I Was Reincarnated As A Dragon

I Was Reincarnated As A Dragon
Chapter 68: Kejutan Dan Sebuah Nama.


__ADS_3

"Huhh jalanan ini sangat gelap." Ucapku sambil berjalan menyusuri hutan.


Setelah induk kura-kura pergi ke dasar danau aku juga pergi dari sana untuk pulang ke rumah dinding, karena hari sudah sangat gelap jalanan hutan terlihat cukup menyeramkan dan juga suara mengganggu seperti raungan yang menambah suasana malamku menjadi cukup menyeramkan ok sangat menyeramkan.


Hu huhu hu hu


Cih sialan...! apa-apaan suara itu menyebalkan!


"Hey Sira? Sira? ehh!! huhh... hey ayolah Sira setidaknya temani aku sampai mulut gua." Ucapku sambil menatap ke atas kepalaku.


Sira sudah tertidur lelap di atas kepalaku sementara aku masih berjalan kebingungan dengan arah pulang karena suasana malam yang sangat gelap apalagi ditambah dengan suara-suara dan lolongan mengganggu yang masuk ke dalam telingaku, aku sedang menghadapi suasana yang kurang mengenakkan berjalan di tengah hutan berusaha mencari arah jalan pulang di tengah kesunyian malam yang mencekam.


Hu Huhu Hu Hu


"Cih brengsek! hey kau jika kau mencari lubang kubur cepatlah datang ke hadapanku! jangan bersembunyi di balik kegelapan!" ucapku menatap lurus ke depan.


.


.


"Huhh... duh ini menyebalkan."


Terlebih lagi sepertinya ada yang mengawasiku... tapi di mana?


Senyap dan sunyi tidak ada yang bisa di ajak bicara kecuali monster bermata merah menyala yang bertengger di dahan pohon yang ada di hadapanku dan yang bahkan aku tidak tau seperti apa bentuknya rupanya, ini adalah situasi yang menyebalkan, terjadi tatap menatap yang cukup lama antara aku dan monster itu, tapi monster itu kemudian pergi terbang meninggalkanku.


Setelah monster itu pergi aku kemudian kembali melanjutkan perjalanan, tapi lagi-lagi aku terdiam sejenak mengawasi sekitarku karena aku merasa ada mata yang sedang mengawasiku entah dari mana, seperti sebelumnya saat aku keluar dari gua auranya terasa menyatu dan menyebar ke seluruh penjuru hutan.


Tapi aku sama sekali tidak bisa mengetahui letak keberadaannya, yang aku lihat dan aku rasakan hanyalah tatapan mata monster-monster kecil dan monster berukuran sedang yang ada di sekitarku menatapku dengan mata yang beragam cahayanya, tapi aku sangat yakin bahwa yang menatapku bukanlah seekor monster melainkan hal yang lain.


"Eh! apa ini?" ucapku sambil mengulurkan tanganku ke depan.


.


.


"Woahh!! dia tertangkap... hehehe."


Secara tiba-tiba ada banyak cahaya bermunculan dan berterbangan layaknya kunang-kunang yang bersinar menyinari jalan di depanku, melihat itu aku langsung mengulurkan tanganku mencoba untuk menangkapnya.


Dan seakan paham maksudku pecahan cahaya itu mendekati telapak tanganku lalu aku menangkapnya masuk ke dalam tanganku, dia tampak sangat bersinar di dalam genggamanku saat aku mengintipnya dari balik jari-jari tanganku dan rasanya sangat menyenangkan melihat itu hehehe.


"Wahh!! ini sangat indah." Ucapku terkagum-kagum.


"Hoahh... ada apa nona." Tanya Sira mulai bangun.


"Lihat Sira!" ucapku penuh semangat.


"Hm... cahaya roh ya"


"Ehh... cahaya roh?!" ucapku kebingungan.


Karena aku yang terlalu heboh Sira tampak terbangun dari tidurnya dan nada yang agak heran dan bingung dia bicara sambil menatap ke arah cahaya-cahaya terang yang berhamburan itu, Sira tampak spontan menyebut cahaya itu sebagai cahaya roh yang langsung saja itu membuat kepalaku sedikit berputar memikirkan maksudnya.


