum.
"Dia tidak akan memakanku? dia tidak mencabik-cabikku iyakan? dia tidak akan mengunyahku sampai haluskan?" tanya Noel padaku.
"Ehehe... t-tidak, tenang saja dia aman..."
Fantasinya sangat menyeramkan...
"Mau mencoba mengelusnya?" tanyaku padanya.
"Tidak tidak tidak… tidak mau."
"Hm… kau yakin? dia tidak akan melukaimu lohh" ucapku bertanya sekali lagi.
__ADS_1
" ... "
"Mau mencoba?" tanyaku lagi sambil tersenyum.
"Y-ya mungkin sekali saja" ucapnya seraya mengulurkan tangannya.
…
"Bagaimana?"
"Rasanya seperti menyentuh kulit ular dan itu tetap menakutkan" ucap Noel sambil kembali menarik tanganku dengan ekspresi wajah yang tegang.
"Y-ya begitulah, tapi dia tidak berbahaya iyakan?"
"Mungkin hanya untuk saat ini" sahutnya sambil tetap gemetaran.
"Ehehe" ("^_^)
Kurasa dia benar...
Tersenyum tipis menatap ke arah Noel aku aku berusaha untuk menenangkannya agar dia tidak merasa takut lagi, dan dengan perlahan dia mulai memperlihatkan wajahnya serta memberanikan diri untuk menatap ke arahku, tapi aku sangat terkejut ketika dia bertanya padaku tentang naga bumi itu bagaimana tidak? Noel benar-benar memikirkan kemungkinan yang terburuk dari yang terburuk yang akan terjadi dan itu sangat menakutkan.
Untuk menyudahi ketakutannya itu aku kemudian mempersilahkan padanya untuk mengelus kepala si naga, tapi Noel langsung menggeleng-gelengkan kepalanya menolak untuk melakukannya, tentu saja karena dia masih sangat takut dengan naga besar itu, tapi aku tetap meyakinkan padanya bahwa tidak ada yang perlu ditakutkan dari si naga dan sontak saja ucapanku itu membuatnya kembali berpikir dan mau mencoba untuk mengelus kepala naga, walaupun hanya sebentar saat menyentuh kepala naga, tapi sekilas rasa takut Noel terlihat berkurang.
"Yo semua, kami kembali" ucap Sam keluar dari semak-semak.
"Kalian sangat lama" sahut Toki sambil bertolak pinggang.
"Mencari makanan di dalam hutan tidak semudah mencari makan di pasar kota, bahkan di kotapun ada banyak orang yang masih kelaparan" ucap Kroz seraya menurunkan wadah kain yang berisi jamur dan buah-buahan kecil seperti Berry.
"Woah!! biar aku bantu/"
"Shea…!"
"Memangnya kenapa?" tanyaku sambil cemberut.
"Hahh… kondisimu terlihat belum membaik, sebaiknya kau istirahat saja" ucap Toki padaku.
"Aku tidak apa-apa, lagipula ini hanya memasakkan? itu tidak ada hubungannya dengan/"
"Shea, aku tau itu… tapi, kami juga sudah banyak berutang budi padamu, jadi biarlah aku dan yang lainnya mengurus ini" ucap Toki memotong ucapanku.
"Baik…" sahutku sambil kembali duduk di dekat Noel.
"Tidak apa Shea, aku sendiri tidak bisa memasak itulah kenapa aku selalu diam menunggu hehehe" ucap Noel sambil tersenyum padaku.
"Tapi, aku ingin membantu" sahutku sambil menggembungkan pipiku.
Melihat Toki yang memotong beberapa sayuran dari arah semak-semak hutan Sam dan yang lainnya akhirnya datang dengan membawa banyak jamur dan juga buah-buahan kecil yang dipikul oleh Kroz, tapi Toki terlihat sedikit kesal dikarenakan mereka pergi dengan cukup lama dan Kroz kemudian membalasnya dengan ucapan yang terdengar keren di telingaku, tidak menghiraukan pertengkaran mereka aku kemudian berdiri dan berniat akan mengambil jamur-jamur yang mereka bawa untuk dimasak, akan tetapi sekali lagi Toki melarangku untuk melakukannya dan itu membuatku langsung bertanya padanya dengan wajah yang cemberut, tapi Toki hanya beralasan bahwa dia melarangku karena kondisiku yang kurang baik padahal aku merasa sangat sehat dan kuat meskipun masih ada rasa sakit akibat efek penggunaan sihirku sebelumnya.
__ADS_1
Dan tentunya aku tidak mempermasalahkan hal seperti itu karena aku masih sangat segar bugar untuk sekedar memasak makanan, tapi dengan pelan Toki kemudian menambahkan alasannya bahwa dia sudah terlalu banyak berutang padaku, meskipun begitu aku tetap ingin membantunya memasak terlebih lagi karena aku menolong bukan karena aku mengharapkan balasan, tapi karena memang aku suka menolong orang lain, akan tetapi aku langsung mengurungkan niatku untuk unjuk keahlian memasak saat aku menatap matanya, aku kemudian menurutinya untuk tetap diam meskipun aku tidak suka.
Dengan wajah cemberut sembari mengaduk-aduk tanah di bawahku aku benar-benar tidak suka dengan situasi ini, tapi beruntung aku tetap ditemani oleh Noel yang duduk di sampingku karena dia tidak bisa memasak dan juga naga besar yang dari tadi terus berada di sekitarku, walaupun agak kesal setidaknya aku memiliki teman di sampingku, aku juga tidak ingin kehilangan temanku di hari pertama aku berteman hanya karena masalah siapa yang memasak, setidaknya aku bisa memasak di lain waktu dan untuk sekarang aku cukup menikmati pertemanan ini saja.