I Was Reincarnated As A Dragon

I Was Reincarnated As A Dragon
Chapter 52: Naga Pemberontak? Hey Siapa Dia?


__ADS_3

"Akhirnya aku berhasil menemukanmu, naga pemberontak." Ucapnya dengan nada dan tatapan sangat dingin.


K-kenapa dia terlihat sangat marah padaku? siapa dia?


Ggrrrr


"Jangan berani mendekati tuanku."


Oww...! aku baru tau Sira bisa berubah... tidak tidak tidak jangan pikirkan tentang itu, yang harus aku pikirkan adalah orang itu, dia tampak berbahaya.


"Jangan menghalangiku monster rendahan atau aku akan membunuhmu." Ucap lelaki itu pada Sira.


Setelah melihat orang itu Sira kemudian melompat ke depanku dan langsung berubah ke wujud manusia harimau, perawakannya menjadi lebih besar dari sebelumnya, ini pertama kalinya aku melihat Sira berubah seperti itu.


"Jika kau berniat menyentuh tuanku, maka aku akan menghalangimu." Sahut Sira.


"Cih!!"


"Nona sebaiknya anda pergi dari sini, dia sangat berbahaya." Ucap Sira dengan telepati.


"Eh! memangnya siapa dia Sira?" sahutku.


"Dia adalah..."


Sstttt!!


"Gawat! pergilah nona!! di sini tidak aman..."


BRUKKK


"Sira!!"


"A-a...!!"


D-dia cepat dan kuat... apa Sira baik-baik saja? aku harus berhati-hati.


Saat Sira bicara denganku menggunakan telepati orang itu tiba-tiba saja menghilang dari hadapan kami dan langsung memukul Sira dengan sangat keras sampai-sampai Sira terpental dan menghantam dinding dengan brutal, padahal tubuh Sira dua kali lipat lebih besar darinya, tapi dia bisa melempar Sira hanya dengan satu pukulan saja.


Sira bahkan hampir tidak bisa bergerak karena pukulan itu, tubuhnya terjepit bebatuan dinding karena benturan itu.


"Kau harus dihukum." Ucapnya padaku.


Aaa!! dia menyeramkan! tenang aku harus tenang huhh... baiklah... eh! tunggu dihukum? apa maksudnya?


"Maaf tuan sepertinya ada kesalahpahaman di sini, saya tidak mengerti apa yang anda maksud." Ucapku padanya.


Berkata-kata yang sopan adalah hal yang bagus untuk menyelesaikan masalah tanpa harus ada konflik yang berkepanjangan, lagi pula aku tidak tau apa masalahnya di sini dia muncul, pemberontak, harus dihukum, aku bahkan tidak mengerti apa yang dia maksud.


"Apa kita bisa menyelesaikannya dengan bicara baik-baik? tanpa harus ada kekerasan." Sambungku bicara padanya.


"Tidak ada bicara, hukuman tetap hukuman, naga yang melanggar aturan harus dihukum." Jawabnya dengan dingin sambil berjalan ke arahku.


Ssttt!!!


Duarr!!


Sama seperti yang dia lakukan pada Sira dia juga bergerak dengan cepat dan melancarkan pukulannya padaku, tapi dengan cepat aku menahannya dengan tanganku untuk mengurangi efek serangannya dan langsung melompat ke belakang untuk menghindari serangan selanjutnya.


Dia tidak bisa diajak berbicara.


Orang itu kemudian mengeluarkan cakar-cakar tajam dari ujung jirah sisik di jarinya, dengan melihatnya saja aku yakin kalau itu sangatlah tajam.


Ssttt!!!


"Arghhh!!!"


A-aku ceroboh.


Seperti sebelumnya dia kembali menyerangku dengan sangat cepat menggunakan cakar itu, spontan aku menangkisnya dengan tangan kiriku, tapi tanganku terpotong oleh cakar itu, aku lupa kalau tanganku sudah tidak ditutupi sisik keras lagi, tanganku yang sekarang sangat mulus dan sangat mudah terluka.