"Yahh... itu mungkin sihir cahaya yang biasanya digunakan untuk menerangi jalanan yang gelap dan yang sering menggunakan itu hanyalah para peri elf saja." jelas Sira.


"Itu karena mereka memang terlahir dengan membawa warna sihir seperti itu... bisa dibilang pendekatan terhadap alam... daripada harus menggunakan api yang membakar dan merusak lingkungan." Lanjut Sira menjelaskan.


"Oh begitu..."


Yahh para peri memang suka menjaga alam... setidaknya itu yang aku baca di novel-novel dan film animasi.


"Jarang ada ras lain yang bisa menggunakannya walaupun terlihat sederhana... tapi mungkin aja ini adalah sihir pemanggilan."


"Ehh!! bukannya itu sangat berbeda dari yang kau katakan sebelumnya Sira?"


"Y-yahh... saya hanya mengambil kemungkinan yang lain nona."


Sira menjelaskan semuanya padaku dengan cukup baik jadi aku bisa sedikit memahaminya, karena seingatku aku juga memilikinya walaupun sangat jarang kugunakan, aku hanya menggunakannya untuk sihir penyembuhan, tapi karena aku punya regenerasi itu hampir tidak kugunakan.


Dan setelah mendengar penjelasan Sira aku bisa tau kalau penggunaannya cukup beragam dan bisa sangat berguna untuk keadaan seperti ini, tapi setelah mengetahui itu lagi-lagi Sira kembali membuat kepalaku berputar memikirkan hal baru.


"Karena sangat sulit membedakan antara sihir cahaya dan cahaya roh... orang-orang kadang bisa keliru jika baru pertama melihatnya."


"Memangnya apa perbedaannya Sira?" ucapku sambil bertanya membuka telapak tanganku.


"Coba anda dengarkan dengan baik ada apa dengan cahaya terang itu?!"


"Hm... memangnya ada apa dengan cahaya ini?" ucapku pelan dengan menatap cahaya kecil itu lagi.


.


.

__ADS_1


"Yahh tidak ada apa-apa." Ucapku sedikit bingung.


Hehehehe... hehehehe...


"Eh! apa itu?!"


Sambil dengan menatap cahaya kecil itu aku berusaha mengamatinya dengan jelas sesuai dengan apa yang dibilang Sira, awalnya aku tidak merasakan apa-apa dan tidak ada tanda-tanda keanehan dari cahaya itu bahkan setelah cukup lama aku menatapnya masih dengan tidak ada hal yang terjadi.


Tapi saat aku hampir memalingkan wajahku tiba-tiba saja sekilas aku mendengar suara tawa kecil dari cahaya yang ada di atas telapak tanganku, aku cukup terkejut mendengar itu keluar dari cahaya kunang-kunang itu dan bahkan aku tidak bisa memalingkan pandanganku dari sana karena penasaran.


"Apa itu Sira?"


"Seperti yang saya katakan sebelumnya, itu sesuai dengan dugaan nona, itu adalah sihir pemanggilan." Jawab Sira dengan penuh keyakinan.


"Jadi monster Seperti apa ini Sira!?" tanyaku sekali lagi.


"Seperti namanya nona itu bukanlah monster, tapi roh kecil yang berbentuk seperti cahaya kunang-kunang... sebaiknya jangan samakan mereka dengan monster nona... mereka bangsa yang terhormat." Jelas Sira padaku.


"Oh y-ya... maaf hehehe."


"Hoahhh... malam sudah semakin larut, sebaiknya kita cepat pulang..." ucapku sambil kembali berjalan.


"Baik nona."


Karena malam yang sudah larut dan juga aku yang sudah cukup mengantuk aku kemudian menutup pembicaraan lalu kembali melanjutkan perjalanan pulang mengikuti arah cahaya roh yang berada di sepanjang perjalanan.


Aku sebenarnya agak sedikit curiga dengan cahaya-cahaya roh itu karena mereka yang tiba-tiba muncul di hadapanku, tapi karena aku yang sudah mengantuk aku tidak terlalu mempedulikan itu.


.


.


.


