I Was Reincarnated As A Dragon

I Was Reincarnated As A Dragon
Vol 1. Chapter 3: kehidupan baru


__ADS_3

‌Pandanganku gelap dan tak ada satupun suara yang bisa aku dengar bahkan pikiranku melayang entah kemana, aku terus berpikir sambil merangkul kakiku, apakah aku salah karena memilih untuk terlahir dari ibu yang berbeda?


Tapi tidak, hanya ada satu ibu yang akan sangat aku sayangi dan dia adalah ibuku yang dulu, walaupun aku berpikir seperti itu bukan berarti aku tidak menyayangi sosok ibu yang sedang mengandungku saat ini, tapi bagiku tetap tidak ada satupun ibu yang bisa menggantikan posisinya sebagai seorang wanita yang memberiku kehidupan untuk pertama kalinya.


Krakkk!!!


"Ehh...! apa ini? ah... tidak perlu dipikirkan, yang terpenting adalah..."


"Bwaaaa!!! selamat datang dunia baru!!!"


...


"Ugh! ini menjijikkan!" ucapku mengusap lendir di tubuhku.


Aku berpikir dan terus berpikir setiap saatnya sambil menunggu untuk dapat melihat dunia baru, entah berapa lama aku seperti itu tiba-tiba terdengar suara keramik yang pecah dari samping telingaku diiringi dengan cahaya terang yang membuat mataku terbuka, tapi tak peduli dengan semua itu aku kemudian menggerakkan tubuhku mencoba untuk meraihnya dengan jari-jari tanganku.


Akan tetapi, aku kembali terbangun di tempat entah berantah dengan lendir lengket yang melapisi tubuhku dan ini sangat mengganggu karena baunya sangat tidak enak.


"Hm... di mana ibu baruku? tampaknya dia tidak ada di sini... kenapa aku ada di tempat aneh ini ya?" ucapku kebingungan sembari menatap ke sekitarku.


"Apa ibu keduaku tidak sengaja melahirkanku di sini? hm... tidak, mana mungkin wanita hamil berjalan di tempat gelap seperti ini, ha!! apa aku dibuang?! tidak tidak tidak... ini mustahil, mana ada ibu yang membuang anaknya sejak lahir... tapi... di duniaku dulu itu kasus yang cukup sering dibicarakan... tidak tidak tidak, hentikan Aya, jangan berpikir negatif seperti itu, ha!! apa aku terlahir dari hubungan terlarang? TIDAKKK!!! MAMAAA!!!"


.


.


"Hiks... aku lebih suka ibuku yang dulu" ucapku sambil berjalan tanpa arah.


Berdiri memandangi sekitarku yang gelap gulita sembari berusaha mencari ibu yang sudah melahirkanku, tempat ini sangatlah sunyi dan hanya ada suara tetesan air yang terdengar tanpa ada suara yang lain, berada di tempat aneh seperti ini benar-benar membuatku bingung terutama karena aku sama sekali tidak bisa menemukan ibu keduaku.


Berusaha untuk tetap tenang sambil menganalisis keadaan saat ini, kepalaku dipenuhi oleh beberapa kemungkinan yang membuatku sangat tidak nyaman karena pikiran-pikiran negatif yang bermunculan, memikirkan hal-hal seperti itu sangatlah mengganggu konsentrasiku dan akhirnya aku berjalan tanpa tujuan dengan perasaan sedih dan kecewa karena tidak ada satupun tanda-tanda keberadaan ibuku.


Apa yang terjadi hari ini adalah momen kelahiran yang berbeda dengan apa yang aku pikirkan dan ini benar-benar kesialan yang menjengkelkan, berharap bisa mendapatkan pelukan hangat setelah lahir, tapi aku malah dapat yang sebaliknya. Aku kesal, tapi aku juga sedih dengan perlakuan buruk keluarga ini, jika dibandingkan dengan keluargaku yang dulu orang yang melahirkanku saat ini sangatlah jauh lebih buruk.


*****


"Um... tubuhku terasa aneh!?" ucapku sambil berusaha tetap tenang dan berjalan mencari tempat keluar dari tempat ini, aku tidak ingin berlarut-larut menangisi keadaanku karena tidak ada gunanya aku melakukan itu.


.


.


.


