
Setelah berhasil membuat benang aku kemudian melanjutkan perjalanan menuju ke rumah kristal, tak perlu waktu lama untuk pergi ke sana karena tempatnya yang tidak terlalu jauh dari tempat ini.
Sepanjang perjalanan aku bermain-main dengan benangku membentuk jaring, bintang dan roket dari benang itu, aku masih mahir melakukannya hehehe.
...
"Tempat ini tidak jauh berbeda dari yang dulu." Ucapku sambil menatap sekitar.
Setelah cukup lama berjalan kami akhirnya sampai di rumah kristal, mungkin karena aku yang mengecil tempat ini menjadi sangat besar, tapi walaupun begitu tidak ada yang berubah dari tempat ini.
"Yoshh baiklah, waktunya untuk melakukan sedikit percobaan." Ucapku sambil membuat kursi taman di pinggir danau.
"Percobaan?" tanya Sira.
"Ya, jika aku tidak salah memperhitungkan seharusnya aku bisa membentuk apa pun dengan kristal es ini." Jelasku sambil duduk.
"Memangnya apa yang ingin anda buat nona?" tanya Sira padaku.
Satu hal yang ingin aku buat saat berhasil membuat benang sendiri adalah alat yang bisa menyatukan benang dan apa lagi kalau bukan alat tenun, walaupun perlu berbulan-bulan untuk membuatnya, tapi setidaknya aku sudah punya baju sebelum keluar dari labirin ini.
Aku tidak mungkin keluar dengan keadaan seperti ini tanpa memakai pakaian selain jubah usang ini, itu pasti akan sangat merepotkan dan memalukan, setidaknya aku harus membuat satu atau dua baju yang bisa kusesuaikan dengan sayap ini.
"Kau bisa melihatnya nanti Sira." Jawabku.
Sambil duduk memandangi danau aku membuat berbagai macam senjata dan miniatur peralatan-peralatan dapur untuk menguji kemampuanku dan seperti yang kuduga aku bisa membuat banyak benda dari sihir es ini sesuai dengan apa yang aku pikirkan.
"Sepertinya aku memang bisa membuatnya, kalau begitu... ta daa hehehe."
"Apa itu nona?"
Sepertinya aku berlebihan...
Sira tampak terkejut melihatku menciptakan alat tenun, itu memang hal yang mengejutkan terutama jika dibuat oleh monster yang hampir tidak pernah keluar ke peradaban sepertiku.
"Alat tenun." Jawabku singkat sambil tersenyum.
"M-maksud saya dari mana anda tau itu?"
"Dulu aku pernah melihatnya di suatu tempat."
Mana mungkin aku bilang kalau aku tau itu dari nenekku di duniaku yang lama hehehe.
"Yoshh karena aku sudah bisa membuatnya, sekarang waktunya membuat ruangan yang tenang." Ucapku sambil berjalan.
.
.
Aku kemudian berjalan ke arah dinding lalu memegang dinding dengan telapak tanganku untuk membuat sebuah rumah di dalam dinding itu atau lebih tepatnya membuat ruangan-ruangan seperti apa yang ada di dalam rumah pada umumnya, seperti ruang tamu, kamar, dapur, dan kamar mandi.
"Tempatnya sangat cocok untuk bersembunyi." Ucapku sambil menatap ke dinding.
Tok Tok Tok
__ADS_1
Setelah membuat ruangan-ruangan di dalam dinding labirin, aku kemudian masuk ke dalamnya untuk melihat detail ruangannya, dari luar tempat ini hanya seperti dinding labirin biasa, tapi dari dalam ini seperti sebuah rumah.
"Tempat yang bagus nona." Ucap Sira kagum.
"Tapi, masih kosong hehehe." Ucapku melihat ke dalam.
Ruangan-ruangan yang ada di sini mirip dengan rumahku yang dulu, karena memang aku membuatnya semirip mungkin dengan itu, terdiri dari dua lantai, enam kamar – 4 di atas dan 2 di bawah –, satu dapur, satu kamar mandi, ruang tamu, dan ruang makan di samping dapur.
"Waktunya untuk membuat ruangan-ruangan ini terlihat hidup."
Aku kemudian membuat sebuah meja di tengah ruang tamu lalu meletakkan vas bunga lily di sana sebagai hiasan agar ruangan ini lebih berwarna, karena ruangan ini tampak sangat putih bahkan nyaris tak ada warna lain di sini tentu karena aku melapisi permukaannya dengan es.
Tak lupa juga aku membuat beberapa lemari kecil dan meja di ruangan dapur, aku juga melengkapinya dengan peralatan masak dan juga peralatan makan seperti piring, gelas, sendok, garpu, pisau, wajan, dan lain sebagainya.
"Ruang tamu dan dapur sudah selesai tinggal menata kamar tidur."
"Ada yang bisa saya bantu nona?" tanya Sira.
"Sepertinya tidak perlu, kau tunggu saja di ruang tamu Sira." Ucapku padanya.
