I Was Reincarnated As A Dragon

I Was Reincarnated As A Dragon
Chapter 38: Naga Lagi


__ADS_3

"Untuk sekarang ini akan menjadi tempat peristirahatan yang baru, tapi kita tidak akan tinggal lama di sini, kita akan langsung pergi setelah cukup istirahat." Ucapku sambil menatap sekelilingku.


"Baik, tuan." Sahut Sira.


Aku menutup jalur yang menuju kemari dengan es tebal yang sudah kuberikan sihir kamuflase, jadi tidak ada yang tau jika ada tempat tersembunyi di baliknya, hanya ada satu jalan menuju ke sini karena tempat ini adalah jalur buntu.


Dikarenakan tempat ini tidak ada pencahayaan, aku memberikan beberapa hiasan agar tempat ini terlihat terang karena sebelumnya di sini sangatlah gelap.


Tak lupa juga aku membuat sebuah tempat tidur seperti sebuah sarang burung hehe, aku membuatnya dari es yang kusemburkan dengan cara melingkar.


Kenapa aku memilih tempat ini? ya karena tempat ini tidak terlalu mencolok dan tidak ada monster di sini dengan kata lain tempat ini aman dari gangguan dan cocok digunakan untuk persembunyian, walaupun hanya sebentar.


Aku berencana untuk pergi dari sini setelah cukup beristirahat walaupun sudah berbeda lantai, tapi aku merasa tempat ini masih belum aman sepenuhnya.


Entah kenapa aku merasa kalau orang itu adalah sebuah ancaman bagiku padahal sebelumnya aku belum pernah bertemu dengannya, rasanya aku tidak akan bisa hidup tenang jika bertemu dengannya.


Kriuk kriuk


"Ukhh... aku lapar, dari tadi aku belum makan... hey Sira... eh! kau kenapa?"


"B-B-bukan apa-apa tuan."


" ... "


Apa ada yang salah dariku?


"Apa kau yakin tidak apa-apa?"


"Y-Y-ya."


Dari tadi Sira tampaknya sedang menjaga jarak dariku itu membuatku sedikit bingung, tapi karena dia bilang tidak apa-apa jadi mungkin itu bukan sesuatu yang penting.


Aku kemudian membuka ruang penyimpanan untuk mengambil beberapa ekor monster untuk menyiapkan makanan, aku sudah sangat lapar karena sebelumnya aku menundanya untuk mencari Sira dan semakin tertunda karena harus berpindah lantai secara mendadak.


Apa naga-naga itu baik-baik saja? sekalian saja aku memeriksa mereka.


"Sira tunggu sebentar di sini, aku ingin memeriksa sesuatu."


"Baik tuan."


Aku memperbesar pintu masuk menuju ke dimensi ruang penyimpananku agar aku dapat masuk ke dalamnya, itu memang ruang penyimpanan, tapi aku dapat keluar masuk sesukaku kapan pun aku mau.


"Sepertinya mereka belum sembuh sepenuhnya, tapi sebagian besar luka-lukanya sudah sembuh... bagaimana dengan keadaan naga air ini? hm... tampaknya dia juga baik-baik saja, syukurlah kalau begitu."


Beberapa bulan yang lalu saat aku membuat sarang di lantai 74 ada seekor naga air yang bersembunyi di dalam air danau, naga itu memiliki perawakan seperti ular, dia langsung melilit kakiku saat aku mendekat ke danau, tapi aku membekukan air danau sehingga dia juga ikut membeku di dalamnya.


Karena bentuknya yang unik – setidaknya itu menurutku – aku menyimpannya di dalam dimensi penyimpananku, mungkin saja dia bisa dijinakkan hehehe.


Beberapa jam yang lalu aku memasukkan mereka ke dalam sebuah kristal es untuk mengobatinya, walaupun itu adalah kristal es tapi aku tetap menjaga suhunya agar tetap normal, tidak dingin dan juga tidak panas, mereka tidak perlu bernafas di dalamnya karena selama proses pengobatan aku akan membuat seluruh organ mereka agar berjalan dengan normal.


Entah apa yang kupikirkan aku malah mengobati monster yang jelas-jelas telah menyerangku, mungkin karena aku ingin tau kenapa mereka menyerangku apa itu hanya karena insting monster mereka atau karena ada perbedaan kepribadian dari setiap monster ini atau mungkin karena ada alasan lain.


Jika hanya karena insting monster seharusnya mereka tidak akan pernah bekerja sama seperti itu, dan juga aku pasti sudah lama mati saat pertama kali bertemu dengan Blacky sembilan tahun yang lalu.

__ADS_1


Selama enam tahun terakhir setiap kali aku bertemu dengan naga mereka selalu menyerangku itu memang terlihat wajar, tapi aku merasa ada yang aneh dengan pergerakan mereka.


"Sudah waktunya keluar, dahh... sampai jumpa lagi, aku akan mengunjungi kalian lagi nanti, bye bye." Ucapku sambil keluar dari Dimensi penyimpanan.


"Ahh... sekarang waktunya untuk makan, hehehe sudah dari tadi aku menunggu, selamat makan."


"Owh hampir lupa! ini untukmu Sira, selamat makan."


" ... "


Aku memotong-motong daging monster itu menjadi potongan-potongan kecil agar tidak terlalu lama mengunyahnya, aku membakarnya di ujung jariku lalu memakannya satu persatu.


Hm... ada apa dengannya?