"Hoahhh... emhhh... berapa lama lagi ya... ini mulai melelahkan." Ucapku sambil sedikit meregangkan tubuhku


"Hey Sira kau masih bangun? Sira? haloo? ah dia tidur lagi."


Cukup lama aku berjalan di bawah rembulan yang bersinar sambil mengikuti arah para roh kecil yang berada di sepanjang jalan di depanku itu, tapi tetap saja aku masih belum bisa sampai di mulut gua, perjalanan pulang ini bahkan sudah mulai terasa sangat melelahkan apalagi dengan rasa kantuk yang sudah hampir menguasai kepalaku.


"Huhh... kenapa masih belum sampai juga... apa para roh kecil ini hanya mempermainkanku yahh?" ucapku sambil terus berjalan dengan lemas karena kantuk.


...


"Huhh huhh huhh... yahh... ini dingin sekali... sebaiknya duduk sebentar dulu." Ucapku sembari bersandar di sebuah batang pohon.


"Ah... itu... sangat... in dah..."


...........


Karena perjalanan yang terasa jauh aku hampir sama sekali tidak memiliki semangat lagi saat dalam perjalanan pulang ini, hawa malam yang dingin mulai menusuk masuk sampai ke tulang membuat tubuhku sedikit gemetar karena kedinginan ditambah dengan rasa kantuk yang menjadi-jadi membuat kakiku semakin tak berdaya untuk berjalan.


Aku kemudian duduk bersandar di sebuah pohon besar sambil menatap para cahaya kecil yang mengelilingiku dan tanpa kusadari aku sudah mulai tertidur diantara terangnya gemerlap cahaya roh itu dan sunyinya suasana malam di tengah hutan.


...*****...


"Hoahh... emhhh... eh! kenapa aku ada di kamar?" ucapku sambil duduk dengan kebingungan.


"Hm... ini seperti kamarku, tapi bagaimana aku bisa di sini? selimut? ini bukan milikku." Sambungku masih dengan kebingungan.


Apa yang terjadi di sini?


...


"Eh! meja? kursi? lemari?! sejak kapan?! dan juga kurasa bunga itu seharusnya ada di ruang tamu bagaimana bisa di sini?"


Entah bagaimana caranya saat terbangun aku sudah berada di dalam kamarku yang ada di dalam rumah dinding, perlahan aku duduk dan bersandar di senderan ranjang tempat tidurku sambil menatap ke segala arah di dalam kamar berusaha mencari tau apa yang terjadi, tapi aku malah semakin merasa kebingungan dengan apa yang kulihat.


Saat aku terbangun tubuhku tertutup oleh selimut lembut yang bahkan aku tidak pernah merasa mempunyai itu, bahkan saat aku melihat ke depan aku malah dikejutkan dengan lemari kayu yang terlihat sangat kokoh berdiri di depan kasurku.


Dan juga ada sebuah meja dan kursi di samping tempat tidurku tertata dengan rapi dan juga bunga lily yang seharusnya ada di ruang tamu malah ada di atasnya, keadaan ini benar-benar membuatku bingung aku tidak bisa memikirkan apa yang terjadi di tempat ini.


"Hm... lemari ya... ehhh!! kenapa ada banyak pakaian? bagaimana mungkin ada banyak pakaian yang mirip dengan milikku."


"Wahh!! bahkan kelembutannya juga sama!! ini aneh!" ucapku sambil memegang salah satu baju dari lemari.


Sepertinya ada orang lain yang masuk ke dalam kamar ini.


"Sebaiknya aku mencari tau tentang ini." Ucapku sambil keluar dari kamar.


Karena penasaran aku kemudian membuka pintu lemari dan betapa terkejutnya aku ketika melihat ada banyak baju bergantungan di dalamnya yang totalnya ada delapan buah baju dan bahkan juga terlihat sangat mirip dengan yang aku pakai saat ini, dan juga aku merasakan ada aura lain yang berada di dalam kamar ini selain aku, merasa ada yang aneh aku kemudian pergi ke luar kamar untuk mencari penjelasan dari Sira.


"Sira kau ada di sini?" panggilku berjalan menuruni anak tangga.

__ADS_1


"Hm... ada apa nona?" sahut Sira dari bawah tangga.