Darah merah mengucur keluar dari tanganku dengan derasnya membuatku menjerit kesakitan, aku terus memegangi tanganku untuk mengurangi pendarahannya, gaunku yang putih kini terdapat banyak noda darah yang mengotorinya.


"A-apa tidak... bisa dibicarakan baik-baik?" ucapku sambil memegangi tanganku.


Dengan masih merintih kesakitan dan memegangi tanganku aku berharap dia mau diajak bicara agar pertarungan ini tidak berlanjut, aku bisa saja mengimbanginya, tapi aku tidak ingin melakukan itu, aku ingin tau apa alasannya menyerangku dan apa maksud ucapannya itu.


Setidaknya aku ingin tau tentang itu, jika memang ada kesalahan yang kulakukan kurasa itu bisa diselesaikan dengan cara yang baik tanpa harus bertarung.


Sstt!! Sstt!! Sstt!!


Duhh... pura-pura kesakitan pun tidak ada gunanya, walaupun nyatanya ini benar-benar sakit...

__ADS_1


Dia memang tidak bisa diajak bicara, kalau begitu aku tidak punya pilihan lain selain memaksanya untuk berhenti.


Bukannya menjawabku dia malah menyerangku dengan mengangkat bebatuan sekitar lalu mengubahnya menjadi benda tajam dan langsung melemparkannya ke arahku.


Melihat itu aku langsung terbang untuk menghindari serangan itu dan menyembuhkan tanganku, aku memiliki kemampuan regenerasi yang cepat jadi aku bisa menyembuhkan lukaku dalam hitungan detik sesuai dengan keinginanku.


Dengan cepat tanganku yang terpotong sembuh kembali seperti sediakala dan langsung menyiapkan serangan balasan padanya, aku tidak bisa terus mengalah dan menghindar itu hanya akan memperburuk keadaanku dan akan semakin menyakitkan, lagipula dia tidak bisa diajak bicara baik-baik jadi aku tidak punya pilihan selain menjatuhkannya dan setelah itu mungkin aku bisa memaksanya untuk menjelaskan semuanya.


"Eh! aa!!!"


Brukkk!!


"A-apa ini... gravitasi?"


I-ini jauh lebih kuat... dari yang pernah aku rasakan sebelumnya.


"Ekhhh!!"


"Lemah, kau tidak pantas mendapatkan kekuatan itu." Ucapnya sambil mencekik leherku.


Sepertinya aku benar-benar ceroboh dalam pertarungan ini, saat aku menyiapkan seranganku dia lebih dulu menyerangku dengan sihir gravitasi menjatuhkanku dan langsung mencekik leherku dengan kuat sampai-sampai aku hampir tak bisa bernafas.


BRUKKK!!!


Dia kemudian melemparku dengan keras sampai-sampai tubuhku membentur beberapa bebatuan lalu menghantam dinding dengan sangat keras, yahh… itu benar-benar sangat sakit, terlebih lagi dia langsung mengekangku menjepit tangan, kaki, dan tubuhku di dinding labirin dengan sihir bumi sampai-sampai aku tidak bisa bergerak sedikitpun.


Sstt!!


"A-a...!!"


"NONA!!"


"Hah menyedihkan." Ucapnya menatapku lalu berbalik.


.


.


Krakk


"Apa itu?!" ucapnya sambil berbalik kembali menatapku.


...


Bug!!


Setelah mengekangku dia kemudian menusukkan tanah berbentuk kerucut dengan panjang satu meter dan diameter kurang lebih 25 cm tepat di jantungku, tapi aku sudah membuat rencana tentang itu.


Saat dia melemparku dan tubuhku menghantam bebatuan aku membuat sebuah replika dari sihir es sama seperti saat aku membuat manekin, jadi yang dia kekang dan yang ditusuknya bukanlah tubuh asliku, tapi hanya tubuh pengganti yang terbuat dari es sementara tubuh asliku berada bersembunyi di dalam tanah, aku memang cerdas hehe.


Aku langsung keluar dari tanah dan mukul rahang bawahnya dengan sangat keras sampai dia terpental cukup jauh dariku.


Yeah... itu balasan untukmu...