"Ada apa Sira?" tanyaku pada Sira.


"T-tidak, bukan apa-apa."


Yang benar saja, tingkahmu itu sangat aneh Sira.


Tingkah laku Sira mulai sedikit membingungkan sebelumnya dia terlihat menjaga jarak dariku dan sekarang dia terlihat sedang mengamatiku, dia mulai terlihat aneh saat kami memasuki lantai ini.


"Hoahhh... selamat malam."


Setelah menyelesaikan makananku, aku melanjutkannya dengan tidur, mengingat dari tadi aku hanya lari-lari tanpa henti sudah waktunya untuk istirahat menghilangkan rasa lelah dan beban pikiran.


Karena aku tidak tau apakah hari sedang siang atau malam, jadi setiap kali aku tidur aku akan menganggapnya sebagai malam hari, hehehe.


Dor Dor Dor


Tuan...


"Tunggu sebentar lagi... aku masih mengantuk."


Dor Dor Dor


Tuan...


"Aku masih ngantuk."


Dor Dor


"Agrhhh!!! sudah kubilang aku masih mau tidur!!" bentakku.


"Eh! Ehhhhh!!"


Samar-samar aku mendengar suara Sira yang sedang memanggilku, aku juga mendengar suara-suara benturan yang cukup keras saat aku tidur.


Awalnya aku mengira kalau itu hanya sekedar mimpi, tapi suara itu terdengar semakin keras setiap saatnya, karena kesal dengan suara itu aku bangun sambil berusaha membentak asal suara itu, tapi tiba-tiba dinding yang aku bangun untuk menutupi jalan masuk hancur dan berlubang.


"B-bagaimana bisa? Sira?!!" ucapku sambil menatap ke arah Sira.


"Sepertinya mereka mengikuti jejak kaki kita saat dalam perjalanan ke sini tuan." Jelas Sira.

__ADS_1


"Jejak kaki?"


Bukankah ada banyak jejak kaki di tempat ini lalu bagaimana mereka bisa menemukanku? apa mungkin...


[ Nilai ]


Agrhhh!!! bodoh bodoh bodoh! kau benar-benar payah! kenapa aku tidak menyadari itu?!


Setelah mendengar ucapan Sira aku langsung melihat ke arah jejak kakiku menggunakan sihir penilaian dan benar saja aku melihat ada jejak sihir biru cerah di dalam jejak telapak kakiku, mereka sudah bisa mengenali aura kekuatanku walaupun itu hanya sebagian kecil dari yang aslinya, tentu saja karena itu adalah auraku saat dalam mode penekanan.


Sekarang apa yang akan kulakukan dengan mereka? mereka cukup banyak, agrhhh! kenapa mereka selalu datang dengan berkelompok?!


Sepertinya hari ini bukan hari keberuntunganku, baru beberapa menit yang lalu aku beristirahat di sini setelah lelah bertarung dan berlari sekarang aku harus berhadapan dengan lima naga sekaligus, aku tidak takut dengan mereka, tapi cukup merepotkan menggerakkan tubuh sebesar.


Graahhhhhh!!


"Hey ayolah apa kalian tidak bisa membiarkanku istirahat sebentar?"


Nyawaku bahkan belum terkumpul sepenuhnya, karena harus terpaksa bangun, menyebalkan.


Malas untuk bergerak dengan rasa kantuk yang masih memenuhi kepalaku, ingin rasanya aku bersembunyi di balik Sira dan memintanya untuk menghadapi mereka, tapi sayangnya dia terlalu kecil untuk menghadapi segerombolan raksasa di sebelah sana.


"Bagaimana tuan?"


"Yahhh... tak ada pilihan lain, aku akan memberikan pelajaran pada mereka karena telah mengganggu tidurku." Ucapku sedikit lemas.


"Kau diamlah di sini." Lanjutku.


"Tapi tuan."


"D-I-A-M mengerti?!"


Mereka telah mengganggu tidurku jadi mereka harus menerima akibatnya, aku tidak ingin Sira terlibat dalam masalah ini, jadi aku sendiri yang akan memberikan sedikit pelajaran tentang tata krama pada mereka, hehehe.


"Y-ya baik tuan."


Aku kemudian keluar dari persembunyianku dan bertatap muka dengan mereka, buat apa bersembunyi jika persembunyiannya juga sudah diketahui oleh mereka kalau menutup ulang jalannya pun juga percuma karena tidak ada jalan pelarian di sini.


"Silahkan dimulai." Ucapku pada para monster naga itu.


Aku mempersilahkan mereka untuk menyerangku terlebih dahulu setidaknya untuk menghormati mereka karena telah mengantarkan nyawanya padaku.


Mereka terbilang lemah, ukurannya juga lebih kecil dariku, tinggi mereka hanya sekitar 45 meter, tapi mereka unggul dalam jumlah meskipun begitu mereka tidak mungkin bisa mengalahkanku hanya dengan bermodalkan jumlah, mereka hanya mencari kuburannya sendiri.


Graahhhhhh!!


Ssttt!!


Brukkkk!!


Tak lama kemudian salah satu dari mereka menyerangku dengan tanduknya, tapi aku menghindarinya dan langsung mencengkeram lehernya lalu membantingnya dengan keras ke tanah.


"Apa hanya ini?! kalian cepatlah maju agar ini dapat diselesaikan dengan cepat."

__ADS_1


~Maaf lambat~🥀


__ADS_2