I Was Reincarnated As A Dragon

I Was Reincarnated As A Dragon
Chapter 27: Ganti Kulit?


__ADS_3

"Hooaahhh... selamat pagi." Ucapku dengan bersemangat.


"Selamat pagi, tuan." Ujar Sira padaku.


Sira bangun lebih awal dariku, dia terduduk diam sambil menatap matahari terbit yang menyilaukan, titisan embun pagi terlihat membentuk pelangi yang sangat indah.


"Ahhh... udara pagi yang menyegarkan." Ucapku sambil melakukan perenggangan pada tubuhku.


"Eh...! apa ini?" ucapku dengan kaget dan bingung sambil menatap sesuatu yang terlihat seperti sisik bening transparan.


sebelumnya benda ini tidak ada di sini, dari mana datangnya?


Aku sedikit bingung dengan apa yang kulihat dan bertanya-tanya benda apa itu sebenarnya.


.


.


.


"Ada apa, tuan?" tanya Sira.


Aku sedikit melirik ke arah Sira yang terduduk di sampingku, melihatku menatapnya sontak membuatnya bertanya padaku untuk respon tatapanku yang terlihat kebingungan.


"Ano... apa kau tau benda apa ini, Sira?" tanyaku padanya.


"Eh...! apa anda tidak menyadarinya? itu sisik anda sendiri, tuan." Jawabnya.


"Apa maksudmu? sisikku?!" tanyaku padanya sekali lagi.


" ... "


"Y-ya... anda baru berganti kulit beberapa jam yang lalu, tuan bahkan anda sedikit berguling-guling melepaskannya, itu bekas tempat anda berguling, tuan."


Dengan pelan Sira menjelaskan semuanya padaku dan bahkan menunjuk ke tempat yang ada di depanku, yup benar sekali jika diingat-ingat itu memang tempatku tidur tadi malam, aku berguling cukup jauh.


Hmm... jadi ini sisikku... tunggu! jadi aku bisa ganti kulit?! aku berganti kulit? memang benar kalau kadal itu bisa berganti kulit, tapi kenapa aku baru menyadarinya sekarang? bahkan sebelum-sebelumnya ini tidak pernah terjadi.


Tapi... jika diingat-ingat sebelumnya aku juga pernah melihat ini di lantai delapan saat aku bangun tidur persis seperti saat ini... mungkin karena hanya aku yang terlambat untuk menyadarkannya, yahh... biarlah lagi pula itu artinya aku kadal yang sehat, naga yang sehat.


"Apa anda baik-baik saja, tuan?" tanya Sira padaku.


"Y-yahh... aku baik-baik saja, hanya sedikit heran, hehe." jawabku.


.


.

__ADS_1


.


Aku kembali menatap ke arah Sira dengan tatapan kebingungan disertai keanehan.


"Ada apa, tuan?"


"Yahh... begini Sira, apa tubuhmu menciut lagi?"


" ... "


Sira hanya terdiam sambil menatapku dengan aneh dan juga bingung, jika dipikir-pikir itu memang pertanyaan yang konyol jadi wajar saja dia seperti itu, tapi jujur dia terlihat lebih kecil dari biasanya dan itu membuatku sangat bingung.


"S-sepertinya bukan saya yang mengecil, tapi tubuh anda yang semakin membesar, tuan." Jawabnya sambil menatapku dari atas sampai bawah.


"Aku?"


Kalau tidak salah ini juga pernah terjadi sebelumnya, tapi kenapa ya...? apa pertumbuhan ini normal? tapi... ya sudahlah lagi pun kehidupan di sini juga tidak bisa dibilang normal...


Kriukk... Kriukk...


"Ukhh... sepertinya perutku yang harus diberi jawaban, sedangkan untuk tubuh besarku tidak perlu dipikirkan."


Saat ini aku dilanda kebingungan yang cukup besar, tapi dengan cepat semua pertanyaan yang membingungkan itu berubah menjadi rasa lapar, ok sangat lapar.


Beruntung aku masih punya beberapa potong daging ular yang kusimpan di dalam Dimension Home milikku, itu sihir yang sangat berguna, aku mempelajarinya dari sekelompok orang beberapa tahun yang lalu.


Saat ini aku sudah bisa memanggang berbeda dengan diriku saat masih kecil yang hanya memakan daging mentah dan juga karena ada pilihan lain selain dengan memanggangnya, aku tidak bisa memasak dengan keadaan seperti ini.