"Ahh...! itu cahaya yang menyakitkan, tapi… mungkin di sana lebih baik daripada berada di tempat gelap ini" ucapku sambil menutupi sebagian mataku.


Aku terus berjalan dengan berusaha menyeimbangkan tubuhku yang masih kesulitan untuk bergerak bahkan aku tidak tau harus menuju kemana karena aku tidak mengenal tempat ini, tapi setelah berjalan cukup lama dan bisa berdiri dengan benar aku kemudian tiba di sebuah belokan gua yang sangat terang saat aku berjalan di sana.


Aku bahkan nyaris tidak bisa membuka mataku walaupun cahaya itu tidak seterang ruangan para dewa sebelumnya, tapi karena aku sudah cukup lama diam di tempat yang gelap mataku menjadi sangat sensitif terhadap cahaya terang. Meski begitu, aku tetap senang bisa pergi ke tempat yang lebih layak.


"Hm... woahhh...! indahnya...! tempat ini seperti dunia lain! ya... ini memang dunia lain sih ehehe."


Berjalan masuk menuju ke tempat yang terang itu, aku benar-benar kagum dengan semua kristal bersinar yang menempel di setiap sudut tempat ini ditambah dengan sebuah danau kecil yang membantu memantulkan kilauan cahayanya yang menjadikan tempat ini terlihat sangat menakjubkan.


"Eh...! eegghhhhh!!! apa ini?!!! sisik? sayap? ekor!? kenapa tubuhku seperti ini!?" ucapku terkejut sambil memandangi air danau.


"Ini tidak masuk akal, bagaimana mungkin? bukannya Dewa bilang aku akan menjadi manusia."

__ADS_1


Tidak puas hanya dengan berdiam diri aku kemudian berjalan untuk melihat danau yang indah itu. Akan tetapi, saat melihat ke arah air danau aku malah mendapat sesuatu yang mengejutkan dan membingungkan bahkan nyaris tidak masuk akal sampai-sampai membuat pikiranku seakan terhenti, aku sangat terkejut melihat pantulan wajahku yang ada di air danau karena yang aku lihat bukanlah wajah anak manusia melainkan wajah oval dengan sisik putih yang menutupinya bahkan mulutku terlihat sangat lebar sampai-sampai aku bingun bagaimana harus menggambarkan wajahku ini.


Setelah melihat itu aku kemudian langsung memperhatikan bentuk tubuhku yang juga sama anehnya dengan kepalaku, aku punya sepasang sayap dan ekor serta empat kaki yang semuanya tertutup oleh sisik putih yang banyak dan ini menjelaskan kenapa aku sangat sulit untuk berjalan dengan dua kaki, aku terlihat sangat mirip dengan seekor kadal atau tepatnya kadal putih bersayap.


"Aku terlihat imut dengan sayap dan sisik putih yang bersinar ini, tapi tidak...! ini tidak mungkin!"


"Owhh...! pasti ini cuma mimpi... ya cuma mimpi, aku masih terbaring di rumah sakit! sejak awal bertemu dengan Dewa itu hal yang mustahil... aku hanya perlu menutup mata lalu terbangun..."



"Waaaaa!!!!! tidak mungkin! ini tidak mungkin terjadi!! aku ini manusia... aku manusia... katakan ini cuma mimpi iyakan!?"


Aku suka hal-hal yang terlihat imut meski begitu keadaan ini cukup sulit untukku terima karena sangat jauh berbeda dari apa yang dikatakan oleh Dewa sebelumnya, aku tidak mungkin salah mengingat sesuatu apalagi jika itu adalah hal yang penting dan aku sangat yakin bahwa aku akan terlahir menjadi manusia bukan malah menjadi seekor kadal putih.


Memejamkan mata sambil memegang kepala untuk berusaha membantah keadaan ini, aku berharap apa yang kulihat ini hanyalah sebuah mimpi dari tidur panjangku, tapi sekeras apapun aku berpikir dan menyangkalnya tubuhku sudah tidak berubah lagi, ini bukanlah mimpi yang bisa hilang ketika aku bangun dan semua yang terjadi di sini sangatlah nyata adanya dan benar-benar sebuah kenyataan.


Sstttt!!!


"Arghhhhh!!!!" teriakku dengan keras.