"Fuih... lumayan." Ucapnya sambil meludah lalu berdiri kembali.


Ssttt!!!


Cepat!!! tapi... bagaimana dengan ini...?


"Lilitan taman mawar."


Setelah berdiri dia kemudian kembali melesat ke arahku dengan cakar-cakar tajam yang siap untuk memotong-motong tubuhku, tapi sesaat sebelum dia mengenaiku aku melilit tubuhnya dengan pohon bunga mawar yang kubuat dari sihir es.


"Hanya ini, lemah!" ucapnya sambil menghancurkan pohon-pohon mawar yang melilitnya.


"Eehhhh...! tidak berhasil, kalau begitu bagaimana kalau sedikit diperbesar."


Dia dengan mudahnya menghancurkan semua pohon mawar yang melilitnya seperti menarik benang-benang yang sangat rapuh, tapi aku tidak menyerah sampai di situ aku kemudian kembali melakukan serangan pohon mawar dengan ukuran yang lebih besar untuk menusuknya, tapi dia tetap bisa menghindarinya dengan sangat mudahnya.


"Tidak berguna."


"Hoo... benarkah? kalau begitu... bagaimana dengan ilusi serbuk mawar ini"


Tempat ini dipenuhi oleh pohon-pohon bunga mawar yang merambat ada yang besar dan ada juga yang kecil, orang itu bahkan hampir tak terlihat karena tertutup oleh banyaknya pohon mawar dan tempat ini juga dipenuhi oleh aroma harum dari bunga mawar yang bermekaran.


"Jadi sekarang bagaimana?" ucapku pelan sambil berdiri di atas salah satu pohon mawar.


Owh sepertinya ilusi cukup efektif untuk menyusahkannya... sebaiknya kutambahkan serangan lainnya untuk sedikit lebih melemahkannya.


Orang itu tampak sudah termakan oleh sihir ilusiku, dia menyerang ke sana-kemari, tapi tidak ada satupun serangannya yang mengenaiku karena memang yang dia serang hanyalah sebuah ilusi, dia mungkin sedang melihat banyak 'aku' dalam ilusi itu hehehe.

__ADS_1


Selama dia teralihkan oleh sihir ilusiku aku menyerangnya dari kejauhan menggunakan sihir es yang kubentuk menjadi berbagai macam senjata seperti pedang dan tombak, pada awalnya itu memang berhasil mengenainya, tapi tidak terlalu berpengaruh padanya, jirahnya sangat keras dan sulit untuk ditembus.


"Ilusi, jadi begitu."


Dia sudah menyadarinya ya.


Duarr!


Oww! apa aku juga bisa itu? tunggu tunggu ini bukan saatnya untuk kagum.


Setelah menyadari sihir ilusiku dia kemudian menghancurkan semua pohon mawar dengan sekali serang, dia mendorong semua batang mawar menggunakan auranya sampai hancur berkeping-keping dan membatalkan semua sihir ilusi yang kupasang.


Ssttt! Ssttt! Ssttt!


Srekkk


"Eh! waa!!! kau... apa yang kau lakukan dasar mesum!!"


Dia langsung menyerangku dengan sihir bumi menciptakan banyak gundukan tanah tajam di bawah kakiku, aku melompat ke samping untuk menghindari itu, tapi salah satu dari serangan itu menusuk rok-ku dan merobeknya dari atas sampai bawah, itu membuat kaki kananku terlihat dengan sangat jelas rok mini bertambah mini aku seperti gadis penggoda yang memperlihatkan paha mereka untuk memikat lelaki, BRENGSEK.


"Apa yang kau katakan?" ucapnya padaku tetap dengan ekspresi wajah yang dingin.


"Jangan pura-pura tidak tau mesum! kau sudah cukup membuatku marah, apa kau tidak tau betapa sulitnya aku membuat ini!!"


Brukkkk!!


"Rasakan itu!"


Kemarahanku cukup memuncak hari ini dan tentunya juga dengan rasa malu, aku melesat cepat lalu menendang kepalanya dengan telak sampai terpental cukup jauh, tapi walaupun begitu dia bisa mengurangi efek benturan dan langsung berdiri lalu menyerangku dengan cepat menggunakan cakarnya.