.


.


"Hey Sira apa kau yang membawaku pulang?"


"Iya... memangnya ada apa nona?"


"Oh... bukan apa-apa... oh ya kenapa ada banyak barang-barang di kamarku Sira? selimut, lemari, meja, dan baju-baju itu dari mana datangnya itu?"


Perlahan aku menuruni tangga sambil dengan memanggil Sira, hanya perlu satu kali panggilan Sira menjawabnya dan muncul dari samping anak tangga sebelah kiriku sepertinya dia baru saja datang dari dapur, setelah d


Sira datang aku kemudian duduk di anak tangga yang paling bawah sembari bertanya kepada Sira tentang apa saja yang kulihat dan kurasakan di dalam kamarku.


"Hm... barang-barang... ooh! yahh saya mendapatkan itu dari teman saya nona." Jawab Sira.


"Teman?"


"Ya tadi malam saat saya keluar, saya tidak sengaja bertemu dengannya dan memintanya untuk mencarikan barang-barang itu nona." Jelas Sira.


"Lalu bagaimana dengan baju-baju itu?"


"Itu juga dari dia nona... saya menjelaskan detail bajunya lalu dia dengan cepat segera mulai untuk membuatnya, yahh dia cukup mahir untuk membuat itu."


"Oh jadi begitu ya."


Entah kenapa tingkahnya sedikit mencurigakan. •_•


Kriuk kriuk


" ... "


"S-sebaiknya kita sarapan dulu... hehehe." Ucapku sambil sedikit memalingkan wajahku.


"Yahh... saya rasa juga sebaiknya begitu." Sahut Sira padaku.


Walaupun masih ada yang menjadi pertanyaan di pikiranku seketika aku membuang semua pertanyaan itu karena perutku sudah menagih jatahnya, aku kemudian mengajak Sira untuk sarapan pagi lalu berdiri dan berjalan menuju dapur.


...........


"Eh! siapa yang menyiapkan ini?" ucapku sambil menarik kursi.


"Ini sekedar oleh-oleh darinya saat saya berkunjung nona."


Siapa sebenarnya teman yang Sira bilang?! yahh siapa peduli...


"Selamat makan." Ucapku sambil menyantap makanan itu.


Saat tiba di dapur aku sangat terkejut dengan banyaknya makanan yang ada di meja makan tertata rapi dan jenisnya yang beragam, aku kemudian menarik salah satu kursi dari bawah meja lalu duduk menatap semua makanan itu, aku sempat sedikit ragu untuk memakannya karena asal usulnya yang mencurigakan, tapi tanganku bergerak dengan sendirinya dan langsung memakannya hehehe.


Hm... benar juga...


"Sira."


"Ya ada apa nona?"


"Begini Sira... aku sudah cukup lama memikirkan ini, menurutku panggilan 'nona' itu sedikit terlalu formal dan mengganggu." Ucapku pada Sira.


"Yahh saya rasa tidak ada yang aneh dengan itu, bagi saya itu hal yang biasa nona." Sahut Sira padaku.


"Sira... aku ini juga ingin dipanggil dengan nama daripada hanya sebutan ' nona '." Ucapku sedikit cemberut.


"Hm... kalau begitu anda ingin dipanggil seperti apa nona?"


Benar saja aku belum menentukan namanya... hm... owh!!


"Nona? jadi seperti apa nona?"


"Yahh... bagaimana kalau Shea? itu nama yang singkat, jelas, mudah diucapkan, dan juga mudah untuk diingat."


"Hm... nama yang bagus." Ucap Sira.


"Tentu saja hehehe."


"Baiklah kalau begitu... selamat atas nama anda nona Shea."


"Uhukk uhukk... kenapa kau memanggilku seperti itu?" tanyaku sedikit tersedak.


"Ya karena anda adalah majikan saya, jadi memanggil anda dengan hanya menggunakan nama itu tindakan yang kurang sopan nona Shea."


"Ehhh!!! memang bisa begitu?!"

__ADS_1


Yahh... kurasa tidak masalah, setidaknya aku terkesan lebih memiliki identitas.


...🌹🌹🌹🌹🌹...


__ADS_2