Cukup terpukul dengan keadaanku saat ini tiba-tiba saja ada cakar besar yang melesat dan mengenaiku dengan sangat cepat, merobek sayap dan tubuh bagian kiriku bahkan tubuhku terlempar menghantam dinding gua dengan keras dan mana ini semakin menambah rasa sakitku.


Aku berteriak menjerit kesakitan, terkapar dengan tubuh yang berlumuran darah sembari menahan rasa sakit untuk pertama kalinya bahkan setelah aku hidup beberapa saat setelah dilahirkan.


Graahhhhhh!!!!


Di saat pandanganku mulai memudar raungan menyeramkan menggema di sekitarku dan benar-benar membuat jantungku berdetak kencang sambil berusaha mencari asal suara itu, aku perlahan mencoba untuk bangkit dengan terus memegangi lukaku untuk mengurangi pendarahannya.


Dup!Dup!Dup!


Graahhhhhh!!!!!


Memandang ke arah jalan yang gelap dengan suara langkah kaki besar dan raungan menyeramkan membuat suasana menjadi sangat tegang, ini sangat berbahaya dan aku bisa merasakan ancaman yang sangat besar karena sepasang mata merah bersinar menatapku dari kegelapan.


Itu sangat besar, seekor beruang putih besar muncul dan langsung menyerangku menggunakan cakarnya yang tajam, setelah melihat serangan berbahaya itu, aku langsung menghindar dengan sekuat tenaga dan mengibaskan tanganku untuk mencipratkan darah ke mata monster itu lalu berlari secepat yang aku bisa untuk menghindari serangan berikutnya.


Berlari dan terus berlari dengan menggunakan sisa tenagaku tanpa mempedulikan rasa sakit akibat serangan kejutan dari beruang putih itu, karena nyawaku jauh lebih berharga daripada rasa sakit.


...✿✿✿...


Graahhhhh!!!


"Ekh! a-apa... apaan monster itu, dia masih mengejarku! aku harus cepat... menemukan... tempat untuk sembunyi."


...


"Itu... ekhh! a-aku akan sembunyi di sini."


Nafas yang terengah-engah dan darah yang tidak berhenti keluar dari lukaku, hari pertamaku dipenuhi dengan rasa sakit yang luar biasa dan harus dipaksa berlari dengan dihantui raungan monster beruang yang terus mengejarku.


Setelah lelah berlari dan berpegangan pada batu runcing yang ada di dekat dinding jalan ini, aku sudah benar-benar hampir mencapai batasku karena luka yang begitu besar di tubuhku, sampai akhirnya aku memilih untuk bersembunyi di dalam retakan dinding yang aku temukan.


"Akhirnya aku aman, dia tak akan menemukanku di tempat ini."


Graahhhhhh!!!!


"Waaa...!!! bagaimana dia menemukanku!!"

__ADS_1


Trakk! trakk!


Graahhhhhh!!!


"Waa!!! jangan masuk! jangan masuk!!!"


Bersembunyi dalam retakan dinding dengan kedalaman kurang lebih 3 meter, aku merasa sangat lega karena bisa menghindar dari kejaran beruang putih itu, tapi meski begitu kenyamananku tidak berlangsung lama karena hanya dalam beberapa saat persembunyianku berhasil ditemukan oleh monster itu, ditambah dengan kemunculannya yang tiba-tiba membuat detak jantungku berdebar kencang tanpa henti.


Beruang itu terus menggaruk-garuk dinding persembunyianku sambil berusaha untuk mencapaiku dengan cakar-cakarnya yang besar, jalan yang buntu dan tubuh yang tidak bisa bergerak lagi, sudah tidak ada harapan lagi untuk bisa lari darinya dan karena aku juga sudah mencapai batas kesadaranku perlahan-lahan semua yang aku lihat berubah memudar menjadi hitam, aku akhirnya tak sadarkan diri di dalam retakan yang sedang digali oleh beruang besar itu.


...✿✿✿✿✿...


"A-apa aku sudah mati?"


...


"Eh…! tunggu! aku masih hidup!? aku benar-benar hidup! apa monster beruang itu menyerah untuk memakanku?" ucapku sambil meraba-raba tubuhku.


"Syukurlah!! eh tunggu! bukankah tadi aku terluka parah? woahhh...! lukaku sudah sembuh, tapi bagaimana bisa? ya biarlah."