Pekerjaan seperti ini tidak cocok untuk Sira jadi aku menyuruhnya untuk menunggu di ruang tamu, Sira langsung naik ke atas meja lalu berbaring memandangi bunga lily itu.
...
"Aku akan membeli kasur nanti, untuk sekarang cukup ini saja." Ucapku sambil menatap kamarku.
Aku juga menata setiap kamar yang ada melengkapinya dengan membuat ranjang tempat tidur, meja, kursi dan lemari, walaupun belum ada kasur yang empuk, aku akan membeli itu nanti setelah menyelesaikan bajuku.
Kamarku ada di lantai dua pintu ke dua sebelah kiri memang di sanalah aku sering tidur saat masih di dunia lamaku, aku juga membuat sebuah jendela di kamar ini, tapi karena tidak ada yang bisa dilihat dari jendela itu aku menutup dan menghapusnya.
"Hm... sepertinya perlu ada selimut bulu di ruangan ini, lantainya terlalu dingin, iyakan Sira?" ucapku sambil menatap Sira.
" ... "
"Ada apa Sira?"
"Y-ya... a-anu itu bisa dibicarakan nona."
?
"Apa yang kau maksud?" tanyaku padanya.
"T-tidak tidak bukan apa-apa nona." Jawabnya.
Sira sedikit bertingkah aneh saat aku bicara padanya, aku merasa tidak ada yang aneh denganku, jubahku tertutup rapat dan bahkan aku melipat sayapku ke depan seperti selimut, jadi dia tidak mungkin berpikir hal yang mesum.
Aku menggunakan sayapku sebagai selimut walaupun tidak ada buku di sayapku, tapi aku menggunakan sihir api di kedua sayap itu untuk tetap hangat.
"Ooo... ya sudahlah, ayo Sira ada sesuatu yang ingin aku cari." Ucapku sambil membuka pintu.
"B-baik nona."
.
__ADS_1
.
.
Aku kemudian keluar rumah dan berkeliling untuk mencari beberapa monster bulu terutama monster cave bear karena seingatku monster itu memiliki bulu yang tebal dan terlihat lembut walaupun monster itu sangat agresif dan menyeramkan.
Graahhhhhh!!!
Sstt!!
"Dari dulu selalu saja mengendap-endap... huhh apa kau tidak punya harga diri?" ucapku pada beruang itu.
Saat aku berjalan melewati salah satu belokan tiba-tiba saja aku hampir diterkam oleh monster cave bear, tapi dengan cepat aku mengikatnya dengan benangku dan mengunci pergerakannya sampai dia tidak bisa bergerak sama sekali.
Cakar dan taringnya tampak sangat mengerikan, tapi mengingat bulunya yang lembut semua hal yang menyeramkan itu menghilang dari pandanganku.
Graahhhhhh
Hm... kalau aku memotongnya, bulunya akan penuh dengan darah, sebaiknya jangan lakukan itu.
"Kalau begitu aku akan pakai ini." Ucapku sambil membuat sebuah jarum kecil.
Alih-alih menggunakan pedang atau pisau untuk membunuhnya aku lebih suka menggunakan senjata jarum kecil, karena aku tidak ingin mengotori bulunya yang lembut itu.
"Selesai."
Aku kemudian melemparkan jarum itu ke kepalanya dan seketika monster cave bear itu mati, aku tidak menggunakan racun di jarum itu, aku hanya memasukkan jarum itu ke kepalanya lalu membekukan otak dan sarafnya juga darahnya dengan begitu monster itu akan mati tanpa ada setetes darah yang keluar mengotori bulunya.
"Sisanya hanya tinggal mengambil bulu itu hehehe."
..
..
Setelah berhasil membunuhnya aku kemudian membaringkan tubuh cave bear itu lalu mengulitinya untuk mengambil bulu itu, terdengar mengerikan bukan? tapi tidak ada cara lain untuk mengambil bulu itu tanpa harus mengulitinya.
Aku tidak perlu takut dengan darah yang menetes karena aku sudah membekukan semua darahnya dan lagi aku sudah cukup terbiasa dengan darah jadi aku tidak masalah dengan itu, aku juga memotong-motong dagingnya agar lebih mudah untuk disimpan di dalam dapur.
"Yoshh sudah selesai, wahh! bulunya lebih lembut dari yang kukira."
Apa Sira ingin makan?
Sira hanya memandangiku saat aku memotong-motong daging monster itu mungkin karena dia ingin beberapa potong daging untuk dikunyah hehe.
"Yahh... kalau begitu ini untukmu Sira." Ucapku sambil memberikan sepotong daging padanya.
"Woa!! terima kasih nona." Ucapnya bersemangat.
"Bukan masalah, makanlah dulu sementara aku membereskan ini."
...
Sementara Sira memakan makanannya aku membersihkan sisa-sisa dari tubuh monster beruang ini dan memasukkan bulu serta dagingnya ke dalam dimensi penyimpanan.
__ADS_1
...~•~...