Untungnya kaki depanku sudah berubah bentuk menjadi lengan walaupun dengan cakar yang menyeramkan, setidaknya aku bisa memegang sesuatu dengan benar tidak seperti dulu.


"Yeee... sudah matang." Ucapku dengan senang.


"Ini untukku dan ini untuk..."


"Tidak perlu, tuan."


"Eh...! apa kau tidak ingin makan?" tanyaku padanya.


"Saya sudah makan, tuan." jawabnya.


"Ehhh...! kapan kau makan?"


"Sebelum anda bangun tadi pagi, tuan." Jawabnya dengan sopan.


Ternyata Sira sudah makan sebelum aku bangun senang mendengarnya, kupikir dia tidak suka makan bersamaku karena aku terlalu rakus, hehe.


"Baiklah kalau begitu, selamat makan."

__ADS_1


"Emm... enaknya." Ucapku keenakan.


.


.


.


"Terima kasih atas makanannya."


Tak perlu waktu lama bagiku untuk menghabiskan semua makanan itu semuanya kulahap dengan sempurna tanpa tersisa sedikitpun kecuali tulang-belulang dari monster ular itu, sangat disayangkan ular besar itu hanya cukup untuk dua kali makan saja, hehe.


Semua perbekalanku sudah habis sebaiknya aku berburu untuk makan siang nanti.


"Sira." Ucapku memanggil Sira yang sedang berbaring menikmati udara pagi.


"Ada apa, tuan?" Sahutnya.


"Naiklah, kita akan pergi ke labirin." Lanjutku sambil menurunkan sebelah sayapku.


Aku mengajak untuk pergi berburu ke labirin, kenapa aku tidak mencari di dalam hutan? jawabannya cuma satu mencari di luar sini tak semudah mencari di dalam sana, entah kenapa aku sangat sulit untuk menemukan mangsa di luar sini, padahal aku merasakan ada banyak monster yang berada di sekitarku, tapi aku tidak bisa menemukannya, menyebalkan rasanya jika aku harus pergi ke tempat yang gelap, dingin, lembab, dan mencekam seperti labirin.


Tapi, mau tidak mau aku harus pergi ke sana, ini demi makanan, sekali lagi demi makanan, dan juga labirin itu adalah rumahku cepat atau lambat aku memang harus pergi ke sana, walaupun aku sangat suka berada di luar sini, tapi jujur pemandangan yang ada di dalam labirin juga tidak kalah dengan yang ada di sini, kedua tempat ini memiliki keistimewaannya masing-masing.


"Ada apa Sira, apa kau sakit?" tanyaku padanya.


Perlahan Sira mulai berjalan menaiki sayapku dan seperti biasanya dia berhenti di dekat tandukku untuk berpegangan, tapi aku merasa ada yang aneh dengan langkah kaki Sira rasanya dia berjalan dengan langkah yang berat dan gemetar, membuatku bertanya padanya karena khawatir.


"T-T-tidak ada apa-apa, tuan saya baik-baik saja." Ucapnya agak terbata-bata.


"Apa kau yakin?"


"Y-ya... tentu, tuan."


"Baiklah..." ucapku sambil memalingkan wajahku.


Setelah bertanya padanya aku kemudian mengepakkan sayapku dan terbang menuju ke pintu labirin yang sebelumnya pernah aku lewati.


Udara pagi memang sangat menyegarkan, butiran-butiran embun berterbangan terkena hembusan angin dari sayapku, sinar matahari pagi membuat sisikku yang putih terang terlihat berkilauan memantulkan cahayanya yang hangat, aku sangat senang melihat sisikku yang bersinar terang rasanya sangat membahagiakan.


Aku benar-benar menikmati perjalanan pagi ini dengan riang gembira, cukup lama terbang menikmati pemandangan pagi aku dan Sira akhirnya sampai di pintu masuk labirin.


"Eh...! siapa itu?" ucapku bertanya-tanya sambil melihat seseorang yang sedang berdiri seorang diri di depan pintu labirin.


Aku kemudian mendaratkan tubuhku dengan pelan di depan orang itu yang ternyata adalah Goro sang pengawal yang sebelumnya meminta bantuanku untuk menyelamatkan putri dari pemberontakan.


Kenapa dia kemari? apa mungkin terjadi sesuatu dengan gadis putri itu?

__ADS_1


__ADS_2