***


Dia tidak bertarung dengan kekuatan penuhnya, dia pasti menghindari kerusakan yang berlebihan, kalau begitu aku yang unggul di sini.


Terjadi pertarungan yang cukup sulit di sini, tapi aku berhasil mengimbangi kekuatan dan kecepatannya mungkin aku sedikit lebih unggul di sini karena dia menahan kekuatannya, yahh… sepertinya kami memiliki pemikiran yang sama, kami tidak bertarung dengan kekuatan penuh kami untuk mengindari kerusakan pada labirin.


Sring!!!


"Apa!?" ucapnya kaget.


Eh! bagaimana bisa?! tapi...


Ssttt!!!


"A-akk!!"


Duarrr!!!


Dia melesat dengan cepat ke belakangku kemudian menebas leherku dengan cakarnya, tapi cakar itu terhenti setelah mengenai rambutku padahal aku sangat yakin kalau itu sangatlah tajam.


Tapi nyatanya tidak ada satu helai pun rambutku yang terpotong oleh cakarnya, agak aneh bukan? aku juga terkejut dengan itu, tapi itu hal yang bagus.


Tanpa menyia-nyiakan kesempatan aku langsung berbalik dan menendangnya sampai jirah sisiknya hancur dan sekali lagi dia terpental lalu menghantam dinding labirin dengan keras.


"Jadi apa kau sudah mau diajak bicara atau tidak?" ucapku sambil menodongkan pedang padanya.


Aku melilitnya tangan dan kakinya dengan benangku lalu menodongkan sebilah pedang padanya untuk mengancamnya agar dia dapat diajak untuk berbicara karena memang itulah tujuan awalku.


"Apa kau ingin menjelaskannya padaku, aku tidak ingin bertarung, jika aku memang salah mungkin.../


"Kau memang bersalah dan harus dihukum atas perbuatanmu." Ujarnya memotong ucapanku.


"Memangnya apa kesalahan yang kulakukan?" tanyaku padanya sambil menurunkan senjataku.


"Para naga di labirin ini diikat dengan satu peraturan, tidak boleh bertarung satu sama lain apalagi sampai membunuh, tapi... kau malah seenaknya membunuh dan menjadikan mereka sebagai sumber kekuatanmu, tak bisa dimaafkan!! aku akan membunuhmu!! aku akan menghukummu!!" ucapnya dengan aura membunuh.


Jadi begitu... itu sebabnya aku selalu dikejar-kejar dan diburu, aku membunuh kawananku sendiri, ras sebangsaku... aku memang pantas untuk dihukum.


Setelah dia menjelaskannya barulah aku memahami alasannya dan mengetahui penyebab semua keanehan yang kurasakan, mengapa aku selalu dikejar-kejar dan selalu diburu oleh para monster naga semuanya tidak lain adalah karena kesalahanku sendiri walaupun itu terjadi karena aku tidak mengetahui apa-apa tentang peraturan yang ada di dunia ini.


Aku yang tidak tahu-menahu tentang peraturan di dunia ini seenaknya melanggar dan berbuat kejahatan tanpa beban dan rasa bersalah sedikitpun memang wajar kalau dia marah padaku, aku telah membunuh belasan naga selama 9 tahun terakhir.


"Maafkan aku... aku sama sekali tidak mengetahui apa-apa tentang peraturan itu, sekali lagi maafkan aku…" ucapku sambil menjatuhkan senjataku.


"…kau boleh menghukumku aku tidak akan melawannya lagi." Sambungku sambil duduk bersimpuh meminta maaf padanya.


Aku melepaskan semua benang yang melilitnya dan menjatuhkan senjataku lalu duduk bersimpuh di depannya berusaha untuk meminta maaf, walaupun mungkin perbuatanku itu tidak bisa dimaafkan, tapi aku ingin menyelesaikan permasalahan ini walaupun mungkin aku akan mati karena tindakanku ini.


...~•~...


...🥀🥀🥀...

__ADS_1


__ADS_2