Perlahan bangun membuka mataku dengan perasaan sangat tidak nyaman terutama untuk tubuhku yang terasa sangat sakit, aku benar-benar beruntung karena masih bisa hidup setelah dikejar beruang menyeramkan itu.


Selain itu, aku juga sangat senang karena semua lukaku sudah sembuh, walaupun aku harus kehilangan beberapa sisik dan sayapku masih robek, tapi aku tetap bersyukur dengan keberuntungan ini dan untuk memastikan bahwa keadaan sudah benar-benar aman, aku menengok ke samping kanan dan kiriku untuk mengamati setiap sudut gua besar ini sebelum akhirnya aku berjalan keluar dari persembunyianku dengan perasaan sangat lega.


"Hiks... kenapa jadi begini... semua ini karena orang itu... awas saja jika aku bertemu dengannya, akan aku pukul orang itu sekalipun dia adalah Dewa, kehidupan seseorang bukan untuk dipermainkan" ucapku sembari mengepalkan tanganku.


"Tapi, sebelum itu aku harus bisa bertahan hidup di tempat ini dan belajar untuk menjadi kuat, lagipula mendendam itu bukan hal yang bagus dan prioritasku sekarang adalah untuk bertahan hidup."


Mengepalkan tangan bersisikku dengan rasa marah dan kecewa pada Dewa Ryuu, aku sangat ingin memukul wajahnya karena telah mempermainkan hidupku, aku tidak peduli meskipun dia adalah Dewa jika aku memiliki kesempatan meski hanya sebentar aku pasti akan memukulnya.


Tapi, tentunya itu tidak akan semudah yang aku pikirkan karena jika aku sampai mati di tempat seburuk ini, semua kekesalanku itu tidak akan pernah bisa tersampaikan. Jadi, untuk sekarang aku akan berusaha untuk melupakan masalah itu dan berfokus pada cara untuk bertahan hidup di tempat mengerikan ini, aku kemudian berjalan dengan tanpa mengurangi kewaspadaanku untuk menemukan tempat perlindungan yang lebih baik.


...✿✿✿✿✿...


"Tampaknya pencahayaan tempat ini sangat tidak teratur, ya... ini hal yang wajar sih, tapi mungkinkah ini labirin? atau hanya sekedar gua biasa? yahh... itu tidak terlalu penting untuk dipikirkan" ucapku sambil terus berjalan.


.


.


"Woahhh...!! tempat ini sangat indah!" ucapku dengan kagum.


Berjalan menyusuri gua yang sangat besar ini, ada satu hal yang membuatku sedikit penasaran dengan suasana ala wisata bawah tanah ini, setiap sudut dinding dan langit-langit yang aku lewati selalu terdapat beberapa kristal yang menerangi jalanku, walaupun ada juga jalan yang sangat minim pencahayaan, tapi sekilas ini memberiku bayang-bayang sebuah petualangan labirin dari cerita fantasi.


Semakin lama aku berjalan, semakin berubah-ubah juga suasana dan pencahayaan yang ada di gua besar ini, sampai aku tiba di hadapan tempat yang sangat menakjubkan, sebuah tempat yang dipenuhi oleh kristal bersinar dengan kolam air yang terbilang luas dan mungkin sedikit lebih besar dari danau yang aku temui sebelumnya.


Hm... karena ini berada di bawah tanah, airnya pasti sangat dingin.


"Ahh... nikmatnya! airnya sangat sejuk dan menyegarkan."


"Yahoo...!! mandi… mandi… mandi…"


"Gosok… gosok… gosok... yeee...!!! mari kita menggosok! tapi aku tak boleh lengah! gosok kanan, gosok kiri, gosok ekor, sekali lagi yeee!!! "


Melihat pemandangan indah dari danau yang bersinar, aku kemudian berjalan mendekati pinggiran danau lalu mencelupkan tanganku untuk memeriksa airnya, dan sesuai dengan perkiraanku karena tempat ini yang berlokasi di bawah tanah air danau ini menjadi sangat dingin dan sangat menyegarkan.


Setelah memeriksa airnya aku langsung melompat masuk ke dalam danau itu dengan sangat bersemangat untuk membersihkan sisa lendir telur dan juga noda darah yang ada di tubuhku, singkatnya aku mandi dan berenang sambil menikmati suasana indah tempat ini.

__ADS_1


...🌹🌹🌹🌹🌹...


__ADS_2